
Sebelum baca vote dulu teman-teman
Happy Reading
(Sebelumnya)
Tanpa disengaja, Fany meninggalkan tas dan ponselnya yang ada disamping kursi Austin duduki. Saat tengah asik duduk, Austin mendengar suara notifikasi pesan masuk diponsel milik Fany.
Austin terlihat penasaran. Dia pun langsung mengambil ponsel milik Fany dan membuka pesan tersebut. Austin terkejut ternyata itu pesan dari Alex. Dia pun membaca isi pesan kakak beradik itu dengan saksama.
***
(Pesan terdahulu)
"Kak Alex. Besok lusa aku akan mengurus perceraianku dengan Austin. Aku berharap kakak bisa melupakan rasa dendam kakak terhadapnya. Aku ingin pergi menjauh dari kota ini dan ingin melupakannya. Aku hanya ingin hidup tenang, kak. Aku mohon padamu. Aku tidak mau kehilangan kakak hanya karena dendam ini. Kita akan pergi ketempat yang jauh dari keramaian bersama dengan Ayah. Apa kakak setuju dengan permintaanku? Lupakan dendam itu dan kita akan pergi menjauh dari kota ini." Begitulah isi pesan Tiffany untuk Kakaknya.
"Kenapa? Bukankah itu terlalu cepat? Kau mengatakan kalau kalian akan berpisah saat bayi itu sudah lahir. Apa yang terjadi?" Begitulah balasan sms Alex.
"Tidak ada kak. Aku hanya ingin hidup dengan tenang. Aku tidak ingin hidup terlalu lama dalam lingkaran keliuarga Nero." Balas Tiffany. Wanita itu berbohong. Ia sengaja melakukan itu agar tidak memicu kemarahan sang kakak.
"Apa kau mencintainya?" Balas Alex.
"Ya. Aku sangat mencintainya tapi sadar kalau dia bukan milikku. Aku tidak akan bisa memilikinya. Lusa hubungan kami akan segera kandas. Aku akan pergi menjauh dari hidupnya. Aku berharap Kakak bisa melupakan rasa dendam padanya. Aku mohon lakukan ini demi aku, Kak. Aku tidak ingin kakak menyakiti pria yang aku cintai. Kita akan pergi ke tempat Nenek yang ada didesa. Aku ingin kesana dan aku yakin kita bisa hidup bahagia disana. Apa kakak bisa melakukan satu permintaanku ini?" Balas Tiffany.
(Pesan terbaru)
"Baiklah. Kakak akan melupakan semua dendam ini. Besok kakak akan menjemputmu dan kita akan pergi dari kota ini. Kakak sudah mengurus surat pengunduran diri dari perusahaan Charles. Jadi besok kakak tidak bekerja lagi diperusahaan itu." Isi pesan baru dari Alex.
Setelah Austin sudah membaca semua is pesan itu, tiba-tiba Austin oleh petugas dikantor itu. Austin langsung meletak handphone Fany ketempat semula. Ternyata nama mereka sudah di panggil dan kini giliran mereka untuk mengurus surat penceraian
“Dimana pasanganmu?” Tanya pria cukup berumur itu.
“Dia sedang berada di toilet.” Tanpa menunggu, Austin langsung menyerahkan dokumen seperti buku nikah dan bukti lain-lainnya pada pria itu.
"Apa kau yakin ingin bercerai?" Bapak itu bertanya lagi ingin memastikan.
"Iya," jawab Austin.
‘Memang anak muda zaman sekarang, seenaknya saja untuk menikah dan seenaknya saja untuk bercerai,’ ucap bapak dalam hatinya itu dengan kesal.
"Aku saja sudah menikah lebih dari 20 tahun tapi aku masih bisa mempertahan rumah tangga kami. Aku sebenarnya malas bekerja seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Disinilah aku bisa dapat penghasilan untuk menghidupi keluargaku," gerutu bapak itu sambil mengecek dokumen mereka.
“Oke. Kita tunggu dari pihak perempuan. Kenapa dia lama sekali?”
Austin hanya bisa diam mendengar perkataan dan ocehan bapak itu. “Tidak tau.” Jawabnya singkat.
“Kau panggil dia dulu. Biar urusan ini cepat selesai,”
Austin segera mengindahkan perkataan pria tua itu. Ia pergi ke toilet khusus untuk wanita.
Suasana toilet itu cukup sepi.
Didalam bilik toilet, Saat keluar Fany dikejutkan oleh keberadaan Austin diambang pintu masuk toilet itu.
“Austin...”
“Cepatlah. Kami sedang menunggumu. Kenapa kau lama sekali? Apa kau sengaja?” Kesal Austin.
“Maaf... “ Hanya itu kata yang keluar dari bibir Fany.
Tak membalasnya, Austin pergi dari toilet itu diikuti oleh Fany dari belakang.
Saat berjalan, Austin malah teringat sesuatu tentang dirinya bersama dengan Fany.
Dia menjadi sangat dilema. Apalagi disaat tadi dia membaca pesan di ponsel milik Fany. Dia baru tahu kalau ternyata Fany sangat mencintainya. Austin tidak tau apakah dia harus senang atau tidak? Tapi bila dia mengingat status bayi yang tidak jelas itu, membuat pintu hati Austin jadi tertutup.
Tiba tiba ponsel milik Austin berbunyi dan ternyata itu panggilan masuk dari Sesilia. Fany sekilas dapat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya Austin.
‘Kau tenang Sesilia karena sebentar lagi kalian akan bersama,’ batin Fany tersenyum pahit.
Austin menyuruh Fany untuk duluan pergi menemui orang tadi. Fany hanya mengiyakan lalu pergi meninggalkan Austin.
Setelah Fany pergi Austin segera mengangkat panggilan itu.
On Calling...
"Ada apa?"
"Apa kamu sudah selesai mengurus penceraiannya?"
"Belum. Masih dalam proses," jawab Austin.
"Saat ini aku lagi dalam perjalanan menuju bandara. Apa kau bisa menyusul ke bandara setelah penceraian kalian selesai?" Ucap Sesilia.
Austin tidak menjawabnya.
Tiba-tiba handphone Austin yang khusus untuk menghubungi Andrew dan rekan bisnisnya saat kerja juga berbunyi.
Austin langsung mengambilnya dari dalam saku jas dan melihat bahwa Andrewlah yang sedang menelponnya.
Secara sepihak Austin langsung mengakhiri panggilan dari Sesilia.
Ia mengangkat panggilan dari Andrew setelah memasukkan ponsel yang satu itu kedalam saku celananya.
"Ya. Ada apa? Bagaimana hasilnya?” Tanya Austin yang langsung ke intinya.
"Brengsek. Janin itu 100% positif darah dagingmu. Dasar bedebah sialan. Kalau kau tidak mau mengakuinya, biar aku yang jadi ayah dari bayi itu." Ucapan Andrew memberi umpatan terdengar berteriak diponsel milik Austin.
"Apa?" ucap Austin.
"Kalau kau tidak percaya sekarang periksa E-mailmu. Aku sudah mengirimkan hasilnya lewat E-mailmu," ucap Andrew kemudian mengakhiri panggilan itu secara sepihak
‘Jadi janin itu memang anakku.’ batin Austin.
Austin tidak ingin memeriksa hasilnya di Email itu karena dia sangat mempercayai perkataan Andrew.
Tiba-tiba Sesilia menelponnya lagi. Austin pun langsung mengangkat panggilan itu.
"Austin kenapa tadi kau menutup panggilannya? Ingat. Nanti kau bisa menyusul kebandara setelah penceraianmu selesai. Jangan lupa itu." Ucap Sesilia dari seberang Telpon.
"Sepertinya aku tidak akan bercerai dengannya, Sesilia. Fany benar-benar sedang mengandung anakku. Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku minta maaf padamu karena sepertinya aku juga merasa sudah memiliki perasaan pada Fany," ucap Austin lalu menutup panggilan itu.
Jujur sebenarnya Austin tidak memiliki perasaan cinta lagi kepada Sesilia. Semuanya perasaan itu hilang sejalan dengan waktu sejak bersama dengan Fany. Sejak wanita itu masuk kedalam hidupnya.
Austin pun langsung menyusul menemui Fany. Sesampainya disana ia mengatakan sesuatu yang membuat Fany tentu terkejut. "Aku membatalkan perceraian ini,"
“Kenapa?”
Austin tidak menjawab, ia langsung menarik tangan Fany untuk keluar dari gedung itu. Tapi Fany langsung menghentikannya.
Lain dengan Bapak itu, ia merasa senang sekali karena dirinya tidak perlu repot-repot mengurus penceraian mereka.
“Kenapa Austin?” Fany menuntut jawaban dari Austin.
Lagi lagi pria itu tidak menjawab. Austin justru langsung mengendong Fany ala bridal style dan membawa istrinya keluar dari gedung itu.
"Dasar pasangan aneh," ucap bapak itu saat melihat pasangan itu keluar dari ruangannya.
Sesampainya diluar gedung, Fany meminta Austin untuk menurunkannya.
"Austin. Aku mohon turunkan aku," pinta Fany.
Austin pun segera menurunkan Fany tepat di samping mobilnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu Austin?" Tanya Fany yang tidak percaya dan tidak mengerti dengan perubahan sikap Austin kali ini.
"Kita tidak akan bercerai Fany," Austin menatap kearah Fany. Lekat sekali.
Fany yang mendengar itu tidak tahu harus bahagia atau sedih.
“Kenapa? Beritau aku. Kenapa kau bertindak sesuka hatimu?” Mata wanita itu basah. Ia tengah berusaha untuk tidak membiarkan airmata itu jatuh. Ia tidak ingin menangis dihadapan Austin.
“Kau ingin mempermainkanku.”
“Tidak...”
Austin menatap Fany dengan heran saat melihat kepergian wanita itu dari hadapannya dan bukannya masuk ke mobil.
Austin langsung melangkah kakinya cepat dan mengejar Fany yang berjalan menjauh darinya.
"Fany berhenti." Perintah Austin untuk menghentikan langkah Fany.
"Ada apa?" Tanya Fany.
"Kenapa kau seperti orang bodoh? Bukannya terlihat senang, kau malah pergi dan tidak masuk ke mobil."
"Kau kenapa?" Tanya Austin lagi.
"Kaulah yang kenapa? Kenapa sikapmu selalu berubah-ubah? Terkadang kau peduli padaku, seakan akan kau mencintaiku. Terkadang kau bersikap dingin padaku seakan akan aku musuh terbesarmu dan sangat membenciku. Aku tidak mengerti apa maumu, Austin?” Runtuh sudah pertahanan Fany. Kini ia sudah menangis dihadapan Austin. Lagi lagi menunjukkan sisi lemahnya dihadapan pria ini.
“Kenapa kau membatalkan perceraian ini. Apa kau terbebani karena takut pada Ibumu. Jika karena itu, kau tenang saja. Aku akan memberitau bibi tentang hal itu dan membuatnya mengerti. Aku tidak tahan lagi, Austin. Aku selalu mencoba untuk selalu sabar dengan sikapmu ini." Ucap Fany yang membuat Austin terkejut.
“Untuk apa kau mempertahankan hubungan ini? Tidak ada alasan untuk kita mempertahankan pernikahan ini. Jika karena bayi ini, bukankah kau tidak mau mengakuinya.”
"Kenapa kau berbicara seperti itu?”ucap Austin.
“Kau sendiri yang mengatakannya Austin.” Teriak Fany.
Austin merasa terkejut mendengar perkataan Fany. Benar. Dirinya pernah mengatakan hal menyakitkan itu. Dan dirinya sekarang sangat menyesalinya.
Austin ingin memperbaikinya. Untuk karena itu dia berencana tidak ingin menceraikan Fany lagi.
Fany hanya bisa menatap Austin dan dia seribu bahasa. Pikiran saat ini sedang kacau balau.
"Austin. Aku pernah dikhianati oleh kekasihku. Tapi aku tidak terlalu merasakan sakit yang begitu dalam.”
“Setelah mengenalmu. Ini pertama kalinya aku mencintai seseorang yang sudah memiliki kekasih dan benar benar ingin sekali memilikinya. Aku sangat tulus mencintainya.
"Meskipun orang itu sudah berulang kali membuatku jatuh penuh luka setelah ditinggikan oleh perlakuannya yang begitu membuatku seperti wanita paling bahagia didunia ini. Hatiku sangat sakit Austin. Tapi aku masih saja tetap mencintainya. Aku terlalu bodoh sekali ya.”
"Aku sangat mencintaimu dan ingin memilikimu, tapi aku sadar jika kau memang bukan ditakdirkan untukku. Kau membuatku seperti ingin berharap banyak padamu saat kau tiba-tiba membatalkan penceraian kita.”
“Aku takut dibunuh rasa kecewa. Jadi aku tanya baik baik padamu. Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan, Austin? Apa itu akal akalanmu untuk membalas perbuatan kakakku padamu.” Ucap Fany dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.
"Aku tidak ada merencanakan apa-apa Fany. Aku memang berniat untuk tidak ingin menceraikanmu. Aku ingin memperbaiki semuanya denganmu," ucap Austin.
"Benarkah? Tapi aku takut Austin. Aku takut dengan sikapmu yang akan berubah secara tiba-tiba lagi, seperti yang sudah terjadi selama ini. Kau terkadang bersikap baik padaku, terkadang dingin dan begitu membenciku. Jika kau selalu bersikap seperti ini, aku rasa diriku tidak bisa hidup bersamamu. Aku tahu dan sadar diri kalau diriku hanyalah orang asing yang tanpa diundang hadir dalam hidupmu sehingga kau bisa mempermainkan perasaanku dengan sesuka hatimu. Jadi Austin, kurasa hubungan kita cukup sampai disini saja. Kumohon jangan lakukan itu lagi. Aku tidak akan mengganggumu. Aku sudah cukup terlalu tersakiti Austin." Ucap Fany lalu dia mencoba untuk menghapus air matanya.
Fany tidak peduli dengan orang yang sedang berlalu lalang melewati dan memperhatikan mereka.
Fany pun mulai berbalik dan akan melangkah pergi, hal itu membuat Austin langsung menarik lengan Fany.
Dengan tersenyum pahit Austin berkata, "Fany. Apa kau tidak bisa untuk mempercayaiku kali ini?”
"Aku selalu mempercayaimu, Austin. Bahkan aku juga sudah memaafkanmu. Tapi kau memang tidak ditakdirkan untukku. Aku tidak ingin membuat hatiku sakit lagi. Jadi kurasa kita memang harus berpisah," ucap Fany.
"Fany. Apa kau tidak mau mempertahankan hubungan ini? Kita masih bisa memperbaiki semuanya. Aku tahu kalau kau mencintaiku." Ucap Austin lagi.
Fany menggeleng dan berkata tidak, dan itu membuat Austin terkejut lagi. Fany hanya tidak ingin merasakan sakit hati lagi. Ia cukup takut mempercayai Austin.
"Kita tidak bisa bersama lagi Austin. Kau mencintai Sesilia dan aku tidak ingin menjadi egois, Austin."
Lalu Fany melanjutkan kalimatnya, "Aku takut mencintaimu, Austin. Aku akui jika aku memang tidak bisa hidup tanpamu, tapi aku harus sadar diri jika seharusnya aku tidak boleh egois seperti ini. Jadi Sesilialah takdir untukmu."
“Lakukan ini demi anak kita.”
“Anak kita.” Fany tertawa pahit.
“Setelah kau tidak mau mengakuinya. Kau masih mengatakan ‘anak kita’. Bukankah dia bukan dari berasal benihmu? Kau meragukannya, Austin. Aku hanyalah seorang wanita kotor dihada...”
Austin segera menyumpal bibir Fany yang terus berceloteh dengan bibir miliknya.
Sedari tadi Austin mendengar perkataan Fany hanya mengiris hatinya. Dia berharap tak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Fany. Ia sungguh menyesal pernah mengatakan hal kotor itu pada istri dan calon anaknya. Jadi dia pun memutuskan untuk langsung mencium bibir istrinya itu.
Fany terkejut dan memberontak tapi Austin langsung menahan tangan Fany agar istrinya itu tidak memberontak lagi.
Pasrah. Fany menyerah. Ia cukup lelah sehingga membuatnya tidak bisa melawan Austin.
Lama kelamaan tubuhnya melembut seiring lembutnya ciuman Austin pada bibirnya.
Austin masih mencium lembut bibir Fany, tanpa ada penolakan darinya.
Austin sudah menghentikan aksinya dan menatap Fany dengan lembut.
Lalu Austin berkata, "Aku minta maaf karena sudah berkata buruk tentangmu dan juga anak ktia. Kau harus tau bahwa sekarang aku sangat mencintaimu dan juga anak kita yang ada di kandunganmu saat ini. Dia anakku. Aku tidak meragukannya lagi Fany. Jujur aku sudah melakukan tes dna untuk menghilangkan keraguanku. Maafkan aku karena menyembunyikannya darimu. Mengenai Sesilia, aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadapnya semenjak kau sudah hadir dalam hidupku."
“Jangan tolak aku lagi,” Ucapan Austin seperti mantra menyihir Fany.
Setelah selesai berkata seperti itu Austin kembali mencium bibir Fany yang awalnya pelan kini beralih menjadi ******* kasar dan panas karena Fany tiba-tiba ikut membalas setiap pangutan mesra Austin dibibirnya. Mereka begitu rapat dan seolah tak terpisahkan.
Semua orang yang ada disitu langsung mengabadikan momen itu.
Mereka berkata ini adalah berita besar yang sangat dicocok untuk disebarkan. Siapa yang tidak kenal dengan Austin. Pewaris dari Nero Corp.
Beritanya akhir akhir ini sedang hangat dibicarakan, dan sekarang pria itu terang terangan mencium seorang wanita didepan umum. Beberapa orang ada yang tau kalau wanita itu adalah istri dari seorang Austin Nero. Tapi sebagian orang ada juga yang tidak mengenali wanita itu. Mengingat pernikahan mereka diadakan secara private waktu itu.
Austin tidak memperdulikan itu, justru dia senang dan dia ingin seluruh dunia tahu bahwa wanita yang sedang dia cium ini adalah istrinya.
Setelah selesai ******* bibir satu sama lain, Austin langsung memeluk Tiffany dengan erat.
"Tetaplah bersamaku dan jangan membahas soal perceraian itu lagi. Aku membatalkan perceraian itu," ucap Austin. Fany terdiam, tapi dalam hatinya dia sangat senang karena Austin ternyata juga sangat mencintainya. Austin melihat Fany terdiam pun menjadi gelisah.
Saat tangannya hendak memegang wajah Fany, tiba tiba Austin mendengar suara perut keroncongan. "Kau lapar?" Tanya Austin dan itu membuat Fany tersipu malu. Wanita itu mengutuki cacing yang ada dalam perutnya, bisa-bisanya mereka ribut dalam keadaan seperti ini. Austin pun tersenyum melihat Fany yang tersipu malu. “Jadi sekarang kita sudah damai, kan?”
Fany tidak tau harus menjawab apa. “Diam, berarti iya.”
“Ayo,” lalu Austin mengulurkan tangannya mengajak Fany untuk makan siang.
Fany tidak menolak, dia menyambut uluran tangan Austin. "Kau mau makan dimana?" Tanya Austin.
"Aku mau makan diwarung yang pernah kita datangin waktu itu," ucap Fany terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya.
Fany masih mengingat. Sejak pulang dari sana, sikap Austin berubah. Jadi ia ingin mencobanya lagi.
"Baiklah." Ucap Austin.
***
Austin membawa Fany kedalam mobilnya dan pergi dari tempat itu menuju tempat yang ingin didatangi oleh Fany.
"Kalian datang lagi," ucap pelayan toko itu saat melihat pasangan suami istri itu datang lagi.
Mereka adalah Austin dan Fany.
"Ya. Istriku ingin makan disini," ucap Austin.
"Beruntung sekali nona ini punya suami seperti tuan Austin. Sangat jarang pengusaha seperti dia mau datang ketempat seperti ini," ucap pelayan toko itu pada Fany. Wanita itu hanya tersenyum.
"Mau pesan apa nona?”
"Aku mau makan itu lagi," ucap Fany.
"Seperti yang pernah kami pesan waktu itu. Apa masih ingat?" Tanya Austin.
"Tentu tuan. Kalian adalah pelanggan terhormat ditempat ini. Jadi kami tidak mungkin melupakannya," ucap pelayan itu.
Pelayan itu langsung pergi kedapur untuk memasak pesanan Austin dan Fany.
Setelah siap, pelayan itu langsung menyajikan dan mengantarkannya ke meja pasangan itu.
Fany yang melihat makanan kesukaan sudah tiba di meja pun langsung memakannya dengan lahap.
🌷🌷🌷
To Be Continued
Saranghae semuanya
^^^22-02-22^^^