I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 42



Sebelum baca beri Like dan Vote dulu teman teman


Jangan lupa ya


Happy Reading


***


‘Shit. Kenapa aku tidak bisa menahan gairahku saat melihatnya seperti itu?’ batin Austin.


Saat Fany sudah keluar dari kamar mandi, Austin pun langsung mendekati sang istri dan mengendongnya.


Sesampainya dikasur ia meletakkan Fany dengan lembut di atas kasur empuk dan besar itu.


"Austin. Apa yang kau lakukan?" Tanya Fany saat melihat Austin sedang menindih dan mengukung tubuhnya


"Aku sangat menginginkanmu, Fany. Apakah boleh?" Tanya Austin tengah menatap Fany dengan penuh harap.


Fany melihat tatapan Austin. Terlihat ada hasrat dan gairah yang sangat besar dan sepertinya tengah ditahan oleh Austin. Fany pun berpikir sejenak. Austin adalah suaminya dan sebagai istri sudah tugasnya untuk memenuhi kebutuhan biologis suaminya.


Jika dia tidak mau, bisa jadi Austin akan mencari wanita lain. Apa Austin akan melakukan itu? Austin itu pria normal, tentu dia tidak akan bisa menahannya terlalu lama.


‘Tidak-tidak. Aku tidak akan membiarkan itu.’ batin Fany.


Fany menganggukkan kepala membuat Austin tersenyum senang.


“Tapi pelan-pelan ya, karena aku lagi hamil," pinta Fany.


"Aku akan melakukannya dengan lembut sayang." ucap Austin.


‘See. Sekarang dia memanggilku sayang. Itu karena ada maunya. Dasar tukang gombal.’ ucap Fany dalam hatinya. Austin tersenyum lagi saat melihat pipi Fany  terlihat merah merona.


"Pipimu merah. Apa kau memakai blush on saat dikamar mandi tadi?" Austin memecahkan suasana romantis itu padahal sebenarnya dia hanya ingin menggoda Fany saja.


"Sudahlah, aku jadi ingin tidur saja." Fany ingin menggeser tubuh Austin dari atas tubuhhnya. Ia merasa sesak kalau lama lama dalam posisi seperti itu.


Austin tidak beranjak, pria itu langsung mencium bibir Fany.


Setelah itu Austin pun berkata, "Maaf. Tadi aku hanya ingin menggodamu karena melihatmu tersipu malu seperti itu." Austin berkata sambil mengelus pipi Fany.


Austin mencium bibir Fany lagi, kali ini dia menciumnya dengan nafsu yang begitu besar sehingga membuat bibir Fany terlihat sedikit membengkak karena ulahnya.


"Baiklah. Daddy akan mengunjungimu sayang." Ucap Austin sambil mencium perut Fany.


Kali ini sesuai dengan perkataan Austin, dia pun melakukan itu dengan secara lembut.


Meskipun begitu Fany masih tetap merasa sakit karena ini adalah yang kedua kalinya mereka melakukan itu. Tapi Fany sangat menikmatinya. ******* demi ******* keluar dari bibir mereka, yang mana suara itu menjadi pengiring kegiatan mereka .


Tak kalah dengan buliran keringat yang beradu dan berlomba lomba keluar dan membasahi tubuh mereka sehingga membuat tubuh mereka terlihat mengkilap akibat dari kegiatan mereka. Kini hanya isi ruangan itulah yang menjadi saksi bisu dari kegiatan mereka yang sedang berlangsung itu.


Setelah beberapa jam melakukan itu, Austin dan Fany terlihat sedang bersandar pada kepala ranjang itu. "Apa masih terasa sakit?" Tanya Austin sambil mengelus rambut Fany.


"Tidak." ucap Fany sambil mengusap usap dada bidang Austin.


"Jangan memancing kalau tidak sanggup untuk melayaniku lagi," ucap Austin.


"Ups sorry." Fany langsung menghindar.


"Tidak ada kata maaf sayang," ucap Austin yang kembali menindih tubuh Fany.


"Tunggu," ucap Fany yang langsung mendorong tubuh Austin.


"Ada apa?" ucap Austin terlihat kebingungan.


Fany tidak menjawabnya dan dia malah memakai kaos milik Austin yang terlihat kebesaran di tubuh mungilnya itu. Setelah memakainya Fany langsung melangkah kakinya menuju pintu kamar.


"Kenapa kamu memakai kaosku? Kamu mau kemana?" Tanya Austin tapi Fany tidak menjawab dan pergi dari kamar itu.


Mau tidak mau Austin pun keluar dan mengikuti Fany dengan hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada.


Ternyata Fany pergi kekamar sebelah dan terlihat hendak membereskan sesuatu.


"Apa yang kau lakukan disini?”


"Aku mau membereskan barang-barang keperluan bayi kita,"ucap Fany.


"Kan bisa besok.” Ternyata Fany kesini hanya ingin membereskan barang barang yang pernah mereka beli. Fany lupa untuk membereskannya dan baru ingat sekarang.


Dan malam ini sebelum tidur, mereka pun bekerja sama untuk membereskan keperluan bayi mereka. Kini mereka terlihat sedang sibuk menghias ranjang tidur bayi mereka.


"Sayang. Kenapa cepat kali membereskannya padahal dia masih lama lagi untuk lahir," ucap Austin.


"Tidak apa. Aku hanya ingin dan merasa senang sekali membereskan dan menyediakan keperluan untuk putra kita," ucap Fany.


“Baiklah. Aku sangat senang bisa melihatmu tersenyum begitu,” ucap Austin sambil meneruskan kegiatan menghias ranjang bayi untuk putra mereka nanti saat sudah lahir. Hari yang sangat dinantikan mereka, khususnya Fany.


Selang beberapa jam, akhirnya merekapun selesai juga menghias kamar calon putra mereka.


"Sudah. Ayo kita tidur. Ini sudah malam sekali," ajak Austin.


"Ya. Ayo kita tidur,“ ucap Fany yang tidak menolak ajakan suaminya. Mereka pergi ke kamar dan tidur. Karena sejujurya mereka memang sudah mengantuk sekali.


***


Keesokan harinya, Fany terbangun karena suara alarm. Saat matanya sudah terbuka, dia melihat suaminya yang masih tertidur.


"Ayo bangun. Ini sudah pagi,” panggil  Fany yang terlihat berusaha membangunkan suaminya. Austin merasa terganggu dan akhirnya terbangun saat mendengar suara istrinya yang tengah berusaha untuk membangunkannya.


Saat sudah terbangun Austin langsung menunjuk bibirnya sendiri. Fany tahu arti kode yang Austin tunjukkan padanya.


Cup... Fany pun mencium bibir suaminya yang sangat manja itu.


"Sudah sana mandi. Nanti kau bisa terlambat pergi ke kantor." ucap Fany. Beruntung Fany sudah mengatur alarm sebelum tidur sehingga mereka tidak terlambat meskipun mereka saat ini masih merasa ngantuk karena kurang jam tidur.


Austin beranjak pergi kekamar mandi, dan beberapa menit kemudian dia pun sudah selesai mandi. Terlihat Austin keluar dari kamar mandi dengan balutan selembar handuk yang melilit dipinggangnya.


"Sesuai dengan janjimu. Kau akan memakai baju ini." ucap Fany sambil memegang gantungan baju dimana memperlihatkan kemeja warna pink ada sedikit motif bunga.


‘Astaga. Aku melupakan pakaian sial itu.’ umpat Austin dalam hatinya. Ia menampilkan senyum palsunya lalu mengambil kemeja itu dengan hati yang sangat berat. Setelah itu dia pun masuk ke dalam kamar mandi dan memakainya.


‘Aku terpaksa harus memakai baju ini. Kenapa kau harus ada?’ tanya Austin pada baju itu.


"Aku terlihat seperti wanita kalau memakai warna pink, hanya saja kurang memakain wig panjang," umpat Austin yang tengah bercermin.


Setelah bersiap-siap dan selesai sarapan pagi, Fany mengantar suaminya menuju tempat parkiran.


Hari ini Austin lebih memilih memakai mobil sendiri untuk pergi ke kantor.


"Nanti siang aku akan datang kekantor untuk membawa makan siangmu," ucap Fany yang terlihat sedang menahan tawanya. Sebenarnya Fany tidak menyukai baju itu, dia terpaksa membelinya hanya untuk mengerjai suaminya.


"Kalau begitu aku pergi dulu."ucap Austin lalu mengecup dahi sang istri.


Austin masuk kedalam mobil dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan mansion menuju kantornya.


Saat sampai dikantor, semua karyawan menatap aneh ke arah Austin.


"Kenapa tuan Austin terlihat aneh hari ini?"


"Kenapa tuan Austin memakai baju seperti itu?"


Begitulah bisikan pelan para karyawan yang satu dengan yang lainnya.


"Apa dia salah minum obat?"


"Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin ada yang salah minum obat hari ini," ucap karyawan yang masih berbisik ria.


Austin tau kalau pegawainya sedang membicarakannya, ia hanya menahan diri agar tidak memecat mereka yang sedang membicarakannya.


‘Kau harus sabar Austin. Ini demi Fany.’ Ucap Austin dalam hatinya sambil melangkahkan kakinya menuju ruangan miliknya.


***


Saat sudah di ruangan, terlihat Roy yang  tertawa sangat keras karena melihat melihat penampilan Austin yang terlihat berbeda hari ini.


Tak kalah juga dengan Ronald tertawa terbahak bahak, tapi langsung menghentikan tawanya saat sang kakaknya menatap tajam kearahnya.


"Kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Kau sakit?” Ucap Roy sambil memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa terus.


"Ini karena Fany yang memaksaku untuk memakainya. Jika tidak, dia tidak percaya kalau aku mencintainya," ungkap Austin.


"Jadi sekarang kau takut dengannya?" Tanya Roy tidak percaya.


"Aku hanya takut kehilangannya,” jawab Austin.


"Sepertinya aku tidak mau untuk jatuh cinta dulu. Aku masih belum siap menjadi orang sepertimu yang sudah menjadi budak cintanya Fany," ucap Roy setelah itu memilih untuk langsung keluar dari ruangan karena dia tidak sanggup menatap bosnya itu. Kemudian disusul oleh Ronald yang juga langsung berlari keluar dari ruangan karena dia juga tidak ingin menjadi bahan pelampiasan dari kemarahan dan kekesalan kakaknya saat ini.


🌷🌷🌷


Austin... Ada apa hari ini denganmu? Hahaha


To Be Continued


Jangan lupa beri Like dan vote teman teman


Terima kasih sudah mau bacanya


Saranghae semuanya


By Insani Syahputri


^^^28 Feb 2022^^^