I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 14



Hello Everyone...


Sebelum baca Vote Dulu


Jangan lupa kasih like, vote ya guys


(Sebelumnya)


“Fany.”  Gumamnya pelan. Ya siapa lagi kalau bukan Tiffany Lee. Refleks Austin berjalan mendekati tubuh Fany.


"Dia kenapa bisa seperti ini?” Ucap Austin terlihat marah.


Austin tiba-tiba teringat perkataan Ibunya yang mengatakan bahwa Fany kini tengah hamil dan itu membuat dia semakin khawatir.


***


"Siapa yang membuatnya seperti ini?" Bentak Austin.


"Shinta.  Dia yang melakukannya tuan Austin. Dia yang sudah mendorong Fany sampai tak sadarkan diri," tunjuk salah seorang yang berkumpul di situ kearah Shinta yang terlihat ketakutan saat ini.


"Siapa Shinta?" Tanya Austin sambil mengertak giginya.


"Dia tuan Austin!" Della menunjuk Shinta yang berada di dekatnya.


"Jadi anda nona Shinta?" Ucap Austin sambil menatap tajam ke arah Shinta.


"Saya tidak mendorongnya dengan kuat. Dasar dia saja yang terlalu lemah! Baru di dorong seperti itu saja sudah langsung pingsan," ucap Shinta yang merasa tidak bersalah.


"Kau." Ucap Della yang hendak menampar Shinta.


"Hentikan!" Ucap Austin dengan suara lantang sehingga membuat Della menghentikan aksinya. Setelah berbicara seperti itu, Austin mengambil handphone dari saku celananya dan hendak menelpon seseorang.


"Halo Charles." Ucap Austin dan itu membuat Shinta terkejut.


"Ada apa Austin? Apa ada yang ketinggalan di kantor sampai-sampai kau menelponku padahal baru saja kau meninggalkan kantorku," suara Charles terdengar dari ponsel itu


"Tidak ada yang ketinggalan Charles. Hanya saja ada sesuatu yang sudah mengusikku saat ingin pergi dari kantormu," ucap Austin sambil menatap kearah Shinta.


"Apa yang terjadi Austin? Apa ada yang mengganggumu? Suaramu terdengar marah," ucap Charles.


"Benar! Saat ini ada seseorang yang sudah membuatku marah dan jengkel terhadapnya.”


“Siapa yang sudah berani mengusikmu Austin?” Tanya Charles.


“Salah satu pegawaimu. Aku harap kau segera memecatnya karena aku tidak ingin dia ada di sini saat aku akan berkunjung ke kantormu lagi," ucap Austin.


"Siapa dia?" Tanya Charles.


"Sebentar lagi dia akan datang sendiri ke ruanganmu," ucap Austin lalu mengakhiri panggilan secara sepihak. Lalu beralih menatap marah kearah Shinta.


"Kau ada dua pilihan nona Shinta!" Ucap Austin sambil menatap tajam ke arah Shinta yang terlihat sedikit ketakutan.


"Pertama kau harus keluar dari perusahaan ini atau kedua memilih mendekam di penjara!" Ucap Austin.


"Apa maksudmu?" Ucap Shinta sambil mengerutkan dahinya.


"Aku pikir anda itu wanita cerdas yang dapat mengerti perkataanku. Ternyata aku salah. Tidak masalah karena itu tidak terlalu penting. Saat ini yang aku inginkan kau harus memilih salah satu dari pilihan yang kukatakan tadi.  Kalau tidak, kau akan menyesalinya karena sudah bermain-main denganku," ancam Austin dengan penuh penekanan.


Mendengar perkataan Austin, Shinta langsung meninggalkan tempat itu. Dan saat itu juga Austin pun langsung mengendong tubuh Tiffany ala bryde style.


"Fany. Tuan mau membawanya kemana?" Tanya Della heran.


"Aku akan membawanya ke rumah sakit," ucap Austin dengan posisi yang sudah berdiri sambil mengendong Fany yang tak sadarkan diri.


"Aku akan ikut," tawar Della yang merasa khawatir.


"Tidak perlu. Percayakan semuanya padaku! Biar aku saja yang bawa, lagian pekerjaanmu di sini masih ada. Jadi nona tidak usah khawatir karena saya ini bukan orang jahat.” Ucap Austin menjelaskan pada Della kalau dia tidak akan berbuat jahat pada Fany.


"Tapi___" Ucap Della langsung terpotong dengan ucapan Austin.


"Saya dan Fany sudah saling mengenal!" Ucap Austin yang ingin membuat Della percaya padanya.


"Baiklah tuan Austin. Tolong jaga dia. Nanti saya akan menyusul." Ucap Della yang ingin mempercayai Austin bisa menjaga Fany. Austin pun langsung membawa Tiffany menuju ke mobil miliknya.


"Itu kan Ceo dari perusahaan Nero Corp. Dia pemuda tampan dan kaya raya." Ucap karyawan di sana sambil berbisik bisik satu sama lain.


"Apa mereka punya hubungan spesial?” Tanya karyawan yang lainnya.


"Sepertinya mereka sudah mengenal satu sama lain?" Jawab yang lainnya lagi.


"Jangan membicarakan orang lain. Lebih baik kalian lanjut kerja lagi. Jangan pada bergosip di sini." Ucap Della lalu membubarkan perkumpulan itu. Kini semua karyawan yang sempat berkumpul pun kini sudah bubar.


***


Di tempat lain, Austin sudah berada dimobilnya dan meletakkan tubuh Tiffany di jok belakang mobilnya dengan posisi terlentang.


"Aku sengaja tidak membawa temanmu. Ada yang harus kita bicarakan saat kau sudah sadar nanti,” ucap Austin. Lalu ia menutup pintu jok belakang mobil dan berjalan menuju tempat kemudi dan melajukan mobil itu.


Bukan membawa Tiffany ke rumah sakit. Austin justru membawa Tiffany ke apartemennya.


"Halo Andrew." Ucap Austin sedang menelpon seseorang.


"Cepat datang ke apartemenku. Sekarang." Perintah Austin dengan tegas dan langsung memutuskan panggilan itu.


Setelah sampai diapartemen nya. Austin mengendong Tiffany dan membawanya menuju kamarnya. Sesampainya disana,  Austin langsung membaringkan tubuh Tiffany pada kasur besar nan empuk miliknya.


"Apa dia benar-benar mengandung anakku?" Tanya Austin yang terus menatap ke arah Fany yang masih memejamkan matanya. Kini pandangan beralih keperut gadis itu dan tanpa sadar tangannya bergerak dan ingin menyentuh dan mengelus perut itu. Tapi hal itu tidak terjadi karena terdengar suara pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.


"Kau kenapa lama sekali?" Ucap Austin yang marah pada orang yang baru tiba di kamarnya itu.


"Apa! Ini sudah yang paling tercepat bagiku. Ada apa? Kenapa kau mendadak menyuruhku datang ke tempatmu? Kau sakit?" Ucap Andrew. Jujur pria itu tidak suka dengan sikap Austin yang terlalu suka memerintah orang dengan sesuka hatinya.


Andrew adalah teman sekaligus dokter pribadi keluarga Nero. Selama ini Andrew selalu sabar dengan sikap Austin yang selalu suka memerintah dengan sesuka hatinya.


“Bukan aku tapi dia,”Austin mengarahkan dagunya kearah seorang gadis yang tertidur dikasur itu. Andrew terlihat terkejut dan penasaran.


"Tidak perlu banyak bertanya. Cepat periksa keadaannya," ucap Austin.


Andrew meroll eyes. Baru saja dia ingin bertanya tapi pria bajingan ini menghentikanya.


"Siapa gadis ini?" Ucap Andrew tidak peduli lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya keapartemen itu. Austin tidak menjawab membuat Andrew menatap malas kearah pria itu. Kemudia dia mulai memeriksa keadaan wanita yang tak sadarkan diri itu.


"Apa kau sudah tak berhubungan lagi dengan Sesillia?" Tanya Andrew lagi.


"Cih. Ini lagi ku periksa. Kau tau. Aku itu malas berdebat denganmu." Ucap Andrew lalu kembali fokus pada pemeriksaannya. Kini Andrew pun sudah selesai melakukan tugasnya.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Austin. Tidak bertele-tele.


"Apa kau tau kalau dia sedang hamil?" Ucap Andrew.


"Mmhh. Aku sudah tahu! Apa dia baik-baik saja?" Ucap Austin.


"Dia baik-baik saja. Begitu juga dengan janinnya. Dia hanya sedikit kelelahan saja. Itulah yang membuatnya sampai tak sadarkan diri." Ucap Andrew yang menjelaskan keadaan Fany.


"Sebentar lagi dia akan sadar,” tambah Andrew lagi.


‘Syukurlah.’ Batin Austin sambil menghelakan nafasnya.


"Jangan buat dia kelelahan lagi. Dia terlalu banyak bekerja dan bergerak. Dia harus banyak istirahat karena saat ini dia sedang hamil muda. Kalau dia sampai kelelahan itu mungkin akan rentan membuatnya keguguran. Jadi pastikan dia jangan sampai kelahan," pesan Andrew agar Austin dapat menjaga Fany dengan baik.


"Baiklah. Mengenai dia ada di apartemenku jangan sampai kau memberitahukannya pada Ibuku," pinta Austin.


"Ok. Itu bisa diatur." Ucap Andrew  sudah membereskan alat medisnya dan mereka pun keluar dari kamarnya Austin.


"Kalau begitu kau sudah bisa pulang." Ucap Austin yang sudah turun dari lantai 2.


"****. Apa kau tidak mau menjamu tamumu dulu?" Ucap Andrew yang kesal dengan kata-kata Austin yang menyuruhnya untuk segera pulang.


"Aku tidak punya waktu. Urusanku masih banyak dan maaf karena tidak bisa mengantarmu sampai ke mobil." Ucap Austin yang langsung berjalan menaiki anak tangga dan meninggalkan Andrew.


"Tunggu." Ucap Andrew dan membuat Austin menghentikan langkahnya.


"Apa lagi?" Ucap Austin membalikkan tubuhnya mengarah pada Andrew.


"Wanita tadi___Apa dia mengandung anakmu?" Tanya Andrew terlihat serius sekali.


"Itu bukan urusanmu." Ucap Austin tidak memberitahu jawaban atas pertanyaan Andrew dan pergi meninggalkan Andrew.


"What the ****. Dasar iblis tengil! Apa susah sekali untuk menjawab pertanyaanku?" Ucap Andrew yang kesal.


"Padahal akan sangat bagus kalau itu memang benar karena sebentar lagi dia akan menjadi Ayah." Ucap Andrew dan melangkah kakinya meninggalkan apartemen Austin.


***


"Halo Roy. Pergilah kekantor Charles dan cari wanita yang bernama Della. Katakan padanya bahwa Tiffany baik-baik saja." Ucap Austin sedang dalam mode  telpon dengan Roy.


“Oke. Apa ada yang lain?” Tanya Roy.


"Tidak ada. Cuma itu saja. Kau jangan mengatakan pada Ibuku mengenai keberadaan Fany di apartemenku. Apa kau mengerti?" Ucap Austin.


“Iya.”


"Baguslah kalau kau mengerti," ucap Austin lalu mengakhiri panggilan itu.


"Ini sudah sore. Kenapa dia belum sadar juga?" Ucap Austin yang masih setia menunggu Fany sampai sadarkan diri. Austin pun berjalan menuju balkon dan menghirup udara disana.


Tak lama kemudian dari kepergian Austin kebalkon, tiba-tiba jari Fany bergerak. Kelopak matanya perlahan-lahan terbuka sehingga menampilkan bola matanya yang terlihat sangat indah untuk di pandang. Fany sudah sadar. Dia bangun dan duduk di ranjang sambil mengamati keadaan sekitarnya.


"Ini dimana?" Ucap Tiffany yang tidak akrab dengan keadaan sekitarnya


"Kau baik-baik saja?" Ucap Austin sambil berjalan menuju kasur.


"Austin!" Ucap Tiffany yang terkejut melihat Austin yang ada di hadapannya. Dia seakan tidak percaya kalau Austin ada dihadapan sekarang. Sangat dekat.


Sontak Tiffany langsung berdiri karena dia tidak ingin terjadi sesuatu di sini. Tiffany takut kalau Austin sudah mengetahui kalau dia saat ini sedang hamil. Dia juga takut kalau pria ini sudah memberitaukan padanya kalau ia sudah membeberkan perihal kejadian itu pada Ibunya.


"Kau mau kemana?" Ucap Austin sambil memegang tangan Fany yang mencoba untuk pergi.


"Aku mau pulang!" Ucap Tiffany yang berusaha untuk melepaskan tangan Austin.


"Nanti saja. Aku akan mengantarkanmu pulang setelah kau menjelaskan semua hal yang perlu kau jelaskan." Ucap Austin dan itu sukses membuat Tiffany terkejut dan takut.


"Tapi sebelum itu kau makan dulu." Ucap Austin sambil membawa Fany menuju ke kasur itu lagi dan langsung mendudukkannya dengan pelan.


Tiffany tak bisa berbuat apa-apa selain mematuhi perintah Austin.


Kini Tiffany tengah melahap makanannya karena pada saat itu dirinya pun sedang lapar sekali. Berhubung tadi pun di kantor Fany belum ada makan siang. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada calon bayinya. Sedangkan Austin entah kenapa tersenyum sebentar saat sedang menatap Tiffany yang lagi makan dengan rakusnya.


Ketika Fany sedang sibuk makan tiba-tiba pintu kamar Austin terbuka lagi dan itu membuat Austin langsung menatap ke arah pintu. Dia ingin melihat siapa yang datang ke apartemennya.


"Ibu!" Austin tercengang saat melihat Ibunya sudah berdiri di dekat pintu kamarnya.


"Kenapa kau tidak memberitau Ibu kalau kau sudah menemukanya?" Ucap Delila terkejut sambil memukul lengan tangan Austin secara bertubi-tubi.


"Ampun Ibu. Awh sakit Ibu.” Ucap Austin mencoba menghindari pukulan Ibunya.


"Lagian Ibu tau dari mana kalau Fany ada disini?" Tanya Austin sambil menahan rasa sakit pada tubuhnya akibat pukulan maut yang dia terima dari Ibunya.


Bukannya menjawab pertanyaan Austin, Delila malah terus memukul Putranya yang sangat nakal itu. Delila kesal karena Austin tidak memberitau kalau Fany sedang berada di apartemen anaknya. Justru Dia tau berita baik itu dari Andrew.


"Bibi. Tolong hentikan. Kasihan Austin." Pinta Fany yang merasa kasihan. Mau tak mau Delila pun menghentikan aksinya dan menuruti permintaan Fany.


"Austin. Kau sudah tahu kalau kalau Fany tengah mengandung anakmu. Itu semua terjadi karena perlakuan bejatmu yang sangat bertentangan dengan ajaran Ibu." Ucap Delila pada Austin.


Kini Delila beralih pada gadis yang tengah duduk dipinggir kasur milik putranya itu."Fany. Ibu minta maaf atas ulah anakku yang bejat ini sehingga membuatmu sampai seperti ini." Ucap Delila tulus pada Fany.


"Bibi tidak perlu minta maaf. Saya juga salah di sini." Ucap Fany mendadak merasa sangat bersalah ketika mendengar seorang ibu meminta maaf padanya.


"Saya tidak peduli siapa yang salah di sini tapi yang jelas sekarang Ibu sudah bertekad dan memutuskan untuk menikah kalian berdua." Ucap Delila dengan tegas.


"Apa!" Ucap Austin dan Fany secara serentak.


🌷🌷🌷


Hai readersku jangan lupa beri tanda jempolnya banyak-banyak ya


Dan jangan lupa komen juga untuk memberiku saran dan ide kalian


Jangan lupa beri vote kalian juga ya


Thank  you


Love banyak-banyak untuk kalian


^^^28-01-22^^^