I Choose You!

I Choose You!
Rindu Manja



Ketika di kamar, Alona masih teringat dengan Vegas yang terlihat tidak asing baginya. Ia terus mengingat seseorang jika melihat wajahnya Vegas. 


"Tapi siapa, ya, seseorang itu?" Gumamnya. 


"Wajahnya sangat tidak asing. Apakah sebelum bertemu dengan Tuan Vegas, aku pernah bertemu dengannya sebelumnya di tanah air?"


"Dia terlihat sedikit mirip ... ahhh, sungguh sulit diingat," 


Meski Alona sudah membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang, tetap saja gadis berkepemilikan suara merdu itu tidak dapat mengingat siapa yang ia pikirkan ketika melihat Vegas. 


"Namanya lucu sekali—Vegas," 


"Kira-kira orang tuanya ngidam apa, ketika mengandung Tuan Vegas," 


"Tapi namanya bagus juga. Entah kenapa aku jadi teringat dengan Kak Ken,"


"Sedang apa dia di sana? Apakah dia bersama dengan Kak Jean? Hmmm, Aku berharap mereka tidak menikah. Entah kenapa aku jadi egois seperti,"


Alona pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka. Rutinitas sehari-hari ketika malam sebelum tidur. Alona mencuci wajahnya dan menggunakan perawatan malam supaya ketika ia sudah merambah ke dunia entertainment, wajahnya sudah terawat dengan baik. 


"Kak Ken ini ... Bahkan perawatan wajahku belum habis, dia sudah mengirimiku 2 paket skin care," 


"Jika terus seperti ini, bisa-bisa aku menjadi wanita tidak baik merebut pria lain dari pasangannya,"


Alona memandang wajahnya sendiri melalui cermin. Wajahnya yang imut, bibirnya yang tebal bagian bawah, memiliki sudut bibir yang indah, hidung kecil dan mata yang bulat membuat gadis ini terlihat begitu imut. 


"Kak Ken, bisakah aku merebutmu kembali dari Kak Jean?" 


"Lihatlah dirimu, Alona. Sebenarnya kamu ini tidak pantas miliki semuanya saat ini. Kenapa kamu bersikap buruk seperti itu?" 


Alona malah menyalahkan dirinya sendiri. Dia terus mengingatkan diri supaya tidak hanyut dalam cintanya pada Kenzie.


***


Kala itu cuaca sangat tidak mendukung dan tidak menentu. Jika di pagi hari cuaca cerah, siang hari biasanya akan mendung. 


"Cuaca seperti apa di sini?" 


"Sangat berbeda sekali juga hawanya,"


"Semoga saja aku segera menyesuaikan diri di negara ini,"


"Ingat dengan kata-kata Kak Andre. Jika tahun ini aku lulus dengan nilai yang sempurna, Kak Ken akan mengirimku ke Korea. Bukankah negara itu adalah negara yang aku impikan sejak dulu?" 


"Ayo, Alona. Kamu pasti bisa melewati semuanya di sini!" 


Gadis itu berjalan menelusuri trotoar, menuju ke apartemennya. Melihat Alona yang berjalan sendirian sambil bicara sendiri, Vegas yang sengaja lewat jalan itu pun menawarkan tumpangan untuknya.


"Hmm, gadis itu memang unik. Pantas saja Kakak marah sekali jika aku memiliki niatan untuk mempermainkannya," gumam Vegas. 


"Cepat ke arah sana, lalu berhenti di depan gadis itu," perintah Vegas pada supirnya. 


"Kau mau kemana? Ke gadis itu lagi?" tanya Danish. 


"Hmm, diamlah!" ketus Vegas. 


Mobil berwarna hitam melintas dan berhenti di depan Alona saat berjalan. Gadis itu terkejut dan membuat langkahnya pun terhenti. Seketika, ia ingat kenangan lalu ketika malam-malam, Kenzie  membuang botol bekas dan mengenai kepalanya. 


'Siapa? Membuatku terkejut saja,' batin Alona. 


Pearl ternyata juga sudah ada di belakang Alona hari itu. Beberapa hari lalu, Alona dan Pearl memang merencanakan suatu yang asyik di apartemen. Jadi hari itu telah tiba dan Pearl sudah bergegas pergi ke apartemen tempat tinggal Alona.


"Alona!" Panggil Pearl .


Pearl lari sampai sampai terengah-engah. "Woy, jadi tidak?" tanyanya masih berusaha nafas dengan baik. 


Masih mengatur nafas, tapi tetap saja bertanya, "Jadi tidak? Lihat apa yang kubawa? Kita akan memasak malam ini. Hore!" serunya, menunjukkan sebuah kantong kresek yang ia jinjing. 


"Kamu tahu siapa pemiliknya?" tanya Alona lirih. 


"Hmm, sepertinya milik Tuan Vegas," ungkap Pearl. 


Ucapan Pearl membuat Alona semakin penasaran. Tak mungkin bagi Alona jika memang yang berhenti di depannya adalah Vegas. Sahabat dan sekaligus asistennya Vegas pun membuka kaca pintu mobilnya.


"Hai adik manis, ketemu lagi kita. Hallo gadis imut Pearl-ku," Danish memang seringkali menjadi pria yang suka menggoda.


"Kalian mau ke apartemen A, 'kan? Ayo ikut dengan kami, kebetulan kami juga tinggal disana," ajak Danish dengan senyum lebarnya. 


Vegas—adik kandung dari Kenzie. Ia sudah memiliki pasangan bernama Nadia Tan, sahabat dan cintanya di masa kecil yang sampai saat ini masih bersama.


"Ayo, kalian ikut saja sekalian!" seru Danish, menawarkan kebaikannya lagi. 


Awalnya Alona menolak dengan tegas tawaran dari Danish. Tetapi ketika ia melihat sahabatnya sudah kelelahan membawa barang banyak, ia pun akhirnya mau menerima tawaran Danish yang tentunya ada izin dari Vegas.


"Selamat siang, Tuan Vegas," sapa Alona dan Pearl bersamaan. 


Vegas hanya mengangguk. 


Di mobil, mereka hanya diam saja tanpa berkata apapun, bahkan sampai di pintu apartemen saja mereka masih diam-diam saja.


"Kamu tinggal disini?" tanya Vegas, begitu mobilnya berhenti di depan gedung apartemennya. 


"Iya, Tuan. Tuan sendiri, tinggal di mana?" Alona tanya kembali. 


"Dua lagi dari apartemen ini," jawab Vegas. "Jika saat seperti ini ... Kamu bisa cukup panggil nama atau sebutan Kakak saja. Akan merepotkan jika kamu terus memanggil saya dengan sebutan Tuan," pinta Vegas. 


Padahal Vega sendiri ingin dipanggil sebutan kakak maupun senior dibandingkan dengan sebutan Tuan. 


"Kak Vegas ... terima kasih," ucap Alona lirih. 


Vegas hanya mengangguk pelan. Setelah Alona dan Pearl turun, barulah Vegas dan Danish langsung berlalu pergi. 


"Lah, langsung pergi mereka?" celetuk Pearl. 


'Memangnya dia tinggal di mana? Entah kenapa aku merasa mereka ini hanya modus belaka. Lebih baik kedepannya aku harus hati-hati dengan mereka,' batin Alona.


Selama Alona tinggal Singapura, Ia tidak pernah melihat Vegas maupun Danish juga tinggal disana. Sebab, setahu Alona, apartemen tiga berjejer itu milik, Kenzie, Andre dan Justin.


Pearl menarik tangan Alona dan memintanya segara mengajaknya masuk. Sungguh-sungguh ia sangat terpesona akan mewahnya apartemen itu. Bahkan menganggap bahwa Alona adalah anak orang kaya karena apartemen yang ia tempati termasuk apartemen paling mewah. Pearl sendiri harus bekerja paruh waktu sebagai model untuk biaya hidupnya di Singapura.


"Lona, kamarmu bagus sekali. Bersih, wangi, kasur nya empuk juga!" seru Pearl lompat-lompat di tempat tidur Alona.


Melihat tingkah lucu sahabatnya membuat Alona hanya tersenyum. Ia tidak mungkin akan menceritakan tentang kehidupannya yang ditanggung oleh tiga pria yang berpengaruh. bahka ia juga meninggalkan adiknya sendiri di tanah air. 


***


Di kamarnya, Vegas sedang  mengirim hasil rekaman suara Alona saat ia hukum kemarin siang. Tak lama setelah Vegas mengirim suara tersebut, Kenzie langsung menelponnya.


'Darimana kamu dapat rekaman itu?!'


"Jemput dia, temui dia. Jangan buat dia tersiksa, Kak. Atau aku yang akan membuatnya nyaman jika Kakak sudah tidak mau dengannya?" Vegas suka sekali menggoda kakaknya. 


'Jangan main-main kamu, Vegas! Jauhi dia!' perintah Kenzie. 


Bahkan Kenzie juga mengancam Vegas, jika tangannya sampai mengotori Alona, KenIs sendiri yang akan memastikan  jika Vegas tidak akan aku perbolehkan pulang selama Kenzie mau. 


"Wowo, santai Brother. Jika kamu memang telah membuangnya, aku bersedia memungutnya. Dia cantik sekali, suaranya juga bagus," Vegas terus jadi kompor. 


"Maaf Kak ...  jika suatu saat nanti aku bisa jatuh cinta dengannya, hmmm siap-siap Saja kamu harus mengalah," imbuh Vegas. 


Telpon itu langsung terputus, seketika hati Kenzie tidak tenang. Ia bahkan masih cemburu ada laki-laki yang mendekati gadis kecilnya. Namun lagi-lagi keadaan yang memaksa Kenzie harus menjauhi Alona. Meskipun rindu yang mereka berdua tahan sudah sangat berat.