I Choose You!

I Choose You!
Kecemburuan Kenzie



"Apa kamu dan dia ..." ucapan Leon terhenti.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi," Alona mencoba untuk mengalihkan suasana.


Leon menjadi tidak tega meninggalkan sahabatnya di jalan sendiri meski memang sebelumnya sudah makanan sehari-sehari bagi Alona mengais rezeki di jalanan. Leon pun kembali menawarkan tumpangan untuk Alona dan mengantarkannya pulang.


"Bagaimana kalau kamu ikut denganku saja? Aku akan mengantarmu pulang sampai ke rumah yang baru," ajak Leon.


"Apa maksudnya? Kamu tahu aku tinggal di mana sekarang?" tanya Alona gugup.


Leon melakukan kepala dengan pelan. Dia mengakui ketika Alona dibawa oleh Kenzie pergi saat itu, dia sedang berada di belakangnya untuk memastikan bahwa sahabatnya benar-benar diberi tempat tinggal yang layak.


"Jadi ... Kamu telah mengetahui segalanya tapi tidak memberitahuku?" Alona sedikit kecewa.


"Hanya saja aku dan Shasha—" ucapan Leon kembali terhenti.


Tidak ingin menambah rumit hubungan yang pernah retak sebelumnya, Alona tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Gadis ingin menyetujui untuk pulang bersama dengannya.


***


Saat di lampu merah, motor Leon berhenti tepat di samping mobilnya Kenzie di saat itu tiba-tiba sudah ada sopir pribadinya di dalamnya. Kenzie tidak buta, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Alona terlihat bahagia membonceng Leon.


"Tuan, bukankah itu Nona Alona?" tanya sang supir.


Melihat tangan Alona yang merangkul ke pinggang Leon membuat Kenzie semakin kesal padahal sudah seperti biasa Alona membonceng Leon dengan merangkul pinggang ramping.


"Sialan!"


"Gadis itu malah pamer kemesraan dengan pria lain di depan mataku," gumam Kenzie.


"Tidak! Ini tidak bisa diberikan!"


Tingkat kecemburuan Kenzie memang semakin meningkat. Dia kesal dan bahkan sampai turun hanya untuk menghampiri dimana Alona berada


"Alona!" panggil Kenzie dengan suara yang tegas.


Namanya dipanggil, tentu saja Alona menoleh.


"Kak Kenzie?" sebut gadis itu lirih.


"Turun! Ikut aku, sekarang!" Kenzie langsung mencengkram tangan Alona dengan kasar hingga membuatnya kesakitan.


"Sakit, lepasin aku!" Alona memberontak.


"Woy!" Leon menahan kepergian Alona. "Jangan kasar-kasar lah dengan perempuan. Jika dia tidak mau ya jangan dipaksa. Kenapa harus menariknya seperti ini di depan umum?" Leon ternyata berani juga menegur Kenzie.


Perasaan cemburunya Kenzie semakin meningkat. Pria itu emosinya menyulut seperti api yang sedang berkorban begitu besar. "Sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur!" pria ini menepis.


"Aku adalah calon suaminya, kamu tidak berhak ikut campur, paham?!" Kenzie jika dalam mode serius sedikit menakutkan.


"Heh, baru juga calon, belum jadi istri sepenuhnya. Kenapa Anda terlalu terburu-buru, Tuan? Bahkan jurusan itu pun masih ada waktu 2 bulan lagi," Leon menyahut.


Sebenarnya mau saja bagi Kenzie untuk berdebat bersama dengan Leon, tapi dia sadar akan posisinya saat itu masih berada di lampu merah yang sebentar lagi akan berubah menjadi warna hijau.


"Kita lihat saja nanti," desis Kenzie dengan kesal.


Tingkat emosinya Kenzie memang sudah tingkat tinggi. Tapi tetap saja Kenzie masih bisa menahannya. Leon menarik jangan lupa dengan sekuat tenaga. Bukan hanya ditarik saja, di belakang Alona mengalami keburukan kekerasan juga. (Kekerasan keuwuan)


"Kak, jangan seperti ini," Alona meronta.


"Lebih baik kamu patuh, Alona!" tugas Kenzie.


Alona terus saja membuka suara, sampai ngomel sendiri. Tapi apa yang Kenzie lakukan? Dia ...


Cup!


Yah, Kenzie mencium bibir Alona secepat kilat. Cara itu rupanya sangat efektif untuk membuat gadis itu terdiam dan patuh.


Lampu merah segera berganti ke hijau. Kenzie menancap gas mobilnya dengan kecepatan penuh. Sampai membuat Alona tidak tahu mengapa pria itu sampai se-marah itu padanya. Alona berpikir, bahwa dirinya hanya membonceng Leon saja sebelum akhirnya dipaksa untuk turun.


"Kak, apa yang kamu lakukan ini? Aku masih mau hidup!" Alona mencengkram erat erat jok mobilnya karena Kenzie menyetir tidak kira-kira.


Tak ada jawaban apapun dari Kenzie. Pria itu hanya diam dan menambah laju kecepatan mobilnya. Ketika melewati perumahan di mana Alona tinggal, membuat Gadis itu semakin takut. Tidak tahu apa yang akan Kenzie lakukan padanya.


"Kak, kita melewati pintu masuk kompleks. Sebenarnya kakak mau bawa aku kemana?" Alona semakin panik.


Lagi-lagi Kenzie hanya diam saja. Dia tetap fokus menyetir tanpa menghiraukan apa yang Alona tanyakan. Gadis manis itu menjadi sedih, dia tahu betul jika dirinya telah membuat Kenzie marah. Alhasil, Alona memilih untuk duduk tenang.


1 Jam berlalu, Alona semakin tidak tahu mau dibawa kemana oleh Kenzie. Tepatnya, tempat yang mereka tuju rupanya jauh juga jalannya. Bahkan beberapa rumah di daerah sana saja terlihat jarang sekali, jaraknya jauh-jauh. Membuat Alona semakin takut dengan pria bertubuh besar itu.


'Sebenarnya ini mau kemana, sih?' gumam Alona dalam hati.


Berhentilah mereka di sebuah rumah besar dan megah.


'Ini villa?' batinnya.


"Ini villa siapa, ya?" tanya Alona, waspada.


Tak ada jawaban dari Kenzie, pria itu turun dari mobilnya dan menggendong Alona masuk ke dalam villa itu. Saat pintu mobil terbuka dan Kenzie menggendong Alona, disana Alona menjadi semakin takut. Gadis ini malah membeku tanpa bisa mengatakan apapun.


Begitu masuk, disana hanya ada satu keluarga yang menempatinya. Yakni sepasang suami istri dan satu anak perempuannya. Mereka tinggal disana untuk merawat Villa yang rupanya milik Kenzie.


"Turunkan aku!" akhirnya Alona bisa meronta.


Kenzie terus berjalan melewati satu keluarga itu. Membawa Alona ke kamar yang sangat besar dan rapi.


"Kak!"


"Turunkan—"


Belum sempat meronta-ronta lagi, Kenzie melempar tubuh kecil Alona ke ranjang yang sangat besar nan empuk. Kemudian Kenzie mengunci pintunya.


Klik~


Kenzie berbalik menatap Alona dengan wajah kemarahannya yang sudah memuncak, ia menindih tubuh kecil Alona.


"Gadis kecil, dengarkan aku," desis Kenzie, saat mendidih tubuh Alona..


"Aku tidak suka jika kamu dekat dengan laki-laki lain meskipun itu adalah teman sekolah. Kamu tahu? Kamu hanya akan menjadi milikku seorang!" lanjut Kenzie, wajahnya begitu dekat dengan wajah gadis kecilnya.


!!!


Alona tidak percaya apa yang dia dengar. Selain memiliki kebaikan yang luar biasa, ternyata pria itu lebih agresif dan posesif jika sudah mengklaim bahwa hal tersebut adalah miliknya.


"Kak—"


"Kak, sakit ..." rintih Alona.


"Kenapa Kakak jadi seperti ini? Leon itu adalah sahabatku sejak kecil. Jika Kakak marah karena aku membonceng Leon hari ini tuh gara-gara Kakak!" Alona mencoba sekuat tenaga untuk mendorong tubuh Kenzie.


Tapi tetap saja yang namanya energi perempuan dan laki-laki itu berbeda. Sekuat tenaga apapun Alona mendorong tubuh Kenzie, tetap saja Alona tidak kuat untuk membuat Kenzie beranjak dari atas tubuhnya.


"Kak Kenzie!" teriak Alona.


Alona mulai memukul bahu Kenzie, tapi ganteng tas pensil langsung menggenggam kedua tangannya dan tanpa sengaja dada keduanya saling bertaut. Alona yang sebelumnya menatap dengan penuh kewaspadaan malah menjadi sangat tidak berdaya.


Gadis itu tiba-tiba menangis dan meminta maaf karena dirinya telah salah menerima bantuan dari Leon—sahabat karibnya.


"Baiklah aku minta maaf. Aku tidak akan lagi menerima tawaran dari lelaki manapun untuk mengantarku pulang," Alona malah seperti gadis kecil yang sedang merajuk pada kekasihnya.


Tanpa Alona sadari, dia juga sebenarnya telah menaruh hati pada Kenzie sejak pria itu menjadi tangan pertama yang sudi menolongnya setelah kedua orang tuanya meninggal.


"Aku ingin kamu menjadi kekasihku, Lona. Aku tidak ingin mengharapkan lebih darimu, aku hanya ingin kamu saja," ucap Kenzie dengan suaranya yang lembut.