I Choose You!

I Choose You!
Kebaikan Kenzie



Asisten Kenzie yang baru datang dari Australia berbicara dan berkonsultasi dengan semua tetangga Alona supaya bisa membujuk Kenzie tanpa ada seorangpun yang salah paham padanya.


"Tuan, bukankah ini malah akan merepotkan Anda, ya?" tanya Alona, menjadi formal.


Sedikit terkejut karena Alona tiba-tiba bicara formal padanya. Membuat Kenzie jadi tidak nyaman.


"Sudahlah, akan jauh lebih baik jika memang kamu dan adikmu ikut tinggal bersamaku. Kamu tenang saja, kalian apa di rumah berbeda denganku, kita tidak serumah," jelas Kenzie.


Saat Alona memikirkan tawaran Kenzie, ia melihat adiknya yang begitu sedih menatap rumahnya yang telah hangus dilalap si jago merah.


"Tuan, saya sudah bicara dengan beberapa warga dan mereka setuju dengan usul kita membawa Nona Alona dan juga adiknya," ucap Willy, asisten pribadi Kenzie.


Bibi Keith menghampirinya, menepuk pundak lemah Alona dengan lembut. "Sayang, usul dari Tuan ini memang sangat bagus. Jujur, Bibi tadi sempat ragu karena beliau adalah orang asing, tapi setelah membuktikan bahwa mereka orang yang baik, maka Bibi akan memberikan kepercayaan pada mereka," ucapnya lembut.


Sebenarnya Alona juga masih ragu untuk ikut bersama dengan Kenzie yang notabenenya adalah orang yang masih asing baginya. Tapi setelah melihat kesedihan adiknya Alona tidak bisa egois.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu Tuan itu. Jika ada apa-apa nanti aku akan hubungi Bibi," Alona mengalah.


Lita pun senang karena hendak mendapat rumah baru. Dia sampai bersorak karena saking semangatnya.


"Alona, Lita .... Jaga diri kalian baik-baik ya," ucap Bibi Keith. "Jika kalian mau pulang kesini, Bibi pasti akan terima kalian berdua dengan ikhlas hati. Pintu rumah Bibi selalu terbuka untuk kalian," imbuhnya.


"Bibi juga sudah sangat baik kepada kami. Terima kasih sudah mau direpotkan untuk membersihkan sesak arang dari rumah kami," ucap Alona, sedih.


"Bibi, kami pamit dulu," timpal Lita.


"Jaga kesehatan Bibi juga. Kami akan sering-sering mengunjungi Bibi nanti." tukas Alona, berupaya memeluk Bibi Keith, tapi tidak bisa.


Kedua gadis yatim-piatu itu kemudian berpamitan kepada semua tetangganya. Betapa baiknya para tetangga yang kau direpotkan Alona mengurus sisa kebakaran rumahnya. Mereka bahkan tidak mengeluh sama sekali dengan Alona dan Lita. Itu mereka dapatkan atas kebaikan kedua orang tuanya di masa hidupnya dulu.


Kebakaran rumah siang itu membuat trauma yang cukup mendalam bagi kedua gadis itu. Cuaca yang sangat panas tiba-tiba turun hujan lebat sekali. Seolah langit pun masih turut bersedih atas kemalangan yang menimpa Alona dan Lita. Sesekali air mata Alona juga menetes, meratapi nasibnya yang kini tidak memiliki apapun kecuali adik dan pakaian yang ia kenakan.


Di balik kaca mobil, Alona menyembunyikan kesedihannya dari langit. Bahkan ia juga bingung dengan dirinya yang mudah sekali ikut dengan orang asing. Begitu juga dengan para tetangga yang bisa mempercayai Kenzie secepatnya.


"Kalian yang sabar, ya. Sebuah musibah itu memang tidak ada di kalender. Kita sebagai manusia biasa bahkan tidak tahu kapan musibah akan terjadi pada diri kita," tutur Kenzie.


"Um, ngomong-ngomong ... Om ini siapa, ya?" tanya Lita. "Kenapa Om mau membantu kita? Bahkan Om sangat baik pada kita. Apakah Om ini kenalannya Kakak?" banyak sekali pertanyaan dari Lita.


Pertanyaan sebanyak itu sampai membuat Lita ditegur oleh Alona. Sang kakak mau minta adiknya untuk tetap tenang dan tidak banyak bertanya.


"Biarkan saja, Alona. Aku malah senang jika dia mau bertanya seperti itu. Tandanya dia tidak mengabaikan aku," ucap Kenzie dengan senyuman.


Kenzie menatap Lita. "Lain kali panggilannya jangan Om, ya. Kamu bisa memanggilku dengan nama saja atau sebutan yang memang pantas untukku. Tapi jangan—Om, Entah kenapa sebutan itu terlalu membuatku tidak nyaman," katanya.


"Mulutmu itu, Wil," cetus Kenzie. "Kalian bisa memanggilku dengan sebutan kakak. Akan buruk sekali Jika kalian memanggilku dengan sebutan Tuan," imbuhnya.


"Sebelumnya saya minta maaf karena kelakuan saya yang tidak baik kepada anda kemarin. Saya mengucapkan terima kasih juga karena anda sudah membantu saya dan adik saya. Suatu saat pasti saya akan membayar semua hutang ini pada anda, Tuan Kenzie," ucap Alona.


Sebelumnya tutur kata Alona ini sangat ketus. Tapi setelah musibah menimpa dirinya dan tahu bahwa Kenzie bukanlah orang sembarangan, Alona memutuskan untuk berhati-hati lagi ketika bersikap dengannya.


"Sejujurnya aku tidak suka kamu bicara formal seperti ini, Alona," ucap Kenzie. "Aku pasti akan membantu mencari orang yang menabrak kedua orang tuamu," Kenzie mengalihkan topik.


"Untuk apa? Toh juga orang tuaku sudah dikubur. Tidak mungkin akan kembali hidup lagi," Alona bicara sesuai dengan apa yang Kenzie inginkan.


"Kak, kita bisa menuntut orang itu. Dia harus bertanggung jawab atas perginya ayah dan ibu. Aku tidak akan menuntutnya meski ayah dan ibu pergi untuk selamanya karena sudah ia tabrak. Tapi dengan meninggalkan ayah dan ibu tergeletak di tengah jalan, itu adalah perbuatan yang sangat keji dan tidak beradab," sambung Lita.


"Kamu fokus sekolah saja. Tidak perlu pedulikan urusan ini. Soal seragam, nanti biar Kakak yang pikirkan. Pasti pihak sekolah akan memaklumi kita," tegas Alona.


Lita juga langsung diam dan tenang, ia tidak ingin membebani Kakaknya lagi. Hubungan kakak beradik itu lagi-lagi mampu membuat Kenzie iri.


Tak lama setelah itu, mereka berhenti di sebuah rumah di daerah perumahan yang sangat asri. Yah, meskipun bukan perumahan elit, namun rumah-rumah disana sangatlah bagus.


"Ini rumah siapa, Tuan?" tanya Alona.


"Panggilan aku kakak. Sebutan Tuan hanya boleh digunakan oleh orang lain!" tegas Kenzie.


Alona langsung memalingkan wajahnya, melihat rumah tersebut dengan perasaan gugup.


"Ini rumah yang pernah aku belikan untuk sahabatku dulu. Tapi dia malah sudah beli rumah sendiri. Jadi kosong sampai sekarang. Kalian tinggal saja disini untuk saat ini," jelas Kenzie.


"Serem banget, lama kosong," timpal Lita.


"Belum pernah di huni bangunan baru. Tapi kalian tenang saja, rumah ini terawat. Ada orang yang selalu membersihkan," lanjut Kenzie. "Um, soal kebutuhan kalian, sementara aku akan menanggung sampai kamu lulus sekolah dan cari penghasilan sendiri, Alona" imbuhnya.


"Apa maksud kamu melakukan semua ini? Kita ini baru saja kenal—Kak Kenzie," tanya Alona, menyeritkan alisnya sebelum menyebut Kenzie dengan sebutan kakak.


"Kamu adalah orang yang istimewa bagiku. Willy, kita pulang!" Pipi Kenzie memerah.


"Kamu!" Alona menghentikan diri untuk tidak berdebat.


"Sebentar lagi pengurus rumah akan datang. Pakaian baru kalian juga sudah ada di kamar kalian masing-masing. Aku akan berkunjung ketika aku memiliki waktu luang. Sampai jumpa." tukas Kenzie, kemudian pergi.


Mobil Kenzie berlalu, Alona masih tidak percaya dengan kebaikan pria itu. Padahal, Alona hanya mengenal bahwa Kenzie itu adalah bos sombong dan angkuh yang menilai semuanya dengan uang. Bahkan Alona juga masih ingat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Kenzie waktu itu.


'Apa sebenarnya motif bos sombong itu? Kenapa kesombongannya kini berubah menjadi belas kasih? Hmm, aku tidak boleh percaya begitu saja. Sementara aku terima saja bantuan, setelah itu jika aku bisa menyewa kosan, aku akan membawa Lita pergi dari rumah ini.' batin Alona.