I Choose You!

I Choose You!
Harapan Baru



Setelah drama sarapan di mobil, akhirnya mereka sampai juga di depan gerbang sekolah. Kenzie rela bangun pagi dan harus menyetir sendiri mengantar Alona.


Namun, sebelum keluar dari mobil, Alona memastikan sekeliling terlebih dulu. Ia takut jika Natasha akan memergoki dirinya keluar dari mobil mewah.


"Haha, aman!" serunya.


"Kak, aku masuk dulu. Hari ini jangan jemput aku, okay? Bye!" gadis itu terlihat semangat pergi ke sekolah.


"Tunggu!" Kenzie menahan tangan Alona.


"Iya?" Tatapan Alona begitu imut, sampai membuat Kenzie meleleh.


Menjadikan gengsi tidak langsung mengatakan apa yang hendak ingin dikatakan.


"Kak, ada apa? Tanganku ditahan seperti ini terus, bagaimana aku bisa masuk ke sekolah?" Alona memecah lamunan Kenzie.


"Aku mencintaimu," ucap Kenzie tiba-tiba. "Tolong beri aku kesempatan, kumohon ..." seorang pengusaha kaya raya sampai memohon.


Deg!


Jantung Alona tidak bisa diajak kompromi. Jantungnya berdebar kencang sekali. Nyatanya Alona juga menyukai pria dewasa itu. Tapi Alona sendiri tidak ingin menjadi orang yang tamak. Kenaikan yang Kenzie lakukan untuknya, dinilai sudah cukup baginya.


Otak, pikiran dan juga mulutnya memang tidak sinkron pada saat itu. Tapi Alona juga tidak ingin sampai menyesal jika harus menolak cinta dari pria yang ia sukai juga.


"A-aku ... aku juga mencintaimu," Alona langsung kabur setelah mengatakan itu.


Tentu saja lampu hijau yang Alona berikan membuat Kenzie tersenyum puas. Kenzie sendiri tidak menyangka jika Alona juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


"Apa aku tidak salah dengar? Dia—juga mencintaiku?“


Kini ia akan berusaha untuk membuat Alona semakin jatuh cinta padanya. Kata suka dari Alona pun membuat pria kaya itu menjadi semangat bekerja, hingga ia tidak sempat untuk pulang dan langsung pergi ke kantornya.


***


Disekolah, banyak teman-teman Alona yang masih penasaran dengan pemilik mobil mewah kemarin yang datang menjemputnya. Mereka sudah siap mewawancarai Alona seperti wartawan.


"Lon, apa benar yang dikatakan Natasha kemarin? Kalau kamu punya sugar daddy?" tanya salah satu dari siswa kelas Alona..


"Kan sudah aku perjelas. Alona ini bukan gadis baik-baik. Jadi untuk apa kalian masih membelanya dan ingin tahu kebenarannya, sedangkan kebenaran itu sudah ada di depan mata kalian kemarin!" Natasha mengambil kesempatan itu untuk membuat Alona dipermalukan.


"Kenapa kamu nggak jelas kayak gini, sih? Mana sok bahasa Inggris juga. Siapa yang memiliki sugar daddy, Papa gula maksudmu? Cih!" sahut Alona ketus.


Mungkin kemarin-kemarin Alona memilih untuk dia karena memang tidak ingin keributan menimpa dirinya. Tapi ungkapan cinta dari Kenzie rupanya membuat energi dalam tubuh Alona meningkat, sehingga dia memiliki tenaga untuk membalas setiap hinaan yang Natasha katakan.


"Yang tidak jelas itu kamu—Alona!" ketus balik Natasha. "Sudahlah, lebih baik kamu menghapus saja—kalau kamu ini simpanan om-om atau suami orang lain. Lalu yang kemarin itu adalah salah satunya," celetuknya.


"Berisik!" Alona mulai kesal.


"Berapa harga yang kamu patok untuk mereka ini? Hahaha, seharusnya kamu itu lebih mendekatkan diri kepada Tuhan karena orang tua kamu sudah tiada, Alona. Ini malah ada saja kelakuannya!"


Kebencian Natasha sudah mendarah daging. Tak tahu lagi Alona harus menghadapi teman yang dulunya dekat itu, tapi sekarang malah menjadi musuh.


BRUAK!


"Jika kamu ingin memalukan aku, ya cukup aku saja yang kamu sebut, Natasha. Tidak perlu kamu menyebut orang tuaku segala dalam urusan sepele ini. Kalau tidak—" Alona menarik kerah seragam Natasha.


Natasha ini benar-benar tidak ada takutnya. Dia malah balik mengancam Alona dan mengatakan jika Alona tidak perlu marah kalau semua yang dikatakannya itu suatu kebohongan belaka.


"Kenapa kamu harus marah? Jika kamu tidak merasa apa yang aku katakan ini, Ya setidaknya kamu tidak marah dong! Jika kamu marah ... tandanya—" Natasha memang benar sekali memancing emosi Alona.


"Kalau iya, kenapa? Setidaknya aku setia hanya dengan satu pria saja walaupun aku menjadi simpanannya. Dari pada kamu yang sering kali jadi pemuas nafsu orang yang berbeda di setiap malamnya," desis Alona.


Semua siswi berbalik menatap Natasha dengan tatapan yang aneh. Mereka memang terlihat seperti mudah sekali terprovokasi.


"Apa yang kamu katakan tadi? Aku menjadi budak nafsu pria lain di setiap malam yang berbeda?" emosi Natasha memuncak.


"Kenapa? Marah? Jika kamu tidak merasa apa yang aku katakan tadi, ih jangan marah, dong!" Alona membalas dengan cara yang sama.


Tidak lupa Alona juga mengancam Natasha untuk tidak mengatakan apapun lagi tentang dirinya. Keberanian Alona ini sudah lebih dari sikap Alona yang sebenarnya.


Hingga membuat sang sahabat—Leon, merasa jika itu bukanlah sifat Alona. Biasanya, meski Alona sedang kesal, sakit hati atau bersedih, dia yang dulu masih sering menebar senyuman. Membuat lelucon sehingga seluruh kelas tertawa oleh tingkahnya.


Setelah itu, guru pun datang.


Bagai orang yang berbeda, kini Alona menjadi orang yang gampang sekali terpancing emosi. Leon pun duduk di samping Alona dan melirik ke arahnya. Kelas dimulai seperti biasa, hingga bel istirahat pertama berbunyi.


Triiinnngggggg.....!


Semua siswa keluar dari kelasnya masing-masing. Ada yang menuju ke kantin, dan ada juga yang menuju ke perpustakaan. Berbeda dengan Alona yang masih duduk di bangkunya.


"Kamu kenapa masih ada di sini? Apakah tidak takut kekasihmu mencarimu?" tanya Alona dengan nada ketus. "Nanti yang ada dia malah marah-marah tidak jelas padaku," sambungnya.


Leon tidak langsung menjawab. Dia masih ragu karena Alona berubah menjadi orang lain.


"Kenapa masih diam?" tanya Alona lagi.


"Sebenarnya aku sudah putus dengannya. Jadi aku tidak perlu menemuinya, dan dia juga tidak perlu menemuiku," ungkap Leon.


Alona menatap Leon. "Lah, apa alasannya? Kalian baru jadian, bukan? Apa masalahnya? Karena aku?"


Leon masih menunduk. Dia begitu gugup sampai memainkan jari-jarinya sendiri.


"Jika kamu masih diam saja, lebih baik aku pergi," belum juga Alona beranjak dari di tempat duduknya, Leon sudah dulu mengucapkan apa yang membuat Alona sampai terkejut. "Aku suka sama kamu, Lona," katanya.


Ungkapan dari Leon itu tidak mungkin membuat suasana hati Alona menjadi baik. Sulit sekali bagi Alona menerima kebaikan Leon lagi setelah apa yang terjadi.


"Lon, sebenarnya aku sudah ... sudah suka sama kamu sejak lama. Tapi demi membuktikan perasaanku itu, aku berkencan dengan gadis lain," ungkap Leon lagi.


"Tapi sungguh dalam hatiku hanya ada namamu. Aku baru menyadari ketika kamu menjauh dariku," lanjutnya. "Alona, jadilah kekasihku. Kita bisa memulai bersama dengan kisah cinta ini," Leon sudah begitu berusaha.


Helaan nafas kasar itu sampai terdengar di kepala Leon, dari mulut Alona.


"Hmm, saat aku terpuruk ... kamu ada dimana, Leon?" tanya gadis itu.


"Tak hanya itu saja. Ketika orang tuaku meninggal, bahkan tanganmu tidak mengulurkan untukku. Kamu juga tidak menyapaku di sekolah, tak lagi memandangku dengan senyuman tulus, apakah kamu ...." ucapan Alona terhenti.