I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 45



Vote dulu sebelum membaca


Happy Reading


***


Sepertinya Fany dan Austin bertengkar. Terlihat mereka saling mendiami diri.


Mereka meninggalkan rumah sakit, Fany melangkahkan kakinya berjalan menuju parkiran. Sampai disana, dia melihat Austin sudah menunggu di dalam mobil. Pria itu sudah berjalan duluan tadi.


Fany masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang sedangkan Austin duduk di samping Roy di depan yang sudah bersiap untuk mengemudikan mobil itu.


‘Bertengkar lagi? Membosankan,’ batin Roy. Kenapa harus dia yang mengantarkan dua makhluk ini pulang kerumah padahal Austin membawa mobilnya. Menyusahkan sekali. Roy langsung membawa mobil itu pulang ke mansion milik Austin.


‘Kurang baik apa aku coba,’ batin Roy saat melihat Austin turun dan Fany dari dalam mobilnya.


Pria itu langsung pergi saja tanpa mengucapkan rasa terima kasih dulu. Beruntung Fany yang berhati bagai malaikat mengucapkan kata terima kasih padanya dibarengi dengan senyuman manisnya.


***


Kini mereka sudah ada di dalam kamar mereka. Austin dan Fany melakukan kegiatan mereka tanpa ada mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.


Fany sudah keluar dari kamar mandi, sedangkan Austin tiduran diatas kasur.


Fany terlihat mondar-mandir. Mereka masih mementingkan ego mereka sendiri, tidak ada yang mau duluan untuk mengajak bicara diantara mereka.


Fany tau kalau itu adalah salahnya karena tidak pulang sesuai dengan yang telah ia janjikan pada Austin di kantor, tapi ia juga tidak suka melihat Austin yang terlihat kekanakan sekali. Pria itu kalau sedang marah akan mendiaminya.


Lelah memikirkan itu Fany berjalan menuju meja rias untuk memakai skincare malamnya, saat sudah selesai dengan kegiatannya, ia berjalan menuju nakas lemari untuk mencari ponselnya, sedangkan Austin berjalan menuju sofa untuk merilekskan tubuhnya. Ia tau kalau Fany akan tidur di kasur itu. Austin masih marah pada Fany. Jadi dia memutuskan untuk tidak tidur di sana.


Fany tidak menemukan ponselnya, kini matanya menangkap ke arah meja yang ada didekat Austin . Ternyata ponselnya ada disitu. Diapun berjalan kearah sana dan mencoba mengabaikan keberadaan suaminya itu. Sampai di sana dia langsung mengambil ponselnya dan ingin segera beranjak pergi menuju kasurnya.


Tiba-tiba Fany membalikan tubuhnya dan duduk dipangkuan pria itu. Hal itu membuat Austin terkejut. Untung luka ditanganya tidak tersenggol tadi.


Fany mengalungkan tangannya pada leher pria itu lalu mencium bibirnya sekilas. Austin membeku saat mendapat ciuman yang inisiatif dari istrinya.


Karena Austin menatapnya terus, Fany malu dan langsung menjatuhkan kepalanya diceruk leher suaminya. “Maafkan aku,” tutur Fany pelan. Harus mengalah. Ia tidak boleh egois kalau tidak perang dingin ini akan terus berlanjut.


Austin mengangkat kepala Fany dari lehernya dan memegang dagu sang istri agar dapat ia lihat. Sekali kali ciuman terjadi diantara mereka tapi kini Austin yang memulainya. Dengan berani, Fany membalas ciuman bibir suaminya. Setelah selesai Austin berkata kalau dirinya juga minta maaf karena mengabaikannya.


Ciuman itu terjadi lagi tangan Fany mengalungkan dileher Austin dan mencium suaminya itu dengan posesive. Austin juga tak kalah main, ia ikut membalas permainan istrinya itu. Cukup lama berciuman, pasutri itupun melepaskan tautan bibir mereka.


Saat sudah mangatur deru nafasnya, Austin membawa istrinya ke kasur. Mereka berbaring di kasur itu dan saling memeluk satu sama lain.


“Hari ini sangat melelahkan. Ayo tidur,” ujar Austin yang mengajak istrinya untuk segera tidur dan beristirahat.


***


Pagi hari, sepasang insan itu masih pulas dalam tidurnya hingga suara ponsel berbunyi membangunkan salah satu dari mereka.


Austin terbangun saat ponselnya berbunyi berkali-kali. Ternyata itu panggilan dari sang ibu yang menanyakan keadaan.


“Aku baik baik saja, bu. Tidak ada luka yang parah, hanya luka lecet saja. Tapi ibu tenang saja karena istriku akan merawatku dengan baik. Bukan itu kan yang ibu inginkan,”


“Hehehe. Syukurlah.”


“Hmm. Sudah ya bu. Austin masih mengantuk,” terdengar suaranya serak seperti orang baru bangun tidur.


“Iya. Maaf sudah menganggu kalian,”


Austin langsung mengakhiri panggilan itu dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas yang ada di sampingnya. Kini matanya tertuju pada sosok istrinya yang masih setia dalam tidurnya. Dengan jahil, Austin mendusel-duselkan hidungnya tepat pada hidung istrinya.


“Sayang, ayo bangun. Ini sudah pagi,”


Fany yang merasa terganggu langsung membelakangi suaminya itu dan kembali memejamkan matanya. Austin mempoutkan bibirnya. Dia tidak akan menyerah. Austin kembali membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang dengan erat.


“Fany. Istriku. Ibu dari calon anakku. Ayo bangun.” Austin mengecup leher belakang istrinya itu dan berhasil membuat Fany merasa kegelian. “Geli Austin. Hentikan.” Gerutu Fany.


“Tidak akan sebelum kau bangun, sayang.” Austin kembali melakukan itu lagi. Baiklah. Fany menyerah. Wanita itu membalikan tubuhnya dan menghadap kearah Austin dalam keadaan mata yang masih terpejamkan.


“Buka kelopak matamu, sayang.” Pinta Austin. Austin tersenyum kala mata indah itu terlihat.


***


Sore ini Fany merasa sedih. Saat ini ia tengah memasukkan beberapa pasang pakaian untuk Austin kenakan selama dua hari lebih ke dalam koper. Tadi Fany merasa sangat senang karena Austin pulang sedikit cepat dari biasanya. Senyumnya pudar kala Austin mengatakan kalau pria itu akan pergi Seattle untuk dua hari kedepan menghadiri acara pembukaan perusahaan baru dimana pria itu juga ikut menanamkan saham sehingga membuatnya wajib datang kesana.


“Apa harus pergi?” Tanya Fany sedih.


“Iya sayang. Cuma dua hari saja. Jangan sedih ya. Aku juga ingin membawamu tapi ibu mengatakan untuk tidak mengajakmu karena takut kau akan kelelahan selama perjalanan. Kau tau kan kalau perkataan ibu tidak bisa dibantah,”


“Tapi tanganmu belum sembuh,” Fany khawatir.


“Tidak perlu khawatir. Ini tidak terlalu parah. Aku bisa mengatasinya,”


***


Austin dan Roy sudah tiba di Seattle. Mereka pun memesan 2 kamar hotel. Tentu saja mereka akan tidur masing masing karena Austin tidak ingin kegiatan privasinya terganggu karena Roy.


Sesampainya dikamar, Austin mendudukkan dirinya pada sofa yang tersedia di dalam kamar hotel itu. Ia mengambil ponsel dari dalam saku jaketnya dan hendak menelpon sang istri untuk mengabari kalau ia sudah tiba dengan selamat.


“Aku merindukanmu,” ujar wanita yang sedang Austin telpon itu terdengar manja.


“Oh come on Fany. Kau membuatku jadi merasa bersalah disini” ujar Austin.


“Maafkan aku.”


“Hei tuan. Aku ingatkan kau! Jangan sekali-kali bermain dibelakangku. Awas saja. Aku akan menyuruh Roy untuk mengawasimu.”


“Kenapa? Aku tidak tau kenapa kau kau mendadak jadi posesive padaku.” Austin tertawa kecil saat mendengar tuturan istri mungilnya itu.


“Baiklah. Aku tidak berani bermain dibelakangmu sayang.”


“Awas saja. Aku akan buat perhitungan denganmu jika kau berani,”


“Apa aku harus melakukannya? Aku jadi penasaran dengan apa yang akan dilakukan istriku nanti.” Austin ingin menggoda istrinya. Tapi yang didapat adalah suara tangisan sang istri.


“Kau jahat sekali Austin. Kau ingin bermain dibelakangku,” Fany menangis.


Austin jadi bingung sendiri karena tidak tau bagaiamana membuat istrinya tenang. “Sayang. Maaf. Aku hanya bercanda.”


“Tidak... Kau terdengar serius mengatakannya. Ya sudah selingkuh saja disana. Aku tidak mau bicara denganmu,” Fany mematikan panggilan itu membuat Austin jadi khawatir dan takut. Ia mencoba menelpon Fany tapi tidak dijawab oleh wanita itu. Austin merutuki dirinya karena telah menggoda sang istri diwaktu yang tidak tepat. Ia seharusnya tau kalau istrinya itu rada sensitif karena hormon kehamilannya.


Dua hari sudah berlalu kini Austin dalam perjalanan menuju mansion. Setelah kejadian waktu itu, ia tak ada berkomunikasi dengan istrinya. Itu karena Fany tidak menjawab panggilannya. Ia bersyukur mendapat kabar dari sang ibu kalau Fany baik baik. Tentu saja ia mendapat ceramah dulu karena ia tau kalau Fany pasti menceritakan perkara itu semua pada sang ibu.  


Mobil hitam melaju membelah jalan di kota New York. Di dalam mobil tersebut terdapat Austin yang duduk di jok belakang sambil tersenyum sumringah karena menatapi sebuah foto pada layar ponsel itu.


“Roy. Percepat laju mobilnya.” Perintah Austin.


“Baik,”


***


Di lain tempat ada seorang gadis yang berlari ketakutan karena kejaran kumpulan orang brengsek yang mengejarnya. Gadis itu bernama Yasmin Roxana. Ia seorang pekerja di sebuah club malam. Hanya bekerja sebagai pengantar minuman bukan wanita malam. Ia di kejar oleh para pria brengsek itu,  bermula ketika dirinya meminjam uang sebesar 500 juta pada lintah darat itu untuk biaya pengobatan ibunya. Tapi nasib berkata lain, ibu Yasmin meninggal setelah sebulan lebih melakukan perawatan di sebuah rumah sakit yang ada di NewYork.


Jadi sampai saat ini Yasmin belum mampu untuk mengembalikan uang pinjaman itu sehingga alhasil ia di kejar oleh bos mereka yang bernama Hugo. Ia hampir saja ingin di perkosa tapi dengan cepat Yasmin memberontak dan berhasil melarikan diri.


Kembali ke Yasmin yang saat ini tengah berlari kencang menuju jalan aspal. Jalan itu terlihat sepi, tidak ada pengendara apapun yang melintas dari situ. Bak mendapat secercah harapan, dari kejauhan Yasmin melihat cahaya dan itu berarti akan ada yang lewat dari jalan ini. Yasmin berlari untuk mendapati cahaya itu dan ternyata itu sebuah mobil yang ingin melintasi jalan ini.


Yasmin melambaikan tangannya dan berharap mobil itu berhenti. Yasmin mengucap terima kasih pada tuhan dalam hatinya saat melihat mobil itu akhirnya mau berhenti.


Pengemudi mobil itu keluar dan mendekati Yasmin. “Ada apa nona? Kenapa anda bisa berada di tempat sepi ini?” Tanya pria itu.


“Tuan tolong aku. Mereka sedang mengejarku.” Ujar Yasmin ketakutan.


“Siapa yang mengejarmu?”


“Roy. Ada apa?” Suara seseorang menghentikan percakapan mereka.


“Ini tuan. Nona ini seperti sedang ketakutan. Ia seperti di kejar oleh seseorang.” Jawab Roy pada Austin. Ternyata mobil mereka yang berhenti di situ.


“Yasmin. Berhentilah. Jangan mencoba kabur lagi.” Hugo dan komplotannya sudah tiba di tempat Yasmin berada.


“Ho. Kau meminta bantuan ya,” timpal Hugo saat melihat dua orang pria berdiri di dekat Yasmin.


“Berikan gadis itu padaku atau kami akan membunuhmu,” ancam Hugo karena jumlah mereka lebih banyak di banding Austin dan Roy yang hanya berdua saja.


“Coba saja kalau bisa. Aku tidak takut.” Jawab Austin dengan nada mengejek. Ia terlihat tidak takut dengan ancaman Hugo.


Tatapan Austin beralih pada Yasmin, gadis itu terlihat sedikit berantakan. Karena merasa kasihan Austin pun meminjamkan jasnya pada Yasmin. Gadis itu dengan senyuman menerima dan segera memakaikannya.


Mendadak Hugo melakukan perlawanan membuat Austin terpental. Roy pun segera melakukan aksinya menghajar komplotan Hugo. Austin geram dan menatap tajam pada Hugo yang menyerangnya secara mendadak. Sungguh kekanakan pikirnya.


Aksi hajar menghajar dan tinju meninju pun terjadi membuat Yasmin meringkuk ketakutan di bibir pintu mobil yang terbuka itu. Hugo dan anak buahnya pun kalah. Meskipun tangannya sedang sakit tak membuat Austin menjadi lemah.


Austin sambil berdecih mendekati Hugo. “Apa kau yakin ingin membunuhku, huh? Dengan keadaan menyedihkan seperti ini?” Ejek Austin lalu menginjak telapak tangan kanan Hugo.


“Sebaiknya kau obati dulu lukamu, baru kau menemuiku lagi.” Ujarnya lagi lalu pergi menuju ke mobilnya.


‘Aaarrrgghh....’ Hugo menjerit kesakitan.


‘Awas kau Austin. Aku akan membalasmu.’ Ucap Hugo dalam hati sambil menatap kepergian Austin dengan amarah dan penuh dendam.


“Nona. Di mana rumahmu?” Tanya Roy, tapi Yasmin termenung sambil menatap ke arah Austin.


Austin pun menjentikkan jari panjangnya di dekat wajah Yasmin, sehingga membuat Yasmin tersadar dari lamunannya.


“Memikirkan apa?”


“Tidak ada tuan. Maaf.”


“Tidak apa. Sekarang katakan di mana alamat rumahmu agar asistenku bisa mengantarmu pulang.”


“Saya tidak punya rumah tuan. Ibu panti saya menjualku pada mereka. Jadi saya takut kembali ke sana lagi.” Bual Yasmin.


Austin dan Roy tertegun mendengar penuturan gadis itu.


Roy melirik jam tangannya lalu berbisik pada Austin. “Kita bawa saja dulu ke rumah. Nanti kita bahas lagi mengenai dirinya untuk ke depannya.  Ini sudah larut malam, nanti Fany kemalaman menunggumu. Kau sedang bertengkar kan dengan istrimu lagi.”


Damn it. Austin merutuki dirinya. Ia mengingat istrinya yang lagi marah pasti sedang menunggunya di rumah. Kemudian ia melihat arloji di pergelangan tangan kirinya, “Ini sudah kemalaman.” Ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang mobil.


Roy mendekati Yasmin yang tengah kebingungan. “Ayo ikut bersama kami,” ajak Roy. Pria itu membawa Yasmin duduk di depan bersama dirinya. Selama perjalanan mereka hanya diam membisu. Yasmin sekilas melirik ke arah spion dan melihat apa yang di lakukan Austin di belakang mereka.


Austin sibuk dengan ponselnya. Sepertinya Austin sedang chattingan dengan seseorang. Terlihat dari mata pria itu yang serius dan jarinya dengan cepat dan gesit mengetik di papan tombol keyboard ponsel pria itu.


‘Dia sedang chat dengan siapa?’ Batin Yasmin yang sangat penasaran sekali.


***


Satu kata untuk Yasmin?


To be Continued


By Insani Syahputri


^^^05 Maret 2022^^^