
Sebelum baca beri Vote dan Like dulu ya teman teman
Happy Reading
***
Fany pulang bersama dengan Charles dan Della, sedangkan Austin kembali menuju ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang masih belum selesai.
Charles mengantar Della ke rumahnya terlebih dahulu. Kini tinggallah mereka berdua ada di dalam mobil itu. Charles menyuruh Tiffany duduk didepan bersama dengannya. Fany pun tidak menolak permintaannya Charles.
Tiba-tiba Fany mulai berbicara pada Charles membuat pria itu senang mendengar Fany yang mulai mengajaknya berbicara duluan. "Apa aku boleh minta tolong padamu?" Fany butuh bantuan dari Charles.
Charles pun menjawab, "Apapun itu aku akan melakukan untukmu," Fany langsung tersenyum dan senang mendengarnya.
"Seminggu lagi ulang tahunnya Austin," Fany menjelaskan kalau sebentar lagi ulang tahun suaminya dan dia ingin membeli hadiah untuk Austin. Mumpung lagi ada waktu. Ia ingin membeli kado untuk sang suami.
"Jadi? Apa yang bisa aku bantu untukmu?"
"Kau tidak keberatan kalau sekarang menemaniku sebentar pergi ke mall. Aku mau membeli kado buat Austin?” ucap Fany. Charles hanya mengangguk tanpa berucap apapun. Dia sedikit kesal dan jengkel karena ternyata Fany minta tolong hanya untuk membeli kado Austin.
Charles melajukan mobilnya menuju Mall, pusat pembelanjaan yang paling banyak diminati para wanita kalangan atas di kota tersebut.
Kini Fany sedang sibuk dan sedikit pusing memilih hadiah apa yang cocok untuk orang seperti Austin karena pria itu sudah memiliki segalanya.
Charles yang selalu ada di samping Fany dari tadi hanya mengamati keasikan Fany yang memilih dan melihat barang-barang yang ada di setiap toko pada mall itu sampai Fany benar-benar sudah selesai memilih hadiah yang menarik untuk Austin.
Saat sudah berada di dalam mobil Fany pun bertanya pada Charles.
"Apa menurutmu Austin akan menyukai hadiah ini?" Fany terlihat ragu terhadap kado yang dia ingin berikan pada suaminya. Dia takut Austin tidak menyukainya.
Charles pun menjawab, "Tentu saja. Austin pasti akan menyukai hadiah ini."
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?"
"Ini hadiah yang kau beri dengan tulus dari hatimu. Just a simple. Aku katakan padamu Fany, jika kau memberikan sesuatu pada seseorang dengan setulus hati, baik pemberianmu itu mahal atau tidak, besar atau kecil, orang itu pasti akan menerimanya dengan senang hati. Apalagi kalau pria itu mendapatkannya dari wanita yang ia cintai. Jadi Austin pasti akan menyukainya. Kalau dia tidak mau, aku bersedia menampungnya," ucap Charles.
"Baiklah. Aku mengerti Charles. Terima kasih atas kata-kata mu barusan."
Fany jadi percaya diri. Charles pun tersenyum membalas perkataaan Tiffany.
***
Di kantor, Kini Austin dan Roy sudah menyelesaikan pekerjaan mereka. Roy pun menyinggung mengenai ulang tahun Austin yang dekat lagi.
"Apa kau punya rencana untuk membuat pesta?" Tanya Roy.
“Pesta apa?”
Sepertinya Austin benar benar menjadi pria bodoh sejak jatuh hati pada Fany. “Ya pesta ulang tahunmu bodoh,” timpal Roy. Dengan begitu mudahnya ia mengatai Austin itu bodoh.
"Aku hampir lupa soal ulang tahunku. Kalau saja kau tidak menyinggungnya, aku pasti tidak akan mengingatnya." Ucap Austin.
"Jadi apa kau akan mengadakan Party?"
"Aku rasa tidak." Ucap Austin.
"Kenapa? Biasanya tiap tahun pasti kau akan mengadakan party," ucap Roy lagi.
"Aku akan menghabiskan waktuku bersama istriku. Cuma berduaan saja," ucap Austin.
"Apa Fany sudah tahu kapan hari ulang tahunmu?".
"Aku tidak tahu. Meskipun dia tidak mengetahuinya, aku akan memberikan kode agar dia peka. Aku tidak mau langsung memberitaunya. Nanti kesannya aku terlihat terlalu berharap sekali.” ucap Austin. Padahal sebenarnya iya.
"Caranya?"
"Aku selalu punya banyak cara Roy tapi aku tidak mau memberitahumu."
“Terserahmu. Kalian memang cocok ditakdirkan satu sama lain." ucap Roy.
‘Sama sama bodoh dan sedikit menyebalkan,’ Roy mana berani mengucapkan langsung dihadapanmu. Austin pun tertawa senang mendengar perkataan Roy.
‘Takdir? Dia dan Fany memiliki takdir untuk bersatu? Benarkah?’ batin Austin. Austin tidak tau kalau Roy sedang mengatainya. Hanya mendengarnya itu saja Austin sudah merasa senang. Bagaimana bisa ternyata takdir itu sudah terjadi pada mereka dan mempersatukan mereka.
***
Kembali pada Fany, akhirnya dia mengetahui siapa itu Sesilia.
Hari sudah sore tapi mereka sedang berada di sebuah Cafe. Tadi Fany mendadak merasa lapar, jadi akhirnya Charles pun memutuskan membawa wanita itu untuk makan dulu sebelum pulang.
Fany terkejut saat mengetahui fakta kalau Sesilia adalah kekasih Charles yang sudah lama menghilang. Pria itu memarahi Fany. Kenapa dia harus menjadi orang lemah dan membiarkan saat ada orang yang mau mengambil suaminya yang sudah sah darinya.
Fany bertanya heran, "Kenapa kau terlihat sangat marah? Sesilia adalah kekasihmu yang selama ini kau cari! Bukankah seharusnya kau lebih memihak padanya?"
"Dia sudah berubah menjadi wanita berhati iblis Fany. Dia tidak pantas untuk aku dukung. Dia bukan seperti Irene yang ku kenal. Dia Bahkan melakukan operasi untuk mengubah wajahnya agar aku tidak bisa menemukannya dan mengenalinya. Selama ini dia ada disekitarku," ucap Charles.
"Jadi bagaimana kau bisa mengenalinya?"
"Aku melihat tanda lahir yang sama pada tubuh Sesilia. Aku punya firasat kalau dia adalah Irene. Aku sangat senang ternyata dia memang benar Irene yang kucari selama ini. Tapi aku kecewa dan sangat membencinya saat merasakan sifatnya yang sangat bertolak belakang dengan Irene yang selama ini kukenal." Ucapan Charles terdengar seperti seperti sedang memendam kebencian yang begitu besar pada wanita itu.
“Jangan begitu. Ini bukan salahmu.” Ujar Fany. Charles tersenyum dan menganggukkan kepala, lalu dia menyuruh Fany untuk tmeneruskan makannya lagi.
Fany melanjutkan kegiatan makannya sedangkan Charles hanya memandangi wanita itu.
‘Aku senang melihatmu bahagia dengan Austin tapi meskipun ada sedikit perasaan tidak rela akan hal itu.”
***
Austin sudah sampai di rumah. Dia berteriak memanggil istrinya dan memberitahu kalau dia sudah pulang. Tapi tak ada sahutan. Austin pun mencari ke semua tempat dikamarnya tapi istri cantiknya benar-benar tidak ada di rumah.
Bahkan dengan konyolnya Austin membuka lemari pakaiannya dan mengira Fany sedang sembunyi didalamnya. "Dimana dia? Apa jangan jangan dia belum ada pulang? Pria brengsek itu." Ucap Austin begitu resah.
Karena tetap tak menemukan istrinya, Austin pun mencoba menghubungi ponsel istrinya itu, tapi ternyata panggilannya tak dijawab.
"Dimana kau sebenarnya Fany?" ucap Austin merasa sedikit cemas.
"Awas kau Charles. Aku tadi sudah mengizinkanmu untuk mengantar Fany pulang ke rumah, tapi sampai sekarang kalian belum pulang juga." ucap Austin merasa geram sekali.
"Kalau tahu ceritanya akan seperti ini, aku pasti tidak mengizinkanmu untuk pulang bersamanya, sayang."
***
Austin mendapat telpon dari Roy dan mengatakan kalau Fany sedang bersama dengan Charles di sebuah cafe. Dengan cepat Austin langsung pergi kesana. Sesampainya disana, Austin memarkirkan mobilnya diseberang jalan karena parkiran yang ada ditempat restoran sana sudah penuh diisi oleh pengunjung yang datang kesana.
Saat ingin menyebrang, ponsel Austin berdering lagi dan ternyata itu adalah dari orang rumah. Sambil berjalan Austin mengangkat panggilan itu. Padahal ia tidak tau kalau Fany sebenarnya sudah dalam perjalanan menuju kerumah.
“Ya. Ada apa?” Austin tidak fokus menyebrang. Tiba tiba dari sisi seberang, ada sepeda motor yang lewat dan tak sengaja menyenggol Austin. Oh my God. Tubuh Austin langsung terjatuh kejalan dan membuat beberapa luka lecet pada tubuh pria itu.
Semua orang yang ada disekitar itu segera berlari kearah pria untuk melihat keadaan Austin.
“Kau harus mempertanggungjawabkan kesalahanmu,” tutur salah satu orang yang ada disana dengan tegas pada pengendara sepeda motor itu.
Austin meringis kesakitan. Niat hati ingin menjemput sang istri malah mendapat kejadian yang tidak enak ini.
“Sudahlah. Ini sepenuhnya bukan salah dia. Tolong bantu bawa aku kerumah sakit,”pinta Austin.
“Baiklah.”
“Maafkan aku tuan,” ujar pengendara sepeda motor itu.
“Tidak apa-apa,”jawab Austin.
Orang yang berkata pada pengendara tadi langsung memapah Austin kearah mobil. Orang orang yang datang berkerumuman tadi pun langsung pada bubar.
Dirumah sakit, dokter sedang mengobati luka disekitar tangan Austin. Saat sudah selesai diobati Austin menghubungi Roy untuk menjemputnya ke rumah sakit.
***
Roy mendapat kabar kalau Austin masuk ke rumah sakit segera menjemput Fany ke mansion pria itu. “Apa yang terjadi pada Austin?” terdengar suara Fany yang terdengar khawatir.
“H-hm. I-itu. Austin ada dirumah sakit,”jawab Roy dengan gugup.
“Apa! Austin di rumah sakit? Dia kenapa?”
Roy tidak menjawab. Pria itu langsung membawa Fany ikut bersamanya pergi menuju rumah sakit.
Kini Austin sudah mendapat perawatan medis. Pria itu hanya mendapat beberapa luka lecet karena aspal disekitar kaki dan tangan.
Pintu kamar rumah sakit yang ditempati oleh Austin terbuka membuat pria itu langsung menoleh kearah pintu itu.
Austin cukup terkejut melihat Roy datang menemuinya bersama dengan Fany. “Sayang. Kenapa kau bisa luka seperti ini?” Fany sedikit panik melihat luka Austin.
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak memperhatikan jalanku jadi kecelakan kecil tidak bisa kuhindari lagi,” jawab Austin.
“Ini semua karena kamu juga,” tuduh Austin.
“Aku? Apa salahku?” Fany tidak tau apa apa.
“Kau pergi kemana dengan brengsek itu? Kenapa belum pulang saat aku sudah di rumah?” Intograsi Austin.
“Itu... Aku...”
“Pergi ke restoran, kan?”
“Aku pergi kesana untuk menjemputmu, tapi aku malah mendapatkan ini,” ujar Austin lagi sambil menunjukkan luka lecet pada tangannya.
“Maaf...” ujar Fany merasa bersalah lalu mencium luka yang tertutup kain kasa itu.
***
Poor Austin... Apes kali hidupmu... Hahahaha
**To** **Be** **Continued**...
By Insani Syahputri
^^^03-03-2022^^^