
Sebelum Baca Vote Dulu
Happy Reading
(Sebelumnya)
Ditengah malam Austin terbangun melihat Fany sudah tertidur pulas.
Dia merasa heran bagaimana bisa Fany tidur dalam keadaan seperti ini.
"Kau terlihat menggemas saat tidur," ucapnya pada Fany. Tapi itu tidak didengar oleh karna dia sang wanita itu tengah tertidur dengan pulas. Tanpa di sengaja, Austin mengelus puncak kepala Fany dengan pelan berharap Fany semakin terlelap dalam tidurnya.
***
Keesokan paginya, Austin sudah bangun duluan. Meski hanya memakai celana pendek sebatas lutut tanpa memakai baju membuat pesona Austin meruak keluar. Aura calon daddy hot gitu.
Austin sengaja berpakaian seperti itu karena hari ini berniat memulai paginya dengan berolaharaga diruangan Gym miliknya.
Sebenarnya Austin bisa saja pergi ke tempat fitness, tapi dikarenakan sibuk dengan pekerjaan membuatnya tidak bisa mendapatkan waktu luang untuk berolahraga disana.
Karena itulah Austin pun membuat ruang gym dirumahnya sendiri dan membeli beberapa peralatan gym yang dia bisa dia pakai saat berolaharaga disaat jika memiliki waktu luang.
Di dalam ruangan gym, Austin menatap jari manisnya dengan penuh senyum. Dimana disana terselip cincin pernikahannya dengan Fany. Setelah puas tersenyum menatap cincin itu, Austin pun mulai berolahraga. Saat ini Austin tampak bersemangat sekali.
Dilain tempat, tepatnya dikamar milik Austin. Fany terbangun dari tidurnya. Matanya mencari sosok orang yang kini mulai dia cintai. Siapa lagi kalau bukan Austin.
"Kemana dia?”
“Apa dia sudah pergi ke kantor?"
Fany pun memutuskan untuk keluar dari kamar itu dan ingin pergi ke dapur untuk mengambil
air hangat. Fany merasa sangat haus sekali.
Saat sudah melepas dahaganya. Fany sudah beranjak kembali kekamar lagi. Tiba tiba langkahnya terhenti kala melihat suatu ruangan yang pintunya sedikit terbuka dikarenakan pintu ruangan itu tidak tertutup rapat.
"Selama tinggal disini, baru kali ini aku melihat pintu ruangan itu terbuka! Ada apa didalam sana, aku jadi sangat penasaran.” Ucap Fany karena pintu ruangan itu biasanya terkunci.
Fany pun berjalan dengan mengendapkan kaki untuk menuju pintu itu.
Fany meneguk air liurnya susah saat melihat pemandangan didalam sana, "Oh jadi ini ruangan gymnya.” Ucap Fany yang mengintip dari celah pintu ruangan itu dan melihat Austin yang sedang berolahraga.
Disana Fany bisa melihat peralatan olahraga Austin seperti barbell, dumb bell, push up bar, pull up bar. Dan masih ada lagi tapi Fany tidak tahu namanya, karena tidak semua nama alat fitness diketahui oleh Fany. Hal itu di karenakan Fany tidak pernah menggunakan alat seperti itu. Hanya olahraga lari pagi yang sering dilakukan oleh Fany. Itupun syukur ia mau melakukan itu.
Mata Fany kini terfokus pada Austin. Terlihat Austin menggantung di pull up barnya. Otot punggung dan otot bisep Austin terbentuk dengan sempurna sehingga membuat Fany meneguk air liurnya dengan susah. “Kenapa dia terlihat hot jika sedang seperti itu. Aku jadi panas sendiri melihatnya,” Guman Fany pelan.
Setelah selesai melakukan pull up, Austin langsung meneguk air mineral yang pada botol.
Ketika Austin sedang minum, pria itu entah kenapa merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Fany yang mendapatkan sinyal untuk menyuruhnya segeta pergi pun langsung berlari. Dan saat itu mata Austin menatap tajam kearah sembari berjalan mendekatinya untuk memeriksa sesuatu. Saat sampai dipintu Austin tidak melihat siapa siapa disana.
"Mungkin perasaanku saja," ucap Austin yang tidak melihat siapa-siapa dipintu itu.
Lain dengan Fany yang sudah berada didalam kamar, "Oh syukur aku langsung segera lari tadi. Kalau tidak, aku sudah seperti pencuri ketangkap sedang mencuri," ucap Fany. Nafasnya tersengal sengal karena habis maraton.
🌷🌷🌷🌷
Setelah selesai berolaharaga, kini Austin bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Apa kau mau ikut mengantarku kekantor? Setelah itu kau bisa pulang bersama sopir nanti,” ucap Austin tiba-tiba ketika melihat Fany sedang membaca majalah disofa.
"Aku? Mengantarkanmu ke kantor?"
"Iya,"
Entah kenapa Austin jadi ingin sekali kalau Fany ada selalu didekatnya. Jadi dia pun beralasan mengajak Fany untuk ikut mengantarkannya ke kantor.
"Baiklah.” Fany tidak bisa menolak permintaan suaminya. Ya Austin adalah suaminya.
Sesuai dengan permintaannya Austin kini mereka pun pergi ke kantor.
Kini mobil mereka sudah berhenti dekat gedung besar dan tinggi itu.
"Apa kau tidak mau masuk ke kantorku?" Tanya Austin.
"Apa boleh?"
"Tentu saja. Kau adalah istriku! Siapa yang melarangnya?” Ucap Austin tanpa disadarinya.
Fany yang mendengar kata ‘Istriku’ dari mulut Austin langsung tersenyum dan mengangguk kepalanya.
“Ayo.” Austin kemudian membawa Fany untuk melihat-lihat kantornya.
Kedatangan Bos mereka sambil membawa wanita yang sudah menyandang sebagai Nyonya Nero kekantor tentu saja menarik perhatian semua staf yang ada dikantor itu. Mereka menyambutnya dengan baik.
Fany berjalan disamping Austin dengan kepala menunduk. Ia sungguh malu melihat aneh dari orang yang ia lewati.
Austin pun berhenti dan menghadang Fany sehingga kepala Fany menabrak dada tegapnya Austin.
"Kenapa kau menunduk?”
“Aku hanya tidak terbiasa. Mereka menatapku seperti itu. Jadi aku sedikit malu untuk membalas tatapan mereka,”
"Jangan hirauan mereka. Berjalan disisiku dengan penuh percaya diri," ucap Austin lagi.
"Mereka sepertinya tidak suka denganku,”
"Tidak usah pedulikan mereka. Kau adalah istriku. Jika mereka tidak menyukaimu, itu sama saja mereka juga tidak menyukaiku. Tolong beritau aku siapa yang sudah menatapmu seperti itu. Aku akan memecatnya,”
“Tidak perlu. Jangan lakukan itu. Ayo kita keruanganmu. Aku ingin melihatnya,” seulas senyuman merekah menghiasi wajah Fany.
“Ayo.” Senyuman itu membuat Austin seketika lupa dengan pembahasan mereka sebelumya.
Fany pun tersenyum kembali dan kini tangannya sudah digenggam oleh Austin. Mereka pun berjalan bersama menuju lift sambil menunjukan senyuman pada staff yang mereka lewati.
Didalam ruangan kerja Austin, Fany hanya menemani Austin yang sedang bekerja.
Sedari tadi pria itu hanya menatap layar laptopnya lalu mengetik yang tak dimengerti oleh Fany. Untuk mengurangi rasa bosan, Fany pun menghabiskan waktu dengan membaca buku yang ada di perpustakaan kecil milik Austin yang berada dalam ruangan itu juga.
Hari sudah siang, tiba-tiba perut Fany berbunyi pertanda ia sudah lapar.
"Apa kau lapar?" Tanya Austin dari kursi kerjanya.
Fany hanya mengangguk kepala. “Apa kau mendengarnya?”
“Iya. Tapi bunyinya kurang keras,”
“Kau....” Fany mendadak jadi malu campur kesal.
"Sudahlah. Ayo, kita akan makan siang bersama. Kau mau makan apa?" Tanya Austin
"Aku ingin makan disuatu tempat. Apa kau mau mengantarkanku?" Tanya Fany hati hati.
"Ok. Kita akan kesana sekarang juga," ucap Austin sambil menutup laptopnya. Austin ternyata mau. Austin memanggil Roy dan meminta kunci mobil lalu setelah itu membawa Fany menuju parkiran. Mereka pun pergi ketempat yang ingin dituju oleh Fany.
Sesampainya disana, mereka terdiam dan masih duduk didalam mobil, "Apa kita makan di sini?" Tanya Austin . Dia tidak menyangka bahwa Fany mengajaknya makan di warung pinggir jalan.
"Iya. Apa kau tidak mau? Kalau tidak___ Jangan dipaksakan. Maaf aku lupa jika tempat ini tidak cocok untuk orang besar sepertimu. Kalau begitu kita akan pergi ke tempat yang kau inginkan saja," ucap Fany.
"Tidak___Maksudku... Aku tidak keberatan makan di sini. Ayo." ucap Austin lalu keluar dari dalam mobil.
Fany pun juga keluar dari mobil dan mengikuti Austin menuju gerobak yang di hiasi dengan papan yang menampilkan berbagai jenis makanan yang ditawarkan dan beberapa botol minuman yang bisa dibeli serta bermacam perkakas untuk menyiapkan makanannya.
Wangi aroma daging kambing yang dipanggang dialat berputar yang diletakkan vertikal itu terbawa angin dan masuk kerongga hidung Fany. ‘Itu kelihatannya enak sekali,’ Fany meneguk air liurnya.
Kini mereka mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari sang chef. Dikarenakan jarak tempat masak dan tempat duduk mereka saat ini sangat dekat sehingga akan mempermudah
"Mau beli apa Tuan dan Nyonya?" Fany dengan antusias langsung menunjuk pesanan yang ada pada papan menu itu. Mengetahui keinginan sang pembeli, sang penjual pun langsung menyiapkan nasi campur dengan dagingnya sesuai dengan yang di pilih Fany tadi.
"Mau pilih daging ayam atau kambing Nyonya?"
"Daging kambing," jawab Fany.
"Untuk 1 orang saja?" Tanya penjual itu lagi. Lalu melirik kearah Austin.
"Dua porsi. Samakan saja dengan punya istriku," ucap Austin.
"Baik Tuan."
Penjual itu kembali memasak pesanan pasangan suami istri itu.
Kini ia tengah mencampurnya potongan lettuce, menambahkan lembaran roti pita, lalu menyiramkan saus yang terbuat dari yogurt. Pesanan pun sudah siap.
"Ini Tuan dan Nyonya. Silakan di nikmati." ucap penjual sambil meletakkan pesanannya dan langsung meninggalkan meja itu.
Fany pun memulai makannya. Dia makan dengan lahap sekali.
"Apa kau tidak memakannya?" Tanya Fany yang melihat melihat Austin belum menyentuh makanannya. Padahal punya Fany sudah lenyap setengah.
“Aku akan makan," ucap Austin.
"Ini enak sekali. Kalau tidak percaya, coba saja makan." Fany menyodorkan sendoknya yang sudah berisikan makanan. Dengan senang hati Austin menerima suapan itu.
Fany tidak menyadari bahwa dia menggunakan sendok miliknya saat menyuapi Austin tadi. Bisa dikatakan pada saat itu mereka telah berciuman secara tidak langsung. Mereka makan dengan sendok yang sama. Austin yang menyadari itu hanya bisa tersenyum.
“Enak kan?”
"Iya. Makanan ini sangat enak."
"Aku belum pernah makan makanan seperti ini." Ucap Austin lagi.
"Kau itu orang besar dan berpengaruh, Austin. Jadi aku tidak heran lagi jika kau belum pernah makan makanan ini. Apalagi ini hanya warung dipinggir jalan ini. Sebelumnya pasti kau belum pernah makan ditempat seperti ini. Kau kan punya banyak uang untuk makan di restoran mewah," ucap Fany yang secara tidak sadar seperti menyinggung perasaan Austin.
"Maaf.”
"Tidak apa. Perkataanmu memang benar. Tapi berkat dirimu, aku akhirnya bisa makan di tempat seperti ini. Dan aku merasa sangat senang sekali," ucap Austin.
"Benarkah? Kau sangat senang?" Tanya Fany.
"Iya."
Fany tersenyum mendengar perkataannya Austin. Lagi lagi hal itu membuat Austin terpesona.
‘Apa aku mulai mencintaimu, Fany?’ batin Austin sambil menatap kearah Fany yang sedang tersenyum.
Setelah selesai makan Austin menelpon sopirnya untuk menjemput Fany.
Austin masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan, jadi Fany terpaksa harus pulang bersama dengan sopir mansion mereka.
Fany pasti kelelahan. Jadi karenaitu ia tidak ingin membawa Fany kekantor dan membuat Fany terlalu lama menunggu disana. Austin tahu bahwa itu akan membuat Fany merasa bosan.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mobil jemputan Fany sudah tiba.
"Tunggu." Ucap Austin yang menghentikan langkah Fany yang ingin masuk ke dalam mobil.
"Ada apa Aus___ Hmp... ” Tiffany yang berbalik badan ingin menanggapi perkataan Austin tiba tiba dikejutkan dengan Ciuman mendadak dari pria berstatus suaminya ini.
Ciuman itu sudah terlepas membuat Fany dengan segera meraup oksigen yang tadinya mau menipis, "Tunggu aku dirumah." Lalu Austin melakukan kiss forehead pada Fany.
"Iya." ucap Fany yang sepertinya sudah mabuk kepayang karena kelakuan Austin. Fany pun segera masuk ke dalam mobil untuk menetralisir debaran jantungnya yang berdegup kencang.
Mobil itu pun meninggalkan tempat saat Fany sudah duduk tenang di jok belakang mobil.
Austin memperhatikan mobil yang sudah menjauh itu. Ia tersenyum penuh Arti.
“Ada apa denganmu, Austin? Bisa bisanya kau mencium Fany. Ya tuhan ada apa dengan jantungku? Rasanya aneh sekali,” monolognya pelan. Setelah itu Austin masuk kemobilnya lalu meninggalkan tempat itu.
Kini mobil Austin pun sudah tiba dikawasan gedung perusahaan miliknya.
Ia berjalan dengan santai menuju gedung itu. Tapi baru beberapa kaki melangkah, dia mendengar suara perempuan yang memanggil namanya.
Austin pun berbalik badan. Ia membeku dan terkejut bak tersambar petir disiang hari setelah melihat sosok yang ada di hadapannya.
Ya dia melihat Sesilia yang kini sudah ada dihadapan. "Sayang." Ucap Sesilia sambil melambaikan tangannya pada wajah Austin untuk membuyarkan lamunannya Austin.
Seolah pikiran sudah kembali, Austin pun langsung melihat sekelilingnya. Dia tidak ingin orang kantor melihat kedatangannya Sesilia.
Dia tidak ingin Sesilia mengetahui bahwa dirinya sudah menikah dari mulut orang lain.
Austin pun memutuskan untuk membawa Sesilia ke apartemennya dulu.
"Kau kenapa sayang?" Ucap Sesilia ketika sudah sampai diapartemen yang ditempati Austin dulu sebelum menikah.
"Nope. Tunggu disini, aku mau ke atas sebentar.” Austin melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai atas.
"Baiklah." Sesilia berjalan menuju sofa lalu membaringkan tubuhnya yang terasa sangat melelahkan itu.
Austin sudah berada didalam kamar, ia berjalan mondar mandir seperti orang kebingungan
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kenapa dia datang secara tiba-tiba tanpa memberitahuku. Huh.”
Austin menjatuhkan dirinya keatas kasur lalu menghelakan nafasnya dengan gusar.
Austin pun berusaha menguatkan dirinya lalu bangkit berniat kembali ke bawah untuk menemui Sesilia yang mungkin sedang menunggunya.
Begitu sampai disana, Austin mencoba tersenyum padahal sebenarnya dirinya sangat frustasi dan putus asa karena kedatangan Sesilia yang secara mendadak.
Sesilia yang menyadari kedatangan Austin langsung terbangun dan berlari kearah Austin dan memeluk pria itu dengan erat.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau ingin ke New York?" Tanya Austin setelah melepaskan pelukan.
"Karena aku ingin memberikan kejutan untukmu sayang."
"Aku juga berencana untuk berada disini selamanya denganmu," ucap Sesilia lagi.
"Bagaimana dengan studimu?" Tanya Austin.
"Aku tidak akan melanjutkannya lagi sayang. Aku tidak memikirkan itu lagi." Ucap Sesilia.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin selalu bersamamu," ucap Sesilia dan memeluk Austin lagi.
“Leganya. Aku seperti merasa hidup kembali,” ucap Sesilia lagi yang masih dalam pelukan Austin. Pria itu hanya terdiam. Dia tak tahu apa yang tengah di rasakannya saat ini.
Kemudian dia melepaskan pelukan Sesilia dan menatap sesilia itu sambil memegang tangan gadisnya itu.
"Ada yang ingin aku katakan Sesillia," ucap Austin yang memasang wajah serius.
"Stop. Jangan berbicara lagi sayang. Aku ingin menikmati moment kebersamaan kita dan tidak ingin merusaknya," ucap Sesilia sambil menutup bibir Austin dengan jari telunjuknya agar pria itu tidak berbicara lagi.
***
To Be Continued
JANGAN BOSAN UNTUK TERUS MEMBACA NOVEL KU YA
I LOVE YOU ALL
^^^10/02/22^^^