
SEBELUM BACA VOTE DULU
LIKE DAN KOMEN JUGA YA
HAPPY READING...
***
Dipagi hari Fany mendapatkan pesan dari Charles. Pria itu memberikannya undangan pesta yang akan diadakan disuatu club. Ingat, Charles itu memiliki sebuah club yang didirikannya sebagai pekerjaan sampingannya. Bahkan sesekali ia menjadi seorang dj di club miliknya sendiri. Kini Charles mengharapkan kedatangan Fany di pestanya itu.
Fany dengan berat hati hanya menulis ‘Iya’ untuk membalas pesan dari Charles.
Dia sebenarnya tidak mau pergi karena pesta itu diadakan di sebuah club.
Fany jadi merasa ragu, seketika ia pun mengingat Charles yang begitu baik padanya.
Oleh karena itu Fany memutuskan untuk pergi kesana.
***
Diruangan kerja milik Austin, pria itu berbincang dengan Roy selaku tangan kanannya.
"Apa kau akan datang ke pesta itu?" Tanya Roy.
“Aku akan datang. Dia sudah mengundangku, tidak mungkin aku tidak datang kesana. Apa yang akan dia pikirkan mengenai diriku, jika nanti aku tidak datang?" Ucap Austin sambil memainkan penanya.
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan pulang cepat hari ini," ucap Roy.
"Kau tidak ikut?"
"Tidak. Aku sangat lelah dan ingin istirahat diapartemen saja. Kau sudah membuatku terlalu banyak bekerja,” Roy mulai berjalan keluar dari ruangan Austin.
"Dasar bedebah sialan." Umpat Austin yang kesal dengan ucapan Roy padanya.
Roy sudah berada diluar ruangan itu masih bisa mendengar teriakan Austin.
"Terserah kau mau bilang apapun. Aku tidak akan peduli. Aku mau pulang,” teriak Roy.
***
Dimalam hari, Austin sudah selesai dengan pekerjaannya. Saat ini Austin mandi diruangan pribadi miliknya yang berada diruang kerjanya.
Austin terlihat sudah bersiap, kini ia bersiap siap pergi ke klub untuk menghadiri pestanya Charles. Dalam perjalanan Austin mengingat tingkah konyol yang dilakukannya pada Fany tadi pagi. Memikirkan hal itu membuatnya tersenyum sendiri.
Dilain tempat, Fany terlihat sudah sampai diklub. Saat sudah berada didalam club, ia melihat sosok seperti kakaknya sedang dipapah oleh Charles. Fany pun mendekati mereka untuk memastikannya. "Kak Alex!" Fany melihat orang itu yang ternyata memang kakaknya.
Charles mengeryitkan dahinya saat Fany memanggil Alex dengan sebutan kakak.
‘Apa dia mengenali Alex? Apa hubungannya dengan Alex?’ batin Charles.
"Kak Alex? Kau kenal dengan Alex?”
"Iya. Dia adalah Kakak kandungku,”
Charles terkejut mendengar perkataan Fany. Dia tidak menyangka jika Fany adalah adik dari temannya. ‘Kenapa aku tidak mengetahuinya,’ batin Charles memandang Fany dan Alex tidak percaya.
"Kak Alex. Kenapa bisa seperti ini?" Fany terlihat khawatir melihat kakaknya dalam keadaan seperti itu.
"Kau tenang saja. Dia hanya mabuk. Tadi Alex kebanyakan minum alkohol,"
Charles mencoba membuat Fany untuk tidak terlalu Khawatir dengan keadaan Alex.
"Fany. Kau di sini?" Alex berbicara tapi dalam keadaan mabuk.
"Iya kak. Fany di sini,"
"Oh ya. Ini kenalkan teman kakak. Charles Addison. Dan Charles, ini dia adikku yang kukatakan waktu itu," Alex mencoba mengenalkan mereka berdua.
"Kami sudah saling kenal, kak.”
"Baguslah jika kalian sudah saling mengenal,” racau Alex dan berjalan dengan sempoyongan.
Charles langsung memegang Alex agar dia tidak jatuh ke lantai. Lihatlah Alex sudah terlihat mabuk berat. Untuk berdiri saja dia susah. Entah sudah berapa gelas alkohol yang sudah diteguk oleh Alex. Charles memanggil anak buahnya untuk mengantarkan Alex pulang ke rumah. "Tolong antar dia ke rumahnya," ucap Charles pada anak buahnya.
"Baik Tuan," ucap mereka lalu membawa Alex keluar dari club itu.
"Maaf Charles sudah membuatmu kesusahan,"
"Tidak apa Fany. Dia temanku juga. Sebagai teman sudah seharusnya untuk menolongnya."
Charles pun menceritakan bahwa Alex yang mengganti posisi sekretaris yang sebelumnya dipegang oleh Fany sebelum mengundurkan diri. Fany mengucapkan banyak terima kasih karena sudah memberikan pekerjaan pada kakaknya.
***
Austin sudah sampai di klub dan masuk dengan senyuman mempesona. Pria itu masih memikirkan tingkah konyolnya tadi pagi. Sepertinya Austin susah sekali untuk melupakanya.
Tak sengaja mata Austin menangkap sesuatu yang membuatnya ingin marah. Bagaimana tidak, ia melihat sesosok yang mirip istrinya. Bukan mirip, itu benar benar Fany. Untuk apa wanita itu berada ditempat seperti ini.
Terlihat Fany memeluk pria yang pernah mendatangi rumahnya. Dia adalah Charles.
Disisi lain Fany memang memeluk Charles. Ia melakukan itu untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Charles karena sudah banyak membantunya dan memberikan pekerjaan pada Alex.
Charles terkejut mendapati Fany yang sedang memeluknya secara tiba tiba.
Dia bingung harus berbuat apa, dia pun hanya membalas pelukan Fany sambil menepuk pelan punggungnya. Tapi kemudian secara kebetulan ia melihat Austin yang sudah datang ke Klub.
Austin tengah melangkah mantap, tiba-tiba terhenti karena dia melihat Fany.
Ya Tiffany, istrinya yang sekarang tengah memeluk pria lain. Fany juga belum menyadari keberadaan Austin yang juga ada di klub ini.
Entah kenapa Charles semakin mengeratkan pelukan dan itu membuat Fany bingung. Ia ternyata ingin membuat Austin cemburu.
Austin semakin tertegun ditempatnya berdiri melihat istrinya dipeluk Charles.
Mereka pun saling menatap tajam.
Austin marah. Dengan langkah tegasnya Austin mempercepat langkahnya. Tangan kekarnya terulur menarik lengan Fany dan melepaskan pelukan itu.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" Tanya Austin dengan kesal.
"Maaf. Aku hanya memeluknya," jawab Charles dengan santai.
"Hanya memeluknya!! Charles kau adalah temanku dan juga rekan bisnisku. Kau tidak seharusnya melakukan seperti itu," ucap Austin.
“Kau. Ayo kita pulang.” Austin menarik tangan Fany dan membawa istrinya itu untuk pulang ke mansion .
Sesudah sampai di mansion, Fany pun hanya diam tanpa menjelaskan apapun pada Austin mengenai kejadian tadi.
Dia memilih masuk ke kamar dan meninggalkan Austin yang sedang kesal.
***
Ia ingin Fany mencoba menjelaskan mengenai kejadian semalam.
Tapi lihatlah, Fany malah bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa dan itu membuat Austin semakin kesal.
Austin pun jadi membatalkan pertemuannya dengan rekan bisnisnya hari ini.
Dia meminta pada Roy menjadwal ulang pertemuan itu, setelah itu dia memilih pergi.
"Memang kau mau pergi kemana sampai harus membatalkan semua jadwal?" Ucap Roy.
"Ada urusan yang lebih penting dari pada pertemuan itu," ucap Austin dengan santai .
"Urusan apa?”
Roy bingung tentunya. Ia heran dan bertanya-tanya, urusan penting sehingga membuat Austin sampai membatalkan pertemuan yang akan menghasilkan banyak uang itu.
"Kau tidak perlu tahu. Dan mengenai Ronald, dia tidak akan masuk kerja untuk beberapa hari ini karena Ibuku melarangnya untuk bekerja," ucap Austin kemudian pergi dari tempat itu.
‘Jadi aku masih kerja sendirian. Nasib... Nasib....’ batin Roy.
***
Fany kembali mengunjungi rumah Della untuk melihat keadaan sahabat itu.
Saat sudah sampai disana, dia melihat Della yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Fany kau kesini?”
"Iya. Aku ingin melihat keadaanmu. Sepertinya kau sudah terlihat lebih baik,"
"Iya. Aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi,"
"Syukurlah. Kau sudah baik-baik saja,"
"Ini semua karena dirimu. Kau merawatku dengan baik Fany,"
Fany tersenyum. Mereka akhirnya berbincang dan menghabiskan waktu dirumah Della sampai hari sudah malam.
***
Austin sudah pulang. Ia langsung mencari keberadaannya Fany.
Ia masuk ke kamar milik Fany tapi tidak mendapati wanita disana. Dia mencari ke semua ruangan yang ada di mansion itu. Bahkan dia mencari sampai ke gudang dan berharap bisa menemukan Fany tapi hasilnya nihil.
‘Bodoh. Untuk apa Fany pergi ke tempat laknat ini’ batin Austin merutuki kekonyolannya.
Sampai malam hari Fany pun tidak muncul dimansion itu. Austin kesal dan frustasi dengan Fany. Ia sengaja pulang cepat karena ingin bertemu dengan wanita itu.
‘Kemana istriku itu pergi?’ batin Austin. Austin kembali menelpon Fany tapi tidak diangkat, dia memberikan pesan tapi tak kunjung ada balasan dari Fany. Lagi lagi Fany berhasil membuatnya mencari keberadaan Fany tanpa tau dimana dan tanpa kabar.
Austin terus menatapi ponselnya, dia menunggu Fany menelponnya dan membalas pesannya.
Tapi tetap tak ada apapun diponselnya, Austin pun menjadi sedih dan kecewa.
Austin pergi menuju gerbang untuk menunggu tanda-tanda kedatangan Fany.
Mata Austin memicing saat melihat sebuah taksi berhenti di depan gerbang mansion.
Lalu seorang wanita bertubuh mungil keluar dan terlihat sedang membayar pada sopir taksi itu, kemudian taksi itu melaju pergi.
"Akhirnya sampai juga," ucap wanita itu.
Dia kemudian berbalik dan terkejut mendapati Austin yang tengah berdiri didepan gerbang.
"Austin! Kenapa kau berdiri di situ?”
"Kau dari mana saja?" Ucap Austin. Terdengar suaranya seperti sedang marah.
"Aku dari rumah Della," ucap Fany.
"Siapa Della? Untuk apa kau kesana?” Austin masih terlihat marah karena frustrasi tadi.
"Dia sahabatku. Aku kesana karena ingin menjenguknya. Dia sedang sakit," ucap Fany. Wanita terlihat bingung dengan sikap Austin.
Austin yang tampak kacau langsung mendekati dan memeluk Fany.
"Apa kau sengaja membuatku menajadi seperti ini?" Ucap Austin sambil memeluk Fany dengan erat.
"Austin aku hanya pergi menjenguk Della. Aku khawatir dengannya," ucap Fany terkejut. Austin memeluknya dengan erat kemudian Fany berusaha melepaskan pelukan itu membuat Austin mengeryitkan dahinya.
"Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku saat kau tak kunjung pulang ke rumah," ucap Austin marah.
Dia kemudian menarik Fany ke dalam rumah dan membuat Fany semakin kebingungan.
"Kau khawatir padaku Austin?" Tanya Fany tiba-tiba sehingga membuat langkah Austin berhenti. Austin berbalik dan menatap Fany.
"Terima kasih." Ucap Fany. Bukanya menjawab perkataan Fany, Austin justru menarik dan membawa Fany menuju ke kamarnya.
"Austin ini bukan kamarku," ucap Fany heran pada sikap Austin.
Dia bertanya kenapa Austin membawanya ke kamar Austin.
Austin tidak menjawab. Ia hanya diam dan malah membawa Fany ke kasur dan berbaring.
"Austin." Ucap Fany.
"Tidurlah. Aku sangat lelah." Ucap Austin yang berbaring dan memejamkan matanya sambil memeluk Tiffany.
"Setidaknya biarkan aku mandi dulu,"
"Tidak perlu. Tidurlah,"
Malam ini di ruang kamar Austin, Fany terpaksa tidur dengan Austin dalam posisi Austin yang sedang memeluk Fany.
***
To Be Continued...
Jangan lupa beri Like ya untuk mendukung karyaku
I love you all
Insani Syahputri...
^^^08 Feb 2022^^^