I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 57



Happy Reading


🌷🌷🌷


Jam tiga dini hari Charles terbangun dari tidurnya, ia berdiri gagah di dekat balkon kamar hotel yang ia pakai dengan legal. Cahaya langit malam terlihat cerah, sedangkan  Yasmin masih tertidur  pulas  karena kelelahan dengan permainan ranjangnya selama berjam-jam.


***


Pagi hari Yasmin terbangun. Ia menatap nanar saat mendapati tubuhnya yang dalam keadaan polos.


Suara derit pintu terdengar. Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan sosok Charles yang sepertinya baru selesai mandi.


Pria itu sudah berpakaian rapi. Itu karena Charles sudah menelpon Jhon untuk membawa pakaian untuknya dan untuk Yasmin tentunya.


“Kau sudah bangun?” Suara berat itu terdengar di telingan Yasmin.


“Ini. Tulis berapa yang ingin kau mau sebagai kompensasi atas permintaan maafku mengenai kejadian tadi malam.” Charles memberikan selembar cek pada Yasmin.


“Apa yang kau bilang barusan? Permintaan maaf? Apa kau pikir dengan memberikan uang sialanmu bisa membuat keadaan kembali seperti semula.” Yasmis berteriak. Lagi-lagi Yasmin merobek cek itu.


“Aku sudah hancur. Kau dengar!!! Aku sudah kehilangan sesuatu yang harus kujaga. Dan kau dengan mudahnya sudah mengambil itu. Kau puas!!” Yasmin menangis sesengukkan.


“Akhirnya aku menjadi seseorang yang kau pikirkan tentangku. Kau pria brengsek!!!” Ucap Yasmin pelan karena lelah menangis.


“Aku minta maaf untuk itu.” Charles hanya bisa mengatakan itu.


Yasmin hanya menangis sembari menyembunyikan wajahnya yang bertumpu pada kedua lututnya.


“Aku mau pergi. Ada urusan yang ku selesaikan. Jika terjadi sesuatu, kau bisa menghubungiku.” Charles meletakkan kartu indetitasnya di atas kasur itu. Pria itu pergi keluar dari kamar hotel dan meninggalkan Yasmin yang masih menangis di atas kasur itu. Charles terlihat tidak bertanggungjawab sekali.


***


Pagi hari berbeda dengan Fany dan Austin. Austin pagi-pagi membuka laptopnya karena mengerjakan seuatu yang penting disana. Pagi ini ia tidak pergi ke kantor, ia akan pergi ke sana saat selesai waktu makan siang. Siang ini ia akan melakukan rapat penting bersama dengan klien bisnisnya.


Seperti yang terjadi saat ini. Di dalam kamar Austin sibukdengan laptopnya sedangkan Fany memainkan ponselnya.


“Sayang.” Panggil Fany.


“Hm, Ada apa sayang?”


“Kau masih sibuk? Mendadak Aku ingin sesuatu?”


Austin menghentikan jari-jarinya yang sedari tadi berkutat pada keyboard laptop itu. “Apa sayang? Apa kau mengidam?”


“Iya.” Fany cepat-cepat menganggukinya.


“Kau ingin makan apa, hm?”


“Mau makan ayam goreng pedas tapi ingin disuapi sama Roy.”


Austin terdiam dan menatap nanar ke arah Fany. Seperdetik berikutnya dia langsung pergi dan menghempas pintu itu dengan kuat. Ia membawa laptopnya menuju ruang kerja pribadinya. Pagi ini lebih baik dia bekerja di sana daripada di dalam kamar yang akan membuatnya meradang.


“Tidak akan. Jangan harap aku mengabuli permintaanmu.  Ngidam seperti apa itu.” Teriak Austin.


***


Siang hari Austin berangkat ke kantor. Ia masih kesal dengan Fany. Di kantor Austin menatap tajam ke arah Roy.


Sontak Roy dan Ronald tertawa keras saat mendengar cerita Austin barusan.


“Kenapa kau tidak mengabulinya? Aku dengan senang hati akan menyuapinya.” Ujar Roy yang masih tertawa. Ia tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam otak Fany. Kenapa perempuan itu berani sekali berkata seperti itu pada seorang Austin?


“Betul kak. Apa kau mau nanti anakmu ileran,” timpal Ronald.


“Biarkan saja. Lebih baik aku mengelap iler anakku daripada membiarkan Fany disuapi olehmu,” Austin semakin kesal setelah mengatakan itu.


“Beruntung kau itu temanku. Jika tidak, mungkin aku sudah mencarimu dan menghajarmu.”


***


Pagi ini Yasmin tengah ada di dalam kamar mandi. Ia ingin mencoba mengetes sebuah benda yang baru ia beli tadi pagi. Ia kini sudah tinggal di kontrakan kecil yang ia sewa sendiri. Ia pindah dari rumah keluarga Nero karena tidak ingin menyusahkan mereka. Akhir-akhir ini ia merasa ada yang aneh pada dirinya. Yasmin teringat pada kejadian sebulan yang lalu yang menimpanya. Untuk itulah ia membeli tespeck dan akan mengetesnya. Apakah ia hamil atau tidak? Ia berharap hasil tes di alat uji kehamilan ini menampilkan hasil negative.


Air mata Yasmin keluar kala melihat dua garis merah di alat tes tersebut, yang menandakan kalau dia sedang hamil. Hal itu membuat Yasmin frustasi. Dia menangis kala menatapi nasibnya yang sial. Semenjak kejadian itu, ia tidak pernah melihat Charles. Pria itu bahkan tidak pernah berkunjung ke cafe tempatnya bekerja, bahkan sekali saja tidak pernah.


“Apa aku harus memberitaunya.” Yasmin menatap kartu identitas yang diberikan oleh Charles saat itu.


Siang hari Yasmin mendatangi kantor Addison company. Alamat kantor itu tertera jelas pada kartu yang ia pegang. “ini benar alamatnya?”


Saat hendak masuk mendekati gedung itu. Yasmin melihat Charles keluar dengan seorang wanita. Pria itu memakai jas berwarna biru gelap. Kedua memasuki mobil dan pergi meninggalkan kawasan gedung itu.


Yasmin pergi meninggalkan tempat itu. Ia berencana pergi kerumah sakit untuk mengecek janin yang ada di rahimnya itu.


***


“Kandungan nona sehat.” Ucap seorang dokter yang memeriksa Yasmin. Dokter itu tersenyum.


“Kalau boleh tau. Berapa usia janinnya dok?”


“Empat minggu nona. Dia  masih sangat kecil sekali.”


“Perhatikan pola makan. Jangan sampai kelelahan ya nona. Kandungan nona masih muda, itu rentan sekali bisa mengalami keguguran jika sampai kelelahan.” Pesan dokter itu.


“Baik Ibu dokter. Terima kasih.”


Yasmin pun meninggalkan ruangan itu. Dia berjalan sambil melamun karena memikirkan hal kedepannya pada bayi itu.


Bugh...


“Maaf nona.” Ucap seorang perempuan yang tidak senjaga bertabrakan dengan Yasmin.


“Yasmin.”


“Fany.”


Perempuan itu adalah Fany. Kebetulan ia ingin memeriksa kandungannya di rumah sakit ini. Tapi ia malah berjumpa dengan Yasmin.


Mata Fany menatap sebuah foto usg yang terjatuh di kakinya.


“Ini...” Fany menatap penuh tanya pada Yasmin.


“Kau hamil.” bukan pertanyaan tapi pernyataan.


Jelas itu milik Yasmin karena benda itu jatuh dari tanganYasmin.


“Yas. Kau tidak ingin bercerita padaku.”


Kini mereka sudah ada di kantin rumah sakit. Keadaan disana cukup sepi sehingga membuat Fany ingin bertanya pada Yasmin. Apa yang terjadi pada perempuan itu.


“Siapa yang melakukannya?” tanya Fany.


Yasmin hanya diam sambil menatap foto usg yang sudah dikembalikan oleh Fany tadi.


“Itu bermula saat acara perayaaan yang dilakukan tuan Austin.”


Fany ingat pesta ulang tahun Nero corp. Tapi apa yang terjadi disana. Yasmin sempat bersamanya dan ibu.


“Pria itu menarikku ke dalam kamar hotel itu. Dia mengatakan kalau seseorang memasukkan sesuatu pada minumannya. Jadi dia memaksaku dan memperkosaku. Setelah itu dia memberikan selembar cek sebagai permintaan maaf. Aku jelas menolaknya. Harga diriku sudah hancur karenanya. Sialnya aku mengandung anak pria itu.” Yasmin menangis setelah mengatakan itu. Fany pun segera merangkulnya dan menenangkanya.


Kisah mereka sepertinya sama.


“Siapa pria itu? Apa kau sudah meminta pertanggungjawaban darinya?”


“Aku takut? Pria itu sudah memiliki kekasih. Tadi aku melihatnya saat mendatangi kantornya. Pria itu pergi dengan seorang perempuan. Aku takut menemuinya. Bahkan aku takut kalau dia akan melemparkan selembar cek lagi padaku sebagai bentuk tanggung jawabnya. Percuma saja aku datang menemuinya.”


“Siapa dia?”


“Charles. Charles Addison.”


Fany terkejut. Charles. Bukan nama itu yang membuatnya terkejut, tapi perbuatan dari pria itu.


Kekasih. Fany tidak tau kekasih mana yang dimiliki Charles saat ini. Yang dia tau bahwa Charles sedang dijodohkan dengan Theresa sahabat dari Sesilia.


Mengingat Sesilia. Dimana wanita itu. Dia menghilang bagai di telan bumi. Austin bahkan tidak pernah membahas mengenai wanita itu.


“Aku mohon padamu. Jangan cerita ini pada siapapun. Terlebih pada Charles. Kau sangat dekat dengannya.”


***


TBC


Jangan lupa kasih Like dan Votenya


By Insani Syahputri


^^^30 -03 -2022^^^