
Happy Reading
***
Fany tercengang melihat seorang pria berdiri di ambang pintu besar utama mansion itu. Prianya. Suaminya. Sekarang sudah pulang dan berdiri tak jauh darinya. Dengan tidak sabaran. Fany langsung berlari kencang untuk mendekati pria yang tengah tersenyum padanya.
Austin menggapai pinggang wanitanya dan memegangnya dengan erat. Lalu pria itu langsung mencium wanitanya dengan perasaan rindu yang tak tertahankan lagi.
“Bagaimana kabar babynya?”
“Baby sehat kok.”
“Maaf ya karena Daddy tidak bisa menemani kalian.” Austin mengecup perut buncit Fany yang berusia 7 bulan itu.
Karena itu Fany tidak ditemani oleh Austin. Dua hari yang lalu Austin pergi ke paris menghadiri rapat penting disana.
Sebenarnya besok jadwal kepulangan, tapi Fany memintanya untuk pulang cepat. Jadi Austin meninggalkan sedikit tugas yang belum selesai pada Roy di sana.
“Ada apa, hm?”
“Apa kau tau mengenai perjodohan Charles dengan Theresa?”
“Jadi Kamu menyuruhku pulang cepat hanya karena menanyakan ini.”
“Iya.”
“Jangan marah. Please jawab.” Pinta Fany
“Aku tidak tau sayang. Ini kehidupan pribadi Charles. Aku hanya tau perjodohan itu dilakukan oleh kedua orang tua mereka. Tapi sepertinya hubungan mereka tidak ada perkembangan. Aku tidak mau tau karena itu tidak penting bagiku.”
‘Tapi itu sangat penting bagiku. Aku harus menanyakan langsung pada Charles. Yasmin butuh pertanggungjawaban itu. Kasihan anak itu. Fany akan pastikan kalau Yasmin akan mendapatkan nasib baik seperti dirinya.’
“Ayo. Kau pasti lelah. Pergi mandi sana. Aku akan menyiapkan makanan untukmu.”
***
Bibi Glenda mengantarkan minuman pada Fany dan Charles. Fany datang berkunjung ke apartemen pria itu.
Fany harus menunggu dua hari untuk menemui pria itu. Entah kenapa Charles selalu menyibukkan dirinya dengan bekerja.
“Ada apa Fany? Apa kau sudah ijin dengan suamimu. Nanti dia akan menghajarku.”
“Dan kau pasti akan menghindarinya, kan?”
“Bagaimana hubunganmu dengan Theresa?”
“Kenapa kau bertanya? Apa kau ingin menghentikannya?”
“Tidak. Aku hanya bertanya.”
Charles menyesap mocca miliknya. Yasmin. Ia teringat dengan gadis itu lagi.
“Aku tidak menyukai Theresa.”
“Tapi kalian sudah bertunangan.”
“Aku belum meresmikannya. Itu hanya melalui perkataan mulut saja. Jadi dia belum menjadi tunanganku. Aku saja belum menyematkan cincin di jari tangannya.” Tukas Charles.
‘Iya juga sih.Berari ini bagus. Masih ada peluang untuk Yasmin.’
“Bagaimana dengan Yasmin.”
Charles terkejut. Kenapa wanita ini membahas Yasmin. “Aku tidak memiliki hubungan spesial dengannya.”
“Tapi dia sedang mengandung anakmu. Usianya empat minggu.” Charles bagai di sambar petir di siang bolong.
“Darimana kau mengetahuinya?”
“Lusa lalu aku bertemu dengannya di rumah sakit. Dia baru selesai melakukan usg di sana.”
Ponsel Charles tiba-tiba berbunyi. Pria itu terlihat malas sekali untuk mengangkatnya.
“Ada apa bu?”
“...”
“Baiklah. Aku akan pulang ke sana sore ini. Ada yang ingin aku bicarakan.” Setelah mengatakan itu Charles langsung mengakhiri panggilan itu.
“Sepertinya kau akan sibuk. Aku akan pulang.”
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu. Sopirku tidak pulang. Dia sedang menungguku di bawah sana.”
“Baiklah. Hati- hati.”
“Iya. Mengenai Yasmin. Tolong pikirkan. Bagaimana pun janin itu adalah anakmu. Kau harus bertanggungjawab atas apa yang sudah kau lakukan.”
“Aku pergi dulu.”
Fany meninggalkan Charles yang berdiri. Pria itu terdiam tengah memikitkan sesuatu.
***
Malam hari, Fany membuka pintu kamarnya bersama Austin. Ia ingin melihat apakah Adam sudah tertidur atau belum.
Pria itu lagi marah padanya. Tentunya itu semua karena Austin mengetahui dirinya pergi menemui Charles tanpa persetujuan darinya.
Fany berjalan perlahan mendekati ranjang mereka dan ia melihat Austin yang sudah tertidur. Austin tertidur sangat pulas.
“Maafkan aku.” Fany mengecup bibir Austin.
Tiba-tiba mata Austin terbuka hal yang membuat Fany kaget. “Kenapa kau bangun?” Ujar Fany kini terlihat gugup.
“Kenapa? Apa kau ingin melakukan sesuatu yang aneh padaku?” Austin berkata sambil menyalakan lampu.
“Sekarang bukan itu masalahnya. Kenapa kau menemui si Charles itu tanpaku?” Geram Austin.
“Oh kenapa kau marah-marah terus,”
“Percayalah aku hanya berkunjung ke sana. Ada yang ingin aku tanyakan padanya.” Ujar Fany.
“Apa kau ingin menanyakan mengenai hubungannya dengan Theresa. Kenapa kau terlalu mencampuri urusan mereka. Apa jangan-jangan kau mulai ada perasaan untuk Charles, kau bahkan sampai penasaran mengenai mereka berdua.” Austin terlihat marah.
“Austin. Aku minta maaf mengenai itu. Jangan marah. Ini sangat penting, jadi aku harus menanyakan pada Charles.” Fany meminta maaf pada Austin.
“Aku hanya mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Ungkap Fany sambil menangis.
“Aku yang seharusnya minta maaf. Aku hanya tidak suka kau berdekatan dengan Charles. Aku sangat mencintaimu sehingga takut kehilanganmu.” Austin masih memeluk Fany. Perkataan Austin barusan ternyata membuat Fany tersenyum dan kemudian mencium pria itu.
Fany menyudahi ciuman itu “Aku lebih-lebih mencintaimu.”
Austin menatap lekat manik mata hazel Fany. “Jangan dekati Charles lagi. Aku tidak suka.”
Fany terkejut dan menjauhkan kepalanya yang berada didekapan dada bidang Austin. “Tidak. Aku mohon jangan larang aku dekat dengan Charles. Urusanku denganya belum selesai.” pinta Fany.
Austin menatap tajam Fany,” Urusan?”
Fany menghela nafasnya kasar, “Yasmin sedang hamil. Charles yang melakukannya.”
“Apa??” Austin seakan tidak percaya.
“Kejadiannya saat pesta sebulan yang lalu.”
“Oh jadi dia yang memakai kamar hotel itu. Apa dia tidak tau kalau hotel itu sedang tidak beroperasi karena pesta.”
“Bukan itu masalahnya sekarang. Kamu memang tidak bisa di ajak bertukar pikiran.”
“Jadi apa yang dikatakan oleh Charles?” Tanya Austin.
“Dia hanya diam saja. Tapi tadi ibunya menelpon dan menyuruhnya pulang ke rumah. Aku harap dia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
“Seperti aku, kan?”
“Iya, tapi awalnya kau tidak mau kan?” Fany menatap malas pada Austin.
“Aku minta maaf mengenai masa lalu itu, tapi sekarang aku benar-benar bertanggung jawab padamu dan baby kita,”
“Iya-iya. Terima kasih tuan atas tanggung jawabnya.”
“Tapi bantu aku ya. Aku kasihan pada bayi yang dikandung Yasmin. Belum lagi Yasmin yang berpikir kalau Charles tidak mau bertanggung jawab untuknya,”
“Apapun untukmu akan kulakukan, sayang.”
“Kamu memang yang terbaik sayang.”
“Baiklah. Sekarang aku akan menghukummu karena telah pergi menemui Charles tanpa diriku.”
“Baiklah. Hukumlah aku tuan muda Nero.”
Austin tersenyum licik dan menarik tekuk leher Fany. Pria itu mencium bibir wanitanya dengan ******* lembut dan bergairah, begitu juga dengan Fany membalas permainan bibir suaminya dengan gesit. Mereka akan melakukan pemanasan sebelum memulai permainan ranjang mereka.
***
Charles sudah pulang kemansion orang tuanya. Terlihat Ibunya sedang berada didapur bersama Bibi Teresa.
“Sayang, kau pulang?” Ibu Charles melihat putranya muncul di dapur.
“Seperti yang Ibu lihat.” Ujar Charles.
Charles melihat ibunya sedang mencari sesuatu di kulkas. Mencari bahan masak untuk makan malam tentunya.
“Mom mau masak apa?”
“Meatloaf. Kebetulan Ayahmu ingin makan itu.”
“Huft. Ayah.”
“Ibu aku ingin berbicara sesuatu yang penting padamu.” Ujar Charles dengan wajah serius sehingga membuat wanita berusia paruh baya itu menghentikan kegiatanya.
“Mengenai Theresa Apa kau ada ketemu dengannya ? Kemarin lusa gadis itu datang kesini mencarimu.”
“Tidak mom. Kami tidak ada berjumpa. Baguslah. Lagian aku malas bertemu dengannya.”
“Tidak boleh begitu. Bagaimana pun dia putri dari sahabatnya Ayahmu.” Ujar Lucia.
“Tapi aku kesini bukan untuk menceritakannya. Ada hal lain yang ingin kuberitau padamu, bu.”
“Apa? Ibu hanya ingin mendengar kabar pernikahanmu. Kau tau ibu sangat menginginkan kehadiran seorang cucu di rumah ini.”
“Itulah yang ingin aku bicarakan pada ibu. Aku akan menikahi seorang gadis lebih tepatnya seorang wanita yang saat ini sedang mengandung anakku.”
“Apa? Mengandung anakmu?”
“Iya bu. Sebulan yang lalu, anakmu yang brengsek ini sudah memperkosa seseorang. Ternyata perbuatanku membuahkan hasil. Wanita itu tengah mengandung anakku.”
“Kenapa bisa? Kau!!!”
“Theresa mencampurkan obat perangsang pada minumanku. Jadi aku menarik gadis itu untuk___”
“Dimana dia sekarang? Apa dia datang bersamamu?” Lucia memotong perkataan Charles.
“Tidak Ibu. Aku tidak membawanya saat ini.”
“Jadi dimana dia?”
“Aku akan segera membawanya kesini. Jadi aku akan menikah dengannya bukan dengan Theresa. Aku tidak menyukainya.”
“Jadi kau menyukai wanita itu.”
“Hm. Jika tidak untuk apa aku menariknya dan membuatnya sampai hamil. Jika aku mencintai Theresa, kenapa tidak dia saja yang kubawa kesana?”
“Aku sudah memberitau ibu. Sekarang aku mau pergi” Charles berjalan meninggalkan dapur.
“Kau mau kemana?”
Charles berbalik badan, “Mau menangkap wanitaku. Sudah waktunya aku untuk menemuinya.”
“Ayah. Aku pergi dulu. Katakan pada kakek kalau keinginannya akan segera terkabul.” Ujar Charles saat melihat sang ayah memasuki dapur.
“Baiklah. Cepat laksanakan tugasmu itu.”
***
Thank You
Silahkan kasih like dan votenya teman-teman
Salam dariku
Insani Syahputri
^^^04/04/22^^^