I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 19



Sebelum Baca Vote Dulu


Happy Reading...


(Sebelumnya)


"Aku mau keruangan tuan Charles."


"Untuk apa?” Tanya Della.


"Kau akan tau sendiri nanti. Aku pergi dulu ya,” Ucap Fany lalu bergegas pergi menuju ruangan Charles. Setelah sampai di depan pintu yang bertuliskan Ceo, Fany mendiam diri sejenak dan menghelakan nafasnya.


‘Semoga tuan Charles mengerti dengan kondisiku,’ batin Tiffany.


***


Hari ini Fany datang ke kantor. Tempat dia bekerja dan sekarang ia berniat untuk  mengundurkan diri. Semua yang dilakukannya, semata mata untuk mematuhi perintah Austin sebagai suaminya. Austin melarangnya untuk tidak bekerja lagi. Dengan begitu Fany bisa lebih memperhatikan kesehatannya serta bayi yang ada di kandungannya.


Yang dikatakan oleh Austin benar adanya dan Ia sebagai istri tak salah untuk mematuhi setiap perkataan suaminya.


Fany mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan Ceo. Ruangan Charles. Beberapa kali Fany mencoba mengetuknya sampai ia mendengar suara yang mengintrupsinya untuk segera masuk. "Masuk saja," Ucapan seseorang dari dalam ruangan.


Perlahan Fany mencoba membuka pintu itu. Ia melihat Charles yang tengah sibuk dengan dokumen yang ada dimeja. "Maaf tuan Charles karena sudah mengganggu waktu anda." Ucap Tiffany.


Charles menatap wanita yang ada di hadapan itu. “ Oh Fany. Ternyata kamu. Duduklah.” Charles berucap seraya memasukkan kembali sebuah dokumen ke dalam laci meja kerjanya.


"Kamu sudah kembali. Lain kali, jika kamu liburan jangan terlalu lama-lama karena aku sangat merindukanmu." Ucap Charles seperti bergumam pelan sehingga membuat lawan bicaranya tidak kedengaran.


"Apa tuan? Maaf karena aku tidak bisa mendengar suara anda." Ucap Fany yang memang tidak mendengar perkataan Charles.


"Tidak ada. Maksudku kamu jangan terlalu lama sekali liburannya karena disini banyak pekerjaan yang sudah menantimu." Charles gelagapan karena tadi ia mengatakan sesuatu yang tidak pantas untuk dikatakan pada Fany.


‘Apa hakmu merindukannya, Charles? Kau saja tidak ada hubungan dengannya,’ batin Charles merutuki perkataannya tadi.


"Oh begitu ya tuan."


"Hmm. Iya,"


"Tapi tuan, aku ingin memberikan ini pada anda." Fany langsung meletakkan surat pengunduran diri dimeja tempat kerja Charles.


"Apa ini?" Tanya Charles.


"Tuan bisa lihat sendiri," Ujar Fany.


"Surat pengunduran diri?" tanya Charles sambil menatap ke arah Fany.


"Iya tuan," jawab Fany.


"Apa maksudnya ini, Fany? Kamu belum lama ini menjadi sekretarisku, tapi sekarang kamu ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini.” Ucap Charles terdengar  kecewa. Ia  masih terlihat tidak percaya.


"Maafkan saya tuan." Fany merasa tidak enak hati pada Charles. Tapi mau bagaimana lagi ini semua sudah jadi keputusannya Austin.


"Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku? Apa alasannya sampai kamu ingin keluar dari perusahaan ini?" Tanya Charles.


"Aku tidak ingin bekerja lagi karena saya sudah menikah dan suami saya menyuruh untuk tidak bekerja lagi." Ungkap Fany.


"Apa kamu sudah menikah? Kapan?" Tanya Charles. Ia terlihat sedikit terkejut saat mendengar kalau Fany ternyata sudah menikah. Padahal sejujurnya Charles mengakui kalau ia memiliki rasa ketertarikan pada Fany walaupun di pendam. Ibaratnya mencintai dalam diam.


"Sudah tuan. Saya menikah seminggu yang lalu." Jawab Fany apa adanya.


"Oh begitu ya. Kalau begitu aku ucapkan selamat untukmu." Ucap Charles menelan kekecewaan dan terpaksa harus mengubur perasaan pada Fany.


‘Dia sudah menikah. Berarti liburan kemarin dia sedang menyelenggarakan pernikahannya,’ batin Charles.


Charles masih tidak percaya kalau wanita yang dihadapannya ini sudah menikah. Mau tidak mau  dia harus mengubur rasa sukanya pada Fany karena dia tak ingin menjadi penghancur hubungan orang.


"Terima kasih tuan." Ucap Fany lalu membungkukkan badannya.


"Kau beruntung punya suami yang sangat perhatian padamu. Buktinya dia langsung menyuruhmu untuk tidak bekerja lagi." Pungkas Charles.


"Hm iya tuan. Ada benar?" Ucap Tiffany sambil tersenyum menanggapi perkataan Charles. Padahal ia sedikit berbohong. Austin hanya perhatian pada bayi ini, bukan padanya.


"Jangan panggil tuan. Panggil Charles saja.” Ujar Charles.


"Iya tuan. Eh, maksudku Charles." Fany langsung beralih memanggil nama Charles.


"Baiklah. Sepertinya aku harus mencari sekretaris yang baru lagi,”ujar Charles.


"Maafkan aku Charles," Fany sekali lagi merasa tidak enak hati pada Charles.


"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti keadaanmu. Tapi sebagai gantinya, sekarang aku ingin kau menemaniku makan siang. Setidaknya untuk terakhir kalinya kau menjadi sekretarisku.” Pinta Charles.


"Baiklah Charles. Tapi sebelum itu aku ingin ke ruangan kerjaku dulu untuk mengambil barang-barangku yang tertinggal disana." Fany  tidak menolak permintaan Charles.


"Baiklah. Aku akan menunggumu di parkiran saja.” Imbuh Charles.


"Kalau begitu aku permisi dulu." Fany berpamit pada Charles untuk pergi ke ruangannya.


“Iya.”


Fany segera beranjak menuju ruangan kerjanya meninggalkan Charles yang tengah membereskan sesuatu. Mungkin membawa beberapa dokumen yang belum sempat ia kerjakan disini dan akan dilanjutkan dirumah. Berhubung ia akan makan siang bersama dengan Fany.


"Wanita yang polos lucu dan cantik, tapi sayangnya aku tidak bisa memilikimu karena aku sudah terlambat," batin Charles.


Kini Fany sudah ada diruangan tempatnya bekerja. "Apa yang kau lakukan diruangannya, tuan Charles?" Tanya Della terlihat penasaran sekali.


"Aku menyerahkan surat pengunduran diri Della." Jawab Fany sambil membereskan barang-barangnya.


"Apa? Jadi kau berniat berhenti kerja? Kenapa?" Ucap Della sambil menghentikan kegiatan Fany.


"Iya Della. Maafkan aku ya." Fany lalu kembali melanjutkan kegiatanya.


"Tapi kenapa Fany?" Tanya Della masih tidak percaya dengan apa dikatakan oleh Fany.


"Karena aku sudah menikah Della," jawab Fany tanpa menghentikan kegiatannya itu.


"Menikah? Dengan siapa?” Ucap Della terkejut mendengar perkataan Fany. Bahkan ia merasa tidak percaya saat Fany mengatakan bahwa dia sudah menikah. Fany tidak menjawab lagi, dia hanya sibuk mengemas barang-barang miliknya.


"Jawab aku Fany," desak Della mencoba ingin menghentikan Fany yang sibuk mengemas barangnya.


"Aku akan mengatakannya Della tapi tidak sekarang," jawab Fany.


"Kenapa? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Della.


"Tidak ada Dell. Saat waktunya tiba,  aku akan mengatakan semuanya. Oke." Ujar Fany. Della hanya diam dan membuat Tiffany menghentikan kegiatannya.


"Kau menganggapku sebagai teman, kan?” Tanya Fany sambil menatap Della.


"Of course," ucap Della.


"Trust me, Della. Aku akan menceritakannya semuanya padamu di saat yang tepat. Tidak ada yang ingin kusembunyikan darimu. Hanya saja waktunya belum tepat.” Ucap Fany.


"Baiklah. Aku akan mempercayaimu Fany. Aku tidak akan memaksamu bercerita. Aku akan menunggu waktu itu." Balas Della. Fany lega dan tersenyum saat melihat Della mau mengerti akan keadaannya. Dia pun kembali mengemas barangnya yang ada di mejanya kerja itu tanpa ada meninggalkannya satupun.


"Akhirnya selesai juga." Fany sudah selesai mengemas barangnya dan menyusunnya pada sebuah kardus.


"Aku pergi dulu ya." Fany langsung pamit pada Della karena dia tidak mau membuat Charles menunggunya terlalu lama diparkiran. Mengingat kalau pria itu pasti sudah ada disana.


"Iya. Aku akan sangat merindukanmu Fany." Della segera memeluk Fany.


"Aku tidak pergi untuk selamanya Della. Kau jangan bicara seperti itu. Kau berkata seolah olah aku mau pergi jauh saja. Kita kan masih bisa bertemu," ujar Fany mengelus pundak Della.


"Hehehe. Maaf. Soalnya aku merasa jadi kesepian, kau kan tidak bekerja lagi. Makanya aku mengatakan aku akan merindukanmu." Ujar Della.


Fany mengucapkan terima kasih dan bergegas pergi karena dia tidak mau membuat Charles menunggu terlalu lama. Dengan berjalan terburu-buru dan tidak memperhatikan jalannya, Fany tiba tiba menabrak seseorang dan membuat barang milik Fany yang ada di kardus pun jatuh berserakan dilantai kantor.


"Apa kau tidak punya mata?" Bentak orang itu pada Fany. Orang yang tidak sengaja Fany tabrak.


"Maaf. Aku tidak sengaja karena saya sedang terburu buru juga," ucap Tiffany sambil memunguti barangnya dan memasukkan kembali ke dalam kardus tanpa melihat ke arah orang itu. Setelah selesai memasukkan barangnya ke dalam kardus,  Fany langsung berdiri dan membalikkan badannya untuk melihat orang yang di tabraknya dan ingin meminta maaf lagi.


"Kau...." Ucap mereka secara bersamaan.


"Christian," ucap Fany.


"Jadi kamu yang sudah menabrakku dan membuat kemejaku jadi kotor," sarkas Christian.


"Maafkan aku Chris. Aku tidak sengaja,"


"Maaf katamu. Kau pikir aku mau memaafkanmu," Christian merasa sangat marah sekali.


"Maaf. Aku akan membersihkan,"


"Tidak perlu. Aku tidak ingin bajuku dipegang oleh wanita ****** sepertimu. Kau tau, baju ini pemberian pertama dari istriku Patricia setelah pernikahan kami. Tapi kau malah mengotorinya." Ujar Christian sambil menyingkirkan tangan Fany yang mencoba menyeka kotoran kopi pada baju Christian.


‘Apa urusannya denganku.’ batin Fany.


“Kau sudah menikah dengan wanita itu?" Tanyanya pada Christian.


“Iya.” Jawab Christian dengan penekanan.


“Santai saja. Aku Cuma bertanya saja.”


"Apa Katamu?" Christian ingin menampar Fany membuat perempuan itu langsung refleks menundukkan kepalanya.


"Hah, sakit....” Christian malah merintih kesakitan karena tangannya yang hendak menampar dicekal kuat oleh seseorang.


"****. Sialan kau," Christian memberi umpatan pada pria yang memakai topi hitam dan kacamata dengan warna senada. Tak lupa pria itu memakai masker menutupi sebagian wajahnya.


"Coba saja kalau bisa." Ucap orang itu dan diapun segera membuka topi dan kacamatanya. Tak lupa juga dengan maskernya.


"Charles,”


"Ya, saya sendiri. Ada apa kenapa kau ketakutan?”


“Sepertinya aku pernah melihatmu diperusahaan ini? Apa kau bekerja disini?” Lanjut Charles.


“Benar tuan. Maafkan saya.” Crishtian menunduk meminta maaf.


“Bukankah kau manajer bagian keuangan itu?" Ucap Charles.


"Maafkan saya tuan." Ucap Christian.


"Hmm. Saya tidak tau, apakah harus memaafkanmu atau tidak?" Ucap Charles.


"Maafkan saya tuan." Lagi lagi Christian mengiba untuk meminta maaf karena takut akan dipecat dari pekerjaannya.


"Fany. Menurutmu apakah dia patut untuk dimaafkan? Apakah kamu mau memaafkannya?" Tanya Charles.


"Eh. Kenapa jadi saya yang ditanya, Charles?" Ucap Fany menunjukkan dirinya. Ia terkejut saat Charles malah mempertanyakan dirinya.


"Karena tadi dia ingin melukaimu. Aku tidak suka ada orang yang berani memukul wanita  bekerja diperusahaanku. Itu sangat tidak gentleman sekali." Tutur Charles.


"Kau seharusnya minta maaf pada Fany, bukan padaku." Ucap Charles  menyuruh Christian untuk meminta maaf pada Fany. Christian hanya diam saja sambil menunduk kepala.


"Jika kau tidak mau melakukannya maka kau cepat pergi ke bagian HRD untuk meminta gaji terakhirmu dan segera pergi dari perusahaan ini." Charles mengancam Christian membuat pria itu terkejut mendengar perkataannya.


"Aku minta maaf Fany. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Christian.


"Baiklah. Aku memaafkanmu Christian." Ucap Fany.


"Kau baik sekali Fany. Aku kagum dan bangga padamu," Puji Charles.


"Sekali lagi saya minta maaf tuan Charles. Saya mohon jangan pecat saya." Ucap Christian yang meminta maaf lagi sambil menundukkan kepala.


"Baiklah. Aku akan memaafkanmu. Jika kamu berniat mencelakai Fany lagi, maka aku tidak akan segan untuk memecatmu dan menjebloskanmu ke penjara," tegas Charles.


"Terima kasih tuan. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Christian.


"Bagus. Sekarang pergilah," usir Charles.


"Terima kasih tuan Charles dan terima kasih Fany.” Ucap Christian dan bergegas pergi dari situ.


"Apa tadi kamu tidak terlalu berlebihan, Charles?" Tanya Fany.


"Tidak. Aku memang harus memberi pelajaran pada orang yang hanya bisa berani melukai wanita saja," ujar Charles.


"Terima kasih Charles. Aku sangat senang memiliki teman sepertimu. Apakah kamu mau berteman denganku?" Ucap Fany.


"Why not? Aku juga senang bisa berteman denganmu," ucap Charles membuat Fany tersenyum.


"Apa semua barangmu sudah diambil?"


"Sudah." Jawab Fany.


"Kalau begitu, ayo kita pergi. Aku sudah lapar sekali." Ucap Charles yang sebenarnya tidak lapar. Itu hanya alasannya saja untuk mengajak Fany keluar.


***


Fany dan Charles kini sudah tiba di sebuah restoran yang sangat besar. Fany berpikir kalau makanan yang ada di situ pastilah mahal sekali. "Kau jangan khawatir, aku yang akan traktir kok." Fany menoleh kearah Charles yang seakan bisa membaca pikiran Fany.


"Hehehe. Kau tau saja apa yang sedang kupikirkan," ucap Fany terkekeh.


Charles tersenyum sambil mengelengkan kepala melihat tingkahnya Fany yang menurutnya sangat imut.


Lalu Charles mengajak Fany masuk kedalam. Sesampainya disana, mereka dijamu dengan baik oleh para pegawai restoran itu. Dengan segera mereka pun memesan makanan dan minuman. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya pesanan mereka sudah tersaji di meja mereka.


Fany dan Charles bersiap memakan makanan mereka. Selama makan, mereka tidak ada berbicara karena bagi Charles sangat tidak baik jika berbicara kalau sedang makan.


Setelah beberapa lamanya, Akhirnya mereka pun sudah selesai dengan acara makan-makan mereka. "Permisi, apa anda bisa kemari sebentar?" Panggil Charles yang memanggil pelayan karena dia hendak membayar tagihan makanan mereka.


"Berapa ini semuanya?" Tanya Charles untuk membayar tagihannya.


"Tunggu sebentar tuan," pelayan itu segera menghitung tagihannya lalu berkata,"Ini Tuan," ucap pelayan itu sambil memberi kertas bonnya.


"Ini," ucap Charles sambil memberikan kartu yang berwarna emas kepada pelayan itu untuk menyelesaikan pembayaran tersebut.


"Terima kasih atas kunjungannya Tuan dan Nyonya," ucap pelayan itu sambil tersenyum ramah setelah mengembalikan kartu milik Charles.  Charles membalas dengan tersenyum kembali ke pelayan tersebut.


"Terima kasih juga Nona, makanan disini enak sekali." Ucap Fany dengan nada polosnya.


"Ayo Fany,"


Charles mengajak Fany untuk keluar dari dalam restoran itu. Karena tidak tau mau kemana lagi, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk jalan jalan sebentar. Kebetulan ada sebuah taman bermain tak jauh dari restoran tadi .


"Pak tunggu sebentar ya," ucap Charles pada sopirnya.


"Baik Tuan."


Tiffany dan Charles pun jalan-jalan disekitar Taman sambil berbincang-bincang.


"Oh ya, suamimu pekerjaannya apa?" Tanya Charles. Itu yang ingin dipertanyakannya sedari tadi pas dikantor pada Fany. Kini dia lagi ingat, makanya langsung bertanya pada Fany.


"Dia hanya seorang karyawan biasa Charles," ucap Fany yang berbohong. Faktanya Austin orang besar. Terlihat dari rumahnya yang begitu besar.


"Oh karyawan. Apa dia baik padamu?" Tanya Charles.


"Tentu saja. Dia sangat baik padaku," ucap Fany.


"Syukurlah. Kamu menikah dengan pria yang baik dan bisa menjagamu, untung saja tidak seperti Christian tadi," ujar Charles.


"Hmm. Kamu benar Charles. Oh iya, apa kamu sudah punya pacar?" Tanya Fany.


"Kalau belum, kamu mau jadi pacarku?" Charles yang ingin bercanda dengan Fany.


Betul saja. Fany langsung terdiam mendengar perkataannya Charles


"Aku hanya bercanda Fany.  Jangan terlalu anggap serius perkataanku tadi," ucap Charles tertawa melihat Fany diam mematung.


"Huft. Syukurlah, aku pikir tadi kamu serius." Fany kembali bernafas dengan lega.


"Ya  Tidaklah. Kamu kan sudah punya suami. Nanti suamimu malah menghajarku." Ujar Charles.


“Tuh. Kamu tau.”


"Senang juga ya buat kamu terkejut kayak begitu. Kamu terlihat sangat lucu."


"Sangat lucu ya." Fany yang tertawa terpaksa lalu memukul lengan berotot milik Charles.


“Sakit Fany,”


“Biarin saja. Sekarang Kamu jawab pertanyaanku yang tadi," ucap Fany lagi.


"Pertanyaan yang mana?" Ucap Charles berpura-pura tidak tau.


"Sudahlah, lebih baik aku pulang saja." Fany mendengus kesal.


"Baiklah baiklah. Aku akan menjawabnya," imbuh Charles.


"Tell me, cepat." Ujar Fany yang tak sabaran dan terlihat penasaran sekali.


"Sebenarnya aku belum punya pacar karena saat ini aku lagi mencari wanita yang sangat aku cintai. Dia menghilang entah kemana?" Ucap Charles.


"Memang dia kemana?" Tanya Fany serius.


"Mana aku tau. Kalau aku tau, tidak mungkin sampai sekarang aku terus mencarinya," jawab Charles.


"Iya juga sih. Memang kapan kalian terpisahnya? Kok pacarnya bisa menghilang?" Tanya Fany tak sengaja menyinggung hati Charles. “Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu?”


“Tidak apa.”


"Dia tiba-tiba hilang pergi ketika saat kelas 2 SMA. Sejak itu ia tak pernah terlihat lagi. Aku sudah berusaha untuk terus mencarinya bahkan sampai sekarang aku tetap untuk mencari keberadaannya," ujar Charles.


"Jika suatu hari nanti, saat kau menemukannya tapi dia sudah menikah atau sudah jadi milik orang, Apakah kamu akan tetap mengambilnya?" Tanya Fany.


"Tergantung situasi Fany. Jika dia pantas untuk aku pertahankan maka aku akan berusaha untuk mengambilnya, tapi jika tidak pantas maka aku akan melepaskannya," jawab Charles denga santai.


"Aku terharu mendengar kata-katamu, Charles." Ucap Tiffany sambil menepuk bahu Charles


"Tidak usah berlebihan Fany. Kata kata tadi, biasa saja kok," ujar Charles.


"Aku tidak berlebihan, aku berkata serius Charles,"imbuh Fany.


"Terserahmu Fany. Sudahlah, aku akan mengantarkanmu pulang.  Ini sudah sore, aku tidak ingin membuat suamimu khawatir karena mencari istrinya yang hilang," ujar Charles.


"Paling dia akan menghajarmu, Charles"


"Dan aku pantas mendapatkannya karena sudah membawa istri orang pergi kemana-mana"


"Hahaha." Mereka pun tertawa lepas.


***


To Be Continued...


Salam dari Author


Insani Syahputri


^^^02-02-2022^^^