I Choose You!

I Choose You!
Sabotase Natasha



Acara kelulusan sudah disusun rapi oleh siswa kelas 11. Mereka sangat kompak menyambut hari yang indah itu. Dalam acara tersebut, tentunya ada sponsor juga dari Kenzie. Maka dari itu, acara perpisahan tahun itu berbeda dari acara-acara perpisahan sebelumnya.


Dalam seluk-beluk dunia pekerjaan yang sibuk, terlihat jelas ada seorang gadis yang tengah mengendap-endap ke ruang kostum, siapa lagi jika bukan Natasha. Apa yang dilakukan gadis itu?


Tentu saja dia datang untuk merusak busana yang akan dikenakan Alona saat acara nanti. Diketahui, hari itu Alona akan naik ke atas panggung untuk tampil bernyanyi dengan teman sekelasnya.


"Selamat menanggung malu, gadis sialan," desis Natasha dengan senyum liciknya.


"Gaun? Hahaha, gaun katamu? Dengan ini ... tubuhmu yang sering dibuat zina itu akan terlihat di depan semua orang. Kita lihat aja nanti, Sarah Alona!"


Rasa dendam, dengki dan iri hati sudah mendarah daging. Bahkan dalam setiap darah yang mengalir di nadinya juga tak dapat dihentikan lagi karena telah dialiri dengan kebencian.


'Kali ini kau tidak akan lolos! Aku sangat membencimu, sangat membencimu!' umpatnya dalam hati.


Acara pun sudah siap dimulai. Pertama dilakukan penyambutan guru dan para undangan. Satu persatu acara juga dilakukan tiada halangan. Raut wajah kegembiraan menghiasi seluruh orang yang ada di sana. Tapi bukan dengan Natasha dan Shasha.


Keduanya berdiri sejajar menyaksikan acara dengan telaten. Berharap rencana keduanya akan sukses tanpa hambatan sedikitpun.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah semuanya lancar?" tanya Shasha lirih.


'Sialan, dia sedang memerintah. Menyebalkan sekali, dia pikir—dia ini siapa?' kesal Natasha dalam hati.


"Kenapa kamu diam saja, Nat? Bagaimana dengan pekerjaanmu?" sambung Shasha lagi.


"Ck, bawel sekali kamu ini. Apa kamu pikir aku ini bodoh, sehingga hal kecil seperti ini menjadi hambatan buatku?" Natasha semakin kesal.


Acara hampir mencapai puncaknya. Seluruh acara sebelumnya berjalan dengan lancar. Kini saatnya terakhir giliran Alona yang akan naik ke panggung untuk bernyanyi. Alona duduk dengan sangat hati-hati karena di depannya juga sudah ada Kenzie yang sudah siap menyaksikan dan mendengarkan suara merdunya.


Srekkkk..


Suara baju robek dari baju belakang Alona. Hal itu terjadi padanya ketika naik di panggung, tentu saja Alona menyadari itu dan berusaha untuk tenang.


'Apa ini? Bajuku—robek? Bagaimana bisa?' batin Alona.


Gerak-gerik Alona ini membuat Kenzie menyadari jika kekasih kecilnya sedang tidak baik-baik saja.


"Kenapa dia belum bernyanyi, dan ...." Kenzie sempat bergumam.


Dari belakang sana, terlihat Natasha yang sedang tersenyum mencurigakan. Kenzie langsung menyadari itu dan segera beranjak naik ke atas panggung menemani Alona bernyanyi.


"Siapa dia? Bukankah dia yang pernah menjemput Alona, ya?"


"Benar sekali! Dia adalah pria itu!"


"Wah, untuk apa dia naik di atas panggung?"


Ada beberapa siswa dan guru yang berbisik mengenai Kenzie yang naik ke atas panggung. Alona yakin jika Kenzie naik ke atas panggung itu karena dirinya.


"Kak? Baju yang aku pakai sepertinya robek. Aku yakin sekali jika ada yang menyabotase pakaianku," bisik Alona.


"Tenang saja—" ucapnya lirih nan lembut. Kemudian Kenzie pun meraih mic yang ada di depannya Alona.


"Aku akan ikut bernyanyi denganmu, Nona Alona." kata Kenize dengan senyuman.


Tatapan kagum yang ditujukan kepada Alona dan juga Kenzie yang sedang berada di atas panggung membuat Natasha geram. Baru dia sadari bahwa Kenzie adalah pria yang sudah ia idam-idamkan sejak dulu. Bahkan Kenzie juga adalah pria yang ditaksir oleh Natasha sejak dirinya masih kecil karena orang tua mereka bersahabat.


"Aku tidak menyangka jika Alona bisa menarik perhatian seorang pria hebat seperti Tuan Kenzie," gumam Shasha. "Bahkan aku jadi jijik ketika Leon terus menatapnya seperti itu," kesalnya.


"Tentu saja, apa kamu tidak menyadarinya?" sahut Shasha.


'Kurang ajar si Alona. Dia memang pandai sekali merebut perhatian orang lain. Dari mana dia bisa mengenal Tuan Kenzie? Sedangkan orang tuaku dan almarhum orang tuanya Tuan Kenzie bersahabat, aku tidak bisa mengenalnya lebih jauh.' batin Natasha sudah kepanasan.


Di panggung, Kenzie terus berusaha menutupi sobekan baju di punggung Alona dengan telapak tangannya. Semua orang tertuju oleh kekompakan mereka. Leon yang cemburu tidak suka melihat Alona dan Kenzie bersama pun pergi.


"Alona semakin dekat saja dengan pria itu, menyebalkan!" kesal Leon.


Di tengah-tengah kekesalan Leon, datanglah Shasha berusaha untuk menghiburnya dan menyempatkan kesempatan itu supaya bisa mendapatkan hati Leon kembali.


"Leon, kamu di sini?" tanyanya.


Shasha menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu bertanya lagi, "Kamu tidak menyaksikan sahabatmu bernyanyi?"


"Aku tidak suka lagu yang Alona nyanyian tadi," jawaban yang ketus dari Leon.


"Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat mengagumi suara Alona yang merdu?" Shasha masih saja mendesak.


Pertanyaan Shasha itu membuat Leon meluap emosinya. Dirinya sedang cemburu besar terhadap Kenzie, tapi Shasha malah terus saja mengganggunya.


"Apa kamu tidak ada pekerjaan lain selain menggangguku, Sha?" tanya Leon, masih saja ketus.


"Kamu terus saja mengikuti kemana diriku pergi. Itu membuatku tidak nyaman tahu!" lanjut Leon.


"Tapi, Leon ... Aku masih mencintaimu, bagaimana bisa aku jauh darimu," Shasha mencoba meraih tangan Leon, namun ditepis oleh lelaki itu.


Emosi yang menyulut itu membuat Shasha sedikit takut sebenarnya. Tapi gadis itu tetap memberanikan diri supaya apa yang diinginkannya tercapai.


"Aku masih mencintaimu. Kamu memutuskan hubungan kita begitu saja dan meninggalkan aku di saat sayang-sayangnya," ungkap Shasha.


"Tak bisakah kamu melihat dari sudut pandangku, Leon? Bagaimana aku harus melangkah setelah hati ini kamu patahkan," lanjutnya.


"Kumohon ... Tolong kembalilah kepadaku. Kamu juga melihat sendiri kalau Alona sudah memiliki seorang pria lain, Leon, please ..."


Meski sudah memohon sekalipun, hati Leon benar-benar tidak terketuk oleh permohonan dari Shasha. Tanpa mengatakan apapun pada mantan kekasihnya, Leon pergi begitu saja.


Perlakuan Lion itu membuat Shasha semakin membenci Alona.


"Apa yang terjadi ini semuanya gara-gara Alona. Aku tidak akan pernah memaafkan Alona, meski dia memohon ampun padaku!"


***


Acara telah usai, Kenzie tetap masih bersama dengan kekasih kecilnya.


"Kita berjalan hati-hati aja, ya. Aku antar ke ruang ganti, okay!" bisik Kenzie.


Alona mengangguk.


"Tunggu, Pak Kenzie!" panggil kepala sekolah. "Saya mau bicara serius dengan Anda sekarang, apakah bisa?" imbuh beliau.


Wajah Alona menjadi pucat sekali. Dia takut jika pria yang ia sukai meninggalkannya di saat seperti itu. Tangan Alona menggenggam erat lengan Kenzie, berharap pria itu terus bersamanya.


'Kumohon jangan tinggalkan aku.' batin Alona, menggelengkan kepala dengan pelan.