I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 37



Sebelum Baca kasih Like dan Vote dulu teman-teman


Happy Reading


***


“Apa kau menyukai Charles?” Tiba tiba Austin bertanya seperti itu. Pria itu masih mengingat perkataan Charles saat dikantornya. Charles mengatakan kalau dia sangat menyukai Fany. Austin ingin memastikan perasaan Fany terhadap Charles sekarang.


“Charles itu baik. Lembut. Dia bisa membuatku nyaman berada didekatnya,” ungkap Fany.


Austin terdiam mendengar ucapan Fany yang memang ada benarnya. Dia dapat menilai karakter Charles. Dari perkataan pria itu, Austin dapat merasakan betapa sangat besarnya keinginan pria itu untuk melindungi dan memberi rasa nyaman kepada Fany.


Mereka berdua masih berada diwarung itu. Austin duduk bersandar dikursi dan merenungkan perbuatannya kepada Fany selama ini. Betapa buruknya dia kepada Fany.


Bunyi panggilan diponsel Fany terdengar ditelinga mereka berdua. Ternyata Charles yang menelponnya.


“Jawab saja,” ucap Austin lalu mengalihkan pandangannya menatap pohon yang tak jauh darinya untuk memberi waktu pada Fany berbicara dengan Charles.


On Calling...


“Fany... Bagaimana, apa sudah selesai? Maaf karena tadi tidak bisa menemanimu,” Charles berbicara dan suaranya terdengar khawatir diponsel milik Fany.


“Charles... Itu... Sebenarnya aku tidak jadi bercerai dengan Austin.” Fany sedikut bingung menjelaskannya pada Charles. Ia tidak ingin menyakiti hati pria itu.


“Benarkah? Bagaimana bisa?”


“Austin membatalkannya.”


“Tiba tiba sekali. Ada apa dengannya?”


“Dia...” Fany menatap Austin yang ada disampingnya. Ia sangat ragu untuk mengatakannya dihadapan Austin.


“Kami berencana ingin memperbaiki semuanya dari awal.”


“Dia mengatakan itu...  Apa kau yang memohon padanya? Oh God... Jangan lakukan itu Fany. Kau begitu berharga...”


“Tidak Charles... Austin yang meminta padaku... Aku memberi kesempatan padanya. Aku tidak boleh egois. Setidaknya ini demi bayi kami.”


“Kuharap bajingan itu memanfaatkan kesempatan itu dengan baik...” Charles tidak tau kalau Austin ada disana atau sebenarnya dia tau. Entahlah. Yang jelas Austin yang mendengar itu sedikit marah. Tapi Austin memikirkan lagi perkataan Charles itu memang benar adanya. Dirinya benar seorang bajingan yang telah menyakiti hati perempuan yang begitu berharga ini.


“Charles... Aku percaya padanya.” Fany memarahi Charles karena berbicara tidak enak tentang Austin. Padahal pria itu ada didekatnya. Tentu saja Austin mendengarkan. Austin menatap Fany menyiratkan bahwa dirinya baik baik saja.


“Oke. Aku tidak tau sihir apa yang digunakannya sehingga kau mencintainya meskipun sudah berulang kali kau audah disakiti. Austin... Aku tau kau ada disana. Awas saja... Aku akan tetap mengawasi... Meskipun kalian tetap bersama, aku akan tetap menjaga Fany. Sekali saja kau menyakiti hatinya, aku akan buat perhitungan denganmu.”


Fany terkejut. Berarti Charles tau kalau Austin ada didekatnya. Memang pria itu. Fany berjanji akan memukul pria itu kalau mereka berdua berjumpa.


“Charles. Sudah dulu ya. Ini sudah sore. Kami mau pulang dulu,”


“Baik. Jangan dirimu dengan baik Fany. Beritau aku kalau dia menyakitimu,”


“Hm. Iya. Bye...” Lalu Fany menutup panggilan itu.


Fany menyimpan ponselnya lalu beralih menatap Austin, “Ayo kita pulang. Hari mau gelap.” Ajak Fany. Austin mengiyakan perkataan Fany. Mereka berdua pamit pada pemilik warung itu lalu pergi menuju mobil.


Austin mempercepat langkahnya untuk segera menghampiri Fany yang sudah berjalan duluan menuju mobil. Kini dia sudah berdiri dibelakang Fany dan menarik tubuh istrinya itu untuk untuk ia dekap. Hal itu membuat jantung Fany sukses bersenam ria didalam sana dengan cepat.


“Terima kasih, Fany.” Ucap Austin tulus.


“Untuk?” Fany bingung.


Fany tidak mendengar jawaban, justru terdengar suara lirih pelan dari pria itu. Apa pria itu menangis? Fany langsung memutar tubuhnya untuk memastikannya. Dia menangis. Austin menangis. “Ada apa?” Fany menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya yang kecil.


“Terimakasih karena sudah memberi kesempatan dan mempercayaiku. Sebenarnya aku sungguh malu sekali untuk berhadapanmu. Sepertinya aku tidak pantas sekali,” Air mata hangat itu membasahi tangan Fany.


Fany segera memeluk Austin untuk menenangkan pria itu. “Jangan begini. Semuanya baik-baik saja sekarang,”


***


Fany menatap apartemen milik Austin. Ia memandangi sekelilingnya termasuk benda2 yang ada di dalam apartemen itu. Austin mengajak Fany untuk menginap malam ini disana. Fany terlihat sangat lelah dan jarak mansion cukup jauh dibandingkan apartemen miliknya.


“Ini apartemenmu?”


“Iya.” Jawab Austin.


“Aku baru tau kalau kau memiliki apartemen.”


“Ya. Itu karena aku belum pernah mengajakmu kesini.”


“Ibu tau kau memiliki apartemen?”


“Tentu saja. Kalau aku bosan tidur dirumah. Aku akan menginap disini,”


Fany berpikir sejenak, ‘berarti Sesilia juga pernah kesini.’ Tapi Fany tidak mau mengungkitnya.


“Jadi besok kalau kau bosan di rumah, kau akan menginap disini juga,” tanya Fany.


“Tidak.” Austin langsung menjawab takut wanitanya akan marah.


“Kenapa tidak? Siapa tau kan?” Fany mendelik malas.


“Tidak mungkin aku menginap di luar, kalau sekarang yang di rumah sudah ada yang menarik,” jawaban Ausitn membuat Fany tersenyum lebar pastinya. Bisa saja Austin menggombalnya.


Austin menyuruh Fany untuk segera mandi, membuat Fany kaget dan gugup. Dia mempersilahkan Austin untuk mandi duluan.


Fany pun menyetujuinya. Tidak ingin berdebat, ia pun masuk ke kamar mandi.


Sementara Austin termenung didekat jendela menatap luaran sana yang terlihat indah karena kerlap kerlip lampu yang menghiasi setiap gedung.


Austin tengah memikirkan kebodohannya yang sangat menyakiti perasaan Fany. Bagaimana bisa ia meragukan anaknya sendiri? Padahal ia ingat kalau dirinyalah yang pertama untuk Fany. Karena termakan perkataan Sesilia membuatnya berhasil menyakiti hati wanita itu berkali kali lipat.


Austin keluar dari apartemen itu. Sembari menunggu Fany selesai mandi, ia ingin meresfrehkan pikirannya dengan menghirup udara malam sana.


Mandi sudah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi tapi manik matanya tak menemui Austin berada didalam kamarnya. Ia keluar untuk memastikan apakah pria itu masih berada diapartemen itu atau tidak?’


Fany mendesah pelan, saat ia tak menemui presensi Austin dimana pun.


“Kemana?” Gumam Fany.


Fany pun memutuskan untuk melihat di luar apartemen. Ia memakai jaket rajut untuk menutup dirinya dan memberi sedikit kehangatan mengingat cuaca di luar cukuplah dingin. Mungkin sebentar lagi akan hujan. Itulah yang dipikirkan Fany saat sudah berada di luar apartemen. Angin diluar berhembus cukup kencang membuat kulit Fany masih bisa merasakannya meskipun sudah memakai jaket.


“Austin...” Panggil Fany saat melihat sosok yang ia cariin sadari tadi ternyata tengah duduk di kursi taman yang tak jauh dari apartemen.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya wanita itu saat sudah duduk disamping Austin.


Austin menyenderkan kepalanya di bahu kanan wanita itu. Terasa nyaman bagi Austin. “Mencari udara segar.”


“Ayo masuk. Sebentar lagi mau hujan,” Fany mengusap rambut Austin dengan lembut.


“Tunggu sebentar. Aku masih nyaman duduk seperti ini,” Austin memejamkan matanya.


Sudah lebih dari lima menit mereka duduk dalam posisi seperti itu. Tiba tiba sepercik air membasahi tangan Fany.


Ternyata hujan sudah mulai turun. Bukannya lari, Austin berdiri dan berjalan di rerumputan yang tak jauh dari kursi itu.


Pria itu membaringkan diri di sana, Fany terheran. Ada apa dengan Austin? Kenapa pria itu terlihat sedikit bodoh sekarang?


“Austin. Ini sudah hujan. Ayo masuk.” Peringat Fany.


“Aku tidak masalah untuk menemanimu bermain hujan saat ini. Tapi bagaimana dengan anak kita?” Tubuh mereka sudah basah kuyup karena hujan itu cukup deras membasahi tubuh mereka.


Austin membuka matanya cepat. Ia segera berdiri dan melihat tubuh Fany juga sudah basah kunyup sepertinya.


“Maafkan aku.” Austin segera membawa Fany masuk kedalam apartemen.


Sesampainya di dalam apartemen, Austin segera memberikan baju dan celana tebal untuk ganti Fany.


“Aku sudah mandi. Masa di suruh mandi lagi.”


“Ganti baju saja. Maaf sudah membuatmu basah seperti ini.”


“Kamu duluan.” Saran Austin.


“Tapi kamu juga sudah basah kuyup.”


“Sama sama saja. Nanti kamu bisa masuk angin kalau kelamaan tidak ganti baju.” Ujar Fany tiba tiba.


Austin melihat dirinya. Benar dirinya benaran basah kunyup.


Disini mereka saat ini. Didalam kamar mandi Fany menutup tirai agar ia bisa leluasa mengganti bajunya.


Sedangkan Austin hanya diam berdiri dekat pintu kamar mandi. Tangannya bergerak untuk membuka satu persatu kancing kemeja miliknya tapi mata hazelnya selalu menatap ke arah tirai tempat Fany berada.


Austin dapat melihat siluet milik Fany dengan jelas dari balik tirai itu.


‘Damn it,” Austin mengumpat dalam hatinya. Kenapa Fany bisa terlihat seseksi itu dari balik tirai yang tengah ia perhatikan sekarang . Austin terus memperhatikan semua pergerakan Fany. Mulai dari membuka pakaian sampai wanita itu hampir selesai.


Semua kancing baju Austin sudah terbuka, pria itu berjalan mendekati Fany.


Saat tangannya terulur ingin membuka tirai itu, Fany sudah duluan membuka terlebih dahulu.


“Ada apa? Kamu perlu sesuatu?” Tanya Fany bingung menatap Austin.


“Ah... Ti-tidak a-ada....” Austin sedikit terbata bata kala menjawab perkataan Fany.


“Cepatlah mandi. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu,” ujar Fany lalu keluar dari kamar mandi itu.


“Baiklah.” Gumamnya pelan saat Fany sudah menghilang dari pandangannya.


Austin segera menutup pintu itu dan tak lupa untuk menguncinya juga. Ia sengaja karena Austin akan mandi lama kali ini. Ia sangat membutuhkan air dingin di malam-malam yang cuacanya sangat dingin seperti ini. Tapi tidak dengan gairah dalam dirinya. Dinginnya air akan membuat kesadarannya kembali dan gairahnya yang meluap tadi pasti akan pergi.Ia jadi seperti itu karena ulah Fany. Hanya melihat bayangan wanita itu membuat gairahnya bisa bangkit seperti itu


***


Malam semakin larut, tapi kedua manusia itu belum ada tanda tanda akan segera tidur.


“Aku akan tidur,” sahut Fany.


Austin segera mematikan lampunya, tangannya tergerak untuk menarik selimut dan menutupi tubuh mereka.


Austin memeluk Fany dari belakang. Pria itu bahkan dengan beraninya membenamkan wajahnya diceruk leher belakang Fany. Tangan pria itu memeluknya dengan erat seakan takut kehilangan.


Fany panik,saat mendapat perlakuan seperti itu.


“Tidurlah. Besok pagi kita akan pulang kemansion. Good nigth.” Austin mengucapkan selamat tidur membuat Fany akhirnya pasrah untuk tidur dalam posisi seperti itu.


Ia menautkan jarinya pada jari milik Austin dan tersenyum senang. “Selamat malam juga.” Gumam Fany pelan.


Pagi hari saat Austin bangun, Fany sudah tidak ada disampingnya. Austin turun kebawah dan melihat Fany tengah menyajikan sarapan roti untuk mereka berdua. Austin duduk dan meminum teh  buatan Fany sambil memandangi wanita itu yang tengah mengolesi selai pada roti yang mungkin untuknya.


***


Dikediaman keluarga Nero, Delila mendapat panggilan masuk dari Andrew. Dia terkejut mendengar kabar buruk tentang menantunya itu. Pria itu mengadu pada bibinya. Andrew ingin memberi pelajaran pada sepupunya itu. Andrew kenal sekali dengan Ibunya Austin. Oleh karena itu dia akan menggunakan Ibu Austin untuk menghajar pria brengsek itu.


Andrew mengatakan dari telepon kalau Austin belakangan ini membawa kekasihnya yang bernama Sesilia tinggal satu atap dengan mereka berdua.


Delila terkejut lagi saat mendengar kalau putranya saat ini tengah mengurus penceraian dengan menantu kesayangan itu.


"Ronald!” Panggil Delila. Suaranya menggelegar diseluruh mansion itu. Membuat semua penghuni mansion itu sedikit takut.


“Ada apa Ibu?” Jawab Ronald dari dapur. Pria itu langsung berlari ketika mendengar namanya dipanggil oleh sang Ibu.


"Ayo. Bawa Ibu ke tempat Austin sekarang juga!" Ucap Delila berteriak. Perintahnya seperti tidak bisa dibantahkan.


"Untuk apa? Apa yang terjadi? Kenapa ibu marah marah?” Tanya Ronald.


"Ibu mau mencincang Austin. Mengulitinya habis habis. Bisa-bisanya dia menyakiti hati menantuku," ucap Delila dengan geram. Tatapan terlihat ingin membunuh seseorang saat ini.


‘Awas saja kau Austin. Tidak ada ampun untukmu, jika kau sudah menceraikan menantuku itu,’ batin Delila.


‘Astaga. Apa jangan-jangan Ibu sudah tau semua,’ batin Ronald. Pria itu menelan air liurnya susah. Ronald tahu mengenai masalah Abangnya itu.


"Cepat siapkan mobil," ucap Delila masih terlihat marah.


"Iya Bu," ucap Ronald menurut. Ia mangambil zona aman. Pria itu langsung berlari menuju garasi.


‘Sial. Gara-gara kak Austin, aku jadi kena imbasnya,’ batin Ronald merutuki saudara laki lakinya itu.


Mereka sudah dalam perjalanan menuju kediaman Austin. Ronald mencuri pandang melalui kaca spion untuk menlihat kondisi Ibunya saat ini. ‘Kali ini aku tidak bisa membantumu Kak, kalau Nyonya besar sudah marah seperti ini. Aku masih ingin hidup dengan tenang. Jika Aku membelamu, aku akan kena marah juga. Sekali lagi aku minta maaf, lagian ini semua salahmu sendiri, Kak.’ batin Ronald.


Mobil hitam roll royce itu memasuki halaman luas milik Austin. Ibu dan anak itu sudah sampai disana. Delila. Ibu dari Austin tidak mendapati tanda-tanda keberadaan anak dan menantunya.


"Ibu. Aku rasa kak Austin tidak ada disini," ucap Ronald.


"Ibu akan menunggunya. Ibu yakin kakakmu itu pasti akan datang kemari. Ibu sudah tidak sabar ingin menghajarnya," ucap Delila sambil mengayunkan pemukul baseball itu ditelapak tangannya.


“Kau ingin membelanya? Apa kau berada dipihak kakakmu?” Delila menatap Ronald penuh intimidasi.


Ronald takut, ia langsung mengelengkan kepalanya. “Tidak bu. Aku tidak ada membela kakak,”


"Kau jangan sekali-kali untuk membela kakakmu itu! Jika kau membelanya, maka kau akan merasakan hantaman pemukul baseball ini," ucap Delila sambil mengarahkan benda kearah Ronald.


Ronald yang melihat itu hanya mengidik ngeri dan menatap takut kearah Ibunya itu. Sepertinya Ibunya tidak main main dengan perkataannya tadi.


‘Matilah kau kak. Kali ini aku memang tidak bisa membantumu,” batin Ronald.


🌷🌷🌷🌷


Setelah selesai sarapan pagi, Austin mengajak Fany untuk pulang kemansion.


"Kamu kenapa Fany? Wajahmu terlihat sedikit pucat. Apa karena kehujanan semalam," ucap Austin khawatir. Wajah wanita itu terlihat tidak sedang baik baik saja.


"Aku tidak apa-apa. Mungkin karena kelelahan. Sejak hamil aku memang sering mengalami keadaan seperti ini,"


"Kita akan kemansion. Kamu harus istirahat setelah kita sudah sampai disana. Nanti aku akan menyuruh Andrew untuk memeriksa keadaanmu," ucap Austin sambil memegang tangan Fany dan membawanya kemobil. Fany hanya bisa diam dan mengikuti Austin masuk kedalam mobil itu.


Saat mobil mereka sudah sampai dihalaman. Austin heran melihat mobil Ibunya terparkir di depan rumahnya. Ibunya sedang berkunjung.


"Apa Ibu sedang berkunjung ke sini?" Tanya Fany.


"Aku rasa iya," imbuh Austin.


‘Ada urusan apa Ibu datang kesini? Aku punya firasat yang tidak baik kali ini.’ batin Austin.


Mereka pun turun dari mobil dan masuk kedalam mansion itu. Ternyata dugaan Austin benar, Ibunya datang ke mansionnya. Terlihat Delila duduk cantik disofa sambil memegang baseball.


"Ibu kesini. Kenapa tidak telepon aku kalau mau datang kesini? Ibu kebiasaaan." Austin menatap kearah Ronald yang sepertinya sedang memberi sinyal bahaya.


‘Matilah kau Kak.’ batin Ronald berada disamping sofa tempat ibunya mendudukan diri.


Delila bangkit dan berjalan mendekati Austin. Hal itu berhasil membuat Austin merasa heran. Austin berpikir kalau ibunya terlihat lain sekarang.


"Ibu kau bilang? Kau memangilku dengan sebutan Ibu?" Ucap Delila.


"Iya," jawab Austin dengan santainya. Kan itu memang faktanya. Kecuali kalau Delila sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Delila merasa geram langsung memukul badan Austin dengan benda yang sedaritadi dia pegang.


“Auww... “ Austin menjerit kesakitan sudah kena hantaman benda keras itu. Melihat ibunya hendak memukulnya lagi, Austin langsung berlari menghindari Ibunya.


"Sakit Ibu. Kenapa Ibu memukulku?" Ucap Austin sambil berlari untuk menghindari Ibunya.


Austin merasakan sakit pada lengannya karena pukulan benda sialan itu.


"Kau masih berani memanggilku Ibu setelah kau menyakiti perasaan menantuku." Delila masih mengejar Austin.


Fany sedaritadi hanya diam bergerak hendak mendekati mereka yang sedang berkejaran itu. Ia hanya  ingin memberitahu Ibu mertuanya yang sebenarnya karena dia tidak tega melihat Austin yang dipukul seperti itu. Tapi langkah Fany terhenti karena ditahan oleh Ronald saat ingin menghampiri Ibunya.


"Jangan Kak! Biar dia rasakan hukumannya karena telah menyakiti perasaan Kakak ipar." Ucap Ronald. Fany mengeleng.


"Tapi itu sangat sakit Ronald." Ucap Fany. Melihat hantaman benda itu membuat Fany ikutan meringis kesakitan.


"Itu tidak seberapa dengan sakit hati yang telah kak Austin buat padamu kak." Ucap Ronald lagi. Fany tidak merespon, dia hanya bisa melihat Austin yang tengah dikejar-kejar oleh Ibu mertuanya.


Sejenak Fany merasa kepalanya sangat pusing. Lama kelamaan pandangannya menjadi sedikit buram. "Kak Fany kenapa?" Tanya Ronald khawatir.


"Aku baik-baik saja, Ronald," Ucap Fany.


"Tapi wajah Kak Fany terlihat sangat pucat sekali," ucap Ronald.


Fany tidak menjawab dan pandangan sudah menjadi gelap. “Tolong bawa kakak ke kamar,” pinta Fany meminta tolong pada Ronald.


Belum sempat melangkah, Fany sudah jatuh pinsan duluan. Beruntung Ronald dengan sigap untuk menangkap tubuh Kakak iparnya agar tidak jatuh ke lantai.


"Ibu! Kak Austin! Kak Fany tidak sadarkan diri.” Panggil Ronald yang berteriak memanggil dua manusia sana.


Delila sekejap langsung berhenti dan menghampiri menantunya. Ia terkejut saat mendengar teriakan Ronald tadi.


"Jangan mendekat!" Sentak Delila terlihat marah saat Austin mau mendekati mereka.


"Tapi Ibu, dia Istriku. Dia sedang tidak sadarkan diri," ucap Austin cemas.


Delila tidak menjawab ucapan Austin. Delila malah berbicara dengan Ronald dan berkata,


"Bantu Ibu membawa kakak iparmu ke kamar. Setelah itu telpon Andrew untuk segera datang ke sini.” Ronald pun langsung melakukan yang diperintahkan Ibunya.


Sedangkan Austin hanya bisa menatap nanar kearah istrinya yang sedang digendong oleh adiknya sendiri. Austin merasa cemburu melihat itu.


Setelah sampai di kamar, Delila menyuruh Ronald untuk berjaga diluar pintu itu agar Austin tidak bisa masuk kedalam.


Delila pun akhirnya menelpon Andrew untuk segera datang ke mansionnya Austin.


Sedangkan Ronald langsung beranjak keluar dan berjaga disana. Ia melihat Austin yang tengah berdiri didepan pintu untuk memastikan keadaan Fany.


"Maaf Kak. Ibu tidak mengizinkan kakak untuk masuk," ucap Ronald melarang Austin untuk masuk kedalam kamar.


"Bagaimana keadaan Fany?" Tanya Austin. Ia mengabaikan ucapan Ronald barusan. Saat ini dia sedang cemas dan khawatir dengan keadaan Fany didalam sana.


"Belum tahu Kak, tapi kakak tenang saja karena kak Andrew akan segera datang untuk memeriksa keadaan kak Fany," jawab Ronald tenang. Ia hanya tidak ingin membuat kakaknya semakin khawatir.


Austin hanya bisa berdiri di daun pintu dan terus berdoa agar Fany dan bayinya baik-baik saja karena tadi saat mau pulang Austin  sudah melihat wajah Fany yang memang terlihat pucat.


Setelah beberapa lama, akhirnya Andrew datang. Pria itu terheran saat melihat dua pria itu sepertinya sedang berjaga disana. Ronald masih wajar tapi ia bingung saat melihat Austin. Mengapa Austin tidak berada didalam dan malah berdiri di pintu?


"Kenapa kau tidak berada didalam?" Tanya Andrew.


"Cepat masuk Kak Andrew. Ibu sudah menunggumu," ucap Ronald sambil membukakan pintu kamar dan itu membuat Andrew lebih bingung lagi.


“Baiklah,”lalu Andrew masuk kedalam kamar.


‘Kenapa Austin tidak berada didalam bersama ibunya dan menemani Fany?’ Batin Andrew. Sebelum pintu itu tertutup lagi, ia menoleh dan menatap Austin yang tengah berdiri sambil memejamkan matanya. Mungkin dia sedang merapalkan doa untuk Fany, pikirnya.


Ronald dengan cepat langsung menutup pintu itu lagi.


"Bibi. Ada apa dengan Fany?" Tanya Andrew yang terlihat sangat khawatir. Pria itu langsung mendudukan dirinya di pinggiran kasur untuk memeriksa keadaan Fany.


"Bibi tidak tahu. Tadi dia tiba-tiba saja pinsan," ucap Delila. Wanita itu sama halnya dengan Austin yang juga terlihat khawatir. Dengan segera Andrew langsung memeriksa keadaan Fany.


"Dia baik-baik saja. Jadi Bibi tidak perlu khawatir," ucap Andrew setelah selesai melakukan kegiatan lalu mengantungkan alat stetoskopnya dilehernya.


"Dia hanya kelelahan Bibi. Saat ini fisik Fany memang sangat lemah karena kehamilannya sehingga membuat dia jadi sering kelelahan dan mudah pinsan. Oleh sebab itu jangan membuat Fany kelelahan apalagi terlalu banyak pikiran," ucap Andrew.


"Fany pasti sedang memikirkan masalah perceraiannya," ucap Delila sambil menatap menantunya itu. Mengelus pelan tangan menantunya itu.


"Sekarang mereka sudah resmi bercerai." Kata Delila lagi.


"Aku rasa belum Bibi," ucap Andrew secara spontan.


"Darimana kau tahu Andrew?" Tanya Delila bingung.


"Karena tidak mungkin orang yang sudah bercerai masih berciuman mesra didepan orang banyak. Ciuman perpisahan? Tidak mungkin." ucap Andrew.


"Maksudmu?" Tanya Delila yang masih tidak mengerti. Delila sepertinya ketinggalan berita.


"Bibi baca berita yang sedang booming ini," ucap Andrew.


Andrew memperlihatkan berita yang ada diponselnya. Delila membaca berita itu yang pointnya mengatakan bahwa Austin sang Ceo tidak jadi menceraikan istrinya dan malah berciuman mesra dihadapan banyak orang.


Delila menganga tak percaya. Wanita itu lalu memberikan ponsel milik Andrew pada pemiliknya. Ia telah memukul putranya itu. Tapi tidak apa apa, pikir Delila. Sesekali beri pelajaran Austin tidak masalah kan?


"Kalau begitu saya pergi dulu ya Bibi," ucap Andrew ingin pamit pulang.


"Jika Austin menanyakan keadaan Fany. Tolong jangan dijawab, biarkan saja dia," ucap Delila sepertinya masih menyimpan dendam kesumat dengan Austin.


"Baiklah Bibi." Ucap Andrew.


Andrew keluar dari ruang kamar itu. Tak lupa ia menutup pintu itu lagi. Sekilas Austin mengintip sosok  Fany yang sedang terbaring dari celah sebelum pintu itu tertutup rapat.


Saat sudah berada diluar, Andrew melihat Austin yang masih setia menunggu di depan pintu itu.


"Bagaimana keadaanya?" Tanya Austin. Pria itu mendekati Andrew untuk menanti jawabannya.


"Tanyakan saja pada Ibumu sendiri. Aku tidak diperbolehkan untuk memberitahukannya padamu," ucap Andrew dengan ekspresi wajah datar sehingga Austin tidak dapat mengetahui bagaimana keadaan Fany didalam sana. Andrew pun melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan mansion itu.


Lain dengan Austin yang hanya bisa menunggu Ibunya keluar dari kamar itu dan akan menanyakan langsung pada Ibunya.


Beberapa lama kemudian, Akhirnya Delila pun keluar dari kamar. Hal yang sudah dinanti nantikan oleh Austin.


"Bagaimana keadaan Istriku, Ibu?" Tanya Austin.


“Aku mohon Bu. Beritau aku. Aku sangat mengkhawatirkannya,” imbuh Austin memohon.


"Ikut aku kebawah," ucap Delila pada Austin. Mau tak mau Austin pun harus pergi mengikuti Ibunya.


Saat sampai di ruang keluarga, Ibunya menyuruh Austin untuk berlutut.


Austin pun menurut dan langsung bertekuk lutut dihadapan Ibunya. "Kau tahu apa kesalahanmu?" Tanya Delila menatap Austin yang tengah menunduk itu.


"Aku tahu Ibu. Aku sangat menyesali itu," ucap Austin yang tahu maksud perkataan Ibunya.


"Aku menyesal telah menyakiti perasaan Istriku, Ibu." Kata Austin lagi.


"Kau tahu bahkan ayahmu saja tidak pernah menyakiti perasaan Ibu. Bahkan sampai maut menjemputnya Austin." Ucap Delila. Wanita itu menitikkan air matanya.


"Bagaimana bisa kau dengan teganya menceraikan Fany bahkan disaat dia tengah mengandung anakmu hanya karena kekasihmu yang tidak jelas itu?" Sentak Delila.


Austin yang melihat Ibunya menangis langsung berdiri dan memeluk erat Ibunya.


Dia tidak tahan melihat Ibunya itu menangis.


"Maafkan aku, Ibu. Aku sudah menyesalinya dan takkan mengulanginya lagi. Kumohon jangan menangis," ucap Austin sambil memeluk Ibunya. Ia juga ikut menangis.


"Bagaimana jika itu terjadi pada Ibumu sendiri Austin? Kau juga akan mengalami nasib seperti yang akan dialami oleh calon anakmu itu. Disaat nanti dia sudah lahir, dia akan merasakan seperti apa tidak memiliki seorang Ayah jika kau menceraikan Ibunya. Orang-orang mungkin akan mencela mereka," ucap Delila.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Ibu. Aku tidak akan menceraikan Fany karena aku juga sangat mencintainya," ucap Austin.


"Jangan buat Ibu kecewa terhadapmu Austin. Ibu juga seorang wanita dan Ibu tahu betapa sakitnya perasaannya saat disakiti oleh seorang pria apalagi seorang suami," ucap Delila.


"Aku tidak akan membuat Ibu kecewa lagi," ucap Austin.


Delila pun melepaskan pelukan itu dan mengusap surai putranya dengan lembut. Lalu ia berkata pada Austin, "Cepat temui istrimu dan jaga dia."


"Ronald. Ayo kita pulang kerumah." Ucap Delila pada anak keduanya .


Mereka akan memberi ruang pada Austin dan Fany dimansion ini.


"Ibu akan pegang kata-katamu Austin. Jika kau membuat Ibu kecewa, maka Ibu tidak akan segan-segan untuk mengulitimu," ucap Delila mengancam putra sulungnya.


"Iya Bu. Aku tidak akan melakukan sesuatu hal yang akan membuat Ibu kecewa. Austin tidak akan melanggarnya," ucap Austin.


“Ibu pegang janjimu. Ibu pulang dulu.” ucap Delila. Ronald pun mengekori Ibunya dan pergi meninggalkan mansion itu. Sedangkan Austin langsung berlari menuju kamarnya bersama Fany nanti dan seterusnya.


Hari terlihat sudah mau gelap dan Austin mempercepat langkahnya untuk melihat keadaan Istrinya itu. Saat Austin masuk kedalam kamar, dia melihat istrinya yang masih  tertidur dikasur empuk itu.


Austin ikut bergabung disana dan membaringkan tubuhnya disamping sang istri.


Setelah itu Austin langsung memeluk tubuh istrinya, ternyata perlakuan Austin itu membuat Fany sedikit terganggu sehingga Fany pun tersadar dari tidurnya.


"Austin," panggil Fany dengan suara terdengar pelan.


"Iya," jawab Austin menanggapi panggilan Fany.


"Lenganmu tidak apa-apa, kan?” Tanya Fany. Fany merasa khawatir saat mengingat Ibu mertuanya memukul lengan Austin dengan kuat.


‘Wanita ini. Aku sedang mengkhawatirnya, bisa bisanya malah mengkhawatirkanku,’


"Aku baik baik saja. Sekarang tidurlah pasti kamu sangat lelah hari ini." Ucap Austin dengan lembut.


"Iya," ucap Fany pelan. Dan Benar. Mungkin karena masih merasa kelelahan, akhirnya Fany tertidur lagi.


Sementara Austin menyusup ke dalam selimut dan memeluk tubuh Fany yang sedang tertidur itu dengan erat. Hari ini Austin merasa sangat senang. Akhirnya dia sudah menghilangkan keraguan terhadap perasaannya pada Fany.


Austin teringat memori saat dia mencium bibir Fany didepan gedung pengadilan tadi.


Sialan. Umpat Austin. Hanya memikirkan ciuman itu,  membuat gairah Austin sampai meluap ke ubun-ubun kepalanya. Tapi berusaha untuk mengendalikannya karena saat ini Fany terlihat sangat lelah sekali.


Austin pun frustasi karena tak bisa menahan gairahnya dan dia juga tak bisa menyalurkan hasratnya. Akhirnya dia memilih pergi ke kamar mandi untuk mandi air dingin di malam-malam seperti ini.


***


To Be Continued


Jangan lupa beri Like dan vote teman teman


I Love You All


^^^23 Feb 2022^^^