I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 31



Sebelum Baca Vote Dulu


Happy Reading


(Sebelumnya)


"Aku tidak ada merebut Austin darimu," ucap Fany.


"Aku tidak tahu apa sebenarnya rencanamu, tapi yang jelas aku tidak akan membiarkan Austin jatuh ke tanganmu. Setelah anak itu lahir, kau harus angkat kaki dari rumah ini," ucap Sesilia. Kemudian Sesilia meninggalkan Fany dan menuju kamarnya yang sudah di tunjuk Austin tadi.


🌷🌷


Hari ini Fany menerima pesan dari Charles. Pria itu berniat mengajaknya keluar. Fany sudah menolaknya, tapi Charles mengatakan kalau Della juga ikut bersamanya pergi keclub. Charles sepertinya memang berniat sekali. Ia tidak menyerah, bahkan pria itu sampai menelponnya. Charles terus membujuknya dan mengatakan kalau itu adalah permintaan sebagai teman. Fany pun menerima ajakannya. Kini yang dia takutkan adalah Austin. Apakah pria itu akan marah. Bagaimana nanti jika pria itu akan mencari keberadaannya? Itupun kalau benar iya. Fany menghela nafasnya. Fany berpikir kalau pria itu pasti tidak akan peduli padanya. Pria itu sekarang selalu sibuk bersama dengan Sesilia. Kekasih Austin. Memikirkan itu membuat Fany sedih.


Hari sudah mau malam, tapi belum ada tanda tanda kepulangan dari pria itu. Sesilia. Siang tadi wanita itu pergi bersama dengan seseorang yang kemungkinan adalah sahabat dari wanita itu. Bahkan Fany mendengar saat Sesilia meminta ijin pada Austin kalau dia akan menginap malam ini dirumah orang yang bernama Theresa itu.


Fany sudah bersiap diri dan berniat ingin minta ijin pada Austin.  Wanita itu terus menunggu hingga mobil putih terlihat sudah terparkir didepan gerbang mansion itu.


“Fany. Ayo.” Itu suara Charles pemilik mobil putih itu.


Pandangan Fany teralihkan menatap Charles yang tersenyum kearahnya. Fany kemudian menatap layar ponselnya. Ia ragu untuk memberi pesan pada pria itu. Siapa lagi kalau bukan Austin. Biarkan saja. Pikir Fany.


Fany akan mengatakan nanti jika dia sudah pulang. Itupun kalau Austin menanyakan kepergiannya.


Fany memasukkan ponselnya kedalam sling bag miliknya. Kemudian dia berjalan mendekati mobil Charles.


“Pak. Fany pergi dulu ya,” ucapan Fany terdengar ditelinga security mansion itu. Pria berumur itu mengangguk ‘Iya.’


Mobil yang dinaiki Charles dan Fany kini sudah tiba di sebuah club cukup besar milik Charles. Fany belum tahu hal itu. “Apa kak Alex datang kesini?”


“Tidak. Pria itu menolak saat aku mengajaknya. Biarkan saja,” Ujar Charles. Dengan sigap Charles menarik tangan Fany dengan lembut memasuki club itu.


Waktu terus berjalan. Tak terasa sudah sejam lebih mereka berada disana. Kini Fany duduk sendirian, karena Della dan Charles sedang menari di dancefloor. Ingat Della juga ada disana.


“Hei. Aku temannya Charles. James Scott.” Seorang pria bernama James mendekati Fany.


“Tiffany Lee,” Fany menyambut salam tangan pria itu.


“Aku tidak tau kalau Charles sedang dekat dengan gadis secantikmu. Aku jadi iri padanya,”


Fany tidak tau harus menjawab apa. Ia hanya tersenyum membalas perkataan temannya Charles.


“Tidak menari?”


“Tidak. Aku tidak berminat.”


Sepertinya pria bernama James itu terlihat kecewa saat mendengar ucapan Fany. Pria kemudian mengambil sloki yang sudah berisikan cairan wisky itu lalu meneguknya.


"Minum?" James hendak menawarkan.


Fany segera menolak. Mengingatnya kalau dirinya sedang hamil.


Mereka pun berbincang ringan, beruntung Fany sedikit nyaman saat berbicara dengan James sehingga percakapan mereka tidak membosankan.


***


Ditempat yang sama, seseorang tengah duduk bersama dengan beberapa orang. Mereka adalah Austin dan Roy dan beberapa teman Austin saat kuliah dulu. Mata Hazel milik Austin melihat kearah tempat duduk seseorang yang ia kenal.


Austin kebetulan juga sedang berada diclub itu untuk menenangkan pikirannya. Itulah saran yang Austin dapatkan dari Roy saat pulang dari kantor. Untuk itulah mereka singgah ke sebuah Club milik Charles. Tentu saja Austin mengetahui hal itu.


Kini mata Austin hanya menatap kearah orang itu. Ia bahkan tidak peduli dengan orang menari disana, Fokusnya hanya pada Fany. Orang itu adalah Fany. “Apa yang dia lakukan disini?”


Kini rasa tidak suka pada Fany semakin besar saat melihat wanita itu didatangi oleh seorang pria yang tiba-tiba mendekatinya. Tapi lihatlah, wanita itu terlihat tidak menunjukkan respon penolakan. Fany menyambutnya. Dan mereka seperti terlihat sudah saling kenal.


“Ck. Awas saja. Aku akan mengawasimu.”


“Ada apa, bro?” Tanya orang yang bernama Liam itu saat melihat Temannya tengah asik melihat seseorang yang tidak jauh dari mereka.


“Tidak apa-apa,” balas Austin. Pria itu sepertinya sedang kesal.


“Bukankah dia Fany? Kenapa dia ada disini?” Tanya Roy saat melihat Fany dengan jelas.


“Tidak tau,”


“Kau adalah suaminya? Kenapa kau tidak tau?” Roy masih memandangi Fany yang tengah berbincang dengan seorang pria.


“Siapa pria itu?” Tanya Roy.


“Entahlah. Aku mau pulang,” Austin berdiri dan memperbaiki jasnya.


“Mau kemana?” Tanya Liam. Pria itu tidak menjawab. Austin hanya melangkahkan kakinya keluar dari club itu.


“Sudah. Biarkan saja. Moodnya beberapa hari ini kurang bagus. Mungkin dia lagi datang bulan,” tutur Roy yang menjelaskan pada orang-orang yang duduk disekitarnya karena mempertanyakan kepulangan Austin secara tiba-tiba.


***


Sebuah mobil tiba di depan gerbang mansion milik Austin. Itu mobil milik Charles yang mengantar Fany pulang. Didalam juga terlihat Della yang duduk di bangku belakang. Tadi Fany menyarankan agat perempuan itu menumpang dimobil Charles dikarenakan Della dalam keadaan mabuk berat.


“Terimakasih Charles. Oh ya... Tolong antarkan sahabatku dengan selamat ya. Awas jangan macam macam dengannya,” pesan Fany hanya dibalas kekehan oleh Charles.


Fany memasuki mansion itu ketika mobil Charles sudah pergi. Alangkah terkejutnya dia saat melihat Austin tengah duduk disofa.”Kau dari mana? Club?” Ucapan Austin terdengar marah.


“Kuharap kau jangan mempermalukan keluarga Nero dengan tindakanmu. Bukahkah kau sedang hamil? Kuharap tingkah lakumu yang buruk itu mempengaruhi anakku kelak” imbuhnya lagi. Austin pergi kekamar setelah mengatakan kata kata itu pada Fany.


Fany hanya diam. Dia merasa bersalah dan segera meminta maaf untuk tidak pergi lagi kesana. Tapi semuanya sia sia setelah melihat kepergian Austin.


***


Kini sudah berjalan dua minggu Sesilia tinggal dimansion itu. Sesilia merasa sangat senang karena bisa dekat dengan Austin. Ia berencana untuk tidak membiarkan Austin dekat dengan Fany bahkan untuk sedetik saja.


Lain dengan Fany yang merasa sedih ketika melihat mereka berdua yang terlihat romantis Sejak kejadian malam itu, Austin semakin dingin terhadapnya.


Bahkan Fany merasa kalau Autstin menggangapnya seakan tidak ada disana jika mereka sedang bersama dimansion itu.


Hati siapa yang tidak terluka saat melihat kedekatan orang yang cintai dekat dengan perempuan. Fany sadar diri kalau wanita itu adalah kekasih Austin. Jadi wajar saja Austin melimpah segala perhatian dan kasih sayangnya pada Sesilia. Fany kini merasa kalau dirinya seperti seorang pelakor yang telah merebut Austin darinya.


Fany berjalan menuju kamarnya. Ia tidak ingin melihat Austin dan Sesilia yang sedang bermesra disofa itu. Itu akan membuat hatinya semakin sakit.


Ini adalah hari minggu. Tentu saja Austin tidak bekerja ke kantor. Kini dia menghabiskan waktunya bersama dengan Sesilia.


Sesampainya dikamar, Fany langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Sungguh badannya sangat letih sekali. Kini usia kandungan Fany sudah masuk bulan keempat.


Saat sedang memejamkan matanya, tiba-tiba handphone berbunyi. Ternyata itu panggilan masuk dari Alexander. Fany menekan ikon warna hijau untuk menjawab panggilan itu.


"Ada apa Kak?"


"Kau dimana sekarang? Bisa kita ketemu? Kakak sedang berada dikedai kopi dekat perusahaan Charles," ucap Alex.


"Aku lagi dirumah. Baiklah aku akan datang ke sana," ucap Fany  kemudian menutup panggilan itu. Fany bergegas mengganti pakaiannya karena tidak mungkin dia pergi ke sana dengan menggunakan baju semacam daster.


Setelah bersiap-siap diri, Fany keluar dari kamar dan segera menuju lantai bawah.


Saat sudah sampai dibawah, dia masih melihat pasangan itu sedang duduk disofa dan menikmati tayangan film yang sedang terputar dilayar tv yang sangat besar itu.


"Kau mau pergi kemana, Fany?" Tutur Sesilia sambil bergelayut manja didada bidang Austin.


Fany melihat itu hanya bisa diam. Dia ingin marah tapi itu mungkin dan tidak ada gunanya.


Sesilia adalah kekasihnya Austin, sedangkan dirinya adalah seseorang yang datang jadi istrinya dan perusak hubungan mereka. Itulah yang ada dipikiran Fany saat ini.


"Aku mau keluar sebentar. Aku pergi dulu," ucap Fany.


Setelah pamit Fany langsung keluar tanpa memperdulikan mereka. Sekarang Austin juga tidak menganggap dirinya sebagai istrinya.


"Dia mau kemana sayang?" Tanya Sesilia. Austin bukannya menjawab, dia malah pergi ke kamarnya dan meninggalkan Sesilia disofa itu sendirian.


‘Kenapa raut wajahnya terlihat seperti orang yang sedang kesal?’ batin Sesilia saat melihat kepergian Austin ke kamarnya.


🌷🌷🌷🌷


Fany telah sampai dikedai kopi tempat pertemuan dengan Alex. Fany mencari keberadaan kakaknya itu.


Benar dia adalah Alex. "Ada apa kakak menyuruhku datang kesini?" Fany to the point menanyakan apa alasan Alex menyuruhnya ke sini.


"Membahas mengenai rencana yang sebelumnya pernah kakak sampaikan," ucap Alex.


Hati Fany terasa sakit mendengar perkataan Kakaknya. Pria itu masih sempat sempatnya menyuruhnya untuk menjalankan rencana busuk sang kakak disaat rumah tangganya sendiri  tengah diambang kehancuran.


"Apa Kak Alex tidak menyanyangiku lagi?" Air mata Fany jatuh kala mengatakan itu.


Hal itu tentu membuat Alex terkejut mendapati adiknya tengah menangis.


"Kenapa kakak tidak bisa melupakan rasa dendam kakak terhadap keluarga Austin?"


"Karena ulah kakak, sekarang Austin semakin membenciku. Aku sangat berterimakasih terhadap bayi yang ada dikandunganku, berkat dirinya aku masih dapat tinggal dimansion itu." Fany serasa sesak mengatakan semua bebannya.


"Apa maksudmu Fany?" Alex sedikit bingung.


"Austin sudah mengetahui semuanya kak. Dia mendengar semua perkataan kakak direstoran waktu itu. Sekarang dia semakin membenciku. Dia akan menceraikanku setelah aku anak ini lahir,"


"Jadi dia sudah tahu semuanya?" Tanya Alex.


"Iya Kak. Austin sudah mengetahuinya. Dia akan menghancurkan keluarga kita, jika Kakak bersikeras ingin melakukan itu."


"Aku tidak peduli. Aku akan tetap menjalankan rencana ini," ucap Alex lalu berdiri.


"Dia sudah mengetahuinya tapi kenapa dia masih bersikap tidak tahu malu dihadapanmu. Seharusnya dia merasa bersalah karena sudah membunuh Ibu dari istrinya sendiri. Dialah yang telah menabrak Mama dengan mobilnya saat itu, Fany." Ucapan Alex penuh penekanan.


"Kak. Aku mohon lupakan semuanya. Aku tidak ingin kakak celaka hanya karena dendam ini. Aku tidak ingin kehilangan kalian lagi," Fany bersujud dikaki Alex. Memohon padanya.


Alex tidah habis pikir dengan sikap Fany. Ia melihat adiknya bersujud dibawah kakinya.


Karena tidak tegaan, Alex mencoba menarik Fany dan menyuruhnya untuk berdiri.


"Fany. Jangan seperti itu," pinta Alex.


"Tidak Kak. Aku akan bersujud seperti ini sampai kakak bisa melupakan semuanya dan tidak akan membalas dendam terhadap Austin." Sebenarnya kaki Fany sudah merasa sedikit kebas, tapi dia akan menahannya.


"Fany. Aku bilang berdiri sekarang juga," Alex berucap pelan. Ia tidak ingin orang yang ada disana menatap aneh terhadap mereka.


"Austin tidak akan tinggal diam, Kak. Dia akan menghancurkan keluarga Lee. Aku sudah kehilangan Mama dan aku tidak ingin kehilangan kalian lagi. Aku sangat menyayangimu kakak. Untuk itulah aku tidak ingin Kak Alex melakukan hal yang akan membahayakan Kakak.” Fany sedikit terisak.


Alex yang mendengar itu langsung merasakan perih dihatinya. Alex langsung menarik adiknya kedalam pelukannya.


"Jangan menangis lagi, Fany." Ucapan Alex terdengar lirih. Itu karena Alex mencoba menahan agar tidak menangis.


"Kakak melakukan itu hanya karena ingin melihatnya merasakan penderitaan yang kita rasakan dulu Fany."  Alex masih memeluk adiknya itu.


"Tapi tidak seperti ini, Kak. Ini mungkin sudah takdir dari tuhan, Kak. Jadi aku mohon untuk memaafkannya saja," ucap Fany.


"Setelah anak ini lahir, aku akan pergi dari kehidupannya. Setelah itu kita semua akan pergi jauh dan melupakan semua yang berhubungan dengan Austin. Jadi mohon maafkan Austin." ucap Fany.


Alex melepaskan pelukan itu. "Kakak masih belum bisa melupakannya apalagi memaafkannya begitu saja. Kakak ingin sendiri dulu. Kau pulanglah hati hati. Kakak pergi dulu." Alex kemudian melangkahkan kakinya pergi menjauh dari kedai kopi itu.


"Aku harap kau bisa melupakan dan memaafkan Austin, Kak." Fany menatapi kepergian Kakaknya. Setelah itu Fany langsung membayar pesanan Alex tadi kepada pelayan kedai kopi itu.


Fany keluar dari warung itu setelah selesai membayar. Kini ia sedang  berjalan menuju jalan raya untuk mencari taxi agar dia bisa pulang kemansion secepatnya.


Cuaca disiang itu sangat terik dan panas. Fany berdiri dipinggir jalan raya sambil menunggu taxi yang belum lewat. Fany merasa mendengar seseorang sedang memanggil namanya dari arah belakang. Fany pun menoleh dan mendapati bahwa Charleslah yang sedang memanggilnya.


‘Kenapa Charles kekantor hari ini? Apa dia sedang mengambil sesuatu disana?’ ucap Fany karena melihat Charles yang datang dari arah kantor.


Fany pun melambaikan tangannya kearah Charles tapi tiba-tiba ada sepeda motor yang tidak sengaja menyenggol Fany dan membuat Fany langsung tersungkur ke aspal  dan tidak sadarkan diri. Mengingat kalau seharian ini Fany mudah merasa kelelahan.


Charles yang melihat itu langsung bergegas lari menuju tempat Fany yang sudah tak sadarkan diri lagi. Ia jantungan karena merasa khawatir pada Fany terlebih terhadap janin yang ada dalam kandungan Fany.


"Apa kau tidak punya mata?" Charles memarahi pengendara sepeda motor itu.


"Jika terjadi sesuatu padanya. Aku tidak akan membunuhmu,” ancam Charles.


Charles langsung mengendong Fany dan membawanya kedalam mobil miliknya yang sudah datang tempat itu. Ya saat ini Charles harus membawa Fany kerumah sakit karena dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Fany apalagi kepada bayi yang ada dikandungannya Fany. Sedangkan orang yang melihat kejadian itu langsung membawa sipengendara motor itu ke kantor polisi.


Sesampainya dirumah sakit. Fany langsung dibawa oleh perawat menuju UGD untuk pemeriksaan lebih lanjut. Charles. Pria itu jangan ditanya karena Charles saat ini tengah mondar mandir untuk menghilangkan rasa khawatirnya.


Saat itu sang dokter langsung masuk keruangan Fany untuk memeriksa pasiennya.


‘Dia kan istrinya Austin.’ ucap dokter itu dalam hatinya. Dokter itu tak lain adalah Andrew Spencer teman dari Austin Nero.


Andrew terkejut saat melihat Fany dalam keadaan tak sadarkan diri. Bukan hanya itu saja, hal yang yang paling membuatnya terkejut adalah pria yang membawa Fany kerumah sakit.


Andrew tahu pasti jika pria yang sedang diluar sana adalah orang yang sudah membawa Fany ke tempat ini.


‘Saingannya Austin ini... Wajahnya tidaklah buruk,’ batin Andrew lalu kemudian memeriksa kondisi Fany.


"Syukurlah. Fany dan bayinya baik-baik saja. Kalau tidak, pasti nanti aku akan dibunuh oleh suaminya." Ucap Andrew ketika sudah selesai memeriksa keadaan Fany.


"Apa dokter mengenalinya?" Tanya salah seorang perawat itu.


"Iya. Dia istri dari temanku," ucap Andrew.


"Jadi pria yang diluar sana temannya pak Andrew.”  Ucap perawat itu yang mengira Charles adalah suaminya Fany.


"Tidak. Dia tidak temanku dan aku tidak mengenalinya. Sekarang kalian pergilah .Tugas kalian sudah selesai, lanjutkan pekerjaan kalian yang lain," ucap Andrew kesal.


Perawat itu sedikit kebingungan dan langsung memilih untuk meninggalkan ruangan itu.


Begitu juga dengan Andrew. Pria itu juga keluar untuk menemui Charles.


"Bagaimana keadaannya dan juga bayinya?" Tanya Charles. Raut wajahnya memperlihatkan kekhawatiran pria itu.


"Mereka baik-baik saja. Maaf anda ini siapanya pasien?" Tanya Andrew.


"Saya temannya. Jadi mereka baik baik saja, kan?"


“Iya. Kau tenang saja.”


Charles membuang nafas leganya. Setelah mengucapkan terima kasih Charles memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Fany. Charles ingin memastikan apa Fany baik baik saja disana.


"Dia masuk begitu saja," ucap Andrew saat melihat Charles masuk tanpa minta izin dulu darinya.


🌷🌷🌷


Austin berada dalam kamarnya. Dia merasa sangat frustasi dengan peraaannya saat ini. Tiba-tiba suara bunyi handphone menganggu pikirannya.


"Andrew?" Tutur Austin setelah melihat nama panggilan masuk diponselnya. Kenapa pria itu menelponnya?


"Ada apa?" Ujar Austin saat sudah menjawab panggilan dari Andrew.


"Cepatlah datang ke rumah sakit."


"Memang siapa yang sakit?" Tanya Austin sambil mengerutkan dahinya.


"Istrimu sedang sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi yang jelas dia tadi dibawa oleh pria lain dalam keadaan tak sadarkan diri. Bersyukurlah, karena Fany dan bayinya baik baik saja. Hanya saja kaki dan tangan Fany sedikit ada luka lecet dan lebam.


Tapi tenang saja luka luka itu bisa cepat sembuh," ucap Andrew lalu menutup panggilan.


***


To Be Continued


Bagaimana reaksinya Austin?


Like dan votenya jangan lupa teman teman


Salam manis dariku


Insani Syahputri


^^^15 Feb 2022^^^