
Sebelum baca beri like dan vote guys
Happy Reading
***
“Kalau begitu ayo kita pergi." Ucap Austin.
"Kau tidak bersiap dulu. Maksudku... Apa kau tidak mandi dan berganti pakaian dulu? Kau pergi seperti itu?"
"Meskipun begini. Suamimu ini tetap terlihat tampan Fany." Austin berkata dengan percaya diri.
"Baiklah," Fany tidak ingin berdebat.
Mereka pun keluar dari mansionnya menuju garasi mobil yang sudah terparkir beberapa mobil elit milik Austin.
Austin memilih Porsche Boxster berwarna putih. Tak mau berlama di situ mereka pun langsung masuk kedalam mobil itu dan Austin melajukan mobilnya.
“Untuk apa kau menemui Charles?” Austin penasaran.
“Charles mengundangku makan di apartemennya.”
“Jadi kau menerimanya.” Suaranya terdengar cemburu.
“Karena aku tau kau akan cemburu, makanya aku mau setuju agar kau ikut bersamaku.” Fany memicingkan mata ke arah Austin.
“Hehe. Itu lebih baik.” Austin kembali fokus menyetir mobil.
“Kita singgah ke pusat perbelajaan dulu, boleh?”
“Untuk apa? Kau mau membeli sesuatu untuk dia?” Ujar Fany
Fany menepuk dahinya. Cemburu Austin kumat lagi. “Tidak. Kau langsung cepat untuk menyimpulkannya.”
“Siapa tau. Kau itu terlalu baik sekali.”
“Aku hanya ingin membeli perlengkapan bayi kita. Tapi karena kau bilang aku itu baik hati, sekalian saja kita membeli sesuatu untuk Charles nanti.” Fany tertawa kecil mengejek pria cemburuan itu.
“Oke. Kita beli perlengkapan bayi saja. Tidak ada yang lain.”
“Baiklah. Setelah itu jangan lupa kita mampir ke apartemennya Charles.”
Kini Austin dan Fany sudah sampai di tempat perbelanjaan yang terbesar dikota itu.
Sesuai dengan perkataan Austin, mereka mengunjungi toko perlengkapan bayi.
Kali ini mereka akan berbelanja perlengkapan bayi laki laki, karena mereka sudah mengetahui jenis kelamin bayi mereka yang akan lahir nanti. Ketika berbelanja sempat ada perdebatan diantara mereka, itu terjadi karena ada bedanya pilihan antara Austin dan Fany.
Mulai dari model tempat tidur bayi mereka sampai jenis popok bayi pun mereka masih berdebat karena beda selara dan pilihan. Padahal yang akan memakainya adalah sibayi mereka tapi mereka yang berdebat.
Sampai pegawai toko itu pun hanya mengelengkan kepala melihat pasangan ini. Setelah selesai berbelanja, Austin pun mengajak Fany ketoko pakaian.
"Mau beli pakaian?" Tanya Fany.
"Tidak jadi. Ayo kita pergi. "Austin menarik tangan Fany. Mood Austin tiba tiba jadi tidak baik saat memasuki toko itu.
Dulu Austin sering ke sana bersama dengan Sesilia. Jadi untuk menghargai dan tidak ingin Fany terluka. Austin memilih untuk tidak membawanya ke sana.
***
Kini mereka sudah sampai di apartemen milik Charles. Mereka disambut hangat oleh Charles sang pemilik rumah. Ralat. Hanya Fany saja, tidak dengan Austin. Charles menganggap kalau Austin tidak ada di sana.
Charles telah menyediakan berbagai aneka kue di sana. Itu ia masak sendiri untuk Fany. Entah kenapa dia berpikiran untuk melakukan itu semua. Charles hanya berharap kau Fany menyukainya.
Senyuman Charles terlihat kala melihat memakan lahap kue buatannya. Lain dengan Austin. Pria itu hanya berharap waktu bisa cepat berjalan dengan cepat dan mereka segera meninggalkan tempat yang menurutnya sangat laknat itu.
Ponsel Austin berdering mengganggu kegiatan orang yang ada di meja makan itu.
Austin melangkah sedikit jauh dan menjawab panggilan itu, “Ada apa Roy?”
Austin berdecak kesal.
“Austin. Bisakah kau cepat datang ke kantor? Kita akan mengadakan rapat. Ada sedikit masalah dengan departemen keuangan. Jadi cepat datang kesini. Ini urgen.” Ucap Roy.
“Apa aku harus datang kesana?”
“Kau pimpinan. Jadi harus wajib datang.”
“Baiklah. Aku akan kesana. Jika sedikit terlambat, kau yang memimpin rapat duluan,”
“Oke.” Panggilan itu berakhhir setelah Austin menutupnya.
Austin berjalan mendekati Fany dan membisikan sesuatu. Wanita itu hanya mengangguk setuju.
“Sopir akan menjemputmu. Oke.” Austin mengecup dahi sang istri.
“Aku pergi dulu.”
“Hati hati.” Austin tersenyum lalu menjawab iya. Austin lalu menatap ke arah Charles memberi peringatan pada pria itu untuk tidak berbuat sesuatu pada istrinya. Jika terjadi sesuatu maka Austin tidak akan berpikir dua kali untuk segera membunuh Charles.
Austin sudah pergi. Kini tinggallah mereka berdua di sana.
“Austin... Pria itu... Apa kau serius ingin memberi kesempatan padanya?” Tanya Charles.
“Charles. Sudahlah kita jangan membahas ini lagi. Aku sudah mengatakannya.”
Pria itu kemudian mendekati Fany dengan membawa sesuatu yang ada di telapak tangannya.
Tanpa mereka sadari Austin ada di sana di depan balik tembok dan melihat semua.
Pria itu lupa mengambil kunci mobilnya dan berniat ingin mengambilnya. Tapi karena ada pertunjukan yang sangat membuat dia penasaran akan kelanjutannya, Austin memilih untuk bersembunyi dan menunggunya.
Charles mengambil salah satu tangan Fany dan menggenggamnya dengan lembut.
“Fany. Aku tulus mencintaimu. Apa kau tidak pernah sedikit pun memiliki rasa itu padaku? Aku tidak menyayangimu sebagai adik saja. Lebih dari itu... Dan aku tidak bisa untuk menyangkal hal itu. Aku benar benar tulus mencintaimu.”
Fany terdiam, sementara Austin merasa panas dingin mendengar itu. Dia tau kalau Charles memang mencintai istrinya. Jawaban apa yang akan diberikan oleh Fany selanjutnya. Austin penasaran akan hal itu. Sepertinya Charles masih berjuang untuk mendapatkan hati Fany.
Mata Austin tertuju pada sesuatu yang berada di genggaman pria itu. Apa Charles ingin melamar istrinya. Austin tidak sanggup kalau dirinya mendengar Fany menerima Charles.
Untuk itulah Austin tiba tiba muncul di hadapan mereka. Membuat merek kaget dan merasa canggung. “Maaf. Aku lupa mengambil kunci mobilku.” Austin berkata seraya menunjukkan benda yang ia ingin ambil lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Fany terkejut dan merasa bersalah pada Austin. Dia tidak ingin mengejar Austin, nanti di rumah wanita itu akan membujuk suaminya itu, meskipun itu nanti akan terasa sangat sulit.
Fany ingin menjelaskan sesuatu pada Charles dengan sebaik mungkin agar pria itu tau kalau dirinya hanya menganggap Charles hanya sebatas seorang kakak saja. Tidak lebih Karena hati wanita itu sudah diisi dan dikunci oleh satu nama. Austin. Pria yang berkali kali sudah menyakiti hatinya tapi tetap saja masih mencintai pria itu.
“Charles. Mungkin ini terlalu kasar didengar olehmu. Tapi aku harus benar benar mengatakanya agar kau mengerti. Aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai seorang kakak tidak lebih. Aku hanya mencintai Austin. Hanya pria itu. Jika kau ingin menanya alasannya. Aku juga tidak tau... Yang kutahu hanya mencintainya tanpa alasannya. Maafkan aku. Aku sebenarnya tidak ingin melukai hatimu. Tapi aku harus mengatakannya.”
“Tapi setelah mengetahui fakta ini. Kuharap kau tidak membenciku atau menjauhiku. Karena kau sudah kuanggap sebagai kakak dan keluargaku. Aku tidak mau karena perkataan ini membuatmu jadi membenciku.”
Fany menolaknya lagi dengan hati hati agar tak menyinggungnya.
“Baiklah. Sepertinya aku benar benar harus mundur dari pria itu. Aku mengerti.” Charles mengerti apa yang ingin Fany sampaikan padanya.
“Maaf.” Fany menunduk dan hanya bisa berkata maaf.
Charles mengajak Fany berdiri dan berkata, “Ayo. Aku akan mengantarmu pulang. Kau berhutang penjelasan pada pria itu. Aku tau pasti dia mendengarnya. Dan mungkin saat ini ia tengah marah padaku.”
“Dia terlihat jelek sekali kalau sedang cemburu dan marah.” Ejek Charles bercanda agar suasananya tidak terasa cangggung sekali.
“Yang kau ejek itu adalah suamiku. Kau jangan mengejeknya. Aku tidak suka, ” Fany marah karena Charles mengatai suaminya jelek.
Fany tersenyum dan mengangguk. Dia menyetujui usul Charles.
**
Di dalam kamar, Fany merenung dan sedih karena memikirkan perang dingin yang terjadi padanya dan Austin selama 3 hari ini. Sejak kejadian malam itu, Austin mendiami dirinya. Hal itu membuat Fany merasa sedih. Fany tidak menceritakan hal itu pada Charles, karena ia tau kalau itu urusan rumah tangganya, jadi orang lain tidak perlu tau. Selama mereka perang dingin, Austin sama sekali tidak mengajaknya bicara. Kadang Sesekali. Tapi pria itu bersikap acuh tak acuk padanya. Fany menyadari kalau Austin pasti mendengar perkataan Charles dan merasa sangat kecewa padanya.
Fany menghubungi Roy untuk menanyakan apa Austin sudah makan siang atau belum.
“Dia sudah makan. Dan sekarang sedang istirahat diruangan pribadinya.” Ujar Roy
“Syukurlah.” Fany bernafas lega. Soalnya tadi pagi Austin tidak ada sarapan.
“Kalian kenapa? Bertengkar tapi tidak mau menceritakan apa penyebabnya. Kenapa setiap kali bertengkar aku selalu jadi perantara kalian. Benar benar. Tak lama lagi romantis romantisan ini. Siap itu perang lagi. Dasar pasutri aneh.” Roy kesal.
“Maaf sudah merepotkanmu, Roy. Oh ya nanti kalian pulang malam lagi?”
“Mungkin. Semua tergantung mood suamimu.”
“Maaf...” Fany hanya bisa mengucapkan kata itu.
“Huft. Kalau begitu aku tutup dulu ya. Aku ada pekerjaan disini.”
“Baiklah. Semangat Roy.”
Setelah menutup panggilan itu, Fany melemparkan ponselnya kekasur. “Austin... Kau sungguh kekanakan. Bagaimana aku mau menjelaskan padamu, kalau kau langsung menghindariku terus. Entah bagaimana aku bisa mencintai pria childish sepertimu.”
Dilain tempat Austin mendadak bersin. “Kau kenapa kak? Flu?” Tanya Ronald.
“Tidak. Cuma bersin saja.” Jawab Austin.
“Kakak mau kemana?” Ronald melihat Austin memakai jasnya.
“Mau pulang.” Lalu pergi begitu saja meninggalkan Ronald di ruangan itu dan kebetulan berpapasan dengan Roy yang memasuki ruangan kerja Austin.
“Dia mau kemana?”
“Katanya mau pulang.” Jawab Ronald.
‘Berdamaikah? Sudahlah. Semoga saja benar. Biar mereka tidak merepotkanku.’ Doa Roy.
Dia meletakkan sebuah map berisi dokumen penting lalu keluar dari ruangan itu
***
Mendadak Fany merasa panik saat membaca pesan dari sang adik ipar. Pria itu mengatakan kalau Austin mau pulang ke rumah.
Fany meletakkan ponselnya dan memutuskan untuk segera mandi.
Fany sudah selesai mandi. Dia memasuki walk in closet. Saat dia ingin mengambil ke meja milik Austin. Wanita itu tidak bisa menggapainya karena masalah tinggi badan wanita itu.
Fany meraih kursi untuk mengambil kemeja itu. Fany merasa senang setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Fany itu seakan lupa kau dia sedang berdiri di atas kursi hias, karena ketidakhati-hatian membuat Fany ingin terjatuh.
Tapi beruntung sepasang lengan kekar muncul menopang tubuh Fany, “Kenapa kau ceroboh sekali.” Austin menangkapnya membuat senyum Fany merekah di wajahnya.
“Aku mau mengambil ini.” Fany menunjukkan kemeja biru milik Austin.
“Untuk apamu?
“Mendadak aku ingin memakainya. Aku sangat merindukanmu, jadi beberapa hari ini aku memakai kemeja milikmu.”
Austin membawa Fany menuju kasur mereka dalam posisi pria itu menggendong Fany ala bridal Style. Austin mendudukkan Fany diatas pinggiran kasur, “Pakailah. Aku kebawah dulu. Lain kali jangan ceroboh.” Fany saat itu hanya memakai handuk kimono membuat iman Austin sedang diuji.
Austin pun langsung beranjak bangkit tapi Fany tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk Austin dan bertanya, “Apakah kau masih marah padaku? Apa aku harus ceroboh dulu untuk menarik perhatianmu?”
“Lepas Fany. Aku mau ke bawah dulu.” Austin berusaha melepaskan tangan Fany darinya, Tapi wanita itu malah memeluknya makin erat.
"Apa yang akan kau lakukan?” Austin menghentikan Fany sepertinya berusaha untuk membuka kancing kemeja miliknya.
“Dengarkan aku dulu.”Pinta Fany. Austin melepaskan nafas panjangnya.
“Aku tidak mencintai Charles.”
“Kenapa kau tiba tiba bicara seperti itu? Aku tidak ada menanyakan hal itu.”
“Austin. Aku tau kalau kau cemburu padanya. Kumohon jangan marah lagi.”
“Siapa bilang aku cemburu?”
“Oh. Jadi kau tidak ada cemburu. Baik. Seharusnya aku menerima Charles yang lebih dewasa pemikirannya. Kau sangat kekanakan Austin.” Fany kesal sekali pada pria bodoh yang ada dihadapannya ini. Ditinggal pergi biar tau rasa dia. Pikir Fany.
Fany ingin pergi dari kamar itu.
“Kau mau kemana?” Austin menarik tangan Fany menahan wanita itu.
“Aku mau pergi. Aku tidak suka kalau kau bersikap dingin seperti ini terus.”
“Jangan pergi.” Pinta Austin. Pria itu segera memeluk Fany dan mendekapnya dengan Erat.
“Aku hanya takut kalau berpalingku dari ku dan memilih Charles. Pria itu sunguh mencintaimu.” Ucap Austin menyampaikan ketakutannya.
“Aku hanya mencintamu Austin.”
“Tapi kau barusan lebih membela dia. Kau bahkan memujinya.”
“Aku berkata seperti itu karena kesal padamu. Lagian aku tidak serius mengatakan hal tadi.”
“Kau tau bahkan akulah yang membelamu dihadapan pria itu.” ujar Fany sambil menepuk pelan punggung pria itu untuk menenangkannya. Pria itu menangis lagi.
“Membelaku?”
“Iya. Charles mengatakan kalau kau terlihat sangat jelek jika sedang cemburu. Dan aku sepertinya menyetujui hal itu. Kau terlihat jelek sekali saat ini.” canda Fany.
“Dia berkata seperti itu?” Austin melepaskan pelukannya.
“Kau mau kemana?”
“Ingin memberi pelajaran pada Charles.”
Fany segera menahan pria itu dengan memeluknya kembali, “Tidak perlu. Kan aku sudah katakan kalau aku sudah membelamu. Aku hanya bercanda tadi. Kau terlihat tampan. Dan ketampanan ini hanya aku yang boleh memilikinya, memandanginya setiap hari.”
Mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir Fany membuat Austin merasa sangat senang sekali. Pria itu meraih dagu wanita itu dan mendekatkan bibirnya agar menyatu dengan bibir sang istri. Pria itu mencium Fany dengan lembut membuat Fany membalasnya dengan hal yang sama
***
Charles yang malang jadi sad boy
To Be Continued
Sudah beri like dan Votenya kah??
Kalau belum jangan lupa ya teman teman reader untuk beri like dan votenya
Salam hangat dariku
Insani Syahputri
^^^26-02-2022^^^