
Sebelum baca beri dan like dulu teman teman
Happy Reading
***
‘Ya tuhan, apa salah jika aku menggoda istri sendiri?’ ucap Austin dalam hatinya.
Setelah dua puluh menit lamanya, Fany pun mengambil kompresan itu.
Lalu ia mengambil obat pereda nyeri pada kotak P3k dan memberikannya pada Austin.
"Minum obat ini, setidaknya ini bisa mengurangi rasa nyeri pada lukamu," ucap Fany.
Austin mengambil obat itu dan meminumnya. Saat itu juga ponsel Fany berbunyi.
"Kakak Alex." ucap Fany saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya saat sudah mengambil benda pipih itu.
"Fany, kau di mana? Kakak sudah ada di bandara sekarang. Cepatlahlah kesini." ucap Alex saat Fany sudah mengangkat panggilan itu.
"Kak Alex sudah ada di bandara?" Tanya Fany.
Fang lupa, ternyata hari ini adalah keberangkatan mereka untuk meninggalkan kota ini setelah dia sudah bercerai dengan Austin.
Austin yang mendengar nama Alex langsung mengambil ponsel itu dari tangan Fany.
Dia tahu kalau setelah dirinya menceraikan Fany, mereka akan pergi dari kota ini.
Beruntung Austin sudah membaca pesan itu dari ponsel Fany waktu itu.
"Alex. Ini Austin yang sedang berbicara. Aku beritau satu hal. Fany tidak aka pergi pergi kemanapun." Ucap Austin setelah dia mengambil alih pembicaraan dengan Alex.
"Austin. Ternyata kamu. Dimana Fany? Kembalikan ponsel itu pada Fany, biarkan aku bicara dengannya. Aku tidak ada urusan denganmu," Sejujurnya Alex terkejut mendengar suara Austin.
"Dia ada di sampingku, Alex. Tidak perlu khawatir"
"Kalau bersama bajingan sepertimu, tentu saja aku khawatir. Kenapa dia tidak bisa pergi? Apa kau belum puas menyakitinya? Demi Fany aku harus rela melupakan dendamku padamu.”
“Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan. Jika kau berniat untuk menyakitinya, aku tidak akan segan segan lagi untuk membunuhmu Austin."
"Aku tidak ingin menceraikanya Alex karena dia mengandung anakku. Satu hal lagi yang perlu kau ingat bahwa sekarang aku sangat mencintai Fany. Jadi dia tidak akan pergi bersamamu. Pegang kata kataku kalau aku tidak akan menyakitinya lagi." Ucapan Austin penuh penegasan.
"Apa yang sedang kau bicarakan? Apa kau bisa dipercaya Austin?"
“Percayalah padaku. Mengenai kecelakaan ibu kalian. Aku minta maaf untuk itu. Sebagai gantinya aku akan menjaga dan merawat Fany dengan baik disini. Aku tulus mengatakanya.” Austin berkata seperti itu sambil menatap dan menggenggam tangan Fany.
"Sudahlah. Sekarang kau pergilah sendiri dan jangan mengajak istriku. Jika kami ada waktu, maka Aku dan Fany akan mengunjungi kalian. Dan juga aku titip salam pada Ayah mertua, katakan padanya kalau menantunya ini sangat merindukannya. Ingat. Jangan lupakan itu." ucap Austin lalu dia mengakhiri panggilan itu secara sepihak.
"Dasar Ipar brengsek." Umpat Alex saat Austin tiba tiba mengakhiri panggilan itu.
"Aku akan mempercayaimu, Austin. Tapi jika suatu saat kau menyakiti adikku, maka aku tidak akan segan segan untuk membunuhmu Austin." Lalu Alex menarik koper miliknya.
Alex terpaksa harus pergi sendiri dari kota itu, tapi itu tidak masalah baginya dan tidak akan menyesalinya jika adiknya itu memang sudah bahagia bersama pria itu.
Di dalam kamar, Fany langsung memukul paha pria itu, "kenapa kau berbicara seperti itu pada kak Alex?" Fany merasa kesal terhadap suaminya itu.
"Karena kau memang tidak akan pergi kemana mana. Apa aku salah bicara? " ucap Austin.
"Jangan pergi dan tetaplah bersamaku." Pinta pria itu.
"Bagaimana jika sekarang aku akan pergi?" Fany ingin menantang Austin. Ia ingin melihat bagaimana reaksi pria itu.
"Maka aku akan mengurungmu Fany."
"Jika pun kau berhasil kabur dan pergi. Maka aku akan mencarimu. Bahkan jika kau pergi ke tempat terpencil pun, aku pastikan akan menemukanmu." ucap Austin.
Fany merasa senang mendengar perkataan Austin, kemudian dia berkata, "Apa kau memang benar benar mencintaiku?"
"Tidak." ucap Austin.
"Oh begitu," ucap Fany sambil menundukkan kepalanya. Ia percaya begitu saja dan merasa kecewa.
Austin yang melihat itu langsung memegang dagu Fany, "Kau meragukanku. Lihat aku."
Fany pun menatap ke arah Austin, "Aku sangat mencintaimu. Jadi untuk apa aku menahanmu disini dan tidak jadi menceraikanmu agar kau tidak pergi? Itu karena aku sudah mencintaimu. Jangan tanya bagaimana dan kapan? Aku pun tidak tau.Semua terjadi begitu saja. Untuk itulah aku harap padamu untuk jangan meninggalkanku." Austin pun mencium bibir Fany lagi, setelah itu dia memeluk Fany.
“Kupikir kau tidak jadi menceraikanku karena bayi yang sedang aku kandung dan rasa tanggung jawabmu padanya.”
“Itu untuk opsi yang kedua. Yang pertama itu karena aku sangat mencintaimu.”
"Terimakasih karena sudah selalu sabar dengan perubahan sikapku selama ini," ucap Austin dan Fany pun mengangguk kepalanya.
Setelah itu Fany mengajak Austin untuk sarapan pagi, sebelum dia berangkat kekantor.
Fany hanya menyiapkan teh dan roti selai untuk sarapan Austin.
Fany berpikir jika ini lebih praktis karena dia harus berburu waktu dan dia tidak mau jika Austin akan terlambat ke kantor. Sudah benaran terlambat pun. Oleh karna itulah roti menjadi pilihan Fany hari ini karena mudah dibuat dan dikonsumsi.
Setelah sarapan Fany menemani Austin menuju gerbang mansionnya itu.
Saat sudah sampai di gerbang, ternyata mobil Roy juga baru tiba. Pria itu datang menjemput suami tercintanya.
Austin jelas merasa sangat senang.
“Dikit dikit romantis. See. Sebentar lagi kalian pasti akan bertengkar. Awas saja kalau kau menginap di apartemenku.” ucapnya pada Austin. Roy sangat kesal.
“Menginap di apartemen?” Fany tidak mengerti.
“Abaikan dia,” Austin memberikan tatapan membunuh yang di arahkan pada Roy.
‘awas saja kau.’ Batin Austin. Roy mendadak merinding melihat tatapan Austin padanya.
"Masuklah," ucap Fany seperti mencairkan suasana yang terasa mencekamkan tadi.
"Apa kau ada kegiatan siang ini?" Tanya Austin tiba-tiba.
"Mungkin nanti aku akan pergi menemui Charles." ucap Fany.
“Untuk apa?” Austin seperti tidak suka dan merasa marah.
“Ada yang ingin kusampaikan padanya.
"Baiklah, nanti kita akan pergi bersama." ucap Austin.
Fany terkejut, dengan segera ia menolaknya. "Bersama? Kau kan masih kerja. Tidak bisa." ucap Fany.
"Apa maksudnya tidak bisa. Aku bosnya, jadi nanti kita akan pergi bersama. Tidak ada bantahan." ucap Austin.
"Baiklah." ucap Fany.
"Kau jadi berangkat kantor atau tidak?" Ucap Roy yang rasa kesalnya sudah melampui batas.
"Kalau kalian ingin memadu kasih jangan disini, mataku jadi ternodai karena kalian." ucap Roy lagi.
"Kau tidak bisa diam. Dasar penganggu.” Austin merasa kesal karena Roy menganggunya.
"Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Austin.
"Hmm. Hati hati." Ucap Fany.
Austin pun masuk kedalam mobil dan Roy langsung melajukan mobil itu dan meninggalkan Fany sendirian disana. Dari kaca spion mobil itu, Austin melihat Fany yang sedang melambaikan tangan kearah mobil tersebut.
"Cih. Akhirnya kau jatuh hati juga dengannya." Desis Roy.
Austin tidak merespon perkataan Roy, dia hanya fokus menatap Fany pada kaca spion itu, sampai akhirnya tidak ada lagi karena mobil itu sudah pergi menjauh.
Saat di kantor, tiba tiba Ronald masuk tergesa-gesa ke dalam ruangan Austin.
"Kakak tahu. Ternyata Ibu kembali baik lagi padamu mungkin karena melihat berita ini," ucap Ronald yang datang keruangan hanya untuk mengatakan itu.
Austin membaca berita yang ada pada ponsel milik Austin. Dia juga melihat foto dirinya dan Fany yang tengah berciuman dan itu membuatnya merasa sangat senang.
"Aku merasa berterima kasih kepada orang yang sudah membuat berita ini. Berikan dana pada mereka sebagai kompesasi dariku." Ucap Austin yang terlihat merasa senang.
"Terimakasih karena sudah memberitahukan hal ini Ronald," senyum Austin masih belum hilang.
Ronald tersenyum untuk membalas senyuman kakaknya. Setelah itu Austin menyuruh sang adik untuk melanjutkan pekerjaannya
"Aku jadi penasaran seperti apa reaksi Bibi saat mengetahui kalau putranya telah melakukan tes dna terhadap cucunya sendiri," ucap Roy. Sepertinya pria itu senang sekali untuk menyulut emosi Austin.
Benar saja. Austin yang sudah tersulut itu langsung menyuruh Roy untuk keluar dengan melempar barang yang ada dimeja kerjanya.
Beruntung Roy dapat menghindarinya dan pergi dari tempat itu, Dia sengaja berkata seperti itu agar Austin merasa kesal.
"Sial. Bisa bisanya dia berbicara seperti itu. Gara gara dia, aku jadi ingat saat Ibu marah dan memukulku dengan baseball semalam. Ibu mukulnya kuat sekali," ucap Austin.
***
Di siang hari sesuai dengan perkataannya, Austin menyuruh Roy untuk mengantarkannya ke mansion. "Aku pergi dulu." ucap Roy saat mereka sudah tiba di mansion itu.
"Hmm. Terima kasih." Ucap Austin lalu masuk kedalam mansion itu.
Sama halnya dengan Roy, pria itu langsung melajukan mobilnya saat Austin sudah masuk kedalam mansion.
Didalam mansion, Austin melihat Fany yang sedang menuruni tangga. Terlihat Fany yang ternyata bersiap siap untuk pergi.
"Kau sudah siap. Sepertinya kau bersemangat sekali untuk menemui Charles.”
“Jangan begitu. Nanti kau sendiri yang kesal karena cemburu.”
***
To Be Continued
Jangan lupa beri Like dan vote untuk mendukung karyaku ya
Saranghae semuanya
By Insani Syahputri
^^^25-02-2022^^^