
"Shhh, aku masih tidak menyangka jika Kak Jean telah menjadi ibu, tapi bukan anaknya Kak Ken," gumam Alona, sambil berjalan.
"Lalu, selama ini—"
Ketika Alona menghampiri kelasnya Tom, ia tak sengaja melihat Tom sedang menyapu kelas. Pearl yang menyukai pria itu pun langsung membantunya. Ia bahkan menggantikan posisi Tom yang saat itu sedang menyapu.
"Hei, Kak Tom, kamu sedang apa? Menyapu? Tugas ini kan sudah ada pihak kebersihan?" Alona menyapa Tom.
"Aku dihukum Senior Danish. Hmm, ada beberapa nada yang salah saat aku menyanyi tadi. Kalau kalian sudah mau pulang, pulang saja duluan, tidak apa-apa," jawab Tom dengan senyuman.
Alona dan Pearl saling berpandangan. Bagi Alona sendiri, pulang tanpa Tom juga tidak masalah baginya. Tapi Pearl, gadis itu menyukai Tom. Jadi ia ingin sekali bisa pulang bersama dengan pria yang ia sukai.
"Sebenarnya Alona juga sudah harus bekerja paruh waktunya," ujar Pearl.
"Lalu, bagaimana jika aku saja yang membantumu, Kak? Biarkan aku yang menyapu saja. Kamu duduk manis saja disini," usul Pearl mengkode Alona supaya meninggalkan mereka berdua.
Alona yang langsung mengerti akan kode tersebut, ia pun pamit akan pulang terlebih dahulu. Sepengetahuan Alona juga dari Vegas, Tom ini seorang pria yang kurang baik sebenarnya. Tom selalunya berkata manis saat ada Alona bersamanya. Akan tetapi, dia akan menunjukkan sifat aslinya di depan Pearl.
'Apa mau Pearl ini? Sudah aku katakan jika Kak Tom pria yang kurang baik. Masih saja dia tidak mau percaya padaku,' batin Alona.
"Baiklah kalau begitu, karena waktu juga terus berputar, aku mau pulang duluan. Tidak lama lagi aku akan pindah ke Korea untuk ambil jurusan sastra. Jadi ..." Alona belum sempat melanjutkan ucapannya. Ia langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.
Alona masih berteman dengan Tom karena dari segi kualitas vokalnya masih di bawah Tom. Itu juga karena sahabat Alona—Pearl, juga menyukai pria itu. Terpaksa ia juga harus dekat dengan Tom.
Begitu Alona pergi, Tom memulai aksinya.
"Pearl, namamu Pearl 'kan? Kamu sungguh manis sekali," ucap Tom memandangi tubuh Pearl dari atas sampai bawah dengan wajah yang menjijikkan.
"Rambutmu yang lurus ini, terlihat lebih indah dibandingkan rambutnya Alona," imbuhnya.
"Hmm, kamu terlihat lebih ... Seksi," desis Tom, ke telinga Pearl.
Sesungguhnya Pearl sudah dibutakan oleh rasa cintanya, ia pun hanya diam saja ketika tangan Tom sudah mulai nakal. Tangan itu menyentuh tubuh bagian lengan Pearl, sesekali juga menyentil dagu Pearl yang sedikit lancip itu.
"Benar juga, aku memang sungguh manis sekali. Sayang jika dilewatkan," ujarnya.
Perlahan Tom mengangkat wajah manis Pearl secara perlahan. Kemudian diciumnya Pearl dengan sangat bringas. Pearl hanya mendesah saja tanpa perlawanan, baginya disentuh Tom adalah hal yang sudah ia dambakan.
"Shhh ...."
Tom benar-benar memanfaatkan cinta Pearl demi bisa menyaljtkan hasrat yang sudah lama ia pendam. Keduanya bercumbu mesra di kelas dan sesekali tangan Tom masuk ke belahan melon besar milik Pearl.
Kegilaan itu berlangsung juga di apartemen milik Alona. Memang sejatinya Pearl masih tinggal bersama sang sahabat sejak beberapa bulan lalu, jadi ia bisa bebas keluar masuk apartemen sesuka hati.
"Ahh.. terus sayang, aku benar-benar menikmati semua permainanmu," suara berat Tom itu terdengar menjijikkan.
"Hmm, apa ini cukup?" Pearl sampai bergetar suaranya.
"Belum, tekan lebih dalam lagi," pinta Tom, suaranya benar-benar membuat mual.
Mereka melakukan hal itu dimalam hari. Saat itu Alona juga sudah pulang. Hari itu sangat melelahkan baginya karena banyak sekali pelanggan yang masuk di tempak kerja paruh waktunya. Saat ia duduk di sofa dan meminum susu hangatnya, ia mendengar suara ******* laki-laki dan perempuan di dalam kamarnya.
"Ahh...." Desah seorang laki-laki.
"Uhh, perlahan," desah seorang perempuan.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Alona, ketika menegur keduanya.
"Kalian sangat menjijikkan!"
"Kalian! Jika ... jika kalian ingin melakukan seperti ini, cari tempat lain!" Alona tersulut emosi.
Benar adanya emosi Alona langsung membara. Saat itu, emosi Alona juga meletup karena mereka berbuat asusila dengan memakai kaos pasangan yang dimiliki oleh Kenzie dan dengannya.
"Alona, aku bisa menjelaskan semua ini," Pearl mencoba menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Tidak ingin membuatnya terlibat dalam masalah, Tom dengan teganya langsung menyekap mulut Alona dan ingin menggaulinya juga. Saat itu Alona beruntung sekali di tangannya masih membawa ponsel. Saking paniknya, ia sembarangan memencet ponselnya dan kebetulan sekali terhubung dengan ponselnya Kenzie.
"Kak! Kak Tom! Hei, Kak!" teriak Alona, berusaha untuk melepaskan diri.
"Kak Tom? Kamu jangan apa-apakan Alona, Kak! Tolong lepaskan dia, aku mohon jangan!" Pearl juga sampai memohon.
"DIAM!" sentak Tom pada Pearl.
Santakan itu membuat hati kecil Pearl terluka.
"Aku sudah menikmatimu dan aku bosan denganmu. Sekarang giliran aku akan menikmati tubuh wanita yang sangat aku cintai ini," tangan Tom mulai bergerilya, tangannya di tubuh putih dan mulus milik Alona.
Alona melirik ke arah ponselnya. Ia melihat bahwa yang terhubung oleh pnselnya adalah kontak milik Kenzie. Alona pun memanfaatkan keadaan tersebut untuk berteriak minta tolong pada Kenzie.
'Halo, ada apa?' suara Kenzie terdengar.
"Kak Ken! Kak, tolong aku, aku akan di leceh ... mmm, mmmm. Kak! Tolong aku, Kak Ken!" Alona tetap berusaha berteriak semaksimal mungkin meski bibirnya terus dibekap oleh Tom.
'Alona, apa maksudnya? Alona?'
Telepon tersebut langsung dimatikan oleh Tom. Pria ini tertawa merasa dirinya sudah menang dan segera ingin menikmati tubuh Alona yang masih gadis.
Sementara Kenzie sangat marah mendengar Alona dalam masalah. Pria yang memiliki gangguan dalam penglihatan ini langsung menelepon Andre dan Justin yang di mana memang malam itu akan tiba di Singapura untuk menjemput Alona pulang liburan minggu depan.
Kebetulan sekali memang kedua sahabatnya itu sudah sampai di apartemen nya masing-masing pun langsung berlari menuju apartemen Alona.
'Cepat kalian menuju apartemen Alona. Dia sedang ada dalam masalah dan Jangan banyak bertanya segera pergi ke apartemennya!' perintah Kenzie.
"Ha? Aku baru sampai, ayolah ...." Justin mengeluh.
Meski Justin sering mengeluh tentang perintah Kenzie yang selalu mendadak, tetap saja dia melakukan apa yang diperintahkan oleh sahabatnya. Justin dan Andri pun langsung menuju ke apartemen Alona yang berada di sebelah apartemen mereka.
"Apakah juga mendapatkan telepon dari Kenzie?" tanya Andre.
Justin mengangguk.
"Baiklah, ayo kita segera kesana," ajak Andre.
Sesampainya di depan apartemen Alona tinggal, pintu tidak ditutup kembali dengan rapat. Ternyata pintu tersebut terganjal oleh sepatu milik Alona sendiri.
Segara mereka berdua masuk dan mencegah aksi kejahatan yang akan dilakukan oleh Tom. Sementara itu, Kenzie juga akan pergi ke Singapura bersama dengan Lita, ini kali pertama pertemuan bagi Kenzie dan Alona sejak 1 tahun berpisah. Apakah yang akan terjadi?