
Happy Reading
***
Charles sudah sampai di sebuah hotel bersama dengan tangan kanannya yakni John. Ia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling mencari seseorang yang ingin ia temui. Tangan kekar pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku celana bahannya, lalu menelpon seseorang.
“Aku sudah tiba disini. Kau dimana? Aku tidak melihatmu.”
“Aku berada di restoran dekat lantai dua. Cepatlah. Aku sudah lama menunggu disini.” Terdengar suara lembut seorang gadis dari ponsel pria itu.
“Baiklah. Aku akan ke sana.” Charles menyimpan ponselnya ke dalam saku lalu pergi menuju tempat yang sudah dikatakan oleh lawan bicara Charles di telpon itu. Charles sudah berada dilantai dua, ia melihat seorang gadis mengangkat tangannya dan melambai padanya.
“Aku akan menunggu. Charles, silakah temui nona itu,” Ujar John pada bosnya.
Charles menatap tajam ke arah John. “Maaf tuan Charles. Kamu yang paling mengenal Ibumu. Kuharap kau setuju dengan pilihannya kali ini,” ujar John lagi. Charles kesal. Keluarga tiba tiba menjodohkannya dengan seseorang tanpa persetujuan darinya. Hari ini ia di suruh untuk menemui perempuan itu.
“Nikmatilah waktumu.” John menjauh dari Charles.
Charles sudah sampai dilantai dua. Disana hanya ada beberapa meja. Karena lantai itu khusus untuk para vip atau orang kalangan atas yang ingin makan di restoran itu.
“Nona Theresa, ternyata anda.” Tawa Charles terdengar sumbang.
“Hai Charles. Tidak disangka, ternyata kau pria yang akan dijodohkan denganku. Aku sangat terkejut.”
Theresa memanggil Pramusaji. Dua orang wanita datang dan segera memberikan buku menu untuk mereka. Setelah memilih pramusaji itu pamit undur untuk menyajikan pesanan mereka.
“Aku sudah lama menunggumu,” tutur Theresa.
“Oh....” saut Charles tapi fokusnya hanya pada ponselnya. Theresa menekuk bibir atasnya karena kesal dengan sikap Charles yang terlalu dingin padanya. Sejujurnya ia sangat senang kalau pria yang dijodohkan dengannya adalah sosok mantan kekasih dari sahabatnya. Theresa tau mengenai kisah Sesilia. Theresa berpikir kalau Sesilia mungkin tidak memiliki perasaan dengan pria yang ada di hadapannya ini. Karena hati sahabatnya itu sudah dipenuhi dengan nama Austin. Jadi tidak masalah kalau ia disandingkan oleh orangtuanya dengan Charles.
10 Menit sudah berlalu. Tapi kondisi mereka masih sama saat pramusaji itu meninggalkan mereka tadi. Suasana hening itu terpecah ketika beberapa pramusaji datang membawakan pesanan mereka dan meletakkannya dengan rapi diatas meja tempat Charles dan Theresa.
“Selamat menikmati tuan dan nyonya.” Beberapa pramusaji itu langsung meninggalkan meja tersebut.
Mereka berdua makan dalam diam. Tidak ada percakapan membuat Theresa tidak nyaman. Ia merasa seperti makan sendirian.
Beberapa menit kemudian merekapun sudah selesai makan. Meskipun makanan dimeja itu tidak habis semua. Maklumlah orang kaya.
Theresa kini mencoba untuk memberanikan diri bertanya pada Charles. “Charles. Kenapa dari tadi kau hanya diam saja?”
“Sepertinya tidak ada pembahasan yang perlu kita bicarakan nona.” Charles berkata dengan wajah datarnya memandang Theresa sekilas lalu mengalihkan pandangan ke arah objek lain.
“Apa kau tidak menganggapku sebagai wanita? Kau bahkan tidak ada melirikku. Aku sangat yakin jika aku makan di lantai bawah sana, mungkin pandangan orang-orang yang berkunjung direstoran ini akan berpusat padaku.” Kesal Theresa.
Charles berdiri sambil merapikan jas blue dark miliknya. Kemudian menatap ke arah Theresa mencoba menegaskan sesuatu pada gadis itu.
“Biar kujelaskan. Aku tidak akan menyetujui perjodohan ini karena aku tidak menyukaimu. Jadi kita akhiri saja ini semua,” Papar Charles berterus terang.
“Kenapa?” Theresa menampilkan ekspresi kecewa dan kesal bersamaan.
“Apa kau tidak mengerti perkataanku tadi? Baiklah, biar kuperjelas sekali lagi. Pertama, aku tidak menyukaimu. Kedua, aku tidak menyukai karaktermu,” Charles enggan berkomentar banyak. Ia masih mengingat kejadian saat Theresa menghina Fany saat itu. Charles tidak mau menikahi wanita angkuh sepertinya. Dengan langkah penuh wibawa Charles langsung berjalan pergi meninggalkan Theresa.
“Charles!” Teriak Theresa tapi tidak digubris oleh Charles/
“Sialan. Ini semua pasti karena Fany,” Umpatnya lagi.
***
Yasmin memasuki sebuah club. Tempat kedua dia bekerja. Ini adalah hari pertamanya bekerja di club itu membuat Yasmin terlihat senang dan juga gugup. Pekerjaannya hanya menyajikan minuman untuk para pengunjung. Ia melakukan itu hanya karena ingin mencari uang untuk bertahan hidup. Ia tidak mungkin akan terus terusan bergantung hidup di tempat keluarga Nero. Yasmin harus mencari uang dan mengumpulkannya agar bisa membeli rumah untuk ia tinggali nantinya.
Saat hendak menuju keluar dari club untuk membuang sesuatu, Yasmin tidak sengaja menabrak tubuh seseorang. Yasmin sedikit gugup dan takut kala melihat siapa pemilik tubuh yang ia tabrak.
Pria itu menatapnya dengan tajam. Tiba-tiba Yasmin langsung sumringah karena dia mengenali pria yang berada dibelakang pria berwajah datar itu.
“Tuan. Dia adalah nona yang sudah aku tabrak waktu itu. Aku tidak tau kenapa dia ada disini,” Bisik John pada Charles.
“Nona Yasmin.” Sapa John.
“Charles...” Panggil Seseorang.
Yasmin menoleh ke sumber suara, melihat orang itu langsung membuat Yasmin membungkuk hormat dan menyapanya.
“Nona Roxana. Dia pegawai baru disini,” pria bernama James memperkenalkan Yasmin pada Charles.
Lalu James memperkenalkan Charles pada Yasmin sebagai pemilik club ini. Sontak, Yasmin langsung kaget lalu cepat-cepat membungkuk hormat pada Charles.
“Maaf tuan jika saya sudah lancang.”
“Hm.” Cukup singkat. Tak lama sebelum Ysmin pergi, Charles tiba-tiba bersuara. Dia berkata minta maaf atas kejadian yang menimpanya karena ulah John. Setelah itu dia langsung mengusir Yasmin dengan dingin.
‘Wanita itu bekerja di tempat seperti ini. Aku jadi khawatir pada Fany.’ Batin Charles.
***
Austin tiba-tiba ingin mengadakan rapat mengenai bisnis perhotelan yang baru ia jalankan di luar negeri beberapa bulan yang lalu. Semua pegawai langsung sibuk melakukan berbagai persiapan untuk melakukan rapat bersama Austin bersama dengan perusahan yang ingin dia beli dan kepala divisi di berbagai bidang terutama divisi bagian keuangan.
Ronald yang kini menjadi Manajer utama di Nero Corp berjalan tergesa-gesa karena tidak berhati-hati seseorang pun menabrak dokumen penting itu.
“Aw. Kau... Dimana matamu?” Ronald memarahi orang yang sudah menabraknya.
“Maaf tuan. Saya tidak sengaja.” Gadis itu menunduk minta maaf.
“Kau pikir dengan meminta maaf bisa memperbaiki keadaan. Untung saja dokumen ini tidak basah karena dirimu. Kakakku pasti akan marah.” Ronald berdecak kesal. Ia memarahi gadis itu.
“Maaf tuan.” Hanya itu kata kata yang keluar dari bibir gadis itu.
Setelah mendengar itu Ronald langsung pergi berlari menuju ruang rapat menyusul yang lainnya.
Didalam ruangan rapat. Austin terlihat tengah melakuan meeting bersama para manager. Seorang pria melakukan persentasi membahas perkembangan perhotelan mereka di beberapa tempat. Austin terlihat senang saat melihat bisnis perhotelan yang dia kelolah menunjukan grafik meningkat.
“Terus tingkatkan promosi untuk Lettuel Hotel. Lakukan iklan secara menerus.” Salah satu alternatif yang perlu dilakukan adalah Austin ingin manajer dibidang pemasaran akan melakukan periklanan secara terus menerus untuk meningkatkan penjualan dan kerjasama dengan aggregator perjalanan wisata.
“Baik presdir,” Jawab Sebastian bagian marketing.
“Oke. Rapat cukup sampai disini.” Ujar Austin.
Austin membubarkan rapat itu. Ia melihat ponsel. Karena sedari tadi ponsel itu terus berbunyi. Ternyata Charles yang tadi menelponnya. Pria itu bahkan meninggalkan pesan untuknya.
“Temui aku di club milikku kalau kau sudah membaca ini. Ada yang ku bicarakan. Aku tunggu.” Isi pesan dari Charles.
Austin menghubungi Fany dan mangatakan kalau ia akan pulang terlambat. Setelah memberi kabar pada istri, Austin beranjak hendak meninggalkan kantornya menuju club milik Charles.
Austin sudah tiba di club. Ia akan pergi ke ruangan room private untuk menemui Charles disana, “Tuan Austin...” Panggil seseorang membuat Austin menoleh ke arah orang itu.
“Tuan. Tolong aku orang itu mau melecehkanku,” ujar Yasmin ketakutan.
Tubuh wanita itu bergetar, bahkan pergelangan tangan wanita itu terlihat memerah.
Tiba-tiba Yasmin memeluk Austin kala mendengar suara pria mendekati mereka berdua.
***
To Be Continued
^^^23 Maret 2022^^^