I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 49



Sebelum Baca beri Vote dan Like dulu Teman teman


Happy Reading


***


"Apakah kau yang sudah menyiapkan semua ini?" Austin tiba-tiba bertanya.


Fany hanya diam dan menundukkan kepala. Austin melihat Fany hanya terdiam. Austin menoleh dan  melihat ke arah tempat lain. Ia mendapati sesuatu yang membuatnya sedikit penasaran. "Apakah ini hadiah ulang tahunku?"


Fany kaget saat Austin bertanya seperti itu dan berkata, "Iya. Itu memang kado untukmu tapi aku tidak tahu apa kau menyukainya atau tidak? Itu karena aku tidak tahu apa yang kau sukai. Kau sudah memiliki semuanya, jadi karena itulah aku bingung harus membelinya. Jadi itulah kado yang kubeli untukmu.”


Fany berjalan menuju meja dan mengambil sesuatu. Austin kaget saat Fany datang menghampirinya sambil membawa sebuah kue dengan lilin yang menyala di atas kue itu.


"Sebenarnya aku ingin memberikan kejutan untukmu tapi semuanya jadi kacau balau. Maaf." Ucap Fany dengan wajah sedikit sembab karena menangis.


Pada saat menunduk, ternyata Fany juga menangis karena merasa bersalah pada suaminya atas kelakuannya malam ini.


Austin menerima sebuket bunga mawar pemberian dari istrinya.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir dan marah," ucap Fany dan itu membuat Austin tersenyum dan segera mencium bibir Fany. Beruntung kue itu tidak jatuh.


Fany terkejut dengan tindakan Austin, tapi dengan cepat Fany pun mengikut alur ciuman yang dipimpin oleh Austin.


“Maafkan aku,” ucap Austin saat adegan ciuman itu sudah berakhir.


"Baiklah. Aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat," ucap Austin.


"Syarat? Apa itu?" Fany penasaran.


"Nyanyikan lagu selamat ulang tahun  untukku. Setelah itu aku akan meniup lilin ini. Saat api lilin ini sudah padam, disitulah aku sudah memaafkanmu." Ucap Austin sambil tersenyum.


"Baiklah. Aku akan bernyanyi karena ini adalah ulang tahunmu."


Fany mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Austin dan setelah selesai Austin juga meniup lilin yang ada pada kue itu. "Terima kasih istriku," ucap Austin yang tersenyum dan memeluk Fany.


"Selamat Ulang tahun suamiku tercinta," ucap Fany sambil membalas pelukan Austin.


"Maaf kuenya tidak sebesar yang ada di rumah Ibu." ucap Fany.


"Tidak apa." ucap Austin.


"Jadi Apa kau mau dinner denganku?" Tanya Fany.


"Baiklah. Aku tidak bisa menolaknya setelah melihat rencanamu yang konyol itu. Aku tidak ingin usahamu ini jadi sia-sia," ucap Austin. Fany pun tersenyum dan membawa Austin ke meja itu dan makan malam dengan suami tercintanya.


🌷🌷🌷


Hari ini akhir pekan. Austin memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan bersama istrinya dan calon anak mereka yang masih ada di dalam perut Fany. Saat Austin keluar dari mansion, dia sudah melihat Fany sedang berdiri di depan mobil sambil tersenyum-senyum sendiri.


“Kau kenapa?” Tanya Austin.


"Bajunya sangat cocok untukmu," ucap Fany. Ia membeli Austin baju casual untuk dipakai suaminya itu saat sedang bersantai dan jalan jalan dengannya.


"Ya. Setidaknya ini lebih baik dari pada baju pink yang pernah kau beli saat itu," ucap Austin. Persoalan baju pink, saat itu Fany sedang iseng-iseng saja hanya untuk mengerjai Austin.


"Baiklah. Kali ini aku yang akan mengemudikan mobilnya.” Putus Fany lalu mengambil kunci mobil dari tangan Austin dengan cepat.


"Tidak boleh. Kembalikan Fany," Ucap Austin dengan geram namun Fany tidak mau memberikannya.


"Aku mohon,” ucap Fany sambil memelas.


“Sini kuncinya atau acara jalan-jalannya aku cancel saja,”ancam Austin.


“Baiklah. Ini.” Ucap Fany sambil memberikan kunci mobil itu dengan wajah yang terlihat merajuk.”Dasar suami durhaka,” guman Fany.


Austin pun mendekati Fany dan berkata, "Bukan aku tidak mengijinkan. Ingat Fany kalau saat ini Kau sedang mengandung buah hati kita," ucapnya sambil mencium kening Fany.


“Aku tahu sayang,” ucap Fany sambil memeluk Austin.


"Naiklah. Kita akan pergi,"  ucap Austin.


"Kita akan pergi kemana?" Tanya Fany.


Austin tidak menjawab pertanyaan itu. Dia malah menuntun Fany dengan lembut untuk masuk ke dalam mobil. Fany tersenyum senang mendapat perlakuan seperti itu.


Saat Austin sedang fokus mengemudi, Fany melihat lihat kearah Austin yang terlihat sangat tampan sekali dengan raut wajah yang serius.


‘Nak. Kau beruntung sekali punya Ayah yang sangat menyayangimu meskipun saat ini kau belum lahir ke dunia. Lihat. Daddymu terlihat sangat tampan. Kita panggil dia daddy saja ya,’ batin Fany


"Ada apa lihatin aku terus?" Tanya Austin.


"Nothing daddy," Ucap Fany.


"Aku tahu kalau aku ini tampan sekali. Apa... Daddy??" Ucap Austin terkejut dan memberhentikan mobilnya secara mendadak.


“Aku belum mau mati Austin,” Marah Fany pada Austin.


“Kau panggil aku apa barusan?”


“Austin...”


“Tidak. Sebelum itu....”


“Daddy maksudmu?”


“Baiklah Daddy,” ucap Fany lalu mencubit pipi gemas pipi Austin.


"Kau semakin terlihat tampan. Jadi sekarang tampan tolong lajukan mobilnya. Apa kau tidak mendengar mobil dibelakangan sudah membunyikan klakson pada kita." ucap Fany.


Austin memanyunkan bibir. Ia kesal. Dengan segera Austin melajukan mobilnya karena tidak ingin membuat perkara dengan pengguna mobil dibelakang.


Saat ini Austin kembali fokus menyetir mobilnya sedangkan Fany hanya sibuk memainkan ponsel.


Seharian mereka sudah puas jalan jalan ke tempat yang Fany ingin kunjungi, mulai dari taman bermain, wisata akurium, dan kebun binatang.


Saat ini mereka tengah dalam perjalan menuju rumah, “kita singgah dulu sebentar disana, temani aku sebentar belanja untuk keperluan dapur," ujar Fany tunjuk fany ke depan dimana tak jauh lagi supermarket dari mobil mereka.


"Baiklah," ucap Austin.


🌷🌷🌷


Kini mereka sudah ada supermarket. Fany terus mendorong keranjang belanja dan mengambil beberapa makanan, sedangkan Austin hanya mengekori dibelakang istrinya.


Tiba-tiba ada seorang pegawai supermarket yang bertanya, "Kalian sedang mencari apa? Kalian terlihat sangat serasi sekali," ucap pegawai itu.


“Tentu saja. Dia istriku,” jawab Austin sensian.


"Terima kasih. Maafkan suamiku,” jawab Fany sambil tersenyum. Lalu Fany mencubit pinggang Austin membuat pria itu meringis kesakitan.


Mata Fany menangkap sosok yang sangat ia kenali,  "Itu kan Ronald dan Della. Mereka bersama." Ucap Fany saat melihat teman dan adik iparnya itu ada di supermarket dan terlihat mereka sedang berbelanja berdua.


"Iya. itu memang mereka,” jawab Austin.


“Mereka terlihat seperti berkencan saja.” Tutur Fany sambil memandang ke arah Ronald dan Della.


“Kau tidak tahu kalau mereka sedang ada hubungan spesial?” Tanya Austin.


"Tidak.” Ucap Fany dengan polosnya.


"Kasihan sekali dirimu. Apa temanmu itu tidak ada cerita padamu?" Tanya Austin lagi.


"Aku akan meminta penjelasannya," ucap Fany yang ingin mendatangi Della.


Tapi tangan Austin langsung menarik Fany keluar dari tempat itu. "Kau jangan ganggu mereka. Lebih baik kau urusi saja aku yang berstatus suamimu," ucapnya selama perjalanan menuju mobil mereka.


Fany pun terpaksa menuruti perkataan Austin “Baiklah. Tapi kenapa kau membawaku keluar. Aku belum ada belanja.”


“Kita belanja di tempat lain. Jangan disini.”


***


Hari sudah mau gelap. Mobil Austin terlihat memasuki halaman. Mereka baru pulang karena berbelanja di tempat yang cukup jauh. Mereka berdua masuk ke rumah dengan beberapa kantong plastik belanjaan dan dia langsung meletakkan kantong plastik itu di atas meja dapur.


"Baiklah. Aku akan bersiap-siap untuk memasak makan malam."


"Apa kau berniat membuat pesta besar ? Kalau iya, aku akan membantumu." Ucap Austin. Lantaran pria itu terlihat bingung melihat banyaknya bahan yang dibeli oleh Fany.


“Kau belanja banyak sekali,”


"Tidak kok. Ini untuk jatah seminggu, jadi wajar beli banyak. Kau laki laki jadi tidak mengerti. Kau mengerti cara menghasilkan uang banyak itu sudah cukup bagiku. Sekarang kau pergi mandi dulu. Biarkan aku saja yang membereskan ini semuanya." Ucap Fany.


"Apa kau yakin dapat melakukannya sendiri?" Tanya Austin.


"Kau bisa membantuku jika kau sudah selesai mandi sayang," ucap Fany.


"Sayang? Tidak Daddy lagi." Ucap Austin sambil tersenyum.


Fany menjadi merasa malu dan langsung mendorong Austin agar segera pergi lalu berkata, "Baiklah Daddy. Aku akan memasak. Jadi Daddy ku mohon cepatlah pergi mandi," ucap Fany


"Apa kau sedang tersipu malu?" Tanya Austin.


"Iya. Aku menyerah.  Jadi sekarang kau berhentilah berleha-leha. Ayo cepat pergi mandi sana," ucap Fany. Austin puas. Ia langsung pergi menaiki tangga.


Setelah Austin pergi, Fany langsung mempersiapkan segalanya. Mulai dari mempersiapkan meja, bunga hiasan meja dan yang lainnya.


Jadi saat ini Fany sedang menyiapkan makan malam, sedangkan Austin saat ini sedang mandi. Tak lama kemudian Austin sudah menyelesaikan dengan ritual mandinya pun memutuskan untuk langsung turun ke dapur dan berencana membantu istrinya.


Saat di dapur, dia melihat Fany yang ternyata sudah selesai memasak.


"Kau mandilah, biar aku yang urus sisa pekerjaanmu ini." Ucap Austin pengertian.


"Baiklah." Ucap Fany. Ia meninggalkan dapur menuju kamarnya, sedangkan Austin membereskan sisa pekerjaan yang belum diselesaikan oleh istrinya tadi.


***


Terima kasih karena sudah membaca


To Be Continued


Silakan tinggalkan jejak kalian dengan memberikan like, vote dan komentar


Salam manis dariku


Insani Syahputri


^^^14 Maret 2022^^^