I Choose You!

I Choose You!
Pertengkaran Alona dan Natasha



Rasa cinta Kenzie yang begitu besar pun mengalahkan semuanya. Ia meminta Kepala Sekolah untuk menunggunya sebentar, dan izin untuk mengantar Alona ke ruang ganti.


"Emm, saya mohon maaf, Pak. Biasa kah anda memberikan waktu saya sebentar saja? Ada hal penting yang harus saya urus," ucap Kenzie.


"Kalau boleh tahu, hal penting apa, ya, Tuan? Lalu, apakah anda akan pergi dari sekolah sebelum acara benar-benar selesai?" Pak kepala sekolah memang sudah excited.


Lirikan Kenzie sudah menyiratkan, jika Alona adalah hal penting baginya. Kepala sekolah mulai gugup, beliau menjadi canggung di situasi itu.


"Eh, hehehe. Maaf, Tuan Kenzie. Kenapa juga saya ingin tahu kepentingan anda, ya? Haduh, memang dasar mulut ini," pak kepala sekolah sampai mencubit bibirnya sendiri. "Kalau begitu, anda bisa menemui saya kapan saja, Tuan. Pokoknya hari ini kita bicara, silahkan lanjutkan apa yang menjadi kepentingan anda, terima kasih dan sampai jumpa."


Kepala sekolah bicara begitu banyak, sampai Kenzie belum mengatakan apapun saja kepala sekolah sudah pergi lebih dulu.


"Ada apa dengan Pak kepala sekolah?" tanya Alona lirih.


"Entah lah! Aku rasa kepala sekolahmu itu memang sedikit aneh," Kenzie juga mulai berbisik.


Menilai aneh kepala sekolahnya, membuat Alona menatap sinis pria yang disukainya itu. "Hei, tidak boleh seperti itu. Mau bagaimanapun juga Pak kepala sekolah itu jauh lebih tua darimu, kak!" jelasnya.


"Iya, bawel. Maaf—ayo, kita ke ruang ganti sekarang?"


Kenzie membawa Alona ke ruang ganti masih dengan tangannya yang menempel di punggungnya. Pria itu melindungi Alona dengan sangat baik.


Ketika sudah sampai di ruang ganti, Kenzie baru bisa melepas tangannya yang sebelumnya ia gunakan untuk menutupi punggung Alona yang kelihatan akibat pakaiannya yang robek.


"Alona," panggil Kenzie, kala Alona sudah mau masuk ke ruang ganti.


"Hm, iya, Kak?" tanya gadis itu.


Kenzie mengecup kening Alona dengan lembut. Pria itu tersenyum manis setelah menyudahi kecupannya.


"Tunggulah disini," pintanya.


"Aku akan menemui kepala sekolahmu dulu. Aku tidak ingin dia mengganggu kita hanya karena ingin bicara denganku, hm?" imbuh Kenzie, membelai wajah Alona dengan lembut.


Alona hanya mengangguk, dia masih terkejut ketika menerima kecupan cinta dari Kenzie.


"Oh, iya!"


Kenzie berbalik badan.


"Kamu bisa menungguku di mobil jika sudah selesai mengganti pakaian. Ini kunci mobilnya," Kenzie melempar kunci mobil miliknya dan dengan tangkar, Alona menangkapnya.


Lagi-lagi Alona hanya mengangguk saja. Gadis itu tidak tahu lagi harus bersikap yang bagaimana dengan kekasihnya. Lalu, segera dia masuk untuk mengganti pakaiannya.


"Huhh, dia mencium —ku?" Alona menyentuh keningnya. "Eh, dia beneran menciumku?" gumamnya lirih, sambil menyentuh kedua pipinya.


Setelah di depan cermin besar, barulah ia tersadar jika baju yang dikenakan robek di bagian punggung dan memperlihatkan punggung cantiknya.


Gadis ini masih penasaran dengan kostumnya itu. Dia terus membolak-balikkan pakaiannya yang disediakan oleh sekolahan.


"Ini di sengaja, robekan awalnya rapi sekali," gumamnya terus mengusap pelan pakaian itu. "Hmm ... Sepertinya memang sengaja di gunting. Tapi siapa yang tega melakukan ini padaku, ya?"


"Aku!"


Seseorang datang mengaku.


Dia—Natasha, datang secara tiba-tiba mengejutkan Alona dan langsung mengakui kejahatannya. "Aku yang melakukan itu," sambungnya.


"Kamu?" Alona seperti tidak terkejut lagi.


Alona tersenyum sinis. "Sudah kuduga. Aku yakin sekali jika orang yang tega melakukan hal seperti ini adalah—kamu, Natasha,"


"Kenapa kamu suka sekali menggangguku? Apa kamu begitu mengagumiku, sehingga setiap saat ingin sekali diperhatikan olehku?" Alona sudah kesal sebenarnya, tapi dia masih menahan amarahnya karena tidak ingin membuat masalah baru.


"Aku membencimu, Alona! Jangan kepedean kamu!" tepis Natasha, dia tidak terima Alona menganggap semua perbuatannya hanya semata-mata untuk mencari perhatian.


Amarah Alona kembali menyulut, tapi dia berhasil menahan diri dan berusaha untuk bicara baik-baik pada Natasha.


"Jika kamu tidak suka padaku, tidak suka dengan kehadiranku ... ya, lebih baik kamu menjauh saja ketika kamu melihatku!" tegas Alona.


"Emangnya kamu pikir, aku juga mau bertemu denganmu setiap saat? Bahkan hanya mendengar namamu saja, aku sudah sangat muak mendengarnya. Apalagi sampai bertemu denganmu?" Alona mulai melawan.


Alona terus saja menggoda Natasha yang menempatkan teman masa kecilnya dulu itu hanya iri dengannya.


"Sialan!" teriak Natasha.


"Aku sama sekali tidak iri padamu. Di antara kita berdua ini tidak selevel, aku di atas, dan kamu di bawah. Jadi, untuk apa aku iri, hah!"


"Dan satu hal yang pasti, Tuan Kenzie itu milikku! Aku sudah mengenalnya sejak kecil, lalu orang tua kami pun dulu memiliki perjanjian perjodohan. Dasar perebut pasangan orang, kamu tidak berhak berada di sisi, Tuan Kenzie!" lagi-lagi Natasha gemar sekali mendorong tubuh Alona.


Di sisi lain dari Natasha yang suka sekali membuat masalah pada Alona, gadis itu sangat suka teriak-teriak jika bicara dengan Alona. Hal itu membuat Alona semakin pusing saja dan lebih memilih untuk tidak menanggapi.


"Baik, Pak. Saya akan kabari lagi nanti. Asisten saya yang akan menemui anda. Jadi, jangan khawatir~"


Suara Kenzie ada di depan pintu. Mendengar Kenzie hendak masuk ke ruangan kostum, Alona pun mulai membuat perhitungan dengan Natasha. 'Iya, sesekali aku harus membalas kejahilannya itu,' batin Alona.


"Hayuuhhh!"


Alona pura-pura terjatuh. Kenzie yang melihat gadis kecil kekasihnya terjatuh, langsung berlari menghampirinya, tentunya dengan wajah yang panik.


"Lona!" teriak Kenzie.


"Ada apa denganmu? Apa kamu sakit? Katakan, dimana sakitnya? Kenapa kamu bisa jatuh?" Kenzie membantu Alona berdiri. Gadis itu benar-benar membuat prianya khawatir.


Alona menunjuk Natasha yang saat itu masih berdiri di sana. "Dia! Dia yang telah merusak pakaian buat manggung tadi," rengeknya, mengadu.


"Lalu, dia juga mengatakan bahwa ...." ucapan Alona terhenti. Gadis itu menundukkan kepala.


"Mengatakan apa? Apa yang dikatakan dia padamu, Alona?" Kenzie terpancing emosi.


Alona menatap mata Kenzie yang saat itu tidak sedang bersandiwara. Perasaannya murni dan tulus pada Alona.


"Katanya kamu milik dia juga. Kalian sudah mengenal sejak lama. Apakah kamu selingkuh dariku, apa aku yang merebutmu darinya?" suara manja dan penuh belas kasih Alona membuat pria sedingin Kenzie mencair.


Mendengar penjelasan dari kekasihnya, Kenzie langsung menatap Natasha dengan tajam. "Apa katamu?"


"Kak Kenzie, um ... maksudnya Tuan Kenzie. Aku hanya mengatakan apa yang pernah orang tuaku katakan sebelumnya bahwa kita dijodohkan sejak usiaku masih kecil," Natasha begitu percaya.


"Perjodohan itu akan terjadi jika aku menyetujuinya. Dan perlu kamu ketahui, yang dijodohkan denganmu itu bukanlah aku. Melainkan adikku, apa begini saja kamu tidak tahu?" meski mengatakan dengan suara rendah, tetap saja tatapan tajam Kenzie membuat Natasha sedikit gemetar.


Di balik tubuh bidang Kenzie, Alona tersenyum sinis meledek Natasha. Tak bisa membalas apa yang Alona berikan padanya, Natasha malah ngotot jika ia ingin sekali menikah dengan Kenzie, bukan adiknya.


"Gadis gila!"


Kenzie menarik Alona keluar dari ruangan tersebut. Begitu sampai luar, Alona langsung melepaskan genggaman tangan Kenzie.


"Kenapa?" Kenzie bingung dengan sikap Alona itu.