
Hei Kamu...
Ya kamu yang sedang baca...
Sebelum Baca Vote Dulu
Jangan lupa beri Like dan Komen Juga
Happy Reading...
***
“Dia sahabat dari Sesilia, kekasihku,” jawab Austin.
Fany tiba-tiba merasa ada yang menjanggal diperasaannya, seperti perasaan tidak senang dan tidak suka saat Austin menyinggung soal kekasihnya.
‘Kekasih. Ya tuhan. Kenapa aku bisa melupakan fakta kalau Austin memiliki orang yang sangat ia cintai. Bodoh kau Fany,’ Batin Fany mencoba untuk terlihat baik baik saja.
Austin yang tidak bisa peka terhadap perasaan Fany saat ini hanya bisa melangkahkan kakinya menuju mobil dan langsung diikuti oleh Tiffany dari belakang.
Saat sudah sampai dimansion, Austin mendadak diam dan tak memperdulikan Tiffany.
Melihat Austin kembali mendiaminya, langsung memutuskan untuk pergi kekamar tanpa pamit.
"Langsung istirahat. Jangan bergadang! Perhatikan kesehatanmu dan bayi yang ada didalam kandunganmu," suara Austin memerintahnya.
"Iya. Dasar tukang memerintah orang," ucap Tiffany dengan suara pelan sehingga Austin tidak bisa mendengarnya secara jelas.
"Kau bilang apa?" Tanya Austin yang terlihat mengintimidasi.
"Tidak ada. Aku akan hanya bilang kau juga harus beristirahat" Fany berbual.
“Baiklah. Beristirahatlah,” Austin bergerak menuju ruang kerjanya meninggalkan Fany yang terdiam memperhatikannya.
"Dasar orang aneh,” Umpat Fany lalu pergi ke kamarnya.
***
Fany sudah selesai mandi memilih untuk duduk santai dikasur karena pada saat itu dia memang belum bisa tidur. Saat sedang duduk, tiba-tiba ponsel Fany menerima panggilan masuk. Tiffany tersenyum setelah melihat siapa yang menelponnya. Dengan cepat, dia pun langsung menerima panggilan itu.
"Halo Kakakku yang tersayang," ucap Tiffany pada Kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Alexander.
"Halo juga Adikku. Bagaimana kabarmu dan calon keponakanku disana?” Tanya Alex dari seberang sana.
"Kabar kami baik-baik saja, kak Alex." Tiffany berkata dengan suara manjanya.
"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Aku jadi tenang mendengarnya," ucap Alex.
"Disini sudah malam, kakak kenapa menelponku? Mana Ayah? Aku ingin bicara dengannya. Aku sangat merindukannya," ucap Tiffany.
"Kakak tidak sedang dirumah, Adikku.” Ucap Alex.
"Jadi kakak ada dimana sekarang?" Fany jelas terkejut.
"Sekarang Kakak lagi di New York."
"Apa? New York?" Sekali lagi Fany terkejut mendengar perkataan kakaknya. Ternyata Alex sedang berada di kota yang sama dengannya. Kapan Alex pergi? Kenapa tidak mengabarinya kalau memang sudah berada di New York.
"Iya.”
“Kakak kenapa kesini? Ada urusan apa?”
"Kakak melamar kerja disini. Kebetulan juga sudah diterima," ucap Alex.
"Kak Alex sudah dapat pekerjaan?"
"Iya,"
"Kerja apa kak?"
"Cuma jadi sekretaris. Kebetulan bosnya adalah teman Kakak,"
“Syukurlah kak.”
“Ayo bertemu. Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu,”
"Baiklah Kak. Kita bertemu di mana?"
"Nanti kakak kirim alamat lokasinya,"
"Baiklah. Selamat buat Kakak karena sudah mendapat pekerjaan.”
“Terimakasih. Sekarang tidurlah. Ini sudah larut malam,”
“Tapi tunggu kak. Fany penasaran dengan teman kakak. Siapa namanya?”
Belum mendapat jawaban dari Alex, suara lain mengintrupsi Fany untuk segera tidur. Siapa lagi kalau bukan Austin." Tiffany cepat tidur!! Ini sudah larut malam," Lagi lagi orang itu berteriak dari luar kamar Tiffany.
Ternyata sedari tadi Austin dia mendengar Fany sedang berbicara. Austin marah. Bukannya tidur, Fany malam bertelponan dengan orang didalam sana. Tadi pria itu ingin ke kamarnya. Sekarang Austin terlihat kesal dan berteriak menyuruh Tiffany untuk segera tidur.
"Kak Alex. Sudah dulu ya. Aku sudah mengantuk dan mau tidur," Fany mengurungkan niatnya untuk mengetahui nama teman dari saudara laki lakinya itu.
"Baiklah Adikku. Selamat tidur. Have a nice dream," ucap Alex.
"Iya. Terima kasih Kak Alex tampan," ucap Tiffany dengan suara yang terdengar seperti anak kecil dan langsung mengakhiri panggilan.
Dilain tempat, Alex terlihat tersenyum sambil menatap ponsel miliknya. Tadi ia mendengar suara adiknya yang sangat ia rindukan.
"Kenapa tersenyum?" Tanya seseorang mendekati Alex.
"Tidak ada apa-apa Charles," Alex pada orang itu yang ternyata Charles. Pria itu memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Dan berbicara dengan Charles.
"Tidak ada. You Crazy? Tadi aku melihatmu senyum-senyum sendiri aja tanpa ada gerangan," ucap Charles terkekeh.
"Apa kau bilang? Aku tidak gila!!" Bantah Alex kesal mendengar perkataan Charles.
"Jadi kenapa kau tersenyum sendiri?"
"Memang salah kalau aku tersenyum?”
“Tidak ada yang salah. Hanya saja___”
"Aku barusan menelpon Adikku. Dia berbicara seperti anak kecil. Jadi wajar saja kalau aku tersenyum." Sela Alex.
"Aku tidak tau kalau kau memiliki seorang adik. Memang berapa usia adikmu?"
"24 tahun.”
“Usianya saja yang segitu tapi tingkahnya seperti anak kecil padahal sebentar lagi dia mau jadi seorang Ibu," Lanjut Alex.
"Jadi itu yang membuatmu tersenyum senyum sendiri,”
"Iya"
"Siapa nama adikmu?"
"Kalau ada kesempatan, aku akan mengenalkanmu padanya. Sekarang aku mau pulang dulu," Alex bersiap mau pulang. Ia sudah berdiri dari tempat duduknya.
“Padahal kita baru duduk sebentar disini,” Charles mendesah kecewa.
"Aku mau istirahat. Lagian besok aku mau bertemu dengan adikku," ucap Alex.
"Baiklah. Aku juga mau pulang. Sekalian aja pulang sama denganku. Kemungkinan taksi mungkin akan sulit di jumpai apalagi ini sudah larut malam ini,"ucap Charles.
“Baiklah. Alex menyetujui ajakan Charles. Setelah menghabiskan gelas terakhir, mereka pun meninggalkan club itu.
Keesokan harinya Fany mendatangi rumah Della. Dia mendapat telepon dari Della kalau perempuan itu sedang sakit. Sesampainya disana, terlihatlah Della yang terbaring lemas tak berdaya.
Fany jadi sangat sedih saat melihat kondisi Della.
"Kenapa bisa sakit?" Fany membenarkan selimut yang dipakai oleh Della untuk menutupi kembali tubuh gadis itu.
"Aku mana tahu. Kalau aku tahu, aku pasti sudah mengatakan padanya untuk tidak menjangkit ke tubuhku," ucap Della yang kesal dengan pertanyaan konyol Tiffany.
"Namanya juga penyakit. Kita mana ada yang tahu kapan datangnya," tambah Della lagi.
"Kau sudah makan?"
"Sudah"
"Minum obat?"
"Belum"
"Kenapa belum?"
Della tidak menjawab. Jujur dia sangat tidak suka dengan obat.
Fany membuang nafasnya berat. Ia terlihat khawatir. Dengan segera Fany langsung pergi menuju ke dapur untuk mengambil air hangat dan kembali ke kamar. Fany meminta Della meminum obatnya, tapi Della malah menolaknya.
"Della jangan bertingkah seperti anak kecil,"
"Tapi obatnya tidak enak Fany," Della kembali merengek seperti anak kecil.
"Fany. Apa kau masih tidak ingin memberitahukanku mengenai suamimu?" Tanya Della setelah selesai meminum obatnya.
Fany mendengar perkataan Della langsung terkejut. Setelah itu dia pun menghela nafasnya.
"Baiklah. Della aku akan menceritakannya," ucap Tiffany.
Tiffany pun menceritakan semuanya pada Della tanpa ada celah sedikit pun.
Mulai dari siapa nama suaminya. Awal bagaimana mereka berjumpa. Tak lupa juga dengan kejadian di hotel itu, di mana tempat itulah yang sudah membuat Fany sampai mengandung anaknya dan akhirnya menikah dengannya.
Della yang mendengar semua perkataan Fany langsung terkejut saat mendengarnya.
Pasalnya Tiffany menikah dengan orang yang cukup berpengaruh di kota New York City yaitu Austin Nero.
"Kau beruntung Fany. Apalagi saat ini kau sedang mengandung anaknya," ucap Della.
"Tapi dia sudah memiliki kekasih bahkan sebelum pertemuan kami,"
"Apa?"
"Aku merasa seperti penganggu hubungan orang saja," Fany terlihat menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak Fany. Aku tidak setuju dengan ucapanmu,"
"Ini sudah ditentukan oleh takdir Fany. Aku berharap anak ini kelak dapat menyatukan kalian berdua," ucap Della lagi.
"Benarkah? Tapi aku rasa tidak Della. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat Sesilia datang ke sini," ucap Tiffany.
"Siapa Sesillia?"
"Kekasihnya Austin,"
"Apa kau mencintai Austin?"
"Aku belum tahu Della,"
"Kau harus mengetahuinya Fany,”
“Jika pun aku mencintai Austin. Apa aku bisa memilikinya? Aku rasa tidak Della. Aku tidak bisa menghilangkan fakta kalau dia mencintai Sesillia. Mana mungkin Austin mencintaiku,”
"Aku tidak bisa berkata apa apa lagi Fany. Aku hanya bisa berdoa semoga kalian bisa selalu bersama dan tidak terpisahkan oleh halangan apapun,"
"Terima kasih Della,"
Tiba-tiba Della menatap Fany dengan lekat dan berkata kalau Fany harus bahagia. Benar-benar harus bahagia. Lalu secara mengejutkan Della memeluk Fany dengan erat.
Fany sedikit kaget.
"Kau harus mempertahankan hubunganmu dengan Austin demi anakmu Fany," ucap Della.
"Aku akan mendukungmu Fany," ucapannya menyemangati Fany. Ucapan itu terdengar sangat tulus membuat Fany jadi terharu.
Tak terasa hari sudah semakin siang. Kini Della sudah tertidur. Mungkin itu karena pengaruh obat. Tiffany pun langsung menyelimuti tubuh Della. "Aku akan mengikuti semua nasihatmu," ucap Fany pada Della yang tengah tertidur.
Beep.....Suara notifikasi pesan masuk ke ponsel milik Fany. Ternyata itu pesan dari Kakaknya yang mengirim lokasi tempat pertemuannya dengan Alex.
"Aku pergi dulu,” pamit Fany pada Della yang tengah tertidur itu.
\*\*\*
Di sebuah tempat kedai kopi, Alex memainkan handphonenya sembari menunggu kedatangan Adiknya.
"Kak Alex." Terdengar suara Fany memanggil namanya. Wanita itu sudah datang juga.
"Kamu kenapa lama sekali?”
"Maaf Kak Alex. Tadi aku ke tempat Della dulu. Temanku sedang sakit," ucap Fany.
"Siapa Della?"
"Dia Sahabatku,”
"Baiklah. Katakan padanya semoga cepat sembuh,"
“Nanti akan kusampaikan,”
Mereka pun saling berbicara melepaskan rasa rindu yang mendalam antara Kakak dan Adik itu. Tiffany terlihat senyum mendengarkan perkataan Kakak yang mengatakan bahwa Alex sempat berdebat dengan Ayah mereka untuk meminta restu ingin merantau ke luar negeri.
Tiffany tidak terkejut mendengar perkataan kakaknya, karena mereka memang selalu berdebat bahkan masalah sepele pun akan menjadi bahan perdebatan mereka.
Lain dengan Alexander, Pria itu malah sedang memikirkan mencari cara untuk menyingkirkan Austin tanpa menyakiti Adiknya. Tak terasa hari sudah sore, Fany pun pamit untuk pulang ke rumah karena takut suaminya akan mencarinya.
Alex sempat kesal karena mendengar adiknya mengatakan Austin dengan sebutan suami.
Memang tidak salah jika Fany berkata seperti itu, tapi dia tidak senang jika adiknya menyayangi orang yang pernah membuat keluarganya bangkrut dan hancur.
\*\*\*
***To Be Continued***
***Thank you***
***Salam manis dariku***
***Insani Syahputri***
^^^***06 Feb 2022***^^^