
Happy Reading
***
Di siang hari Fany mendatangi sebuah toko bunga untuk membeli bunga mawar. Penjaga toko itu datang dan berkata, "untuk pacarnya ya nona?” Penjual bunga itu tersenyum menggoda Fany.
"Iya Bu. Tapi lebih tepatnya suaminya saya!" Jelas Fany sambil mengambil setangkai bunga mawar langsung menghirup wangi mawar itu.
"Maafkan kalau saya salah sebut. Kelihatanya nona sangat mencintai suaminya!"
"Tentu saja, Bu. Dari pertama kali kami bertemu, saya memang ada sedikit perasaan padanya dan ketika kami sudah menikah perasaan itu kian membesar. Saya bersyukur sekali karena perasaan sayangku kini sudah terbalaskan," ungkap Fany.
"Semoga kalian berbahagia selalu," doa penjual itu pada wanita yang ada dihadapannya ini sambil memegang mawar putih.
"Amin Ibu,” tutur Fany.
“Tapi aku rasa dia bukan tipe laki-laki yang suka bunga," ucap Fany.
“Dia pasti akan menyukai semua pemberianmu nona,” ucap penjual itu.
“Benarkah?” Tanya Fany sambil menatap ke arah ibu penjual.
“Iya nona,” jawabnya.
“Baiklah. Saya akan mengambil yang ini aja, Ibu.” ucap Fany sambil menunjuk ke arah bunga mawar merah.
Setelah membeli bunga, Fany memanggil sopir pribadinya dan mengatakan pada pria berusia 45 tahun itu bahwa dia akan ke salon. Hari ini adalah hari ulang tahun Suaminya jadi lebih baik harus bersiap-siap untuk mempercantik dirinya. Austin sedang mendiaminya. Tapi itu justru bagi Fany akan ia akan membuat kejutan dengan memberikan sebuah kejutan pada suaminya itu.
Sekarang matahari sudah menunjukkan dirinya akan tenggelam petanda hari akan segera gelap. Terlihat Fany memandangi dirinya dari cermin dengan memakai gaun yang cantik dan make up yang natural. Fany mulai membayangkan kalau Austin pasti akan jatuh cinta lagi melihatnya nanti. Hal yang dibayangin sangat indah oleh Fany sambil senyum-senyum sendiri di depan cermin.
***
Malam hari kediaman keluarga Nero ramai didatangi oleh orang orang.
Ternyata Delila membuat pesta perayaan untuk merayakan ulang tahun putranya di rumah kebesaran keluarga Nero. Tentu saja itu semua sudah ia persiapkan jauh jauh hari sebelumnya. Semua para kerabat keluarga sampai para kolega bisnis pun datang untuk menghadiri acara itu.
Austin ada di sana. Tentu saja, itu karena dia tokoh utama di pesta itu. Ibunya menyuruh Austin datang ke mansion milik ibunya.
Disinilah yang membuat Austin heran dan kebingungan. Pasalnya dia tidak ada melihat batang hidung istrinya pada pesta perayaan tu. Bahkan tadi dirumah ia juga tidak melihat istrinya disana. Ia berpikir kalau Fany sudah pergi duluan ke rumah ibunya. Tapi ia salah, disini bahkan Fany juga tidak ada.
"Kemana dia?" ucap Austin sambil melirik ke sana kemari. Austin jadi khawatir.
Delila mendekati Austin dan mengucapkan selamat ulang tahun pada putra pertamanya itu.
Semua para tamu pun menepuk tangan saat Delila sudah selesai menyanyikan selamat ulang tahun pada Austin.
Austin berjalan mendekati Ronal yang tengah berduaan dengan Della.
“Dimana Fany? Apa kau ada melihatnya.”
“Tidak. Bahkan kakak ipar tidak ada menghubungiku juga.”
“Sayang. Apa kau tau dimana kakak iparku ada dimana?” Tanya Ronald pada Della.
“Sayang?” Austin mengernyitkan dahinya bingung lalu seketika itu ia memicingkan mata ke arah Ronald.
“Kami juga jadi sepasang kekasih.” Jelas Ronald.
‘Sejak kapan Ronald memiliki bucin?’ Austin memandang ke arah Della.
“Kau temannya Fany. Kau tau dia ada dimana?”
Della mengelengkan kepala. “Aku sudah menghubungi nomornya tapi tidak aktif. Mungkin ponselnya mati,”
“Baiklah. Aku tinggal dulu,” Austin segera menjauh dari pasangan bucin itu.
Ronald dan Della belakangan ini sering ketemuan, jadi karena pertemua itu membuat timbul perasaan pada diri Ronald. Karena itulah Ronald inisiatif mengungkap perasaannya pada Della dan ingin wanita itu jadi kekasih. Namun siapa sangka ternyata Della juga sama seperti dirinya. Wanita itu juga menyukainya. Oleh karena itu Della menerima Ronald menjadi kekasihnya.
***
“Selamat ulang tahun,” ucap Charles ketika mendekati Austin.
“Terima kasih. Oh ya, Apa kau tau Fany ada dimana?”
“Justru aku juga ingin menanyakan hal yang sama padamu, dari tadi aku tidak ada melihatnya disini.”
"Kemana dia?" Austin pikir Charles tau dimana keberadaan Fany tapi jawabanya sama saja. Tidak tau.
“Apa dia pulang bertemu Ayahnya?” Tebak Charles asal. Ia ingin menjahili Austin.
"Apa! Tidak mungkin. Kalau pun iya, kenapa dia tidak ada memberitahuku?" ucap Austin.
"Entahlah. Aku mana tau."
Austin merasa namanya terpanggil langsung berjalan mendekati Ibunya. Delila memanggil Austin untuk memulai Acaranya.
‘Wanita itu tinggal disini.’ Batin Charles.
"Sekarang tiup lilinnya." Terdengar suara Delila yang menyuruh Austin untuk meniup lilin yang ada pada kue ulang tahunnya. Dengan segera Austin meniup lilin yang ada pada cake yang besar itu. Saat sudah selesai meniup, semua para tamu bertepuk tangan.
Tiba-tiba ponsel Austin berdering. Dia mendapat pesan dari nomor yang tidak di kenalnya.
Austin terkejut saat mendapati foto istrinya. Terlihat mulut Fany lagi dibekap oleh kain.
Fany dalam kondisi duduk di kursi. Ia terikat oleh tali.
"Cepat datang ke hotel Yolas jika kau ingin istrimu selamat. Tapi kau harus datang sendirian tanpa mengajak keluargamu atau bahkan polisi." Isi pesan itu lagi.
"Sialan. Aku akan membunuhmu jika istriku sampai terluka," umpat Austin pelan.
"Kau mau kemana?" Ucap Delila saat melihat Austin mau pergi.
"Maaf bu. Aku harus pergi dulu. Tiba-tiba ada urusan penting yang harus aku selesaikan malam ini juga," ucap Austin.
‘Shit. Aku tidak mungkin bilang kalau Fany lagi disekap. Nanti Ibu pasti akan merasa khawatir,’ ucap Austin dalam hatinya.
"Tapi para tamu masih ada di sini," ucap Delila.
"Iya aku tahu. Jadi sekarang pestanya ibu yang handle, ya. Urusan ini sangat penting daripada pesta ini," ucap Austin.
"Tapi...." Belum selesai Delila bicara Austin sudah pergi begitu saja.
Austin melajukan mobilnya dengan kencang menuju ke hotel yang sudah diberitahu tadi.
Sesampainya disana, dia melihat pesan pada ponselnya lagi. Austin ingin mengecek nomor kamar yang sudah di kirim dari nomor ponsel yang tidak ia kenal itu.
Dengan langkah cepat Austin berjalan menuju Repsesionis untuk menanyakan apakah benar ada orang yang sudah memesan kamar hotel itu. Repsesionis pun membenarkan hal itu. Austin yang mendengar itu langsung geram dan langsung pergi menuju ke nomor kamar hotel itu. Sesampainya di sana, tanpa menunggu lebih lama lagi Austin memutuskan untuk langsung masuk ke dalam.
Saat sudah masuk ke dalam, Austin cukup heran dan kebingungan. Hal itu dikarenakan dia tidak mendapati siapapun disana, melainkan sebuah kasur yang sudah di hiasi yang mana di atas kasurnya sudah bertaburan bunga mawar merah yang berbentuk hati.
Tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu dan mengejutkan Austin dan berkata, "Selamat ulang tahun sayang," ucap orang itu sambil menutup mata Austin dengan tangannya.
Austin langsung melepaskan tangan yang sedang menutup matanya itu dan berbalik.
Kini dia melihat istrinya yang sangat dia khawatirkan ada di hadapan dan malah mengejutkannya. Austin merasa sangat marah karena kelakuan Fany saat ini.
"Bukan kau sedang dicuri? Apakah kau sedang bercanda saat ini? Kau merasa sangat senang dengan lelucon konyol seperti ini." Nada bicara Austin cukup tinggi.
"Hahah itu. Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Kau jangan serius sekali menanggapinya," ucap Fany yang langsung tertawa. Austin yang mendengar itu marah. Dia sudah ketakutan setengah mati dan sekarang Fany malah menertawainya.
"Apa kau sedang tertawa sekarang? Fany! Aku sangat mengkhawatirkanmu dan anak kita tapi kau malah melakukan lelucon konyol seperti ini. Bagaimana jika kau memang benar di curi saat ini?" Ucap Austin. Pria itu langsung menghindari Fany dengan pergi menuju ke arah kasur dan duduk di sana.
"Apa kau tidak tahu bagaimana reaksiku saat mengetahui kau sedang dicuri? Saat itu duniaku merasa kacau seketika, tapi kau malah mengerjaiku dengan hal konyol itu. Bagaimana jika lelucon ini benar-benar menjadi kenyataan," ucap Austin. Ia menangis disana.
Austin sudah tidak bisa membendung air matanya saat mengetahui kalau istrinya melakukan hal konyol seperti itu. Austin merasa sangat bersyukur juga saat dirinya mendapati Fany dalam keadaan baik-baik saja. Tapi bagaimana kalau Fany benar-benar di curi? Dia tidak bisa membayangkannya lagi.
Fany yang melihat itu langsung mendekati Austin dan memeluknya dari belakang.
"Aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau rencana ini bisa membuatmu marah," ucap Fany.
"Apakah kau tidak mengerti perasaanku? Bagaimana jika kau benar-benar sudah dicuri dan bahkan di bunuh. Oh tidak.... Jangan sampai terjadi.”
“Kau tahu? Aku sangat khawatir sekali padamu. Bahkan aku sudah bertekad untuk membunuh bajingan itu jika dia benar-benar melukai dirimu," ucap Austin terlihat marah.
"Aku minta maaf. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi," ucap Fany yang menyesali perbuatannya.
Fany mendapati bahwa Austin hanya diam dan tidak mendengar perkataannya lagi.
Tangannya melepaskan pelukan itu. Kepalanya menunduk. Dia merasa sangat menyesal telah melakukan leluconnya ini. Fany berpikir seharusnya dia tidak mengikuti rencana dari Ronald jika kejadiannya akan terjadi seperti ini. Fany merasa semua rencana yang sudah disiapkan olehnya hancur begitu saja hanya karena lelucon itu.
Austin mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu.
Terlihat ada meja makan tersaji makanan dan minuman anggur merah. Sebuket mawar merah juga terlihat pada meja tersebut.
Dia melihat semua yang sudah dipersiapkan oleh istrinya. Kini Austin terlihat sedikit tersenyum dan senang meskipun Fany tidak memperhatikan itu, karena saat ini dia hanya menunduk dan merasa bersalah terhadap suaminya. Austin senang karena artinya Fany sebenarnya tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya dan juga samgat peduli padanya.
***
Tbc.
Terima kasih karena sudah membacanya
Jangan lupa beri Like dan Vote untuk mendukung novel ini
Saranghae semuanya
By Insani Syahputri
^^^Saturday, 12-03-2022^^^