
...Hello Everyone......
...HAPPY READING GUYS...
...Tapi...
...Sebelum baca...
...Jangan lupa kasih like, vote ya guys...
(Sebelumnya)
"Tolong gendong dia dan bawa ke dalam mobil," ucap wanita paruh baya itu pada sopirnya.
"Baik Nyonya!” Balas sopir itu. Kemudian sopir itu mengangkat tubuh Fany dan memasukannya ke dalam mobil.
"Robert! Cepat bawa mobilnya ke rumah sakit terdekat!" Ucap Wanita itu yang terlihat sangat khawatir.
"Baik Nyonya!" Ucap sopir itu.
***
Akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit. Dengan segera perawat yang ada disitu langsung membaringkan tubuh Fany ke atas brankar dan membawa Fany menuju ke UGD untuk pemeriksaan lebih lanjut."Semoga dia tidak apa-apa!" Ucap wanita paruh baya itu sambil berjalan mondar-mandir.
"Nyonya tenang dan berdoa kepada tuhan agar gadis itu baik baik saja!" Ucap sopir itu.
"Kau benar Robert. Kita hanya bisa berharap pada Tuhan agar anak itu baik-baik saja," ucap wanita itu pada sopir pribadinya.
"Apakah anda keluarga pasien?" Tanya seorang dokter yang sudah keluar dari ruangan tempat Fany di periksa.
Wanita itu langsung menoleh kesumber suara. ”Ya. Saya keluarga dari pasien dok. Bagaimana keadaannya dok?” Tanya wanita itu.
"Nyonya tenang saja. Dia baik baik saja! Beruntung kalian cepat-cepat membawanya ke sini, kalau tidak saya mungkin tidak bisa menolong bayi yang ada di dalam kandungannya," ucap Dokter yang menjelaskan keadaan Fany.
"Apa!! Dia hamil dok?" Tanya wanita paruh baya itu. Dia terkejut.
"Betul. Sekarang kehamilannya sudah masuk minggu ke 3! Apa kalian tidak mengetahuinya?" Tanya Dokter yang merasa keheranan.
"Kami baru mengetahuinya dok,” jawab wanita itu.
"Baiklah. Lain kali kalian harus berhati hati dan menjaganya dengan baik. Sekarang kalian sudah boleh masuk karena sebentar lagi dia akan segera sadar," ucap dokter itu.
"Terima kasih Dok," ucap wanita itu tulus.
"Sama-sama nyonya!" Ucap Dokter itu kemudian izin pergi dari tempat itu.
"Kau tunggu di sini! Aku akan masuk ke dalam," ucap wanita itu pada sopirnya.
"Baik Nyonya,” ucap Robert.
***
"Eh, kau mau kemana?" Kata wanita itu saat masuk ke dalam dan melihat Fany yang sudah bangun dan terlihat ingin turun dari tempat pembaringannya.
"Maaf anda siapa?” Fany merasa asing terhadap kehadiran seseorang dalam ruangan itu.
Fany memposisikan dirinya untuk duduk pada brankar itu.
"Perkenalkan saya Delila Nero! Sayalah orang yang sudah menabrak anda tadi. Jadi saya langsung membawamu ke rumah sakit," ucap wanita yang ternyata adalah nyonya besar dari keluarga Nero.
"Maaf Nyonya. Karena saya sudah membuat anda jadi repot begini, apalagi anda sudah baik sekali membawa saya sampai ke sini," ucap Fany berkata sopan.
"Keadaan bayimu baik-baik saja dan kamu tidak perlu minta maaf kepadaku karena sayalah yang seharusnya mengatakan itu," ucap Nyonya besar Nero.
"Bayi? Oh syukurlah,” ucap Fany yang lega saat mengetahui bayinya baik-baik saja.
"Suamimu di mana? Apakah kau bisa menghubunginya agar aku juga bisa meminta maaf padanya karena sudah membuat kamu dan bayi yang ada di kandunganmu jadi celaka," ucap Nyonya besar Nero.
Fany hanya diam saja dan membuat wanita paruh baya itu heran tapi tiba-tiba perut Fany berbunyi menanda bahwa dirinya tengah lapar. "Apa kau lapar?"ucap Nyonya besar Nero.
Fany hanya mengangguk kepalanya."Oke. Kamu tunggu di sini. Aku akan membeli makanan untukmu," ucap Nyonya Nero. Fany pun kembali menganggukkan kepalanya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, wanita itu bergegas pergi ke kantin yang ada di rumah sakit itu untuk membeli beberapa makanan untuk Fany makan. Setelah selesai membeli, dia pun kembali ke ruangan Fany. Ketika sudah masuk kedalam, dia terkejut saat tidak mendapati Fany berada di dalam ruangan itu. Wanita itu merasa menyesal karena sudah menyuruh Robert pulang duluan, seharusnya tadi dia menyuruh Robert untuk menjaga ruangan itu.
Delila segera keluar dan mencari Fany yang mungkin dia yakini masih ada disekitaran rumah sakit itu. "Maaf, apa anda melihat wanita yang ada di ruangan ini?" Ucap Nyonya Nero pada perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Oh tadi saya melihatnya sedang duduk di sana!" Ucap perawat itu sambil menunjukan jari nya pada tempat Fany yang sedang berada di sana.
"Terima kasih ya!" Ucapnya pada perawat itu kemudian bergegas pergi kearah yang ditunjuk oleh perawat tadi.
***
Tadi Fany ingin membayar administrasi rumah sakit. Saat sudah sampai di sana dan hendak membayar, ternyata pihak rumah sakit langsung mengatakan bahwa biaya perawatannya sudah di bayar oleh orang yang sudah membawanya ke sini. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Nero.
Kemudian dia mengucapkan terima kasih dan pergi kembali ke ruangannya. Di saat dia sedang melewati lorong rumah sakit yang tengah sepi itu, Fany melihat buku majalah yang menampilkan foto Austin Nero terletak di kursi tunggu. Fany langsung mengambil dan duduk di kursi itu. Untung di situ keadaannya tengah sepi sehingga orang tidak ada yang melihat kalau Fany tengah menangis .
"Kau tau saat ini aku tengah mengandung anakmu,” kata Fany pada gambar yang ada di cover majalah itu.
"Aku tidak tau apakah kau akan senang dan menerima keberadaan anak ini?” Ucap Fany sambil menangis. Dan semua perkataan Fany tenyata di dengar oleh Nyonya Nero.
"Apakah suaminya tidak mau mengakui anak mereka?” Tanya Nyonya Nero.
"Aku jadi penasaran seperti apa rupa suaminya itu?" Ucapnya lagi.
Kemudian Delila mendekati Fany. Seketika dia membeku saat melihat gambar sosok yang dia kenal pada majalah itu. Fany sedang memegang majalah yang mana cover majalah itu terpampang foto anaknya yang terlihat tampan. Fany yang masih belum menyadari keberadaan Delila langsung berkata, "Apakah aku harus mengugurkan anak ini, Austin?"
Delila langsung terkejut mendengar perkataan Fany yang menyebutkan nama anaknya. "Fany!" Panggil Delila.
"Nyonya.” Fany terkejut lalu menghapus air matanya.
“Maaf nyonya. Pasti anda sedang mencariku? Sekali lagi aku minta maaf. Sebenarnya tadi aku ingin membayar administrasi biaya pengobatanku," ucap Fany sambil menunduk hormat kepada Delila.
Delila tidak menanggapi perkataan Fany, ia justru bertanya, "apa dia ayah dari bayimu?" Kata Delila sambil menunjukkan foto Austin.
"Apa kalian sudah menikah?” Tanya dia lagi.
Delila merasa heran dan terkejut. Saat ini dia ingin memarahi putranya itu jika dia mendengar kalau Austin sudah menikah dengan gadis yang ada di hadapan ini.
"Hmm i-itu. A-aku...."Fany gagap karena dia tidak ingin orang mengetahui hal yang menimpa dirinya, apalagi dia sudah berjanji pada Austin agar tidak menyebarkan kejadian itu.
"Jawab dengan jujur Fany. Ini penting sekali!" Tekan Delila mendesak. Ia merasa sangat penasaran.
"Benar nyonya. Austin adalah ayah dari bayi yang ada di dalam kandunganku ini! Dan kami belum menikah. Ini semua terjadi hanya karena kesalahan fatal yang tidak bisa kami hindari waktu itu," jujur Fany.
“Kesalahan fatal?” Tanya Delila heran.
"Memang apa yang terjadi di sana?" Ucap Delila selidiknya.
"Waktu itu Austin lagi mabuk dan aku terjebakdisana. Akhirnya kami melakukan sesuatu kesalahan yang besar," jawab Fany.
"Nyonya. Aku harap anda tidak menceritakan masalah ini kepada orang lain. Aku tidak ingin Austin jadi kena masalah karena aku sudah berjanji padanya untuk tidak memberitahu kejadian itu pada orang lain dan melupakan kejadian itu," ucap Fany yang memohon.
"Kenapa kau tidak meminta pertanggungjawaban padanya?" Tanya Delila.
"Austin pernah mengatakan kalau dia memiliki kekasih jadi aku tidak ingin menghancurkan hubungan mereka!” Kata Fany yang berbicara dengan menitikan air matanya.
"Lalu bagaimana dengan nasib bayimu?" Tanya Delila.
"Aku tidak tau, nyonya. Aku pernah berpikir untuk mengugurkankannya!" Fany tengah bimbang. Delila terjejut saat Fany mengatakan itu
"Tapi aku tidak sekejam itu dan tidak ingin menjadi Ibu yang jahat. Jadi aku memutuskan untuk mempertahankan bayi ini dan berencana akan pergi ke tempat yang jauh dan membesarkan anakku," lanjut Fany.
Delila merasa lega dengan keputusan Fany yang mengatakan ingin mempertahankan bayi itu.
"Apakah kau mengenali diriku?" Tanya Delila.
Fany terdiam sejenak saat mendengar perkataan wanita yang di hadapannya ini. Fany memang tidak mengenalinya dan hanya bisa mengelengkan kepalanya. "Apakah kamu tahu nama belakang Austin?” Tanya Delila.
"Austin Nero," ucap Fany sembari mengatakan nama belakang Austin.
"Apa kau masih ingat namaku?" Ucap Delila.
"Delila Nero," jawab Fany secara spontan. Fany tiba-tiba tercengang karena menyadari kesamaan nama belakang Austin dengan wanita ini.
"Perkenalkan sekali lagi saya Delila Nero. Ibu dari Austin Nero," ucap Delila.
***
To Be Continued...
Thank you
Love banyak-banyak untuk kalian
By: Insani Syahputri
^^^...26-01-2022...^^^