
Sebelum Baca Vote dulu
Happy Reading
***
"Stop. Jangan berbicara lagi sayang. Aku ingin menikmati moment kebersamaan kita. Aku tidak ingin merusaknya," ucap Sesilia sambil menutup bibir Austin dengan jari telunjuknya.
"Baiklah. Aku tidak akan bicara lagi," ucap Austin sambil memegang tangan Sesilia.
"Kau sudah makan?" TanyaAustin.
"Belum sayang," Ucap Seselia dengan manja.
"Kau tunggu disini. Aku akan keluar untuk membeli makanan untukmu," ucap Austin sambil memegang pundak Sesilia.
"Apa akan lama? Aku tidak mau menunggu lama," ucap Sesilia.
"Sabar ya. Paling cuma 15 - 20 menit kok. Aku akan cepat sampai disini," ucap Austin.
"Kau tahu kan Austin. Aku sudah tidak mau untuk menunggu terlalu lama. Aku tak sabar ingin menikah denganmu dan bisa bersamamu untuk selamanya," ucap Sesilia.
Bukankah seharusnya aku yang berkata itu sebelumnya. Pikir Austin. "Aku akan membeli makanan untukmu dan tunggu aku," ucap Austin yang mengalih pembicaraan Sesilia.
"Baiklah. Tapi aku ingin pergi ke perpustakaanmu dulu. Sembari menunggumu datang. Aku mau membaca buku buat hilangin rasa bosan," ucap Sesilia.
"Pergilah. Lakukan apa yang mau kau lakukan. Kau bebas melakukan yang kau suka disini," ucap Austin.
Austin pun pergi untuk membeli makanan untuk Sesilia. Begitu juga dengan Sesilia yang pergi ke pespustakaan kecil milik Austin yang ada diapartemen itu.
***
Tiffany masih dalam perjalanan menuju kemansion. Tiba-tiba ada suara panggilan masuk di ponsel miliknya. "Kak Alex," ketika Fany melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Halo Kak Alex. Apa apa?" Ucap Fany ketika sudah mengangkat panggilan.
"Kau dimana Fany?"
"Aku lagi dijalan. Ini Fany mau pulang kerumah," ucap Fany.
"Apa kau sedang bersama suamimu?"
"Austin lagi ada dikantornya. Ada apa kak?" Imbuh Fany.
"Bisa datang kesini? Ada yang ingin kakak bicarakan padamu. Penting."
"Memang Kak Alex ada dimana sekarang?"
"Kakak sedang berada direstoran XX."
"Oke. Aku akan segera ke sana,"
"Oke. Kakak tunggu." Ucap Alex.
"Pak. Bisa antarkan saya ke restoran XX." Pinta Fany pada sopirnya.
"Apa Nyonya sudah dapat izin dari tuan Austin?" Sopir itu masih ragu karena ia belum ada dapat perintah Dari Austin.
"Aku akan memberitahunya. Aku cuma mau ketemu kak Alex disana. Dia saudara kandungku," ucap Fany.
"Baik Nyonya," ucap sopir itu, kemudian memutarkan balik arah mobil menuju ke restoran tersebut. Ia setuju karena Fany mau bertemu dengan keluarganya.
🌷🌷🌷
Sementara itu, Austin sudah membeli makanan. Ia langsung menyuruh Sesilia untuk segera memakannya.
Setelah selesai makan, Sesilia merasa mengantuk karena merasa kelelahan. Tanpa menunggu lama, akhirnya dia langsung tertidur dimeja itu.
Austin yang melihat itu langsung mengendong Sesilia dan membawanya menuju salah satu kamar yang ada di Apartemen itu. Ketika sudah sampai dikamar, terlihat Austin yang tengah membaringkan Sesilia di ranjang. Sesilia nampak sudah pulas.
“Aku mencintaimu Austin. Aku bersedia menikah denganmu. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Ucap Sesilia yang sedang mengigau.
"Maafkan aku Sesilia. Aku sudah menikah dengan orang lain dan dia sedang mengandung anakku." Ucap Austin yang menatap sedih ke arah Sesilia.
"Seandainya kau datang kehotel saat itu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini." ucap Austin. Pria itu menatap Sesilia dengan lekat.
Beep... Pandangan Austin teralih ketika sebuah suara terdengar di telinganya.
Ternyata itu adalah pesan dari sopir yang mengantar Tiffany.
‘Tuan. Saat ini saya sedang mengantar nyonya ke restoran XX untuk menemui orang yang bernama Alex.’ Isi pesan dari sopirnya Fany.
‘Baik. Terima kasih atas informasinya" balas Austin yang mengetik dengan cepat.
‘Untuk apa Fany pergi ke sana?’ Batin Austin.
‘Aku akan kesana dan menjemputnya. Ini sudah sore, tidak baik bagi wanita hamil berlama lama diluar rumah. Aku tidak mau ambil resiko kalau terjadi sesuatu nanti dengan anakku." Batin Austin yang jiwa overprotektifnya sudah keluar.
Kini ia beralih menatap Sesilia yang tertidur pulas dan berkata, “Besok aku akan kesini lagi, Sesilia. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Aku merasa sudah mulai menyukai istriku.”
"Aku pergi dulu." Lalu Austin beranjak dan meninggalkan tempat itu.
🌷🌷🌷
Direstoran XX, Tiffany pun sudah sampai disana dan langsung masuk kedalam restoran untuk mencari keberadaan Alex.
"Kak Alex." Panggil Fany saat sudah melihat sosok Alex lalu berjalan menuju kursi yang diduduki Alex.
"Wah. Apa kakak yang memesan ini?" Ucap Fany senang saat melihat seporsi pastrami.
Pastrami on rye adalah sandwich yang ditumpuk oleh pastri daging yang diukir tangan, dicampur dengan mustar kuning dan roti gandum. Itu merupakan sandwich pastrami terbaik dikota New York.
"Iya. Kakak tahu kalau kau sangat menyukainya," ucap Alex.
"Terima kasih Kak Alex. Kakak yang terbaik," ucap Fany yang sudah duduk. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memakannya. Padahal dia sudah makan banyak saat bersama Austin tadi. Tidak masalah bagi Fany. Ia masih sanggup untuk memakannya.
Di luar restoran itu terlihat mobil yang diketahui milik Austin baru terparkir. Austin datang ke restoran itu karena ingin menjemput istrinya.
Tak mau menunggu lama, Austin langsung melangkahkan kaki panjangnya memasuki Restoran itu. Dia melihat Fany sedang duduk bersama dengan Alex.
Austin langsung berjalan pelan kesana dan tentu saja Fany dan Alex tidak menyadari hal itu.
"Apa yang ingin kak Alex katakan? Apakah itu sangat penting sampai kakak menanyakan keberadaannya Austin?" Tanya Fany yang sudah selesai makan.
Mendengar kata kata itu. Austin sontak langsung menghentikan langkahnya dan bersembunyi dibalik dinding tepat di belakang Fany dan Alex. Mereka saat itu sedang duduk dalam posisi membelakangi Austin. Tentu saja tidak menyadari kedatangan Austin, apalagi langkah pria itu sangat pelan sehingga tidak terdengar.
‘Apa yang ingin mereka bicarakan? Kenapa Alex menanyakan keberadaanku?’ Batin Austin yang sedang bersembunyi.
"Apa Kak?" Itu suara Fany.
Sebelum berbicara Alex menghela nafasnya terlebih dahulu, "Fany. Sekarang kau sudah menikah dan sedang mengandung anaknya Austin.”
“Iya. Terus kenapa kak?”
“Bukankah sekarang kau bisa dengan mudah untuk mengambil hartanya Austin dan menghancurkannya." Ucap Alex secara tiba-tiba dan itu membuat Fany sangat syok mendengarnya.
"Kakak akan membantumu,” ucap Alex lagi.
“Tapi kenapa kak?” Fany masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Alex barusan. Menghancurkan Austin. Tapi kenapa? Apa alasan Alex melakukan itu?
"Kau tau Fany. Sebenarnya kakak sudah lama ingin menghancurkannya. Bahkan saat dihotel Kakak pernah merencanakan sesuatu padanya tapi rencana itu malah gagal," ucap Alex tanpa memberikan jeda untuk membiarkan Fany bicara.
Hotel. Fany teringat sesuatu. Teringat kejadian dirinya bersama dengan Austin di sebuah hotel. Dan sekarang kakaknya sedang membahas mengenai hotel. Ada apa ini? Apa Alex dalang semua yang telah menimpanya.
‘Jadi kejadian dihotel itu... Apa itu semua adalah rencana mereka?’ Dalam hati Austin, ia langsung menyimpulkannya ketika mendengar perkataan Alex. Rahang tegas milik Austin mengeras, ia sungguh geram terhadap mereka.
‘Aku sudah salah menilai keluarga Lee dimataku.’
‘Fany. Kenapa disaat aku mulai membuka hatiku untukmu, kau malah berkhianat denganku. Aku tidak akan membiarkan kalian dapat menghancurkanku. Kalian berniat ingin mengambil hartaku. Eh... Jangan harap’ ucap Austin.
Austin merasa sangat terima kasih sekarang kepada sopirnya. Berkat pesan yang dikirim sang sopir. Jika tidak Austin akan melewatkan semuanya. Ia tidak akan datang ketempat itu dan tidak akan mendengar semua rencana keluarga Lee. Karena susah merasa muak, Austin memutuskan untuk meninggalkan restoran dengan rasa marah kecewa yang bercampur aduk menjadi satu.
Disisi lain, Fany kebingungan. “Apa maksud Kak Alex?"
"Mengambil harta Austin. Mencoba menghancurkan Austin. Salah target. Tolong jelaskan semuannya padaku!” Fany marah. Ia meminta penjelasan Alex. Pria itu sungguh berbelit belit dalam berkata.
"Kau sudah menikah dengan Austin. Itu artinya kau sudah punya kesempatan menghancurkan keluarga Nero," ucap Alex.
"Kenapa aku harus menghancurkan keluarga suamiku? Apa kak Alex sangat membenci mereka? Tapi kenapa kak?” Fany mencoba meredam amarahnya. Ia tidak mengerti pemikiran Alex saat ini.
"Iya! Aku sangat membenci mereka. Karena Austin, Mama meningal dunia. Kau tau, dulu Ayah dari keparat itu pernah membuat para Inverstor dari perusahaan ayah menarik semua investasinya sehingga perusahaan ayah menjadi bangkrut,” ucap Alex yang berteriak dan itu membuat para pengunjung lainnya melihat ke arah mereka. Ingatlah mereka memakai bahasa china sehingga membuat orang yang ada disekitar mereka tidak mengerti. Mereka hanya menatap sebentar kala mendengar Alex sedikit berteriak, lalu kembali melakukan aktivitas mereka lagi.
"Maaf." Alex berkata kepada pengunjung yang merasa terganggu karenanya.
"Apa! Aku tidak percaya itu Kak. Mama meninggal karena kecelakaan," sanggah Fany.
"Austinlah yang sudah menabrak Mama Fany. Aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri," ucap Alex. Alex melihatnya. Austin pernah berkunjung kesana sebelumnya. Mungkin sedang melakukan perjalanan bisnis. Tapi salahnya pria itu tidak mengingat Alex. Itu dikarenakan mobil yang dinaiki oleh Austin langsung melesat pergi dengan cepat setelah menabrak Ibu dari Fany dan Alex.
"Kakak menyaksikan semua itu. Karena itulah kakak ingin membalas dendam pada Austin. Jadi kakak meminta bantuanmu," ucap Alex dengan sedikit menitikkan air mata.
"Kakak berencana ingin membuatnya malu dimata publik dengan beberapa skandal yang dapat membuatnya dan keluarganya malu. Tapi sialnya justru kaulah yang malah hamil anaknya dan itu membuat kakak terkejut," ucap Alex.
“Kak...” Fany tidak tau harus mengatakan apa. Ia sungguh pusing memikirkan semuanya.
"It’s okay, Fany. Sekarang kau sudah menikah dengannya, setidaknya itu bisa membuatmu masuk kedalam Keluarga Nero. Dengan begitu kita akan membuat kita mudah untuk menjalankan rencanaku," ucap Alex.
"Jadi itu alasan Kak Alex menerima pernikahanku waktu itu," ucap Fany. Ia ingat kak Alex pernah menentang pernikahan mereka.
" Iya. Kakak terpaksa. Tapi tenang saja, setelah kita menyelesaikan rencana ini, kau akan bercerai dengannya.”
"Tidak!" Ucap Fany sambil berdiri dari kursi.
"Apa-apaan ini kak. Aku tidak akan melakukan semua yang kak Alex katakan," bantah Fany.
"Semuanya yang terjadi pada keluarga kita itu adalah takdir. Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Austin atas peristiwa yang terjadi dikeluarga kita," ucap Fany.
"Austin sekarang adalah suamiku dan aku sebagai istrinya sudah berkewajiban untuk melindungi bukan mencelakainya," Fany kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.
Saat ini Fany ingin pulang cepat kemansion untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau balau.
🌷🌷🌷
Dimalam hari, Fany sangat menunggu kedatangan Austin. Dalam pikirannya terngiang perkataan Austin saat diwarung tadi siang, ‘Tunggu aku di rumah.’
Tapi tiba-tiba khayalannya itu hancur saat Fany mengingat kata-kata Alex saat direstoran tadi. ‘Jangan ambil kesimpulan sendiri Fany. Lebih baik kau bertanya dulu pada suamimu mengenai perkataan Kak Alex tadi.’ batin Fany.
Fany lalu mengambil ponselnya dan berharap ada pesan dari Austin, tapi ternyata nihil.
Fany pun mencoba tersenyum walau dia mungkin sangat kecewa.
Tapi senyumnya langsung mengembang ketika mendengar bel rumah itu berbunyi.
***
Bagaimana pendapat kalian?
Suka Tidak dengan ceritanya?
To Be Continued
Sampai disini dulu ya
Saranghae semuanya
By Insani Syahputri
^^^11 Feb 2022^^^