I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 50



Happy Reading


***


Di sebuah rumah dengan model modern klasik, Seorang wanita yang sudah berusia memasuki kepala empat tengah duduk elegan di sofa yang ada di ruangan keluarga.


Wanita itu tengah menikmati tehnya sembari membaca majalah yang ada di tangannya.


Tiba-tiba seseorang mendatangi wanita itu.


“Bibi.” Sapa gadis itu.


“Oh Yasmin. Ada apa?” Tanya wanita itu. Dia adalah Delila. Tidak terasa sudah mau jalan dua minggu lebih Yasmin tidak di tempat itu.


Ronald tidak tinggal bersama. Entah kenapa pria itu ingin tinggal di sebuah apartemen pribadi yang baru ia beli beberapa minggu lalu.


Delila meletakkan majalah itu di atas meja lalu menatap ke arah Yasmin.


“Begini Bibi. Aku ingin mencari pekerjaan. Aku ingin mencari uang. Untuk itu aku ingin meminta ijin pada bibi dulu.”


Yasmin sebenarnya tidak enak hati untuk tinggal di rumah orang asing tanpa memberi imbalan atau apapun, meskipun ia yakin kalau Delila pasti tidak akan memintanya. Wanita paruh bayah itu alias ibu dari Austin juga ikhlas membiarkan Yasmin tinggal bersamannya. Delila sendirian di rumah itu, jadi dia tidak mempermasalahkan Yasmin tinggal disana selama ia tidak melakukan hal yang membuatnya marah.


“Kau mau bekerja?”


“Iya Bibi. Aku sudah mendapatkan pekerjaan dari beberapa surat lamaran sudah aku layangkan.”


“Kerja apa?”


“Cuma jadi pegawai di cafe bibi,” Yasmin sedikit ragu untuk mengatakannya.


“Tidak apa sih. Tapi Kau yakin... Maksudku, Aku bisa memasukkanmu kerja di kantor anakku.”


“Tidak bibi. Aku ingin mencari dan mendapatkan pekerjaan karena kamampuanku.”Tolak Yasmin.


Delila menghela nafas,” karena kau sudah berkata seperti itu. Aku tidak bisa mengatakan apa apa lagi. Bibi ucapakan selamat karena kau sudah mendapatkan pekerjaan.” Yasmin terlihat senang. Baru kali ini ada orang yang mendukungnya. Di panti ia selalu dicela dan dipukul jika tidak mengikuti perkataan ibu panti yang merawatnya disana. Di sini setiap keputusannya dihargai. Karena itulah ia pernah berbohong pada Austin dan Roy, karena ia tidak ingin kembali ke panti sana.


***


Charles pulang ke Athena. Tempat orangtuanya berada. Dia di panggil oleh Ibunya untuk segera pulang kesana.


Charles tersenyum melihat mamanya tengah asik nonton. “Mah.” Panggil Charles. Lucia selaku ibu Charles bangkit dari duduknya , ia terkejut dengan kehadiran seseorang yang sangat ia rindukan.


“Charles. Kenapa baru pulang sekarang? Mama merindukanmu,” Lucia langsung memeluk putranya itu.


***


Di lain tempat, ditengah teriknya matahari Yasmin berjalan di trotoar. Ia berjalan sambil bersenandung. Yang ingin di lakukannya saat ini adalah mencari taksi untuk mengantarkannya pulang ke kediaman keluarga Nero. Karena terlalu asik bersenandung, Yasmin tidak menyadari sebuah mobil yang melaju cepat di belakangnya.  Hal itupun membuatnya tidak dapat menghindari mobil itu sehingga kecelakaan pun tidak bisa dihindari lagi.


Suara derit mobil itu terdengar jelas sekali sehingga membuat orang yang ada di sekitar itu syok dan terkejut melihat seorang gadis sudah terkapar di jalan itu. Sekarang tempat itu sudah dikerumumi orang-orang sekitaran situ. Pemilik mobil yang menabrak Yasmin pun keluar. Lebih tepatnya sopir yang mengendarai mobil itu.


“Lukanya tidak terlalu parah. Tapi perlu penanganan dari dokter juga.” Ujar salah satu orang yang berkumpul di lokasi kejadian. Tapi Yasmin sudah tidak sadarkan diri. Terdapat luka lecet yang tidak terlalu banyak disekitar tangan dan wajah pria itu. Hal itulah yang membuat orang orang tidak terlihat baik-baik saat ini ketika melihat keadaan Yasmin yang sudah seperti itu.


“Saya akan bertanggung jawab. Saya akan membawanya kerumah sakit.” Ujar orang yang keluar dari dalam mobil tadi.


“Ya. Kau harus membawanya.” Beberapa orang menjawabnya.


Pelaku langsung mengendong Yasmin dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Pria bernama John itu dengan segera melajukan mobil mewah berwarna hitam elegan itu menuju ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Perawat membawa Yasmin yang masih memejamkan mata itu diatas brankar menuju ruangan gawat darurat untuk pemeriksaan lebih lanjut.


***


Saat ini Charles tengah melakukan makan malam bersama keluarga besarnya. Disana ia bersama dengan kedua orangtuanya dan kakek dari pihak ayahnya. Saat ini Charles memakai kemeja berjenis Denim lengan pendek sehingga menampilkan lengan kekarnya.


“Kapan kau akan menikah Charles? Kakek ingin menimang anak darimu sebelum kakek meninggal?” Tanya Lewis. Pria yang sudah cukup tua. Ia adalah ayah dari William, alias kakeknya Charles.


Lucia pun mencoba menyelamatkan putranya dari pertanyaan ayah mertuanya.


“Charles baru saja kembali. Biarkan dia makan dengan tenang dulu Ayah.” Ujar Lucia.


‘Terimakasih Mah,” batin Charles senang. Setidaknya ia selamat walaupun sebentar saja.


“Aku sudah tua Lucia. Aku tidak tau kapan nafas terakhirku didunia ini. Aku hanya ingin mati dengan damai setelah bisa mengendong seorang cicit lagi.” Tutur Lewis.


“Apa kau masih mencari kekasihmu yang hilang itu. Kapan kau melupakan wanita yang tidak tau pergi kemana itu? Jangan sampai kakek harus membuat perjodohan untukmu.” Pungkas Lewis.


“Kakek. Ini kehidupanku. Aku tau apa yang harus kulakukan.” Charles sangat benci jika dipaksa. Mereka menyuruh dirinya menikah hanya untuk meminta keturunan. Alasan klasik.


“Kakek sudah tua. Kakek berharap masih bisa melihatmu berada di altar bersama dengan mempelaimu. Bahkan kakek berharap usia kakek masih bisa bertahan hingga kakek masih bisa menggendong cicit kakek nanti.” Ucapnya lirih.


“Baiklah. Akan ku usahakan untuk segera menikah tapi beri aku sedikit waktu agar bisa mencari yang cocok denganku. Jangan terlalu didesak karena yang menikah itu adalah aku dan sekali seumur hidup.” Kata Charles. Ia tidak tega. Seandainya Fany jadi cerai dengan Austin pasti ia bisa meminta pada Fany untuk menikah dengannya. Tapi sekarang ia harus menikah dengan siapa?


Suara dering ponsel menganggu percakapan Charles dan keluarganya itu. Pria itu sedikit menjauh dan mengangkat panggilan yang tak lain dari John asisten sekaligus tangan kanannya.


“Kau dimana? Aku dari tadi menunggu telponmu? Aku kau memesan tiket penerbangan. Malam ini aku akan kembali ke New York.” Charles berbicara dengan pelan agar tidak di dengar keluarganya.


“Maaf tuan. Saya ada sedikit masalah disini.” Terdengar suara john.


“Ada masalah apa?”


“Saya sudah mengatasinya tuan. Tadi saya tidak sengaja menabrak orang dan kini sudah diobati di rumah sakit.”


“Kau kenapa bisa ceroboh. Sudahlah. Apa kau sudah membayar adminitrasinya?”


“Sudah tuan.”


“Oke. Beri mereka uang sebagai tanda minta maaf. Segera lakukan perintahku. Aku sudah cukup muak menunggu di sini.”


“Baik tuan. Akan segera saya laksanakan.” Charles segera mematikan panggilan itu dan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana. “Apa yang dipikirkannya sampai bisa menabrak orang?” Guman Charles.


Di rumah sakit John langsung menemui Yasmin yang sudah sadar dan telah di obati. Ia pun meminta maaf dan permisi pada Yasmin untuk segera pergi dengan alasan ingin melakukan urusan penting. Tak lupa ia memberikan uang dalam amplop pada gadis itu sebagai permintaan maafnya. Awalnya Yasmin menolak tetapi John dengan keras kepala memaksa gadis itu untuk menerimanya. Ia beralasan akan di pecat oleh bosnya jika tidak melakukan dengan apa yang telah diperintahkan padanya.


***


Terima kasih karena sudah membaca novel ini


To Be Continued


Silahkan tinggalkan jejak kalian dengan memberikan like,vote dan komentar


Salam manis dariku


Insani Syahputri


^^^17-03-22^^^