
Deg!
Jantung hati Alona bergetar kala mendengar pertunangan pria yang masih dicintai. Baginya, sudah berjuang tetap saja pemenangnya adalah wanita yang sudah ditetapkan oleh keluarganya.
Posisi Alona bagaikan rumput liar yang tidak pernah dirawat maupun diakui oleh sebagian orang. Sedangkan Jeanne, adalah sekuntum bunga mawar yang memiliki kelopak Indah sempurna. Di mana, setiap tanaman hias kesayangan itu akan dirawat dengan sepenuh hati dan segenap jiwa dan segenap jiwa raga.
"Ohh—"
"Jadi pada akhirnya Kak Kenzie mau juga berbakti kepada neneknya. Aku sangat senang sekali mendengarnya," ucap Alona, nampak lesu.
"Selamat untuk pertunangan dan pernikahan kalian nanti," Alona mengeluarkan tangannya pada Jeanne.
Tangan kasar dan mungil Alona hendak menjabat tangan Jeanne yang mulus terawat. Wanita seperti Jeanne juga bukanlah wanita yang tamak, dia hanya menjalankan tugasnya, terpaksa harus meraih tangan Alona supaya totalitas ketika berakting.
Bibir yang menyudut itu terlihat sangat anggun, "iya, terima kasih," ucapnya lirih.
Jeanne perlahan melepas tangan Alona. "Apa kamu yakin tidak mau memperjuangkan cintamu?" Tanyanya dengan lirih.
Sejenak Alona terdiam. Gadis itu tidak bisa menjawab karena dalam hati dan pikirannya memiliki jawaban yang tak sama. Namun tak lama, Alona pun menggelengkan kepala, bukti bahwa dirinya menjawab tidak untuk pertanyaan Jeanne..
'Kuharap kamu tidak menyesali keputusanmu, Alona,' batin Jeanne sedih.
"Kak Justin," panggil Alona.
"Iya, Sayang ...." suara lembut itu terdengar sangat menyeramkan dan membuat bulu kuduk Alona merinding.
"Hmm, seperti itu kah?" Alona menyeritkan alisnya.
Justin terkekeh-kekeh, "hahaha, maaf. Aku hanya bercanda, ada apa?" Tanyanya.
"Kak Justin, aku akan pikirkan kembali tawaran ini. Hmm, sekarang aku permisi dulu, selamat siang semua," tanpa kata selain kata itu, Alona pergi begitu saja dengan membawa selebaran formulir beasiswa di tangannya.
Gadis itu berlari dan mengejar angkutan umum. Sudah tidak tahan bahunya ingin sekali menangis. Apalagi menyadari jika Kenzie sudah tidak mau menemuinya lagi. Entah kenapa rasa cintanya Alona pada Kenzie malah semakin besar, bukannya pudar karena di tinggalkan oleh pria kaya itu.
"Tidak, tidak, tidak,"
"Aku tidak boleh menangis!"
"Alona, bukankah ini adalah keputusanmu?"
"Memang sudah menjadi keputusanmu untuk tidak memperjuangkan cintamu. Kamu sendiri juga yang memaksa cintamu untuk mematuhi Neneknya. Jadi, kenapa kamu malah menangis?"
Alona berusaha menguatkan hatinya.
***
Sampai di rumah, ia terus memandangi formulir pendaftaran mahasiswa baru dan juga beasiswa tersebut. Alona berpikir, jika ingin melupakan perasaannya terhadap Kenzie, maka ia akan bisa mencoba untuk mengenyam pendidikan di luar negeri.
"Di luar negeri, ya?" gumamnya lirih.
"Tapi aku pasti akan membuat Kak Justin kerepotan,"
"Hmm, bagaimana jika aku malah gagal?"
Belum apa-apa Alona sudah merasa tidak enak hati pada Justin dan Andre sebagai penanggungjawab dirinya disana nanti.
Saat bimbang memikirkan belajar di luar negeri, Lita—sang adik datang dan duduk di sebelahnya dengan raut wajah penasaran.
"Hei, kenapa, Kak? Sejak pulang tadi sepertinya kulihat Kakak melamin terus?" tanya remaja tanggung itu.
Alona menunjukkan formulir yang ada di tangannya.
"Ini Kakak dapat beasiswa sekolah vokal di Singapura? Kak, ini serius? Pergilah, Kak! Hmm, aku akan bangga jika Kakak bisa menjadi penyanyi terkenal suatu hari nanti!" seru Lita, sambil memeluk kakaknya.
Tapi respon Alona masih datar-datar saja. Membuat adiknya semakin bingung dengan tingkah kakaknya. Lita pun melepas pelukannya.
"Seharusnya dapat beasiswa itu bahagia, Kak. Ini kenapa malah Kakak terlihat sedih begini?" tanya Lita.
Alona memandangi adiknya dengan tatapan yang lembut. Kemudian membelai rambut panjang Lita, dan menyentil dagu adiknya yang sudah mulai tumbuh remaja.
"Andai Kakak pergi, kalau kamu akan di sini bersama siapa? Kamu akan sendirian di rumah ini, Lita," ucapnya lirih.
Kembali Alona menyentuh dagu Lita, "memang Kak Kenzie, Kak Justin dan juga kak Andre akan selalu memberi uang jajan untuk. Tapi tidak ada teman itu ... Apakah kamu sanggup hidup selama beberapa semester tanpa Kakak?
"Kakak dari tadi mikir di situ. Bagaimana kamu akan hidup tanpa Kakak di sini?" tukas Alona, sebagai alasan saja.
Sang adik langsung memeluknya erat-erat. Remaja tanggung yang mulai membuka diri ini sebelumnya sudah mengetahui pertunangan dan pernikahan Kenzie bersama dengan wanita lain, yakni Jeanne.
'Ternyata aku memang beban kakakku,' batin Lita.
Lita memeluk Alona serta menepuk-nepuk punggungnya. 'Kakak, aku tahu jika kamu sedang sedih. Bodohnya kamu, seharusnya Kakak perjuangkan cinta Kakak pada Kak Kenzie! Ini malah pasrah, paboya!' umpat Lita.
Beberapa hari yang lalu, Jeanne datang ke rumah ketika Alona enggan untuk menemuinya. Jeanne bertamu dengan Lita dan menceritakan semuanya. Sejujurnya semuanya karena demi masa depan Alona sendiri, sehingga Kenzie memberinya beasiswa untuk menjauh darinya semetara sampai nanti ia mendapatkan donor mata yang cocok untuknya.
'Kisah cinta Kakak dengan Kak Kenzie. Lucu sekali dan dramatis. Aku harus terlibat dalam kisah mereka yang ... aduh!'
Lita berharap semuanya segera selesai supaya ia bisa melihat kebahagiaan di wajah kakak tercinta. Masih membingungkan baginya untuk mencerna permainan orang dewasa, meski kakaknya pun juga belum dewasa sekali.
Perihal mengapa Kenzie membuat drama menikah dengan Jeanne sebentar supaya membuat Alona tidak akan merasa bersalah padanya. Kenzie tidak ingin Alona terus dihantui rasa bersalah jika ia tak patuh pada Neneknya. Begitupun jika Alona melihat kebutaan yang dialami oleh Kenzie, takutnya gadis itu juga akan sedih.
Intinya, Kenzie hanya ingin Alona bahagia. Secinta itu pria dewasa yang banyak pengalaman cinta ini bisa menjadi budak cintanya gadis remaja seperti Alona.
***
Atas bujukan Lita juga, pada akhirnya Alona mau untuk sekolah diluar negri berangkat bersama dengan Andre.
"Oke, Kak. Aku akan bersiap dan berangkat dengan kalian," ucap Alona melalui telepon.
'Jangan lupa, siapkan semuanya secara detail. Takutnya nanti ada yang tertinggal, kau pulang sendiri," Andre memang suka sekali bercanda.
"Iya, Kak!" seru Alona.
Tiba saatnya Alona terbang ke Singapura untuk melanjutkan pendidikannya. Alona juga ingin sekali melupakan kisah cintanya dengan Kenzie meski itu adalah hal tersulit baginya.
"Aku tidak bisa melupakan undangan jelek itu. Bagaimana bisa seorang Kak Kenzie dan Kak Jeanne yang kaya raya, membuat undangan seperti undangan tujuh harian orang meninggal di kampung-kampung?" Alona menjadi bimbang kembali.
Sesampainya di Bandara, Alona hanya melihat Justin dan Andre saja. Padahal ia sudah berharap Kenzie dapat. Harapannya bisa berpamitan tapi dirinya juga takut akan berat untuk melupakan cintanya.
"Kenapa Kak Kenzie juga tidak mengantarku? Semarah-marahnya dia, seharusnya jangan terlalu membenciku seperti ini, 'kan?" ujar Alona, menoleh kesana-kemari.
"Aku hanya memintanya berbakti, mengapa dia sampai menjauhiku sejauh ini?" Imbuhnya. 'Sakit sekali rasanya,' batinnya.
"Mana sempat dia mengantarmu dan melow di sini mengantarmu pergi? Bukankah dia akan menikah besok? Pasti dia sibuk," jelas Andre.
Deg!
Jantung Alona kembali berdetak cepat kala mendengar pernikahan pria yang dicintainya akan menikah dengan wanita lain esok hari. Tapi Alona tetap berusaha menguatkan hatinya.
"Mana kutahu jika pernikahannya akan digelar besok. Undangan pun hanya ada nama dan tidak ada tanggal dan tempat acara." Alona memutar matanya. Tahu jelas jika undangan itu memang janggal.
•••