I'M Pregnant, Let'S Get Married

I'M Pregnant, Let'S Get Married
Part 20



Sebelum Baca Vote Dulu


HAPPY READING...


***


Suara derum mobil pun terdengar di sekitar kompleks perumahan elit. Mobil itu berhenti disebuah rumah yang besar dan luas. "Apa kita berada di tempat yang benar? Kita tidak salah jalan, kan? Apa ini rumah suamimu?" Tanya Charles. Begitu banyak pertanyakan Charles pada Fany saat mereka sudah berada diluar mobil.


"Benar. Kita berada di tempat yang benar. Ini memang tempat tinggal suamiku," jawab Fany.


"Tapi bukankah kau bilang kalau suamimu hanya seorang karyawan biasa? Kenapa dia punya rumah seperti istana?” Ucap Charles menatap kagum dari gerbang rumah itu. Padahal ia memiliki rumah yang begitu luas dan besar juga.


‘Tuhanku. Seharusnya tadi aku diturunkan di simpang kompleks saja. Kan jadi ketahuan berbohong,’ batin Tiffany.


“Maaf. Aku sudah berbohong mengenai hal itu.” Jujur Fany.


“Sebenarnya dia bukan bekerja sebagai karyawan melainkan pimpinan dari perusahaannya sendiri?”


"Benarkah? Apa nama perusahaannya? Sepertinya aku akan mengenalinya." Ucap Charles.


"Aku tidak tau nama perusahaannya."


"Siapa nama suamimu?"


"Maaf Charles. Kalau itu aku tidak bisa memberitaukanmu. Itu privasi bagiku. Kuharap kau   mengerti.” Ucap Tiffany sambil menundukkan kepala.


"Baiklah. Maaf. Aku tidak akan memaksamu untuk memberitahukannya padaku." Charles berkata lembut sembari mengelus puncak kepala Fany.


"Terima kasih atas pengertianmu, Charles"


"Hmm iya. Kalau begitu aku pulang dulu."


"Baiklah. Pak. Hati-hati ya dalam menyetir mobilnya." Ucap Tiffany pada sopir pribadi Charles.


"Apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?" Ia cemburu melihat Fany berbicara pada sopir pribadinya.


"Kau juga hati-hati ya. Jangan lupa beristirahat kalau sudah sampai di rumah." Ucap Fany sambil mendorong tubuh Charles masuk ke dalam mobil.


"Mari kita bertemu lagi.” Ucap Charles sambil memangkukan kepalanya dijendela mobilnya yang sudah terbuka lalu melambaikan tangannya.


"Tentu saja. Itupun jika aku mendapat ijin dari suamiku.”


“Aku akan menemuinya jika dia tak mengijinkanmu.” Mereka pun tertawa. Lalu setelah itu Charles menyuruh sopirnya untuk melajukan mobil itu. “Aku pergi dulu,”


Fany mengangguk lalu melambaikan tangannya ke arah mobil milik Charles. Setelah mobil Charles sudah pergi menjauh, Fany pun masuk ke dalam rumah milik Austin. "Selamat malam nyonya muda." Salam Security yang duduk dekat pos gerbang.


"Selamat malam juga pak." Jawab Fany sambil tersenyum. Fany meneruskan langkahnya dan masuk ke dalam rumah. Saat ia sudah sampai di dalam, ia melihat Austin tengah duduk di sofa dan tengah menatap layar ponselnya.


"Kamu sudah pulang duluan ya?" Tanya Fany.


"Hmm.” Jawab Austin terdengat cuek.


‘Cuma hmm saja’ batin Fany.


Melihat reaksio Austin yang seperti itu membuat Fany melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Ia sangat lelah, tapi sebelum itu ia harus mandi dulu lalu tidur.


"Tunggu."


Baru berjalan satu langkah, Austin secara tiba-tiba menyuruhnya untuk berhenti.


"Iya. Ada apa Austin?" Tanya Fany saat sudah berhenti dan membalikkan badannya menghadap ke arah Austin yang tak jauh darinya.


"Besok pagi aku tidak ada jadwal kerja. Jadi aku berencana akan menemanimu ke rumah sakit untuk memeriksa kandunganmu.”


"Ke rumah sakit?"


"Iya. Memang kenapa? Apa ada masalah?"


"Tidak ada sih. Aku hanya terkejut saja.Tapi apa itu tidak akan mengganggu waktumu."


"Aku sudah bilang kalau besok pagi aku tidak ada jadwal pertemuan. Apa kau tidak mengerti?"


"Baiklah Austin." Fany tidak mau berdebat.


"Satu lagi. Apa kau sudah mengurus surat pengunduran diri dari perusahaanmu?"


"Kalau itu aku sudah mengurus semuanya dan besok aku tidak akan bekerja lagi."


"Baguslah. Kalau begitu kamu beristirahatlah."


"Ok." Ucap Tiffany sambil menyatukan ujung jari jempol dan jari telunjuknya membentuk bulatan.


"Dasar anak kecil." Ucap Austin sambil melihat tingkah Fany menaiki tangga seperti anak kecil.


Ddrrrtt...Drrrt...


"Halo," jawab Austin ketika sudah mengangkat panggilan itu. Sejujurnya ia terlihat marah bercampur kesal dan sedikit senang ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.


"Bagaimana kabarmu sayang?" Ucap seseorang yang ternyata adalah Sesilia.


"Tidak baik." Ucap Austin dengan nada datar.


"Maafkan aku sayang. Aku harap kamu bersabar untuk menungguku. Aku janji setelah semuanya selesai aku tidak akan meninggalkanmu lagi," ucap Sesilia.


"Kapan Sesilia? Kapan kau akan kembali?" Tanya Austin.


"Tidak akan lama lagi sayang. Aku mohon untuk tetap bersabar ya sayang," ucap Sesillia.


Austin tak menanggapi, ia hanya diam saja.


"Baiklah Austin. Kalau kamu hanya diam saja, aku akan akhiri panggilannya. Aku hanya bisa berpesan untuk jangan terlalu banyak bekerja dan banyaklah beristirahat. I miss you honey," ucap Sesilia dan langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.


Austin kembali meletakkan ponselnya di meja dekat sofa itu dan membaringkan tubuhnya di sofa.


Lain dengan Tiffany yang sudah selesai mandi dan sudah memakai pakaiannya. Setelah itu dia berdiri dekat cermin untuk melihat dirinya.


"Perutku pasti akan membesar. Tapi itu terjadi pada bulan ke berapa ya?"  Fany yang mengangkat baju sedikit dan memperlihatkan perutnya yang masih rata. Dia penasaran sebesar apa nanti perutnya jika sudah sampai bulan kesembilan. Pasti sangat besar pikirnya.


"Ibu sangat menantikan kehadiranmu sayang," ucap Tiffany sambil mengelus pelan perutnya. Ia pun beranjak naik ke atas kasurnya dan berbaring.


“Hari ini sungguh melelahkan. Aku jadi dibuat mengantuk sekali.” Ucap Fany sambil menguap.


"Semoga mimpi indah Fany," ucap Tiffany untuk dirinya sendiri.


🌷🌷🌷


Sesuai dengan ucapan Austin, pagi ini dia akan menemani Fany ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya Tiffany. Terlihat mobil Roll Royce warna hitam elegan itu sudah terparkir disekitar area salah satu rumah sakit yang ada di kota New York.


"Ayo,"ajak Austin sambil mengulurkan tangannya untuk membawa Fany masuk kedalam bersamanya. Fany dengan senang hati menyambut uluran tangan Austin dan berjalan bersama menuju dalam rumah sakit.


Setelah sampai disalah satu ruangan, Fany pun segera berbaring untuk melakukan pemeriksaan pada janin bayi. Mereka tidak perlu menunggu dan langsung menuju ke ruangan spesialis kandungan, setelah sebelumnya Austin telah membuat janji pertemuan dengan dokter  kandungan.


"Tuan muda Nero." Ucap dokter berjenis kelamin laki laki sambil tersenyum saat sudah melihat kedatangan Austin di dalam ruangannya.


“Tolong lakukan pekerjaanmu dengan baik.” Perintah Austin.


"Tentu saja.  Mari Mrs Nero. Berbaringlah biar saya bisa melakukan USG secepatnya," ucap dokter itu pada Tiffany. Fany hanya menurut. Dengan segera ia berjalan menuju ke brankar dan langsung berbaring sesuai intruksi dari dokter.


Begitu juga dengan sang dokter. Ia berjalan menuju ke tempat Fany berbaring dan menyuruh Fany untuk mengangkat sedikit bajunya ke atas.


Fany pun mengangguk dan melakukan perintah dokter. Tapi sebelum hal tersebut sempat di lakukan oleh Fany, Austin tiba-tiba berteriak. "Tunggu. Apa kau menyuruh istriku untuk membuka baju di hadapanmu?" Tanya Austin sambil memegang kearah baju dokter tersebut.


Maklumlah Austin belum pernah melakukan pemeriksaan seperti itu. Jika saja ia tau, mungkin Austin akan memakai jasa dokter berjenis kelamin perempuan.


Sungguh rasanya ia tidak mau berbagi dengan siapapun untuk melihat bagian tubuh Fany yang tertutup itu.


"Sabar tuan. Bagaimana caraku untuk memeriksa janin kalian, jika anda bersikap seperti ini? Ini merupakan hal yang wajar dilakukan jika kalian memang ingin memeriksa kandungan."


"Lalu kau akan merasa puas memandangi tubuh istriku?" Ucap Austin dan membogem wajah dokter pria itu.


"Tuan sabar. Aku yang akan memeriksa istri anda." Ucap seorang dokter wanita yang masuk dan mencoba meleraikan pertikaian tersebut.


"Baiklah. Tapi aku tidak ingin dia ada di sini," ucap Austin.


"Maafkan suamiku ya dokter," ucap Fany pada dokter yang mendapat bogeman dari suaminya tadi.


"Tidak masalah Nyonya. Kalau begitu aku permisi dulu." Ucap dokter pria itu yang masih terlihat berusia 30 an.


"Sekarang Nyonya berbaringlah." Perintah dokter wanita itu pada Fany. Fany segera berbaring lalu dokter itu pun mengoleskan gel ke perutnya dan menggerakkan alat USG untuk mendeteksi janin yang ada di perut Fany.


"Lihat. Janin kalian terlihat sehat dan baik-baik saja," ucap dokter itu antusias.


Austin langsung menoleh dan menatapi latar monitor. Ia melihat Janin itu dengan seksama dan dia pun menyunggingkan senyumannya. Sangat kecil pikirnya.


Setelah USG Tiffany bangun dan di bantu oleh Austin, kemudian berjalan menuju kursi. "Apa anda sudah mengalami gejala morning sicknes?" Tanya dokter itu pada Fany.


"Belum dok."


"Aku harap anda sebagai suami untuk selalu memperhatikan kesehatan istri anda,"  ucap dokter itu pada Austin.


"Akan kulakukan.”


"Jangan buat diri anda terlalu banyak bekerja. Itu akan membuat anda kelelahan nyonya dan nanti hal itu bisa berdampak buruk pada bayi anda," Pesan dokter pada Fany.


"Saya akan mengingatnya dok. Terima kasih.” Fany memberikan senyuman pada dokter bernama Alina itu.


"Ini resep obat vitamin untuk anda minum nyonya, jika anda mengalami gejala tersebut. Kalian bisa menebusnya di apotik rumah sakit ini."


"Kalau begitu kami pamit pergi ya dok. Terima kasih atas waktunya." Ucap Austin.


"Terima kasih atas kunjungannya, Tuan."


Setelah menebus obat, mereka pun kini sudah berada di luar rumah sakit. Lebih tepatnya berada di samping mobil mereka yang terparkir itu.


"Aku senang sekali karena hari kau mau menemaniku," ucap Fany. Ia terlihat bahagia.


"Bayi ini beruntung mempunyai Ayah sepertimu," ucapnya lagi.


"Tentu saja. Aku tidak mau jika nanti anakku akan seperti diriku yang tidak sempat merasakan kasih sayang seorang ayah."


"Maaf. Aku tidak ada maksud untuk menyinggung perasaanmu Austin,"  ucap Fany seketika merasa bersalah pada Austin.


“Tidak masalah.”


Tiba-tiba Fany memegang perutnya membuat Austin panik.


"Kamu kenapa Fany? Apa perutmu sakit? Jika iya, Ayo kita menemui dokter itu lagi." Ucap Austin khawatir.


"Aku baik baik saja Austin. Hanya saja saat ini aku tengah lapar karena tadi aku belum ada sarapan pagi." Ucap Fany dengan wajah polosnya. Mendengar perkataan Fany sontak membuat Austin merasa kesal. Dia sudah cemas eh ternyata Fany cuma merasa lapar. Kenapa wanita ini belum sarapan? Padahal ia tadi yang duluan bangun pagi.


"Ayo kita cari makanan," ajak Austin.


Ketika ingin memasuki mobil, ponsel milik Austin berdering. Ternyata Roy menelpon. Pria itu menyuruh Austin untuk datang ke kantor secepatnya karena ada rapat penting yang harus wajib dia hadiri.


"Baiklah. Aku akan segera ke sana." Lalu Austin menutup panggilan itu.


Austin menatap Fany dengan tatapan merasa bersalah. "Ada apa Austin?" Tanya Fany.


"Maaf Fany. Aku tidak bisa menemanimu makan. Di kantor akan ada rapat, jadi aku harus segera kesana. Mungkin aku juga tidak bisa mengantarkanmu karena aku harus pergi sekarang juga agar bisa mengejar waktu untuk rapat." ucap Austin.


"Tidak apa- apa Austin.  Lagian aku bisa menaiki taksi. Kau bisa pergi dan jangan khawatir." Ucap Tiffany.


Austin merasa lega karena Tiffany sangat pengertian. Dia pun memberikan sebuah kartu berwarna gold  pada Fany dan menyuruhnya untuk segera mencari makan yang dia suka karena Austin tidak ingin nanti anaknya mati kelaparan.


"Tidak perlu Austin. Aku masih ada uang," tolak Fany.


Ia menolak dan berkata kalau dia masih memiliki uang. Austin memaksa dan Fany bersikukuh menolak. Wanita itu pun langsung pergi meninggalkan Austin dan terus berkata kalau dia punya uang. Setelah itu dia memberhentikan taxy dan melambaikan tangannya kepada Austin lalu naik ke taxy itu.


🌷🌷🌷


Di restoran terlihat Fany sudah memenuhi hasrat perutnya untuk makan. Bayi yang di dalam perutnya pasti merasa sangat kenyang, mengingat ia makan dalam porsi yang sangat banyak. Fany sangat menikmati makanan itu. Bahkan saking nikmatnya menyantap makanan siang itu, Fany menghabiskan makanannya sampai piring itu bersih mengkilap.


Setelah makan, Tiffany pun memutuskan untuk pulang dan menaiki taksi lagi.


Di persimpangan kompleks sekitar tempat tinggalnya, dia melihat seseorang menatap kearah sebuah apartemen yang cukup mewah.


Fany merasa kalau orang itu mirip Charles. "Benar itu Charles. Pak stop sampai sini saja," Fany menghentikan taksi yang ia naiki lalu menyodorkan uang kepada sopir itu dan keluar dari taksi.


Charles yang menyadari kedatangan seseorang langsung membalikkan badannya.


“Fany,” Sapanya.


"Charles. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Fany.


"Aku sedang menatapi rumah baruku. Bagus tidak?"


"Apa? Kau pindah ke sini?" Fany seakan tidak percaya kalau ia akan sekompleks dengan Charles.


"Iya. Dan kita akan jadi tetanggaan,” tutur pria itu.


"Tetangga? Rumahku saja jauh di ujung sana."


"Yang jelas tempat tinggal kita satu kompleks, kan?”


"Terserah. Kau tinggal sendiri disini?”


"Iya. Kebetulan sekali. Apa kau mau membantuku menyusun barang-barangku ke dalam rumah baruku?”


Fany berpikir sejenak lalu menatap ke arah Charles dengan cukup lama dan itu membuat Charles sedikit cemberut.  Fany tertawa lalu tersenyum pertanda dia setuju untuk membantu Charles. “Oke. Kebetulan juga, aku tidak ada kerjaan. Membantumu disini, sepertinya tidak masalah.”


Mereka pun masuk ke dalam apartemen baru milik Charles yang ada dilantai 2.


Benar saja, Fany benar benar membantu Charles dengan meletakkan barang-barang pada tempatnya. Setelah cukup lama akhirnya mereka selesai menata barang barang Charles.


"Tunggu ya. Aku buatkan minuman dulu."


Wanita cantik itu mengangguk kepala dengan cepat. Sebenarnya Fany memang sangat haus sekali saat ini.


Fany juga merasa lelah. Oleh karena itu ia memilih duduk dekat sofa sembari menunggu kedatangan Charles. Tak lama kemudian, Charles pun datang dengan membawakan segelas jus jeruk segar dan segera memberikan kepada Fany.


Fany yang benar-benar sangat haus pun langsung menyeruput minuman itu sampai tandas dan langsung cegukan. Charles yang mendengar itu langsung tertawa dan sontak membuat Fany malu. “Makanya minum itu harus pelan pelan,” Charles mengusap rambut puncak kepala Fany.


🌷🌷🌷


Austin terlihat sedang serius mengikuti rapat dan mendengarkan presentasi. Tapi lama kelamaan pikirannya tertuju pada Fany sehingga membuat Austin tidak mempedulikan penjelasan stafnya.


"Apakah Fany sudah makan?" Gumam Austin.


Roy berdiri tepat di samping Austin tentu mendengar kalimat Austin walau samar. Yang jelas dia mendengar Austin mengucap kata makan dan Fany. Mendengar itu, Roy hanya mengelengkan kepalanya.


‘Oh My God. Dia masih sempat-sempatnya memikirkan istrinya saat sedang rapat’ batin Roy sedikit merasa kesal karena Austin tidak fokus pada rapat kali ini.


‘Kenapa sih mereka mengadakan rapat hari ini? Seharusnya saat ini aku sedang makan siang dengan Fany?’ batin Austin yang juga merasa kesal terhadap Staff di kantornya.


Karena merasa bosan, Austin langsung berbicara kepada staffnya. Suaranya menghentikan sang moderator yang belum menutup rapat mereka. Kelamaan pikir Austin.


"Rapat sudah selesai. Kalian bisa bubar," ucap Austin dan para staff pun langsung beranjak pergi.


***


To Be Continued


Salam dari Author


Insani Syahputri


saranghae semuanya


^^^03 Februari 2022^^^