I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 33



Sebelum Baca Vote Dulu


Happy Reading


(Sebelumnya)


Roy masih Stay disana. Ia mengambil benda pipih dari saku jasnya untuk  menelpon Austin. "Dia sudah pulang sama Charles," ucap Roy memberitau pada lawan bicaranya yaitu Austin.


Tidak terdengar jawaban, sebelum akhirnya orangitu bersuara untuk menyuruh Roy datang ke kantor. "Baiklah. Aku akan kesana," ucap Roy lalu mengakhiri panggilan itu.


***


“Sekali Terimakasih, Tuan Addison. Maafkan telah merepotkanmu.” Mereka sudah tiba didepan mansion milik Austin.


Charles hanya terkekeh mendengar ucapan Fany, “Tuan Addison.” Monolognya.


“Kalau begitu, ada imbalan yang harus anda bayar nona Lee,” Mereka jadi berbicara dengan formal saat ini.


“Kalau begitu saya harus apa untuk membayarnya tuan?” Tanya Fany diselingi dengan tawa.


Mereka jadi tertawa renyah sekarang.


“Sudah... Aku merasa jadi aneh...”


“Untuk imbalannya aku serius mengatakannya... Tapi aku tidak memintanya sekarang.” Imbuh Charles lagi.


“Aku tidak ada menyuruhmu untuk menjemputku Charles. Kau sendiri yang datang kesana, tapi kenapa kau malah meminta imbalan padaku?”


Charles hanya mengendikkan kedua bahunya keatas. “Baiklah. Aku akan menunggunya. Jangan meminta yang aneh aneh. Awas aja,” ancam Fany.


“Oke. Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Charles.


Setelah mobil Charles pergi. Fany memasuki mansion itu dibantu dengan pengawal yang membawa tas milik Fany. ‘Kemana mereka?’ Fany tidak melihat keberadaan Sesilia dengan Austin didalam mansion itu.


“Terimakasih pak,” ujar Fany pada pria tua itu setelah membawa tasnya kedalam mansion.


“Iya sama sama nyonya.” Penjaga mansion itu pergi keluar meninggalkan Fany.


Fany masuk kedalam kamarnya. Ia ingin beristirahat. Ketika sedang berbaring, Fany mengambil ponselnya untuk menonton film. Ia merasa bosan saat ini.


Dipertengahan film yang ia tonton, Fany diganggu oleh sebuah panggilan masuk diponselnya. Ibu mertua Fany sedang menelponnya.


“Iya Mah.” Ucap Fany sopan saat sudah mengangkat panggilan itu. Ternyata Delila memberitahu Fany agar menantunya itu datang kesuatu pesta temannya yang akan diadakan besok malam.


“Mama tidak bisa datang kesana. Jadi mama ingin kau yang pergi untuk mewakili mama disana,” Delila mengatakan kalau dirinya tidak bisa datang karena ada urusan bisnis yang harus dia selesaikan diluar kota.


"Iya Ma. Besok Fany akan datang," ucap Fany.


“Terimakasih sayang,” Panggilan itu berakhir. Fany tidak mood lagi untuk menonton film. Jadi ia memutuskan untuk  tidur  karena dia  sudah merasa kelelahan.


🌷🌷🌷


Pesta yang dikatakan oleh Ibu mertua Fany akan diadakan nanti malam.


Sesilia sudah pergi duluan kesana. Ternyata pesta itu diadakan oleh orang tua Theresia sahabat dari Sesilia. Tentu saja Sesilia harus standby disana, sedangkan Austin belum pulang dari kantornya padahal hari sudah sore.


Sore berganti malam hari. Saat ini Fany tampak cantik dengan balutan long dress berwarna cream. Dia akan pergi kepesta itu sendirian.


Tonjolan diperut Fany kini sedikit sudah mulai berbentuk. “Baik baik disana ya sayang,” Fany menatap dirinya pada cermin. Ia tengah mengusap perutnya mencoba mengajaknya sang janin untuk berinteraksi dengannya.


“Mama ingin merasakan kau bergerak disini sayang,” tutur Fany.


Wanita itu mengambil tasnya lalu meninggalkan kamar untuk pergi kepesta. Ia akan diantar oleh sopir kediamanan Austin.


Fany sudah sampai ditempat pesta itu. Dengan ragu ia memasuki rumah besar itu. Sepertinya sedikit terlambat. Acara sudah dimulai, disana sudah ramai didatangi oleh orang orang terpandang. Fany mencoba bergabung dengan orang orang disana.


Dari kejauhan Fany melihat seseorang. Alangkah terkejutnya Fany saat melihat Austin sudah ada dipesta. Tapi Austin tidak menyadari keberadaannya. ‘Ternyata dia sudah ada di sini,’ batin Fany.


‘Mereka mau kemana?’ Fany memperhatikan Austin dan Sesilia serta seseorang yang sepertinya cukup terrpandang  juga pergi kesuatu ruangan. Dia melihat Sesilia menggandeng tangan Austin saat menaiki tangga itu.


Untuk mengalihkan rasa sakitnya. Fany beranjak menuju tempat tersedia makanan dan minuman. Ada beberapa aneka kue yang ingin Fany makan. Entah karena ngidam atau lapar, Fany sudah menghabiskan beberapa jenis kue disana.


Rasa haus melanda tenggorokan Fany. Tangan wanita itu terulur mengambil segelas minuman non alkohol dari nampan yang dibawa oleh pramusaji yang kebetulan melewatinya. Saat hendak berbalik, Fany dikejutkan oleh kehadiran seseorang sehingga air yang ada dalam gelas Fany tumpah membasahi baju dan wajah orang itu.


Fany mengenalinya. Dia orang yang pernah bertemu dengan Austin saat direstoran kala itu.


Theresa. Itulah nama yang masih diingat oleh Fany. Austin memanggilnya dengan sebutan itu.


“Kau.” Theresa membalas Fany dan menyiramkan wine yang ada didalam gelasnya kearah wajah Fany.


“Kau sudah membasahi bajuku. Apa kau tidak bisa menggunakan matamu?” Bentak Theresa membuat Fany tersentak.


“Tunggu. Sepertinya aku pernah melihatmu. Kau wanita yang pernah bersama dengan Austin waktu direstoran itu, kan?” Tanya Theresa sambil memegang dagu dengan erat. Theresa mendecih.


Fany hanya diam dan berusaha untuk menghindari kontak mata dengan wanita yang ada dihadapannya ini.


"Aku sebagai sesama wanita sungguh sangat malu terhadapmu. Dasar tidak tau malu. Kenapa kau bisa hadir disini? Sepertinya orangtuaku tidak mengundangmu kesini. Gadis miskin sepertimu tidak pantas berada disini,” Cibir Theresia. Wanita itu sudah memeriksa latar belakang Fany.


"Tuan dan nyonya yang ada disini. Semuanya tolong dengarkan aku," ucap Theresia sambil memegang microphone. Sontak orang yang ada di pesta itu langsung melihat kearah Fany dan Theresia. Memang sedaritadi mereka sudah jadi bahan tontonan disana.


Bahkan pria bersetelan jas berwarna biru dark juga melihat kearah kedua wanita itu. "Fany," pria itu adalah Charles. Dia kebetulan diundang untuk datang juga kepesta itu.


Tapi tidak dengan Alex. Tadi saat pria itu dijemput oleh Charles, Alex mengatakan kalau dia tidak ingin pergi kemana mana. Charles heran melihat Alex akhir akhir ini lebih senang mengurungkan dirinya didalam kamar pria itu. Jadi saat ini Alex tidak ikut bersama Charles pergi kepesta itu sehingga hanya Charles sendiri yang datang kesana.


Charles geram. Ia pun mendekati Fany tapi langkahnya terhenti karena Theresia langsung menghentikannya.


"Tunggu disitu tuan. Aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting," ucap Theresia.


“Lihatlah wanita ini.” Theresa memegang jijik rambut Fany.


“Aku ingin mencerita sesuatu pada kalian kuharap kalian mau mendengarnya,”


“Aku memiliki seorang sahabat. Dia sangat baik sekali. Aku selalu melihat wajah bahagianya. Tapi berkat seseorang, sahabatku kehilangan kebahagiaannya. Kesedihan terlihat jelas pada wajahnya, dia berusaha mencoba untuk menyembunyikannya dariku.”


Orang orang masih mendengar perkataan Theresa. Charles mengepalkan tangannya. Ia berjanji akan membunuh wanita ini jika dia melewati batasannya.


“Kalian tau siapa orang yang ku maksud... Orang yang sudah merusak kebahagiaan sahabatku.”


“Dialah orangnya...” Tunjuk Theresa pada Fany yang sedari tadi mencoba menahan airmatanya agar tidak keluar.


“Wanita miskin yang ada dihadapanku ini. Dia tega mengambil kekasih dari sahabatku.


Saat itu Sesilia sedang pergi ke Jepang untuk beberapa bulan tapi wanita ini memanfaatkan hal itu untuk mengambil kekasih Sesilia. Bahkan dia melakukan dengan cara kotor. Dia menjatuhkan dirinya ke ranjang kekasih dari Sesilia agar wanita ini hamil agar dia dapat dinikahi,”


Semua orang terkejut. Beberapa mulai bertanya kenapa dia tega melakukan itu dan mereka juga bertanya apakah dia tidak punya hati sebagai sesama wanita. Bahkan ada juga orang yang mengatai Fany sebagai ******.


Sesilia datang kesana untuk melihat keributan yang tidak ia ketahui.  Dari lantai atas ia mendengar suara keributan meskipun tidak terlalu jelas,


Untuk itulah Austin menyuruh Sesilia untuk memastikannya karena dia masih ada urusan dengan kolega bisnisnya serta bersama orangtua Theresa diruangan itu.


“Ada apa ini?” Tanya Sesilia bingung.


"Ini dia sahabatku. Sesilia." Ucap Theresia sambil menunjuk kearah Sesilia.


Semua orang tahu kalau Sesilia adalah kekasih dari Austin Nero karena Austin sering mengenalkan Sesilia sebagai kekasihnya saat jumpa pers bersama awak media.


“Jadi Austin sudah menikah? Kenapa aku tidak tau?” Tanya seseorang yang hadir dipesta itu.


"Iya. Austin  sudah menikah. Dia terpaksa karena wanita miskin ini___”


Fany dengan mata yang sedikit memerah menatap kearah Charles. Ia ingin Charles percaya padanya. Ceritanya bukan seperti itu, Fany berkata dalam hatinya. Charles yang mengerti itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Tuan. Anda jangan tertipu dengan wajah polosnya," pungkas Theresia. Dan semua orang disana langsung mengiyakan perkataan Theresia.


"Apa tujuanmu menikahi Austin? Jelaskan pada kami semua yang ada disini?" Tanya Theresia sambil senyum sumringah karena semua orang pada mendukungnya.


"Mungkin dia mau mengincar hartanya? Biasanya ****** memang seperti itu." Ucap wanita yang ada disebelah meja Fany.


“Perhatikan perkataanmu, Nyonya. Anda lebih tua dariku, untuk itu aku masih menghormatimu disini,” ujar Charles.


"Apa benar Fany?" Ucap Theresia menyela.


Fany terlihat diam mematung. Dia tidak dapat menjawab dan menutup mulut setiap orang yang berkata jelek terhadapnya. Lain dengan Sesilia hanya menikmati pertunjukkan drama gratis dari sahabatnya ini


‘Terimakasih Kak. Dan Fany, Maafkan aku. Kaulah yang membuatku berubah jadi sedikit jahat. Aku hanya sedang mengambil hak yang seharusnya menjadi milikku.’ batin Sesilia.


"Kenapa kau hanya diam saja? Berarti benar apa dikatakan oleh ibu tadi," cibir Theresia.


"Apa orang tua mu tidak sanggup lagi untuk menafkahimu sampai kau rela menggoda dan merebut Austin dari Sesilia demi hartanya. Apa ini didikan dari ayah dan ibumu sehingga kau jadi perebut laki laki orang?" ucap Theresia dengan nada mengejek.


Pandangan sedikit mengabur karena air mata yang bergejolak ingin keluar.


“Nona Theresa aku akan buat perhitungan denganmu. Ayo Fany. Aku akan mengantarmu pulang,” Charles tau kalau Fany ingin menangis tapi ditahannya. Ia harus membawa Fany keluar dari sana.


Austin sudah ada disana, Orang orang pada membelakanginya sehingga tidak menyadari kedatangannya karena fokus memperhatikan kedua wanita di sana.


Saat ingin melangkah, Austin mengurungkan niatnya karena Fany sudah mulai angkat bicara.


"Aku akui kalau aku memang sudah menikah dengan Austin. Kalian boleh mencaciku dan memakiku tapi kumohon pada kalian semua untuk jangan berbicara seperti itu mengenai keluargaku,” ucap Fany bergetar. Setetes air mata meluncur membasahi pipinya. Dengan segera Fany langsung menghapusnya.


"Kau menangis. Apa kau sengaja mengeluarkan air mata palsumu agar orang bersimpati padamu," ucap Theresa. Fany tidak menggubris perkataan Theresa. Tatapannya beralih kearah Sesilia.


"Sesilia. Aku minta maaf  jika aku tidak sengaja telah membuat hatimu terluka.” Sesilia hanya diam saja.


“Theresa. Kau boleh memandangku sebagai wanita hina dan tidak tahu diri. Aku bisa menerima itu semua. Tapi kumohon padamu jangan menghina keluargaku," ucap Fany mencoba untuk menahan air matanya agar tidak keluar lagi.


"Aku tahu kalau aku bukan anak orang kaya seperti kalian. Aku menikahi Austin bukan karena hartanya. Aku mohon pada kalian jangan menilaiku seperti itu. Aku tidak sepenuhnya seperti yang kalian katakan. Aku bukan wanita yang gila harta. Aku bukan ******," ujar Fany. Sepertinya airmata Fany tidak terbendung lagi.


"Sesilia. Kau tenang saja. Aku akan segera meninggalkan Austin. Aku berjanji untuk tidak akan muncul lagi dihadapan kalian," Fany mengingat perjanjiannya dengan Austin. Setelah bayi ini lahir ia akan pergi sejauh mungkin.


Setelah mengatakan itu ingin rasanya Fany menghilang dari tempat itu. Dipermalukan dihadapan orang banyak bukan tujuannya datang kepesta itu. Tapi apa daya, sekarang Fany hanya bisa menunduk dan menahan rasa malu.


Semua orang disana terdiam karena mencernakan perkataannya Fany.


Tiba-tiba Theresia berkata, "Kau pergi dari sini wanita hina.  Pesta ini sangat tidak cocok untuk orang sepertimu. Kau hanya perusak acara dan perusak hubungan orang saja," ucap Theresa dengan sarkas.


“Aku akan pergi. Aku minta maaf jika pestanya jadi kacau seperti ini,”


“Sekali lagi aku minta maaf.” Saat Fany menundukan kepalanya untuk meminta maaf. Charles langsung menghentikannya.


“Jangan meminta maaf, Fany. Kau tidak bersalah. Kau tidak hina. Dan Theresa, benar katamu nona. Fany memang tidak cocok datang kesini. Pesta ini sangat buruk sama seperti dengan orang yang mengadakannya.” Charles menatap tajam kearah Theresa. Ada kemarahan yang tersirat dari tatapan Charles.


"Ada apa ini?" Tanya Austin secara tiba tiba. Orang orang kini sudah menyadari keberadaan Austin.


"Austin." Ucap Theresia dan Sesilia secara bersamaan.


Fany juga terkejut melihat kehadiran Austin. Mengingat sikap Austin yang sudah berubah padanya membuat Fany takut kalau Austin akan lebih mempermalukanya. Pergi dari tempat ini secepatnya adalah keputusan yang dipikirkan oleh Fany. Fany tidak mau jika Austin membahas keburukan kak Alex didepan semua orang. Fany tidak ingin keluarga dihina sekali lagi.


"Tunggu. Aku tidak menyuruhmu untuk pergi.”  Austin berbicara dengan keras karena dia melihat Fany berjalan dan ingin meninggalkan tempat itu.


Fany mendengar perintah Austin langsung menghentikan langkahnya. Tapi dia tidak berbalik badan karena takut.


“Austin. Biarkan dia pergi,” ujar Charles. Pria itu hendak membawa Fany keluar.


“Aku suaminya disini. Kuharap kau mengetahui hal itu tuan Addison. Jadi cuma aku yang berhak mengaturnya disini?” Charles menghentikan langkahnya.  Menatap sengit kearah Austin.


“Apa sebenarnya maumu?” Charles menatap tajam kearah Austin.


"Kau diam saja. Ini urusanku dengan istriku. Kau tidak berhak mencampurinya,” Suasana disana cukup menegangkan. Austin mendekati Fany. “Tadi aku mendengar kalian semua membahas wanita hina? Siapa dia?”


Charles hanya diam menatap tajam dan menahan amarah karena dia tak bisa berkata apa-apa saat Austin mengatakan padanya untuk tidak mencampuri urusan mereka.


"Apakah wanita ini?" Tanya Austin tepat dihadapan Fany dan itu membuat hati Fany terasa sakit sekali. Fany benar, kali ini giliran Austin untuk mempermalukannya.


"Benar. Itu aku," ucap Fany secara tiba-tiba sambil menunduk. Dadanya terasa sesak sekali karena kesedihan yang menggerogotinya.


Austin yang mendengar itu hanya bisa menahan geram. Kemudian dia berjalan mendekati Theresia.


“Kau tahu siapa wanita itu?” Tanya Austin sambil menatap tajam kearah Theresa tapi tangannya menunjuk kearah Fany.


“Austin,” potong Sesilia yang mencoba mencairkan keadaan.  Sesilia tahu kalau Austin saat ini tengah marah kepada Theresa.


"Wanita yang kalian hina sedari tadi itu adalah istriku," ucap Austin secara tegas.


"Selama ini kau selalu kuhormati nona Theresia, tapi kali ini kau sudah kelewatan batas. Kau terlalu mencampuri urusan rumah tanggaku. Urusan pribadiku." Tekan Austin penuh penegasan.


“Aku tidak mencampuri urusanmu. Semua ini kulakukan demi Sesilia.”


“Tapi kenapa kau yang terlalu berambisi disini?”


“Sialan. Seharusnya kau tidak datang kesini,” ujar Theresa pada Fany. Ia hendak pergi dari sana karena tidak tau harus menjawab apa dari pertanyaan Austin.


"Tunggu. Berarti secara tidak langsung kau mengatakan bahwa aku juga tidak pantas datang ke pesta ini?” Tanya Austin.


"Bukan itu maksudku, Austin." ucap Theresia.


"Kenapa kau jadi membela wanita ini. Ingat Sesilia adalah kekasihmu. Sedari tadi dia memperhatikanmu yang terus membelanya. Apa jangan jangan  kau sudah jatuh hati dengannya?”


“Kau tidak perlu mencampuri mengenai kehidupan percintaanku, Theresa. Apalagi menyimpulkannya dengan sesuka hatimu. Kau tidak berhak untuk itu.” Sesilia yang mendengar hal itu merasa sakit hati.


"Kalian semua yang ada disini. Kalian mau tahu kenapa aku menikah wanita ini?" Tanya Austin sambil menunjuk Fany yang masih menundukkan kepala.


"Itu karena dia sedang mengandung anak kami. Sebelumnya dia tidak ingin memberitahuku kalau dirinya sedang hamil. Dia bahkan tidak memintaku untuk bertanggung jawab. Dia hanya memilih untuk melahirkan anak ini seorang diri," ucap Austin.


"Saat aku mengetahui berita kalau dia sedang hamil, aku spontan menyuruhnya untuk mengugurkan kandungannya. Saat itu senang karena dia menyetujuinya tapi entah kenapa hatiku tiba-tiba tergerak dan aku tidak jadi berniat untuk melakukan itu. Mungkin itu karena naluri seorang ayah yang tidak tega membunuh anaknya sendiri. Jadi aku memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahinya. Tapi wanita bodoh ini, disaat dia mengetahui kalau aku sudah memiliki kekasih, dia malah mengatakan untuk membiarkannya pergi jauh dan membesarkan anak ini seorang diri. Dia melakukan itu karena dia punya hati yang besar. Dia lebih memikirkan perasaan seseorang terlebih dahulu dan tidak mementingkan perasaanya. Dan saat ini aku sangat marah ketika ada orang yang mengatakan kalau istriku itu tidak punya hati dan ******? Siapa yang mengatakanya?" Tanya Austin dengan lantang.


Austin merasa geram saat tidak ada yang menjawab pertanyaannya,”Kenapa kalian pada bungkam? Tadi kalian berkoar-koar mengatakan hal buruk kepadanya. Tapi setelah aku yang menyandang sebagai suaminya ada disini, mulut kalian mendadak jadi kaku!”


"Satu lagi! Kalian juga mengatakan kalau dia menikahiku hanya karena harta saja. Kalian semua salah besar! Aku pernah menawarkan jumlah uang yang begitu banyak padanya  tapi wanita ini menolaknya secara mentah-mentah," ucap Austin sambil berjalan mendekati Fany.


"Tatap aku!" Perintah Austin pada Fany. Fany pun langsung menegapkan kepalanya.


Austin memegang dagu Fany. "Ayo kita pergi dari tempat yang tidak berguna ini!" Sindir Austin sambil mengulurkan tangannya pada Fany.


Austin pun langsung mengajak Fany meninggalkan tempat pesta. Semua orang yang disana merasa terkejut dan tertampar dengan ucapan Austin. Lain dengan Sesilia yang merasa sedih dan sakit hati.


***


Kasihan Fany... 😢😢


To Be Continued


Jangan lupa like dan beri komentar kalian


Saranghae semuanya


^^^18 Feb 2022^^^