
Sebelum Baca Vote Dulu
Jangan lupa beri like dan komen juga
***
(Sebelumnya)
"Bodoh. Kau memang bodoh Fany! Bisa-bisanya kau mengatakan itu langsung pada Ibunya. Ingat Tiffany, kau sudah berjanji pada Austin untuk tidak menceritakan hal itu kepada orang lain. Syukur kalau itu Ibunya Austin, setidaknya berita itu tidak akan sampai ditelinga orang lain.”
“Cepat atau lambat Austin akan mengetahuinya. Bahkan orang lain," guman Tiffany sambil memukul bantal gulingnya.
‘Bagaimana respon Austin saat dia mengetahui kehamilanku? Aku tidak tau apakah dia akan senang atau tidak ?’ batin Fany.
***
Dipagi hari Roy menjemput Austin dan mengantarkannya ke rumah Ibu pria itu. "Huft!" Austin menghela nafasnya setelah sampai di kediamannya keluarga Nero.
"Aku tidak tau apa yang terjadi setelah kakiku melangkah ke dalam rumah itu!" Austin berucap sambil berkacak pinggang dan matanya sesekali melirik kearah mansion itu. Tentu saja hal itu menarik perhatian Roy yang memperhatikan Austin.
"Calm down, dude. Lebih baik kau banyak-banyak saja berdoa! Semoga bibi tidak mengatakan yang aneh aneh." Ucap Roy.
"Aku masuk dulu! Kau bisa pergi ke kantor sekarang."
“Jadi kau nanti kekantor naik apa?”
“Aku bisa pake mobil lamaku. Pergilah.” Austin mengerakkan tangannya sebagai kode agar Roy bisa segera pergi.
"Iya! Siapa juga yang mau menunggumu! Jangan terlalu percaya diri kali!" Kesal Roy.
"Ck. **** you! Enyahlah kau." Umpat Austin.
"What the hell." Roy membalas dan langsung melajukan mobilnya.
"Beruntung aku masih mengingatnya sebagai temanku. Kalau tidak, Mati dia ditanganku," kata Austin lalu berjalan menuju ke dalam rumah besar itu. Tempat dia dibesarkan.
"Ibu. Dimana dirimu?" Austin memanggil Ibunya saat sudah berada di dalam rumah besar keluarga Nero.
"Aduh.” Austin menjerit kesakitan saat sesuatu menyentuh telinganya.
”Ampun Ibu. Kenapa Ibu menjewerku?" Austin terkejut karena Ibunya adalah pelakunya. Entah kenapa Delila tiba tiba menjewernya dari belakang. Austin ada salah apa. Pikir pria itu.
"Dasar anak nakal! Kenapa kau tidak menceritakannya pada Ibu?" Delila sudah melepaskan jeweran itu tapi masih dalam keadaan marah.
"Menceritakan apa Ibu? Austin tidak mengerti." Austin sedikit kebingungan sambil memegang telinga yang sudah merah dan terasa panas.
"Siapa dia? Kenapa kau tidak memberitahu Ibu mengenai gadis?" Kata Delila setelah melemparkan foto seorang gadis diatas meja ruang keluarga.
Austin mengambil dan melihatnya, ‘Tiffany! Bagaimana Ibu bisa mengetahui tentangnya? Apa Tiffany datang menemui Ibuku? Tidak mungkin. Dia sudah berjanji untuk tidak membahas itu lagi dan melupakan kejadian itu,’ batin Austin.
"Ibu tidak menyuruhmu untuk diam. Jelaskan!" Seru Delila.
"Dia Tiffany, bu." Jawab Austin.
“Ibu tau. Bukan itu yang Ibu ingin dengarkan,” saut Delila.
"Baiklah. Kami pernah bertemu disebuah hotel. Itu terjadi sebulan yang lalu tapi sekarang aku tidak tahu dia tinggal di mana," kata Austin.
"Kalian pernah tidur bersama, kan?" Tanya Delila.
"Ibu tau dari mana?" Austin langsung menatap ibunya. Ia terkejut mendengar perkataan Ibunya.
"Ibu bertemu dengannya. Semalam mobil Ibu tidak sengaja menabraknya. Jadi Ibu langsung membawanya ke rumah sakit," ucap Delila.
"Ibu tau darimana kalau aku pernah tidur dengannya? Apa Tiffany yang mengatakannya?" Tanya Austin yang sedikit menuntut jawaban dari Ibunya.
"Benar. Tiffany yang menceritakannya padaku. Saat itu dia tidak tau kalau aku adalah Ibu mu!" Ucap Delila.
‘Apa! Jadi dia benar-benar sudah memberitau Ibu. Bukankah dia tidak mempermasalahkan itu lagi? Apa dia ingin memerasku dengan memanfaatkan Ibuku,’batin Austin.
"Kau mau kemana?" Tanya Delila saat melihat putra ingin pergi.
"Aku mau mencarinya. Bagaimana jika nanti dia membeberkan perkara itu kepada publik! Tidak. Aku tidak menginginkan itu. Apa sebenarnya mau gadis itu?"Austin dibuat merasa bingung dan marah setelah mengetahui bahwa Fany melanggar janjinya.
"Dia tidak akan menceritakannya pada siapapun Austin. Ibu yang memaksanya untuk menceritakan semua mengenai kalian, setelah Ibu tau kalau kau juga masuk dalam lingkaran masalah ini," ucap Delila.
"Apa!" Ucap Austin.
"Kau benar. Kau memang harus mencarinya karena saat ini dia tengah mengandung anakmu," ucap Delila.
"Apa! Dia hamil?" Austin membeku setelah mengetahui fakta itu.
"Iya. Sekarang usia kandungnya sudah berjalan 3 minggu," jelas Delila.
‘Tidak mungkin! Bagaimana bisa?’ Batin Austin yang tidak percaya. Berhasil dalam semalam pembuatan. Apakah sesubur itu mereka.
"Pokoknya Ibu tidak mau tahu. Kau harus membawa Fany ke sini!" Ucapan Delila berhasil membuyarkan lamunan Austin. Selanjutnya pria itu hanya diam tak menjawab perkataan Ibunya. Dia malah melangkah kakinya keluar dari rumah itu.
"Kau dengar tidak apa yang Ibu katakan?" Kata Delila yang sedikit berteriak. Austin tidak peduli, ia pun berjalan menuju ke mobilnya yang dia pakai saat zaman kuliah dulu.
"Dia hamil anakku. Oh Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Austin saat sudah ada di dalam mobil sambil memukul stir mobilnya.
Ddrrrt... ddrrrt...Handphone Austin berdering.
" Iya. Ada apa?” Tanya Austin saat sudah mengangkat panggilan itu.
"Kau tidak perlu datang ke kantor! Pergi saja keperusahaannya karena mitra bisnismu tidak bisa datang ke kantor kita. Jadi dia ingin kau sendiri yang langsung datang ke sana," ucap Roy.
"Baiklah!" Ucap Austin dan langsung mengakhiri panggilan itu. Austin pun langsung melajukan mobilnya.
***
"Jack. Siapa nama gadis yang pernah menyanyi waktu acara penyambutanku saat itu?" Tanya Charles pada asisten pribadinya.
" Oh. Itu namanya Tiffany Lee,” jawab Jack.
"Tolong panggil dia. Suruh datang ke ruanganku!" Ucap Charles.
"Baik tuan!" Ucap Jack sambil menunduk kepalanya lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dengan segera Jack pergi menuju tempat Tiffany bekerja.
"Nona Tiffany Lee!" Panggil Jack saat sudah berada diruangan gadis yang dimaksud tuannya.
"Ya. Saya sendiri," kata Tiffany sambil menunjukkan tangannya.
"Tuan Charles menyuruhmu datang ke ruangannya!" Pinta Jack.
"Saya! Ada apa?” Tanya Tiffany yang kebingungan.
"Saya tidak tau nona Lee!” Balas Jack seadanya.
"Baiklah" Ucap Fany dan kemudian melangkah kakinya mengikuti Jack.
Kini mereka sudah tiba didepan pintu ruangan yang bertuliskan ‘CEO’
"Masuklah!" Perintah Jack dan Fany hanya mengangguk kepala lalu mengulurkan tangannya untuk membuka pintu itu. Ia pun masuk ke dalam ruangan.
"Permisi tuan Charles!” Kata Tiffany.
"Ya. Silakan duduk!" Ucap Charles.
"Ada apa keperluan apa tuan memanggil saya ke sini?" Ucap Tiffany.
"Saya menyuruh anda ke sini karena ingin merekomendasi anda untuk menjadi sekretaris saya!" Ucap Charles.
"Apa!" Ucap Tiffany terkejut. Dia tidak menyangka jika dirinya akan dijadikan sekretaris oleh tuannya. Kenapa harus dia? Pikir Fany. Padahal masih banyak karyawan yang lebih berkompenten darinya. Dia hanya takut akan pandangan karyawan lain mengenai dirinya jika dia menerimanya.
🌷🌷🌷
Hai readersku jangan lupa beri tanda jempolnya banyak-banyak ya
Dan jangan lupa komen juga untuk memberiku saran dan ide kalian
Jangan lupa beri vote kalian juga ya
Thank you
Love banyak-banyak untuk kalian
^^^27 Januari 2022^^^