I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 9



...Hello Everyone......


...HAPPY READING...


...Tapi...


...Sebelum baca...


...Jangan lupa kasih like, vote ya guys...


***


2 bulan kemudian...


Akhir-akhir Austin terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan. Sesekali dia meluangkan waktunya untuk menerima berita dari Roy mengenai kabar Sesilia yang saat ini sedang berada di Jepang. Kapan gadisnya itu selesai dengan studinya. Kapan Sesilia akan pulang ke New York. Tapi Austin hanya bisa menghelas nafas karena Sesilia tidak bisa hubungi.


"Sudah. Kembali ketempat kerjamu” ujar Austin sambil mengibaskan tangannya mengusir Roy dari ruangannya.


"Oke. Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Roy sambil menunduk hormat lalu melangkah keluar dari ruangan Austin.


"Kenapa kamu tidak bisa dihubungi sayang?" Tanya Austin sambil menatap foto yang ada di meja kerjanya itu.


***


"Fany. Wajahmu terlihat sangat pucat . Padahal ini masih pagi tapi kau sudah terlihat lesu sekali,” papar Della sedari tadi memperhatikan Fany. Spontan Fany mengambil sesuatu dalam tasnya. Cermin. Saat ini Fany tengah memperhatikan wajahnya. Betul kata Della. Dirinya terlihat pucat sekali. Batin Fany. Akhir-akhir ini Ia juga merasa ada perubahan yang aneh padanya. Bahkan hari ini Fany marasa tidak enak badan.


“Hei cantik. Kalau orang lagi bicara itu harusnya ditanggapi. Ini malah diam dan bercermin. Kau tetap cantik kok.  Tapi Kau kenapa? Lagi sakit ya?” Tanya Della sambil memperhatikan wajah Fany.


“Aku baik-baik saja. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu,” ucap Fany yang kembali fokus kerja.


Della mendengus kesal lalu kembali berkerja. Tiba-tiba Fany merasa ada yang tidak enak pada perutnya. Serasa ada yang mengaduk didalam perutnya dan bergejolak ingin dikeluarkan. Ia merasa mual dan ingin memuntahkan isi yang ada di dalam perutnya. Fany mencoba untuk menahannya dan kembali fokus pada kerjaannya, tapi semuanya sia-sia. Fany yang tidak tahan lagi langsung berlari menuju toilet dan memuntahkan sesuatu yang dari tadi ingin segera dimuntahkan. Cairan bening. Hanya itu yang keluar dari mulut Fany. Matanya berair, tubuhnya terasa lemas.


Della ternyata juga ikut berlari mengejar Fany karena dirinya merasa sangat khawatir pada temannya itu. Sesampainya di sana Della melihat Fany yang terlihat sudah selesai membersihkan sisa muntahannya.


“Kau kenapa?” Tanya Della dengan nada bicara yang terdengar cemas sambil memijat tekut leher Fany.


“Jangan bilang kalau kau lagi hamil!” Ucap Della bicara secara blak-blakan.


Fany terkejut. Pikirannya langsung tertuju pada kejadian dihotel bersama dengan pria bernama Austin itu.“Tidak. Jangan mengada-ngada Del. Itu tidak  mungkin. Bagaimana aku bisa hamil sedangkan aku belum pernah begituan sama seseorang!” Bual Fany sambil menutupi rasa ketakutannya disaat dia kembali mengingat kejadianya waktu itu bersama dengan Austin.


“Benar juga sih!” Ujar Della sambil menggaruk kepalanya.


“Aku baik-baik saja Della. Ini mungkin karena aku telat makan, makanya jadi sakit begini,” jawab Fany yang sedang berbohong padahal tadi pagi sebelum berangkat dia sudah sarapan. Dia hanya mencoba menyakinkan Della lagi.


“Ya sudah. Lebih baik kau pulang saja. Istirahat dirumah,” ujar Della yang sangat mengkhawatirkan keadaan Fany.


“Tidak usah. Aku baik-baik saja kok. Ayo kita kembali kerja lagi,” ucap Fany sambil mendorong tubuh Della pelan agar keluar dari toliet itu.


“Kau baik-baik saja? Aku serius nih?” Tanya Della sekali lagi.


“Iya Della sayang. Aku baik-baik saja!” Ucap Fany sambil tersenyum.


Della pun mencoba mempercayai perkataan Fany. Akhirnya mereka melangkahkan kaki menuju tempat kerja mereka. Selama diperjalanan Fany hanya berkecamuk dalam pikirannya.


‘Tidak mungkin. Apa benar kalau saat ini aku sedang hamil!’ batin Fany yang entah kenapa dirinya malah kepikiran seperti itu.


"Aku akan memastikannya nanti,”ujarnya mantap.


“Memastikan apa?” Tanya Della spontan saat mendengar penuturan Fany barusan.


“Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan perkerjaan yang ada di komputerku,” jawab Tiffany asal.


“Benarkah?” Tanya Della sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Fany.


“Iya,” ucap Fany lalu berjalan duluan meninggalkan Della.


***


Kini sepulang dari kantor Fany menyempatkan diri untuk pergi ke apotek. Setelah itu dia langsung membeli sesuatu. Tespeck. Dia harus memastikan apakah dirinya benar-benar hamil atau tidak. "Selamat datang nona. Mau beli apa?" Ucap pelayan toko itu.


Fany terlihat ragu- ragu untuk mengatakannya karena takut dengan apa yang dipikiran oleh pelayan toko itu terhadapnya nanti. Fany membuang nafasnya perlahan lalu Ia pun mencoba untuk memberanikan diri dan berkata, "i-itu. Aku mau beli tespeck," Ujarnya sambil berbisik biar tidak didengar pengunjung lainnya.


"Memang seperti ini anak muda zaman sekarang. Bisanya bikin malu saja,” ucap seorang Ibu yang cukup berumur kebetulan sedang membeli obat di apotek itu.


Mendengar perkataan seperti itu membuat Fany langsung bergegas pulang ke rumah setelah barang yang dia beli sudah berada di tangannya. "Aku malu sekali. Kenapa perkataan Ibu itu kasar sekali,” kesal Fany lalu mencari taksi untuk mengantarkannya pulang kerumah.


***


Fany sudah tiba didepan rumahnya lalu memberikan beberapa lembar uang pada sopir taksi itu, "terima kasih pak. Kembaliannya Bapak ambil saja," Ucap Fany pada sopir taksi lalu pergi menuju rumah sewanya. Setelah Fany masuk ke dalam rumah dia langsung meletakkan tasnya di atas meja.


Terlihat Fany sedang merogoh dalam tasnya untuk mengambil sesuatu yang dia beli tadi saat dia apotek. Fany langsung bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencoba alat tes kehamilan itu.


***


Fany meneteskan airmatanya dan berharap kalau hasil alat tes itu pasti salah. Dia akhirnya mencoba lagi. Fany sengaja membeli lebih alat tes kehamilan itu, ia berpikir kalau hasil tes itu tidak akurat jika ia mencobanya sekali. Tapi lihat sekarang hasilnya tetap sama. Ia positif hamil.


"Bagaimana ini?” Fany sambil memegang ketiga tespeck yang sama-sama menunjukkan dua garis merah.


"Aku tidak tau, apakah aku harus senang atau sedih setelah mengetahui ada nyawa yang sedang berkembang didalam rahimku,” ujar Fany yang menangis sambil memegang perutnya.


"Kenapa harus hadir nak? Mama tidak tau dan tidak bisa menjamin apakah Ayahmu mau menerima kehadiranmu?" Fany memegang perutnya.


"Tidak. Aku tidak boleh menyalahkan bayi ini. Kau tidak salah nak, yang salah adalah takdir Mama. Seandainya Mama tidak bertemu dengan Ayahmu, semua ini pasti tidak akan terjadi," ucap Fany lalu bangkit dan menyimpan tespeck itu dan berjalan menuju ranjang. Ia lelah dan butuh istirahat sekarang.


***


Di kantor, Fany hanya terlihat diam membisu sembari menatap layar komputernya. Tapi ada guratan wajah sedih yang tergambar pada raut wajah Fany dan itu dapat di lihat jelas oleh Della yang tengah duduk di samping Fany. "Hei. Kau kok terlihat sedih? Apa kau ada masalah?" ucap Della yang melihat wajah Fany yang terlihat sedih banget.


"Aku baik baik saja Della. Aku hanya merindukan Ayahku," ucap Fany berbohong.


"Begitu rupanya. Aku pikir kau punya masalah lain. Lihat wajahmu terlihat sangat pucat dan sembab," ucap Della.


"Mungkin karena aku hanya kekurangan tidur saja,” jawab Fany sambil memgang wajahnya.


"Oh. Kalau begitu aku lanjut kerja dulu ya," ucap Della lalu pergi ke meja kerjanya.


***


Sore hari telah tiba dan sudah waktunya bagi para pekerja di kantor tempat Fany bekerja pada berpulangan. "Aku pulang duluan ya," ucap Della pada Fany sambil menggandeng tasnya.


"Hm. Hati-hati di jalan ya," ucap Fany.


“Oke,” ucap Della lalu meninggalkan Fany.


Fany juga kini bersiap-siap untuk  pulang ke rumah. Sambil berjalan di pinggir jalan Fany berbicara pada calon bayinya yang sedang tumbuh di dalam perutnya. Lebih tepatnya pada rahim miliknya.


"Malam ini kita makan apa ya nak?” Fany sambil melirik memegang perutnya. Ia mencoba untuk mengajak anaknya itu berbicara.


"Mungkin sup ayam enak ya," ucap Fany. Ia tidak memperhatikan jalannya. Tiba tiba ada mobil yang tidak sengaja menyenggol tubuh Fany sehingga membuat Fany tersungkur ke aspal.


"Auw. Perutku sakit kali," jerit Fany merasa kesakitan sambil memegang perutnya. Fany mencoba untuk melihat seseorang yang keluar dari dalam mobil yang menabraknya tadi. Ternyata yang menabrak Fany adalah wanita paruh baya.


"Tolong gendong dia dan bawa ke dalam mobil," ucap wanita paruh baya itu pada sopirnya.


"Baik Nyonya!” Balas sopir itu. Kemudian sopir itu mengangkat tubuh Fany dan memasukannya ke dalam mobil.


"Robert! Cepat bawa mobilnya ke rumah sakit terdekat!" Ucap Wanita itu yang terlihat sangat khawatir.


"Baik Nyonya!" Ucap sopir itu.


***


TBC


Thank  you


Love banyak-banyak untuk kalian


By: Insani Syahputri


^^^26-01-2022^^^