I Choose You!

I Choose You!
Sulitnya Menerima Kebaikan



Pelukan itu membuat Alona terdiam.


Kemudian terdengar suara lirih Lita yang meminta kakaknya untuk segera membawanya pergi dari rumah itu.


"Ada apa denganmu?" tanya Alona heran.


"Kita pergi saja dari rumah ini. Aku melihat Kakak tidak bahagia tinggal di sini. Aku juga tidak mau melihat Kakak seperti ini," ucap Lita.


Alona menyeritkan alisnya. "Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, Lita!"


"Aku tidak ingin Kakak hidup tertekan karena harus terbebani olehku. Sebaiknya aku berhenti sekolah saja dan mencari pekerjaan," ujar Lita.


Alona melepaskan pelukan adiknya. "Bicara apa kamu ini!"


"Aku tidak suka kamu bicara seperti itu, Lita. Kamu ini masih kecil, sekolah itu penting dan kamu tetap harus sekolah!" tegas Alona.


"Bukankah aku sudah mengatakan, jika kamu tidak perlu memikirkan apapun kecuali sekolah dan masa depanmu?" lanjut Alona. "Kamu lihat ini," tunjuknya.


"Kak Kenzie telah memberikan kita seragam sekolah dan peralatan sekolah kita. Masa iya semuanya akan di anggurkan begitu saja karena kamu melihat aku tidak bahagia tinggal di sini,"


"Siapa bilang kalau aku tidak bahagia tinggal di sini? Aku sangat bersyukur ada orang sebaik Kak Kenzie, hm?" tukas Alona, dengan senyuman palsunya.


Alona tidak ingin membuat adiknya berpikir untuk kerja lagi. Apapun demi adiknya, Alona akan melakukan yang terbaik untuk masa depan Lita.


Dalam diamnya, Lita berpikir tentang hubungan yang dimiliki oleh kakaknya dan pria dewasa itu. Kemudian Lita pun bertanya, "Hubungan kakak dengan Kak Kenzie itu—seperti apa?"


"Selama ini Kakak belum pernah cerita tentang Kak Kenzie. Lalu sejak kapan kakak mengenalnya? Lagi pula Kak Kenzie begitu baik kepada kita, pasti hubungan Kakak dengannya tidak sederhana 'kan?" lanjut pertanyaan Lita.


"Kakak tidak perlu menjawab sekarang. Aku akan menunggu jawaban ketika Kakak sudah siap." Lita beranjak dari sofa.


Gadis kecil itu kembali ke kamarnya, begitupun dengan Alona yang sebelumnya hanya diam menunduk. Dahulu Alona seorang gadis yang ceria dan penuh semangat. Namun keceriaan itu hilang seketika semenjak orang tuannya tiada dan beban hidup dirinya sendiri serta adiknya yang ditanggung sendiri.


"Ibu, Ayah, aku harus bagaimana sekarang? Orang yang saat ini baik padaku, sungguh sulit ditebak. Dia terkadang jadi baik, terkadang juga aku takut padanya," gumam Alona, menatap langit malam melalui jendela kamarnya.


"Tapi aku tidak bisa menolaknya. Hanya saja, aku masih takut dengannya, Ayah, Ibu. Tapi dia sungguh baik padaku, dia berani menjamin masa depanku dan Lita, aku harus bagaimana, Ayah, Ibu? Apa kalian mendengarku?" Alona mengeluh.


Sebenarnya kamar yang disiapkan untuk Alona ternyata kedap suara. Sengaja Kenzie memberikan kamar tersebut untuknya. Masih menjadi rahasia Kenzie mengapa ia memberikan kamar itu.


Puas menatap langit dengan penuh harap orang tuanya bisa mendengar setiap keluhannya, Alona duduk di sofa dan kemudian tertidur karena lelah menangis.


Entah dari mana Kenzie bisa masuk ke kamarnya Alona. Pria itu menggendong tubuh kecil Alona dan memindahkannya ke ranjang. Tak lupa juga Kenzie menyelimuti tubuh kecil Alona.


'Kamu ketiduran karena lelah menangis. Apakah di sisiku kamu merasa tidak bahagia? Apa aku terlalu memaksamu?' batin Kenzie.


Pria itu masih terus menatap Alona. 'Aku menyukaimu.' imbuhnya.


Kenzi juga memberanikan diri untuk membelai pipi Alona dengan kelembutan. Pria itu berharap banyak pada Alona, meski ia harus tetap berusaha merebut hati gadis kecil yang telah tidur di depan matanya.


Sementara itu di kamarnya Lita, dia terus saja memikirkan kata-kata yang menjadi topik obrolan kakaknya dan juga Kenzie. Gadis kecil itu merasa jika kakaknya sungguh tertekan dengan keadaan itu.


"Ah!"


"Jangan-jangan Kak Kenzie ini adalah sugar daddynya kakak!" duganya.


Gadis kecil itu terus berpikir.


"Ah, mana mungkin!" serunya.


"Kakakku adalah gadis yang baik. Tidak mungkin dia memiliki sifat seperti itu, memiliki sugar daddynya? Oh, tidak!"


Lita terus meyakinkan diri untuk tetap berpikiran positif pada kakaknya. Remaja cantik ini segera tidur dan melupakan tentang kakaknya sementara waktu.


***


Mentari pagi hari sebelum memulai kegiatan, sudah begitu terik. Cahaya yang menerobos dari ventilasi kamarnya membuat Alona terbangun. Cahaya matahari tersebut membuat silau matanya. Ketika terbangun, Alona merasa aneh. Dia sangat sadar bahwa dirinya tidur di sofa semalam. Ketika bangun, Alona sudah mendapati dirinya berada di atas ranjang.


"Eh, kenapa bisa aku disini? Bukankah semalam ...." Alona masih belum mengumpulkan nyawa.


Gadis itu mencoba untuk mengingat, tetap saja sulit baginya untuk mengingat apakah dirinya memang tidur di ranjang karena daya ingatnya ia sedang duduk merebahkan kepalanya ke sofa semalam.


"Hm, sebaiknya aku mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Lagipula aku juga tidak tahu jalan pergi ke sekolah, jadi untuk antisipasi aku harus berangkat pagi-pagi," katanya, beranjak dari ranjang.


Alona tidak tahu saja jika semalam Kenzie masuk ke kamarnya. Secara khusus Kenzie memberikan kamar tersebut untuknya. Pasti ada misi tersembunyi dari pria berusia 30 tahun itu.


Setelah Alona selesai, ia segera keluar dari kamarnya. Langkah Alona kemudian ke meja makan. Disana, dia sudah melihat adanya Kenzie dan Lita sedang menunggunya sarapan.


'Sepagi ini, dia dapat kemari? Untuk apa?' batin Alona bertanya-tanya.


"Selamat pagi, Alona," sapa Kenzie.


Alona membalas sapaan Kenzie hanya dengan senyuman kecil. Awalnya Alona enggan untuk sarapan bersama dengan pria itu. Tapi karena tidak ingin membuat Lita kembali bertanya seperti pertanyaan semalam, terpaksa Alona duduk di samping Kenzie. Hanya kursi di sampingnya yang tersisa.


"Setelah ini aku akan mengantar kalian ke sekolah. Bekal juga sudah tersedia disana. Ambil masing-masing satu, Venus sudah menyiapkan untuk kalian," kata Kenzie, melahap roti bakarnya.


"Okay, Kak Kenzie!" Lita terlihat bahagia, ia sampai bersorak kegirangan.


"Sekolahku dengan sekolah Lita berlawanan arah. Jika Kak Ken ingin mengantar, makan ntar saja Lita!" usul Alona.


Entah apa yang dipikiran Alona, hari itu dia memanggil Kenzie dengan nama Ken saja. Dari sana Kenzie merasa bahagia karena merasa dekat dengan Alona.


Senyuman Kenzie membuat Lita salah paham. Remaja itu tetap mengira jika Kenzie dan kakaknya memiliki hubungan yang tidak biasa. Sejujurnya Lita juga menginginkan kebahagiaan untuk kakaknya. Pikirnya saat itu hanya Kenzie yang mampu membuat sang Kakak bahagia.


'Hm, aku yakin jika Kak Kenzie ini menyukai kakak. Hanya saja perasaan kakakku yang tidak peka. Dasar!' batin Lita, memutar bola matanya.


"Tidak, Alona!" seru Kenzie. "Aku akan tetap mengantar kalian berdua. Segera habiskan dan kita akan berangkat setelah ini." Kenzie tetap bersikeras.


Apakah Alona menerimanya?