
Sejak saat hari itu, Kenzie dan Alona menjadi semakin dekat. Ketika Alona mau berangkat sekolah, selalu saja Kenzie yang mengantarnya sendiri sampai sekolahan tanpa ditemani oleh supir pribadinya maupun sang asisten—Willy.
***
Hingga suatu hari, keduanya memutuskan untuk menikmati waktu libur berdua. Mereka juga ingin memberikan waktu pada hubungan mereka yang telah resmi membina hubungan.
"Yakin, kita kencan di tempat seperti ini?" tanya Kenzie, melihat ke sekitar.
Saat mereka melewati jembatan, Alona terpeleset dan hampir saja terjatuh.
"Ah!" teriak Alona.
"Alona!" Kenzie langsung sigap.
Beberapa saat mereka terdiam, menenangkan diri sejenak.
"Kenapa kamu memilih tempat yang seperti ini? Mana di bawah sana airnya sangat deras, bagaimana jika aku terjatuh?" Kenzie terlihat khawatir. "Aku tidak suka!" serunya.
Kenzie yang memang belum pernah pergi ke tempat seperti itu, pastinya akan menjadi tidak nyaman. Dia terus saja memasang wajah cemberut karena tidak menyukai tempat yang Alona pilih.
"Astaga, Kak Kenzie. Tema kencan hari ini kan, alam sekitar. Kita juga tinggal di lingkungan kota yang begitu padat dengan kemacetan dan juga polusi udara. Bagaimana mungkin kita kencan di tengah-tengah kota?" celetuk Alona.
"Iya kita bisa saja ke taman kota, atau bisa di tempat wisata yang benar-benar resmi," Kenzie terus mengamati ke sekitar.
Langkah mundur Alona membuat Kenzie terus was-was. Mereka belum sampai menyebrangi jembatan yang sudah lapuk dimakan usia. Kenzie terus saja senam jantung dan terus tarik nafas dalam-dalam. Sampai akhirnya, kejadian tadi terulang kembali. Alona tergelincir dan hendak jatuh ke sungai.
"Kak, tolong!" teriak Alona dengan tubuh yang sudah siap terjun bebas.
Dengan sigap, Kenzie langsung menahan tangan Alona. Mencoba menarik tangan gadis kecilnya itu. Tapi sayangnya, Alona panik. Posisi tubuhnya semakin mendayung dan pasti saja Alona jatuh ke bawah jika masih panik.
Kenzie berinisiatif mengikat tangan Alona menggunakan menggunakan sabuknya. Kemudian menariknya ke atas, tanpa ia sadar tangannya sendiri malah terluka karena ia menggenggam bagian kepala sabuk yang tajam.
"Alona, bertahanlah, aku akan menarikmu," ucap Kenzie, sekuat tenaga menarik tubuh Alona.
"Kak, jangan biarkan aku jatuh ..." Alona semakin panik.
Sekitar beberapa menit, akhirnya Alona berhasil ditarik juga. Tangan Alona sempat memerah. Melihat itu, Kenzie panik dan mencoba mengusap tangan Alona yang memar karena ikatan sabuk.
"Tanganmu terluka? Coba aku periksa dulu," ujar pria itu.
Alona melihat darah di telapak tangan Kenzie. Segera gadis itu mengajak kekasihnya untuk pergi menjauh dari jembatan itu. Disana ada sebuah pondok kecil yang sangat bersih, kemungkinan masih sering dipakai oleh masyarakat sekitar.
"Tangan kamu terluka, Kak? Biar aku bersihkan dulu darahnya, kebetulan aku selalu membawa plester luka di tasku," Alona terlihat khawatir.
"Obati dulu lukamu, tanganmu memar seperti ini. Aku tidak tega melihat tanganmu yang seperti ini, Alona. Berikan obatnya," tapi Kenzie malah menepis tangan Alona yang mau menempelkan plesternya.
Alona tetap keras kepala membalut luka Kenzie. Dia tidak ingin melihat darah itu semakin mengalir. "Hish, biarkan aku dulu!" gadis itu sampai menekan tangan Kenzie supaya darahnya tidak mengalir lagi.
Ketika Alona memasang plaster, Kenzie begitu menyukai melihat rambut Alona yang terurai seperti itu. Seketika ada suara musik romantis yang membuatnya jatuh kedalam manisnya wajah Alona.
"Kenapa kakak lakukan ini untukku? Kenapa sampai melukai diri karena mau menolongku? Seharusnya tadi lepaskan saja aku supaya jatuh ke sungai, aku bahkan bisa berenang. Dan jika aku hanyut pun kau tidak akan rugi, kak!" Alona sampai ngelantur saking paniknya.
"Aku akan merasakan hidup dalam kehampaan jika tidak ada kamu yang mewarnai kehidupanku. Anda saja diantara kita memang harus ada yang jatuh, aku sangat rela menggantikan dirimu," imbuh Kenzie.
Deg!
Jantung Alona seketika seperti berhenti mendadak. Gadis itu memandang erat wajah Kenzie.
"Sebesar itukah cintamu padaku, aku?" mata Alona mulai berkaca-kaca.
Kenzie membalas tatapan Alona. "Iya, aku sungguh-sungguh sangat mencintaimu. Apakah aku kelihatan sedang membuat lelucon?" katanya dengan tenang.
Mendengar pengakuan Kenzie, Alona langsung memeluk pria itu dengan erat. Tak dapat disangkal jika gadis ini turut bahagia. Dia hanya masih belum percaya saja akan dicintai seseorang dengan cara seperti itu.
'Aku seharusnya bersyukur. Bukankah aku akan sangat bahagia karena dicintai oleh pria seperti kak Kenzie?' batin Alona.
Air matanya mulai menetes, Alona terisak lirih.
"Hei, Alona. Kamu kenapa menangis?" tanya Kenzie jadi khawatir. "Apakah kata-kataku ada yang menyinggung perasaanmu?" Kenzie mencoba melepas pelukan Alona.
"Aku sungguh bahagia sekali kakak mencintaiku seperti itu. Cinta macam apa itu? Bukankah itu malah akan terlihat seperti orang bodoh jika sampai mengorbankan diri sendiri demi orang lain?" suara Alona yang bergetar menambah suasana menjadi haru.
Tangan Kenzie pun menggenggam erat tangan Alona. Kemudian mengatakan bahwa ia mencintai Alona tanpa syarat dan menginginkan gadis itu menjadi kekasihnya seutuhnya.
"Apa kamu mau menjadi kekasihku, secara resmi?" tanya pria itu.
Sudah sangat bahagia, Alona pun mengangguk tanda menyetujui harapan Kenzie. Lalu, mereka pun berpelukan kembali. Suasananya sangat pas, hujan gerimis sedang turun saat itu.
Sejak mereka menjadi sepasang kekasih, mereka semakin dekat. Tak telat juga mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Bahkan Kenzie juga sering pulang kerja cepat supaya bisa menemani Alona tidur. (Keduanya hanya menghabiskan waktu sebelum tidur saja)
***
8 bulan berlalu, hari ini hari kelulusan.
Selama waktu itu berjalan, hubungan antara Alona dan Leon juga membaik. Alona berhasil lulus dengan nilai diatas Natasha. Membuat gadis yang penuh dendam itu sangat kesal karena menjadi yang kedua setelah Alona.
"Apa ini? Alona menjadi yang pertama?" dengus Natasha kesal.
"Kenapa kamu kesal? Bukankah memang sudah selalu seperti itu, ya? Alona—selalu saja unggul," sahut Shasha, menghampiri Natasha yang saat itu mengintip Alona sedang bersama dengan siswa lain.
Natasha pun menoleh. Gadis ini lebih tinggi dari Shasha, jadi ia kelihatan menatap rendah mantan kekasih Leon itu. "Maksudnya apa?" tanyanya dengan ketus.
"Berhentilah menjadi orang yang munafik. Bukankah kita sama-sama memiliki musuh meski berbeda masalah?" Shasha ini memang pandai sekali bicara.
"Leon memutuskan hubungan denganku hanya karena gadis sialan itu. Lalu, kamu menjadi yang kedua setelah dirinya juga. Bukankah—musuh kita ini sama?" sambung Shasha.
"Akan lebih baik jika kita bekerja sama tidak, sih?" Shasha mulai mempengaruhi Natasha.
Natasha sebenarnya bukan gadis yang bodoh seperti Shasha yang dibutakan oleh cinta. Tapi tawaran dari mantan kekasih Leon memang sulit untuk ditolak olehnya. Sama-sama saling memanfaatkan, Mereka pun akhirnya bersatu untuk membuat Alona dipermalukan di acara perpisahan sekolah.
Apakah tujuan mereka berhasil?