I Choose You!

I Choose You!
Aku Mencintaimu



Alona semakin tersulut emosi. Dia tidak yakin dengan perasaan yang dirasakannya saat itu.


"Aku yakin sekali, kamu menyatakan suka ini karena kami kasihan padaku, 'kan?" cetus Alona. "Kamu sama saja dengan Natasha. Kamu itu sahabatku, seharusnya kamu tidak memperlakukan aku seperti ini, Leon!"


Apapun itu, Alona menolak keras ajakan Leon untuk membina hubungan lebih dari persahabatan. Bahkan Alona juga terus diam setelah mengatakan itu.


Pelajaran berjalan dengan tenang. Waktunya pulang sudah tiba, bel pun berbunyi. Alona bersiap diri untuk segera pulang ke rumahnya. Tapi sebelumnya, ia akan pergi ke cafe lebih dulu, dimana Kenzie memberinya pekerjaan itu.


"Lon, aku antar kamu pulang, ya ..." Leon masih berusaha.


"Tidak! Aku bisa pulang sendiri!" tolak Alona.


Bukan salah Leon juga sebenarnya jika saat itu ia tidak ada disampingnya, karena tekanan dari saudara sepupunya lah yang membuat Leon harus menjauhi Alona untuk sementara waktu.


***


Di sore hari pulang sekolah, Alona duduk di halte bus dekat sekolahnya, memainkan ipad nya dan mendengarkan musik kesukaannya. Baginya, musik itu adalah jiwanya. Bermain dan mendengarkan musik bisa membuat Alona melupakan sejenak beban hidupnya yang sangat berat.


Tapi baru saja menikmati indahnya musik di telinganya, Natasha sayang dan membuat suasana menjadi tidak nyaman lagi.


"Heh miskin! Dimana sugar daddy-mu itu? Haha, pasti sudah bosan denganmu, ya? Jadi—kamu dibuang begitu saja," usik Natasha pada Alona.


Alona memilih untuk tidak menghiraukan apa yang dikatakan Natasha kepadanya. Ia merasa jika kata-kata dari teman masa SMP-nya itu tidak ada isinya sama sekali.


Bus pun datang menyelamatkan situasi, Alona segera masuk bus tanpa menghiraukan Natasha dan teman-temannya. Gadis itu sampai harus mendorong tubuh Natasha hingga hampir terjatuh karena menghalangi jalannya.


"Woy!" Natasha teriak tidak terima.


"Ups, Sorry, sengaja saja aku. Lain kali kamu disampingnya aku lagi, ya. Hmm, kali saja aku bisa membuat wajahmu itu semakin cantik," ledek Alona, terkekeh.


Kekesalan Natasha memuncak, ia selalu tidak bisa menindas Alona dengan mudahnya. Sering kali Alona ini bisa lolos dari semua hinaan yang ia lontarkan.


***


Di tempat lain, Kenzie sudah menunggu gadis kecilnya begitu lama di cafe yang direkomendasikan. Saking tidak sabarannya, bahkan Kenzie sampai tertidur disana. Kenzie ini benar-benar menyukai Alona—mantan pengamen jalanan yang cerdik dan riang. Sejak awal pertemuannya membuat Kenzie tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Huaaammm ..." Kenzie menguap.


"Kenapa dia lama sekali? Sebenarnya dia mau datang atau tidak?" gumamnya lirih.


Menunggu 1 jam lagi, barulah Alona sampai di cafe tersebut. Gadis itu langsung bisa melihat Kenzie yang juga ada disana. Sejujurnya membuat Alona menjadi sedikit canggung. Manager cafe itu ternyata sahabatnya Kenzie, namanya Justin. Justin menyambut kedatangan Alona dengan baik, lalu mulai berkenalan dan bernegosiasi.


"Hei, apa kamu yang bernama Alona?" sambut Justin.


Kenzie terbangun.


"Oh iya, aku Alona. Sarah Alona," gadis itu meraih tangan Justin, mereka bersalaman.


Justin meminta Alona untuk tes vokal saat itu juga. Mau bagaimana lagi, Alona memang melamar pekerjaan sebagai penyanyi di cafe itu. Alona pun menyetujui permintaan Justin itu, dan mulai bernyanyi.


"Kudengar dari seseorang, kamu pandai sekali memetik gitar dan suaramu merdu. Apa kamu bersedia untuk dites lebih dulu sebelum membuat kesepakatan kerja denganku?" tawar Justin.


"Eh?" Alona sedikit bingung.


Rupanya, Kenzie dan Justin jatuh cinta dengan suara Alona yang begitu lembut dan memiliki ciri khasnya sendiri. Mereka dibuat mabuk kepayang oleh suara merdunya. Cinta Kenzie semakin tumbuh untuknya, melihatnya membuat pria dewasa itu merasa terbang di udara bersama merdunya suara Alona.


Semua orang memberi tepuk tangan untuk Alona begitu gadis ini menyelesaikan satu lagunya. Dia menghampiri meja Kenzie dan Justin yang dimana keduanya duduk bersama. Senyuman Alona mengalihkan dunia Kenzie begitu saja, sehingga sapaan Justin tidak didengarnya.


"Ken, sambutlah artis kita," Justin menyentil lengan Kenzie.


Sayangnya, Kenzie sama sekali tidak meresponnya.


"Ken ..." Justin kembali memanggil sahabatnya itu. Tak ada jawaban, Justin pun menoleh. "Astaga, dia melamun?"


"Ken!" Justin pun menepuk bahu Kenzie.


"Sorry, ada apa?" Kenzie benar-benar melamun.


"Hey segitu terkesimanya dirimu dengan suara gadis itu? Bahkan sampai suaraku saja tak dapat kau dengar, ha?" ledek Justin..


Kenzie menatap sinis sahabatnya itu. Alona pun datang dan duduk bersama mereka. Senyum hangat Kenzie dibalas oleh Alona.


"Aku menerimamu bekerja disini. Bagaimana jika kamu juga bekerja menjadi kasir? Itung-itung menambah penghasilan dirimu juga, Alona," tawar Justin.


"Benarkah?" tentu saja Alona terlihat riang.


Justin mengiyakan dan Kenzie pun juga menganggukkan kepalanya. Tak disangka bagi Alona bisa bekerja ditempat yang jauh lebih baik daripada di pinggir jalan dan di samping lampu merah. Gadis itu penuh dengan syukur, dia tersenyum manis kala itu.


***


Sore itu, Kenzie mengantar Alona pulang ke rumah. Senyum bahagia Alona yang terpancar membuat hati Kenzie juga itu bahagia. Pria ini sungguh bahagia melihat gadis kecilnya tersenyum manis.


"Tumben sekali pak supir dan asisten Willy tidak ikut. Kemana mereka?" tanya Alona.


"Sengaja," jawab Kenzie. "Sengaja saja, supaya aku bisa bicara berdua denganmu," lanjutnya.


"Um, aku lapar sekali. Ketika kita di cafe tadi, kita tidak makan apapun. Bagaimana jika kita cari makan dulu?" ajak Kenzie.


"Hmm, baiklah. Ayo, Kak! Sore ini kita habiskan waktu berdua saja, kalau perlu sekalian sampai malam. Kita nonton juga, yuk!"


Tidak seperti biasanya Alona mengiyakan dengan cepat ketika Kenzie meminta sesuatu. Namun hari ini hari yang membahagiakan bagi gadis itu akhirnya dia mendapat pekerjaan yang sesuai dengan passionnya.


"Alona ...." panggil Kenzie lirih.


"Hmm, iya, Kak. Ada apa?" tanya Alona dengan suara yang sedikit manja di telinga Kenzie.


"Aku mencintaimu," ucap Kenzie sangat jelas.


Tapi Alona hanya diam saja. Dia memang menyukai Kenzie juga. Akan tetapi, Alona merasa jika dirinya belum di fase jatuh cinta. Gadis ini masih merasa bingung harus jawab apa. Kenzie sudah sangat baik padanya, itu yang selalu membuat beban pada perasaannya.


"Tenang saja, aku hanya mengucapkan apa yang ada dalam hatiku," lanjut Kenzie.


"Aku juga akan berusaha membuat kamu jatuh cinta padaku, Alona. Beri aku kesempatan, okay?" Pria itu rupanya tidak main-main.


Alona hanya mengangguk, betapa bahagianya Kenzie melihat anggukan itu. Akhirnya Alona mau memberikan kesempatan untuk Kenzie supaya bisa membuatnya jatuh cinta.


"Alona, aku sungguh mencintaimu. Apa aku bisa menggenggam tanganmu sebentar saja?"


"Aku janji, aku hanya akan menggenggam tanganmu sebentar, tidak akan lama, Alona."