
Sebelum Baca Vote Dulu
Happy Reading
(Sebelumnya)
Austin pun langsung mengajak Fany meninggalkan tempat pesta. Semua orang yang disana merasa terkejut dan tertampar dengan ucapan Austin. Lain dengan Sesilia yang merasa sedih dan sakit hati.
Satu persatu tamu sudah meninggali tempat itu, tapi tidak dengan Charles. Pria itu sedang tengah memperhatikan seseorang. Mata Charles menatap kearah lengan Sesilia. Tanda itu, sepertinya Charles pernah melihat. Tunggu. Tanda lahir itu sangat mirip dengan seseorang yang dia kenali. Tidak salah lagi. Itu benar benar mirip sekali. Charles mendekati wanita itu untuk memastikannya.
Tanpa basa basi Charles membawa Sesilia keluar dari ruangan. Ia ingin menanyakan sesuatu kepada Sesilia mengenai tanda itu. "Katakan. Kamu sebenarnya siapa?" Tanya Charles.
"Apa maksudmu tuan? Aku tidak mengerti! Anda tiba tiba menarikku kesini," ucap Sesilia lalu menepis tangan Charles yang sedang memegang lengannya dengan kuat.
"Apakah kamu Irene?" Pria itu langsung to the point untuk menanyakan sesuatu yang mengganggu pikiranya.
"Saya Sesilia Marvis bukan Irene," ucap Sesilia dengan nada yang tegas.
"Tapi kenapa kau memiliki tanda lahir yang sama dengan kekasihku. Dia sudah lama menghilang," tutur Charles.
"Mungkin itu hanya kebetulan saja tuan," ucap Sesilia.
"Tidak ada yang kebetulan. Kecuali memang takdir, sehingga kita dipertemukan lagi disini. Aku tidak salah lagi. Kau pasti Irene." Charles bersikeras mengatakan bahwa Sesilia itu adalah Irene kekasihnya yang dulu pergi menghilang entah kemana.
"Ya. Aku memang Irene, Charles. Tapi aku sudah berubah menjadi Sesilia bukan Irene lagi," ucap Sesilia meneriaki Charles. Wanita itu sungguh tidak tahan lagi.
"Tapi kenapa wajahmu bisa berubah sampai-sampai aku tidak bisa mengenalimu?"
"Aku sengaja melakukannya. Aku melakukan operasi agar kau tidak bisa mengenaliku," ucap Sesilia.
"Aku harap kamu jangan pernah mengangguku lagi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi, Charles. Aku hanya mencintai Austin.
“Mencintai Austin...” Charles mendikte perkataan Sesilia. Ia terkekeh.
“Iya. Austin lebih segalanya darimu. Dia lebih tampan dan kaya daripada dirimu sehingga aku bisa hidup tanpa kekurangan apapun jika hidup dengannya," ucap Sesilia.
"Sialan. Ternyata kaulah yang sebenarnya gila harta, bukan Fany.”
“Aku sangat senang mendengar kalau kau tidak mencintaiku lagi. Selama ini aku selalu mencarimu dan ingin memperjuangan cinta kita, tapi sekarang aku sudah sangat yakin kalau kau memang tidak pantas untukku perjuangankan lagi. Dari perkataanmu barusan, aku sudah dapat menilai seperti apa sifatmu, Irene. Aku terlalu bodoh karena selalu mencarimu, tapi ternyata kau selalu ada di sekitarku," lanjut Charles.
Charles ingin beranjak pergi, tapi langkahnya terhenti. Ia menatap kearah Irene...Ah ralat tapi Sesilia. “Ingat! Kau tidak akan pernah mendapatkan Austin, karena dia sudah menjadi milik Fany. Aku tidak akan membiarkanmu bisa menyakiti Fany. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Fany karena ulahmu. Aku akan mencari dan membuat perhitungan denganmu," ancam Charles.
Setelah itu Charles pergi meninggalkan Sesilia. Selama ini penantiannya terhadap Irene kekasihnya hanya sia sia belaka.
Charles pernah mengatakan jika dia sudah berhasil menemui kekasihnya, meskipun pada saat itu dia sudah menjadi milik orang lain, Charles bertekad akan tetap memperjuangkannya. Dalam arti kata jika dia memang pantas untuk diperjuangkan. Tapi sekarang Charles tahu bahwa Irene sudah berubah dan dia tidak pantas untuk dipertahankan lagi.
Setelah kepergian Charles, Theresia datang mendekati Sesilia. "Siapa pria itu?” Tanya Theresia.
"Bukan siapa-siapa, Kak."
"Ada apa dengan Austin. Kenapa dia membela Fany, kak?" Ucap Sesilia mengalihkan pembicaraan.
"Kau harus bertindak cepat Sesilia," saran Theresia.
"Apa maksud Kakak?"
"Kau harus melakukan sesuatu yang akan membuat Austin semakin membenci Fany. Dengan begitu Austin akan segera menceraikanya," ucap Theresia.
"Bagaimana kak? Apa yang harus aku lakukan?" Sesilia tak tau harus melakukan apa. Ia sungguh bingung saat ini. Belum lagi masalah Charles yang sudah mengetahui identitasnya.
Kali ini ia membutuhkan saran dari Theresa.
Kemudian Theresia membisikan suatu rencana ditelinganya Sesilia. Sesilia yang mendengar itu langsung tersenyum jahat. ‘Maafkan aku Fany. Sebenarnya aku orang yang sangat baik, tapi kaulah yang sudah menyebabkan aku berubah menjadi seperti ini.’ batin Sesilia setelah mendengar rencana Theresia.
"Sekarang kau tinggal bersama kakak saja. Biarkan Fany sedikit menikmati hidupnya disana karena sebentar lagi kau akan menggantikan posisinya dimansion itu untuk selamanya tanpa ada Fany dalam kehidupan kalian," ucap Theresia.
"Baik Kak. Tapi bagaimana dengan pakaianku? Semuanya ada dimansion itu," ucap Sesilia.
"Kita akan menjemputnya, tapi Austin jangan sampai tau. Kau tau kan kenapa?”
“Baik kak. Aku tau. Kakak sih kenapa harus melakukan itu.”
“Itu semua demi kamu bodoh.”
“Terima kasih kak. Aku menyayangimu.” Ujar Sesilia lalu memeluk wanita itu untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya.
🌷🌷🌷
Kembali ke Fany dan Austin. Mereka sudah sampai didepan mansion mereka. Fany ingin bergegas masuk dan meninggalkan Austin. Belum melangkahkan kakinya, Austin langsung menarik tangan Fany.
“Ada apa?” Fany menatap tangan Austin yang masih setia memegang tangan kananya. Austin yang melihat arah tatapan Fany langsung menepisnya.
"Soal tadi. Jangan terlalu serius menanggapinya. Aku hanya tidak ingin kau menjadi drop karena perkataan mereka dan membuat Bayiku dalam bahaya," ucap Austin.
Hah ternyata itu alasannya. Fany merasa sedikit kecewa. Ia pikir Austin membelanya disana karena pria itu sudah membuka sedikit hatinya. Ternyata ia salah menduga.
Fany mendengar itu hanya menjawab iya. Dia harus terbiasa dengan sikap Austin yang selalu berubah ubah.
‘Kau tahu? Sebenarnya aku tidak membencimu, hanya saja aku sangat membenci kakakmu. Egoku terlalu tinggi untuk mengakuinya,’ ucap Austin dalam hatinya menatap Fany yang hanya menunduk.
Austin sangat bingung dengan perasaannya saat ini.
Sedangkan Fany, hatinya merasa sakit mendapat perkataan seperti itu dari Austin. Bagaimana tidak? Fany bingung dengan tindakan Austin yang tidak bisa di tebak, Apalagi dengan sifatnya yang setiap waktu pasti berubah.
Fany berjalan meninggalkan Austin sendirian. Sepanjang perjalanan menuju kamar, ia bergelut dengan pemikirannya.
‘Ada apa denganmu, Austin? Terkadang kau baik padaku, terkadang bersikap dingin terhadapku. Aku sangat bingung dengan sikapmu Austin. Aku takut banyak berharap padamu. Aku takut dengan sikap baikmu padaku. Tadi aku mengira kalau kau sudah mulai mencintaiku. Tapi sekarang kau melukai hatiku dengan perkataanmu barusan,’ batin Fany. Ia menangis dalam diam.
***
Fany sudah selesai mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Fany terkejut dengan sosok Austin yang berada diambang pintu sambil bersidekap tangan didadanya.
“Ada apa, Austin?”
Apalagi yang ingin pria itu katakan. Fany sudah siap untuk mendengar.
“Malam ini aku ingin tidur disini.”
Fany jelas terkejut. “Jangan salah paham. Aku hanya ingin tidur disini karena ingin dekat dengan bayiku.” Austin langsung menjelaskan maksud keinginannya.
“Iya. Baiklah,” jawab Fany seadanya. Dia tentu tidak menolak.
Fany naik keatas kasur duluan dan membaringkan dirinya disana. Sama halnya dengan Austin. Mereka berbaring dengan posisi saling memungguni.
Tak lama kemudian Austin menggerakkan tubuhnya memutar kearah Fany. Tujuannya tidur disini karena bayinya. Tangan kekar pria itu meraih pundak Fany dan membuat wanita itu sudah dalam posisi terlentang. Fany menatap bingung kearah Austin.
Seakan tau apa yang sedang dipikirkan oleh Fany, Austin langsung menimpalinya, “Aku ingin mengelusnya.” Austin menarik sedikit baju Fany keatas sehingga membuat perut Fany terlihat. Hal itu membuat Fany merasa gugup. Tapi ia masih dapat mengontrolnya.
Tangan besar milik Austin mulai mengelus perut Fany yang tonjolannya sudah mulai kelihatan. Seketika hal itu membuat Fany merasa ada perasaan aneh dalam dirinya kala tangan Austin mengelus perutnya dan membuat pola abstrak disana. Dia merasa sedikit keenakan. Ada perasaaan nyaman disana. Pikir Fany.
‘Nak. Apa kau senang? Daddymu sedang menyapamu,’ batin Fany lalu memejamkan matanya. Austin melihat kearah Fany. Lalu setelah itu ia kembali melanjutkan kegiatannya
Fany tampak sudah tertidur itu pikir Austin.
Sudah ada tiga puluh menit lamanya Austin melakukan kegiatanya diperut Fany.
Suara ponsel milik Austin berbunyi. Dengan segera pria itu langsung memeriksanya. Ternyata ia mendapat pesan dari Sesilia. Wanita itu memberitau bahwa ia akan tinggal diapartemen milik Theresia untuk beberapa hari kedepan.
Austin hanya meread pesan itu. Ia meletakkan ponselnya diatas nakas lalu berbaring kembali.
Pria itu menatap Fany dengan lekat. Ia ingin tau apakah Fany sudah tertidur pulas?
‘Apa dia sudah tidur?’ batin Austin.
Austin memperhatikan wajah tenang Fany. Sepertinya dia benar benar sudah terlelap. Austin pun menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dan memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian, Austin menyusul tidur pulas. Terdengar deru nafasnya yang keluar secara teratur. Tangan pria itu masih bertengger diperut Fany.
Tak lama dari waktu pria itu tertidur, Fany tiba tiba membuka matanya. Sebenarnya wanita itu tidak benar benar tertidur. Ia hanya memejamkan matanya.
Fany menoleh ke samping. Pria itu terlalu sempurna dimata Fany, tapi sayang tidak bisa dimilikinya. Wanita itu dapat melihat wajah Austin dengan jarak sedekat ini.
Keesokan harinya, Fany merasa sesuatu yang berat menimpa pahanya. Ia membuka mata dan mengerjapnya sebentar untuk menyesuaikan cahaya. Alangkah terkejutnya Fany saat melihat Austin yang tertidur dengan menumpu kepalanya diatas pahanya dan tangan pria itu memeluk pinggang Fany.
Fany bingung harus melakukan apa. Dengan perlahan. Fany mencoba membangunkan pria itu. Mengingat Austin harus pergi kekantor. Jadi Austin harus segera bangun. Ia harus bersiap siap agar nanti tidak terlambat pergi kekantor.
“Austin. Bangun...” Ucap Fany sekali lagi mencoba untuk membangunkan pria itu. Austin membuka mata yang terpejam itu dengan malas. Saat sudah terbuka ia terkejut. Tanpa basa basi pria itu berdiri dan kelaur dari kamar Fany.
Fany tidak menghiraukannya. Fany sudah terbiasa. Kini ia mau bersiap siap memulai paginya dengan mandi terlebih dahulu, lalu setelah itu dia turun kedapur untuk memasak.
Ya itulah adalah tugasnya sebagai seorang istri.
Saat tengah menyajikan makanan dimeja makan, dia melihat Austin yang sudah turun dari lantai atas. Terlihat Austin memakai kemeja putih formal dipadukan dengan jas berwarna Blue sky.
Austin terlihat tampan dimata Fany. Fany ingin sekali memeluk pria itu saat ini juga.
Fany langsung membuang pikiran seperti itu jauh-jauh dari benaknya.
Apakah Austin akan bersikap dingin terhadapnya? Itulah yang tengah ia pikirkan.
"Apakah kau sudah melakukan check up kandunganmu bulan ini?" Tanya Austin yang bersikap biasa saja.
"Belum. Mungkin besok aku akan pergi kedokter kandungan," ucap Fany sambil menunduk. Sungguh ia tidak sanggup menatap mata Hazel milik Austin.
"Angkat kepalamu dan tatap lawan bicaramu saat sedang berbicara denganmu," ucap Austin.
Fany menegakkan kepalanya. Ia melihat Austin pergi menuju pintu utama mansion. Fany mengikutinya menuju garasi mobil.
Austin yang ingin masuk kedalam mobil tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati Fany. Ia tau perempuan itu mengikutinya.
"Besok aku akan menemanimu kedokter kandungan," ucap Austin.
"Tidak Austin. Biar aku sendiri saja," bantah Fany.
"Dia juga anakku Fany. Aku perlu ikut dan memastikan bahwa dia baik-baik saja," ucap Austin dengan kata yang tak terbantahkan.
Fany bingung dan tidak mengerti dengan sikap dari Austin. Dia tidak ingin Austin memberinya harapan palsu.
"Apa kau keberatan?" Tanya Austin saat hanya melihat Fany terdiam.
"Aku tidak keberatan Austin. Aku hanya tidak ingin pekerjaan dan urusanmu terganggu hanya karena menemaniku untuk pergi check up," ucap Fany.
Ya. Fany tak ingin gara-gara pergi menemaninya karena hal itu dapat menyita waktu kebersamaan Austin dengan Sesilia.
"Besok aku tidak sibuk bekerja. Mungkin aku hanya bekerja dirumah saja," ucap Austin.
"Baiklah. Kalau kau sudah berkata seperti itu, aku tidak bisa membantahnya." Austin mengangguk lalu masuk kedalam mobilnya.
“Tunggu.”
“Ada apa?” Tanya Austin bingung.
“Tidak jadi. Kau bisa pergi.”
Setelah mobil Austin sudah pergi Fany masuk kedalam mansion. Sebenarnya tadi Fany ingin memeluk tubuh Austin, tapi dia malu dan takut untuk mengatakannya. Dia takut kalau Austin akan menolaknya. Fany tidak tahu kenapa tiba tiba ia sangat ingin memeluk tubuh Austin. Fany pun berpikir mungkin itu pengaruh hormon dari kehamilannya. Ya ini pasti karena anaknya ingin sekali memeluk ayahnya itu.
🌷🌷🌷
Hari ini adalah hari dimana Charles akan datang keperusahaannya Austin untuk mengembalikan berkas dokumen yang diantar oleh Ronald waktu itu.
Akhirnya Charles dan Austin sudah menandatangani kontrak kerjasama mereka.
Setelah semuanya selesai, terlihat Charles mendekati Austin dimeja kerja milik Austin.
"Akhirnya semua berjalan dengan lancar Austin," ucap Charles.
"Hmm," ucap Austin hanya berdeham.
"Aku akan bekerja dengan lebih baik nanti Austin. Kuharap kau juga begitu." Ucap Charles dengan percaya diri.
"Aku sangat menantikan itu Charles," ucap Austin.
"Bagaimana kabarnya Fany?" Ucap Charles yang bertanya keadaan Fany dengan tiba tiba.
Charles sangat khawatir pada Fany sejak kejadian tadi malam.
"Dia baik-baik saja. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya," ucap Austin dengan tegas dan nada bicara terdengar seperti yang tidak suka pada Charles.
"Baguslah. Aku sangat khawatir sekali denganya," ucap Charles lagi dan itu malah membuat Austin terlihat kesal.
"Kau jangan sangat terlalu perhatian sama istriku. Lakukan saja urusanmu yang lainnya," ujar Austin.
"Apa kau menganggapnya sebagai istrimu?" Tanya Charles. Pria itupun mendapat tatapan mematikan dari Austin setelah bertanya seperti itu.
"Jika memang kau menganggapnya sebagai istrimu, Kenapa kau malah membiarkan dia tinggal satu rumah dengan kekasihmu?" Charles sepertinya ingin menyulut api dalam diri Austin. Charles marah ketika mengetahui bahwa Sesilia tinggal satu atap dengan Austin dan Fany. Pria macam apa dia itu. Bajingan pikir Charles.
"Apa kau tidak memikirkan perasaannya? Istri mana yang tidak sakit hati jika suaminya mengajak kekasihnya tingggal satu atap dengannya," ucap Charles terlihat santai.
Austin yang mendengar itu langsung membogem wajah Charles sehingga Charles terjatuh ke lantai. "It’s no your bussines. Kau terlalu jangan mencampuri urusanku," ucap Austin terlihat emosi.
Charles yang menerima pukulan Austin hanya diam dan tak membalasnya. Ia terlihat santai dan menatap lalu mendecih kearah Austin.
"Kau camkan baik baik Austin!!! Jika kau membuat hati Fany tersakiti dan terluka, maka aku akan mencoba mengambilnya darimu," acam Charles lalu bangkit dari lantai itu. Ia tidak main main dengan kata katanya barusan. Jujur saja kalau Charles juga menyukai Fany. Dan rasa itu masih ada sampai saat ini.
"Coba saja jika kau bisa," tantang Austin.
"Baik. Jangan meremehkan aku, Austin." Charles pergi meninggalkan ruangan Austin.
Saat dia pergi, Charles tak sengaja berpapasan dengan Sesilia. Sesilia yang melihat Charles keluar dari ruangan Austin hanya mencoba untuk mengabaikannya. Begitu juga dengan Charles. Itu karena Charles tidak mau berurusan lagi dengan Sesilia. Charles pun langsung pergi meninggalkan wilayah perusahaannya Austin.
🌷🌷🌷
"Sayang." Panggil Sesilia saat masuk keruangan itu.
Austin yang masih emosi hanya diam dan mengabaikan keberadaan Sesilia.
"Kenapa kau mengabaikanku, Austin?" Ucap Sesilia mulai kesal.
"Kau jangan mengangguku Sesilia!” Bentak Austin.
"Kenapa kau membentakku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Ucap Sesilia. Austin hanya diam saja dan itu membuat Sesilia marah.
"Apa kau menikah dengan Fany karena kau mencintainya?" Tanya Sesilia.
"Itu karena dia sedang mengandung anakku," protes Austin.
"Apa kau yakin kalau bayi yang ada dikandungannya itu benar-benar bayi milikmu?”
Sesilia menatap Austin senyum liciknya.
Austin terkejut mendengar perkataannya Sesilia. Austin menatap kearah Sesilia, “Apa maksudmu?”
"Bagaimana jika itu bukan anakmu? Kita tidak tahu apakah dia cuma mau memanfaatkanmu dengan mengatakan bahwa bayi yang ada didalam kandungannya adalah anakmu. Siapa tahu dia hanya mau hartamu saja. Kita tidak tahu apa ini adalah rencananya untuk menipu dan memanfaatkanmu. Apa kau sudah memastikan bahwa janin itu benar benar bayimu?"
Austin pun mengingat dengan perkatan Alex yang ingin mengambil hartanya. Dan itu mulai membuat Austin emosi. “Sialan.”
"Apalagi dia berteman dengan banyak pria. Contohnya saja Charles. Fany sangat dekat dengan Charles. Siapa tahu anak yang ada didalam kandungannya itu adalah anak Charles.”
ucap Sesilia memanasi Austin.
Austin yang emosi dan tidak bisa berpikir jernih langsung mengambil kesimpulan bahwa yang dikatakan Sesilia itu benar adanya. Mengingat pria tadi sangat menginginkan Fany.
Emosinya semakin tersulut, saat dia memikirkan hal itu. "Kau harus segera menceraikan sebelum terlambat. Jangan sampai bayi itu lahir dan Fany akan memanfaatkanya. Apalagi ia akan berlindung pada kekuasaan Charles yang sangat mendukungnya." Ucap Sesilia.
Austin marah besar. Ia pun langsung pergi dari ruangan itu dengan kondisi yang bisa dikatakan tidak baik baik saja. "Akhirnya rencanaku berhasil juga. Austin... Kenapa kau sangat mudah dikelabui?" Ucap Sesilia sambil menatapi kepergian Austin dari ruangan itu.
🌷🌷🌷
To Be Continued
^^^19-02-2022^^^