
Setelah dipikir-pikir, Alona memang harus mau diantar oleh Kenzie. Semua itu lagi-lagi demi adiknya. Segera mereka berangkat setelah sarapan.
"Nona Alona, semuanya sudah ada di tas, ya. Semoga sekolah kalian lancar!" seru Venus.
Alona dan adiknya mengangkat jempol tangan mereka masing-masing. Tanda jika dia puas dengan kerja Venus untuk mereka.
"Okay, kita antar Lita dulu," ujar Kenzie setelah masuk mobil.
"Wah, Kak Kenzie memang baik sekali. Baru kali ini aku ke sekolah diantar mengendarai mobil. Pasti teman-teman pada memperhatikan aku nanti," Lita bereaksi seperti umumnya seorang remaja.
Setelah mengantar Lita, kini Kenzie langsung akan mengantar Alona ke sekolahnya. Sebelumnya ada Lita suasana mobil begitu asyik karena remaja itu banyak sekali bercerita. Tapi setelah Lita turun, suasana menjadi sunyi, Alona hanya berdiam diri saja di samping Kenzie. Ia merasa tidak nyaman meskipun di mobil juga ada supir dan Willy—asisten pribadi Kenzie. Mereka malah membuat Alona lebih tidak nyaman lagi.
'Ini kapan sampainya? Aku sudah merasa tidak nyaman sekali.' batin Alona.
Sekitar 20 menitan, akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah Alona. Membutuhkan waktu lebih lama karena karena jalanan sudah mulai padat.
Begitu berhenti, Alona cepat-cepat membuka pintu mobil dan segera masuk ke sekolah pikirnya. Namun baru saja mau membuka pintu mobil, tangannya ditarik oleh Kenzie.
Pria itu berisik, "Selesai nanti aku jemput. Kamu dilarang mengamen lagi di jalanan. Ada pekerjaan rumah yang menantimu, mengerti?"
Alona mengangguk. "Terima kasih atas tumpang hari ini, permisi ...." ucapnya, langsung pergi.
Selama Alona melangkahkan kaki masuk ke gedung sekolah, Kenzie terus saja memandangnya dengan senyuman tipis. Iya malah menertawakan dirinya sendiri karena telah menyukai gadis yang masih remaja berusia 18 tahun sedangkan dirinya sudah berkepala tiga.
'Hem, apakah aku seorang pedof? Tapi Alona bukan lagi di bawah umur. Dia berusia 18 tahun 'kan? Jadi tidak ada salahnya jika aku menyukainya,' batin Kenzie, masih dengan senyuman tipisnya.
"Tuan, saya melihat Nona Alona ini banyak sekali berubah. Ketika awal kita mengenal dulu ... dia adalah gadis periang dan banyak sekali bicara. Bahkan saya ingat betul bagaimana dia menceramahi anda," celetuk sang sopir.
Lamunan Kenzie yang indah terpecah karena supir pribadinya itu. "Sudahlah, ayo kita segera ke kantor." perintahnya.
Lalu di sekolah, Alona juga masih menjadi pendiam. Dia tak banyak bicara dari mulai datang hingga jam pelajaran dimulai. Kini, semua teman sekelasnya merindu Alona yang dulu, dimana Alona selalu membuat suasana kelas menjadi berwarna-warni.
"Hei, diam saja sejak tadi," tegur salah satu temannya.
"Iya, Alona. Kita tahu kamu masih sedih, tapi kan ... kelas sepi tanpamu, Lona," timpal yang lainnya.
"Hmm, aku juga masuk sekolah. Bagaimana kelas ini sepi tanpaku?" ucap Alona lemas.
"Astaga, maksudnya tanpa suaramu. Biasanya kamu akan bernyanyi untuk kita. Ayolah, nyanyi lagi ya ...."
Teman-temannya meminta Alona supaya mau bernyanyi. Namun tetap saja, Alona masih belum bisa memenuhi keinginan teman sekelasnya.
"Yah, kecewa kita. Please, sebentar saja sampai guru datang, Alona, please ..." temannya mendesak supaya Alona mau kembali bernyanyi.
Bukan maksud temannya tidak menghargai perasaan Alona uang masih berduka. Tapi memang begitu cara teman-temannya menghiburnya.
"Hei, kumohon," salah satu mereka sampai memohon dengan menyatukan tangannya. "Woy, kamu sahabatnya. Bantu kita membujuknya, Leon!" serunya.
"Hmm, aku tidak mau memaksanya. Tapi aku juga ingin mendengar Alona bernyanyi lagi," jawab Leon. "Jujur, Alona. Aku lebih suka kamu yang dulu daripada yang sekarang," imbuhnya, menatap Alona yang masih malas-malasan.
"Okay! Aku rela melakukan apapun demi mengembalikan suaramu yang merdu itu, Lona!" siswa bernama Yudis mengeluarkan gitar yang sebelumnya diambil oleh Leon dari ruang musik.
"Siap, Alona? One, two —"
Yudis mulai memetik gitarnya dengan lembut. Alona memejamkan matanya membayangkan hal indah, lalu membuka matanya kembali dan mulai bernyanyi.
Alona sangat menghayati lagu yang dinyanyikan. Diketahui, yang katanya ingin pergi ke kantor, ternyata malah mengintip Alona sampai ke kelasnya. Melihat Alona yang tersenyum manis membuat Kenzie ikut senang. Kini pria tau bagaimana cara mengembalikan senyum gadis kecilnya yang sempat menghilang.
Saking senangnya, Kenzie langsung menemui kepala sekolah. Ia mengusulkan setelah kelulusan nanti, Kenzie meminta acara pentas seni dan ia siap untuk mengeluarkan dana asalkan Alona terlibat dalam acara tersebut.
Kenzie mengeluarkan uang dengan jumlah yang sangat banyak secara cash untuk kepala sekolah supaya mau menyetujui permintaannya.
"Ah, Tuan. Sebenarnya ini bukan tentang uang. Pentas seni memang selalu kami adakan, tapi Tuan ... anda ini siapanya Alon, ya? Mengapa Alona harus terlibat, sedangkan dia saja sedang dalam berduka," tutur kepala sekolah.
"Teman-temannya mengeluh jika Alona sudah tidak mau bernyanyi lagi," imbuh pria perut gendut itu.
"Aku calon suaminya. Hm, aku lebih tahu Alona. Jadi aku ingin membuatnya bahagia setelah kelulusan nanti," jawab Kenzie. "Bahkan, juga pasti akan menikahinya setelah kelulusan tiba," sambungnya dengan santai.
Kepala sekolah tercengang dengan pernyataan Kenzie. Bagaimana tidak terkejut, ada orang yang berterus terang ingin menikahi gadis muda seperti Alona, meski gadis itu belum lulus sekolah. Tapi kepala sekolah cukup percaya saja apa yang dikatakan oleh Kenzie.
"Baik, saya setuju dengan permintaan, Tuan," ucap kepala sekolah.
"Tolong ceritakan tentang Alona saja padaku. Aku tidak ingin mendengar hal lain selain dirinya," Kenzie benar-benar sudah dimabuk asmara.
Sesuai dengan permintaan Kenzie, kepala sekolah pun menceritakan semuanya tentang gadis yang memiliki hobi bernyanyi itu ketika berada di sekolah. Bagaimana dia menjadi anak yang nakal, tapi selalu dapat ranking di sekolahnya, juga selalu saja ikut serta dalam mengikuti perlombaan apapun.
"Tapi akhir-akhir ini ... kami para guru menjadi kesepian karena biasanya tiap tiga kali dalam seminggu, Alona ini selalu datang kepada kami untuk menerima hukuman. Sekarang ...." ucapan kepala sekolah terhenti.
Dengan percaya diri, Kenzie menjelaskan bahwa sebagai calon suaminya akan berusaha membuat Alona bahagia. Hal itu membuat kepala sekolah semakin bingung dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
***
Istirahat telah tiba, para siswa berlarian pergi ke kantin untuk mengisi perutnya setelah kosong karena dipakai untuk berpikir.
"Woy, Lon! Tumben kamu jajan, biasanya juga bawa bekal?" tegur salah satu dari siswa disana.
"Asal kalian tahu saja. Alona sekarang jadi orang kaya. Mana mau lagi dia bawa bekal. Hmm, simpanan om-om yang seperti ini lah!" ucap Natasha, teman sekolah Alona yang tak pernah menyukainya.
Antara Alona dan Natasha ini sudah saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mengingat Alona selalu saja unggul, membuat Natasha tidak menyukainya. Selalunya dia membully Alona disaat ada kesempatan.
"Jaga ya ucapanmu itu!" Leon tentu saja tidak terima sahabatnya dihina.
"Oh, astaga. Si pahlawan kesiangan selalu jadi garda terdepan," ledek Natasha. "Sudahlah, kamu sudah memiliki kekasih, kenapa masih saja suka nempel dengan orang kaya baru itu?" lanjutnya.
"Yah, aku tahu kalau kalian memiliki hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Mana ada jaman sekarang laki-laki dan perempuan bersahabat?" Natasha memang usil sekali.
"Kalian benar selingkuh?" tiba-tiba kekasih Leon muncul dari belakang.