
'Kak Kenzie, apakah kamu tahu? Aku baru saja membuka hatiku dan mengepahkan layar kapalku. Rupanya ... Kapalku ini karam sebelum berlayar, rasanya sakit sekali,' batin Alona, memandang langit dari atas langit.
Sesekali tangannya menggenggam cincin yang pernah Kenzie berikan padanya. Air matanya mulai mengalir lagi dari sudut mata indahnya.
'Suatu saat, aku pasti akan kembali membawa kesuksesan untukmu. Aku tidak akan pernah melupakan jasamu yang telah memberiku dan adikku kehidupan layak serta kenikmatan yang mungkin tidak pernah bisa aku raih sendiri.'
***
Hari pertama di Singapura.
Alona masih belum mahir berbahasa Inggris. Maka dari itu, ia juga harus mengambil kuliah bahasa di pagi hari sebelum masuk teater dan khusus vokal. Sementara itu, Andre juga menempatkan gadis itu di apartemen yang sudah Kenzie siapkan untuknya. Disana juga sudah lengkap beserta isinya. Bahkan sampai kulkas saja sudah dipenuhi oleh Kenzie.
"Semua sudah tersedia lebih dari cukup di sini. Kira-kira berapa harga yang harus aku bayar?" tanya Alona.
Andre menyudutkan bibirnya, tersenyum tipis dengan tanggapan Alona..
"Ini semua sudah disiapkan untukmu. Jadi kamu hanya tinggal menempati dan menikmatinya saja," jawab Andre.
"Apartemenku ada di samping, jika kamu butuh apapun, hubungi saja aku. Sementara aku akan menjadi walimu disini sampai Justin kembali," hanya itu yang Andre katakan dan langsung pamit pergi.
Pintu tertutup, Alona masih bingung harus bagaimana lagi, karena pasti yang menyiapkan semuanya adalah Kenzie. Sangat tidak mungkin jika Justin dan Andre yang menyiapkan, karena keduanya belum lama mengenal Alona.
"Kemungkinan mereka hanya membantu. Aku sangat yakin jika semua ini disiapkan oleh kamu—Kak Kenzie,* gumamnya.
Alona memasuki kamar barunya. Sungguh tak diragukan lagi, dekorasi kamar itu juga sesuai dengan seleranya. Begitu rapi dan bersih, bernuansa serba putih dan merah muda.
Kemudian, Aloma membuka lemari pakaiannya. Sungguh sangat dibuat terkejut karena di dalamnya sudah banyak baju yang sangat indah. Ia juga pasti berfikir bahwa semua itu tidak jauh dari sentuhan tangan Kenzie.
"Mau kamu apa, Kak? Kamu mau menikah dengan orang lain, tapi tidak mau melepaskanku sepenuhnya,"
"Bagaimana ini? Aku malah semakin mencintaimu. Hatiku sangat terluka karena mencintai orang yang tidak bisa aku miliki,"
Air mata kembali menetesi pipinya. Mencintai seseorang dan ikhlas melepaskan itu adalah bentuk dari ikhlas tertinggi dalam sebuah hubungan.
Pesan dari Andre.
"Lagi-lagi dari kami? Yang dimaksud kami itu itu, Kak Kenzie, kan?" gumam Alona.
balas Alona.
Sebenarnya Alona masih ragu akan pernikahan Kenzie dengan Jeanne. Ia berpikir jika keduanya adalah orang kaya dan tidak semestinya melaksanakan pernikahan secara diam-diam atau sederhana.
Dalam pemikirannya, pernikahan orang kaya seperti keluarga Kenzie ini harus dipublikasi, bukan malah diam-diam saja. Hal itulah yang membuat Alona sangat yakin jika dirinya tidak salah mencintai Kenzie. Mau bagaimanapun juga, Alona belum percaya jika Kenzie dan Jeanne belum melangsungkan resepsi yang besar-besaran seperti layaknya orang kaya yang berpengaruh.
***
Di tanah air, Lita—adik kesayangan Alona sedang menemui pria yang dicintai Kakaknya. Gadis itu memperingati Kenzie itu tidak memainkan perasaan kakaknya.
"Kakak maunya apa? Kamu telah melukai hati Kakakku. Tapi kenapa juga memberikan harapan padanya? Apakah Kak Kenzie senang membuat Kak Alona kebingungan seperti itu?" protes Lita.
"Kamu masih kecil, kamu tidak tau apa-apa," Kenzie menepis protesan Lita.
"Berhenti seperti ini, Kak!" kesal Lita, ia sampai memukul pahanya sendiri. "Kakakku adalah orang yang baik. Jika Kak Kenzie bisa mengatakan kejujuran ini padanya, aku yakin ke Alona tetap akan menerima apapun kondisi Kakak yang seperti ini,"
"Kak Alona itu tulus mencintaimu, Kak! Meskipun awalnya ia merasa kalau telah berhutang budi banyak padamu,"
"Tapi perlu Kak Kenzie ketahui, setelah ke Alona mendapatkan undangan dari calon istrinya Kak Ken ... Aku melihat Kak alone sepertinya depresi sekali dan ingin bunuh diri. Dia sampai melukai tangannya sendiri menggunakan cutter," Lita tiba-tiba menangis.
"Apa?!"
"Alona melukai tangannya?"
"Lalu bagaimana dengan keadaannya? Kenapa Andre dan Justin tidak mengatakan apapun!" Kenzie saking paniknya, tangannya sampai mencengkram kursi rodanya dengan keras.
Lita melihat reaksi Kenzie dan berpikir lebih jauh lagi. Gadis kecil itu terus mengompori perasaan Kenzie supaya mau jujur pada Alona. Kebutaan yang dialami Kenzie tidak mungkin Alona menolaknya. Lita sangat yakin jika kakaknya mau menerima Kenzie dalam keadaan apapun.
Yang dilakukan Lita sudah benar, Lita takut jika Alona perlahan mampu melupakan Kenzie. Bagi Lita, Kenzie adalah pria yang sangat cocok untuk kakaknya. Cinta Kenzie pada Alona juga tidak main-main. Maka dari itu, Lita ingin menyatukan keduanya.
"Aku pulang dulu, Kak. Aku mohon pikirkan lagi baik-baik apa yang aku katakan tadi. Permisi—" Lita pamit pergi dari kamar Kenzie.
Diluar kamar, terlihat Justin dan Jeanne sudah menunggunya keluar. Kali itu Kita mengatakan pada keduanya jika dirinya gagal lagi meyakinkan Kenzie untuk berterus terang pada Alona. Hubungan mereka sudah berjalan lama, Lita yakin jika cinta mereka bukannya memudar, tapi malah semakin tumbuh besar.
"Kali ini aku gagal lagi," ucap Lita.
Celana pas kasar terdengar dari bibir Justin dan Jeanne secara bersamaan.
"Bagaimana ini?" tanya Jeanne. "Aku takut ada seorang pria yang mengejar Alona di sana. Antri tidak mampu menjaga Alona setiap saat, Apakah aku yang harus berkata jujur pada Alona?"
"JANGAN!" tolak Lita dan Justin bersamaan.
"Sttt, kalian ini ...." Jeanne membungkam bibir mereka.
Jeanne pun menarik keduanya untuk menjauh dari kamar Kenzie supaya bisa leluasa bicara.
Sementara itu, Kenzie malah sedang berdebat dengan dirinya sendiri di kamar.
"Tidak! Alona harus fokus menggapai mimpinya dulu. Andai aku menceritakan keadaanku padanya, pasti dia akan panik, dan masa pendidikannya akan terganggu," gumamnya.
"Aku harus mampu bersabar. Jika dia memang jodohku, seharusnya aku bisa meyakinkan diriku sendiri,"
"Pasti dia akan setia padaku meski hatinya terluka karena aku,"
***
Sore hari telah tiba. Andre mengajak Alona berkeliling di sekitar tempat tinggal dan kampusnya. Banyak yang pria itu ceritakan waktu itu. Tetapi pikiran Alona malah masih tertinggal di tanah air. Andre sampai harus berusaha keras untuk tidak membuat Alona teralihkan perhatiannya.
"Lona, kamu kenapa murung terus?" tegur Andre.
"Setidaknya kamu anggap akulah disampingmu. Aku ini juga manusia. Kenapa? Apa Kenzie lagi?" Andre malah menyebut nama Kenzie dan membuat Alona bersedia.
Hiks ... hiks ...
"Loh?" Andre panik ketika Alona mulai menangis.
"Aku mencintainya, Kak. Aku sangat, sangat, sangat mencintainya," Alona mulai mengontrol emosinya.
Ia menangis tersendat-sendat sampai membuat bicaranya sulit.
"Dia … di-dia … kenapa dia malah memblokir nomorku, dia juga menjauhi diriku. Tapi kenapa dia juga membantuku sampai sekarang, bahkan baju ini, aku ambil dari lemari itu. Pasti Kak Kenzie kan yang memilihkannya untukku?"
Alona menangis semakin menjadi-jadi. Membuat Andre sampai bingung karena saat itu mereka berada di tempat umum.
"Jangan menangis, aduh ... Sudahlah ya, kamu jangan pikirkan hal ini lagi, kamu harus fokus mengejar cita-citamu. Stop, stop crying, please ....."