
"Katakan!"
Kenzie serius sekali kala menerima teleponnya. Alona menjadi bingung karena Kenzie tidak bersikap seperti biasa, bicaranya juga berbeda nada.
Setelah menerima telepon itu, wajah Kenzie juga seketika berubah. Ia langsung bergegas pergi membawa Alona bersamanya.
"Ayo, ikut aku!" Kenzie menarik tangan Alona.
Genggaman tangannya sangat erat, tak bisa Alona tolak karena pada dasarnya juga Alona penasaran mengapa prianya berubah secepat itu.
'Kenapa diam saja? Apa yang terjadi? Setelah menerima telepon, dia terus diam saja. Bahkan cincin yang tadi saja hanya di masukkan ke jariku, kemudian tidak ada kata-kata lainnya,' batin Alona.
Di dalam perjalanan pulang pun memang Kenzie sama sekali tidak berkata apapun. Pria berperawakan tinggi dan gagah itu masih betah diam, fokus menyetir.
'Mau dibawa kemana aku?' batin Alona lagi.
Kebingung itu masih ada ketika mereka sampai di sebuah rumah yang mewah sekali. Rumah tersebut bangunannya begitu tinggi, bahkan juga sangat luas dengan cat putih menambah kesan elegan pada rumah tersebut.
'Aku ingin bertanya, tapi Kak Kenzie tidak melepaskan tanganku. Memangnya ada apa?' batinnya lagi.
Di bawanya Alona ke dalam rumah mewah itu. Sungguh memanjakan mata Alona melihat keindahan isi rumah tersebut.
'Astaga, rumahnya indah sekali. Sebenarnya ini rumah milik siapa? Apakah miliknya?'
Ruang tamu telah terlewati. Ruang tamu itu seluas rumah yang saat ini Alona tempati. Bagaimana gadis itu tidak takjub. Alona dibawa terus ke dalam, dan pada akhirnya melihat ada orang yang mungkin satu keluarga, tentu saja Alona tidak mengenalnya.
'Apa mereka keluarga Kak Kenzie? Kenapa juga dia membawaku kesini?'
Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dalam pikiran Alona. Membuatnya sulit memahami karena Kenzie juga tidak mengatakan apapun.
"Dimana nenek?" tanya Kenzie, raut wajahnya panik.
"Ada di kamar. Hmm, beliau sudah menunggu anda, Tuan," tunjuk pelayan itu.
Alona berusaha tersenyum pada pelayan itu. Tetapi, pelayan tersebut tidak membalas senyuman manis darinya. 'Hish, kenapa dia begitu sinis? Siapa dia?' batinnya kesal.
"Ayo!" Kenzie mengajak dengan masih menggandeng tangan Alona.
Satu keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak itu terus saja memandangi Alona dengan raut wajah penasaran. Mereka mungkin berpikir yang bukan-bukan tentang gadis itu.
'Hmm, aku sangat yakin jika mereka sedang mengawasiku. Lihat saja bagaimana cara mereka melihatku tadi,' batin Alona.
"Ma, siapa ya gadis SMA itu? Kenapa dia di bawa kemari oleh Kenzie?" tanya pria yang kemungkinan ditebak sebagai seorang ayah oleh Alona.
"Mama juga tidak tahu, Pa. Kali saja pelayan baru atau apa," jawab istrinya.
Klek~
Pintu terbuka, Kenzie menemui neneknya yang sedang terbaring di ranjang. Kondisinya lemas dan suaranya parau, tanda jika sang nenek sedang tidak baik-baik saja.
"Nenek, bagaimana kabarmu?" Kenzie mengusap tangan neneknya menggunakan tangan sebelah kanan karena yang kiri masih menggenggam erat tangan Alona.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sangat khawatir sejak tadi," sahut Kenzie.
Nenek Kenzie ini tutur katanya santun, elegan dan terdengar sekali bahwa beliau adalah seorang yang berpendidikan.
"Mengapa kamu tidak pernah mengunjungi Nenek? Apa sudah tidak menganggapku sebagai nenekmu lagi?" nenek Kenzie masih bersikap manja.
"Bukan seperti itu, Nek. Aku memiliki banyak pekerjaan, lagipula ada Vegas juga juga ya—" ucapan Kenzie terhenti.
"Berhenti menyebut namanya. Nenek tidak menyukainya sama sekali. Anak itu tidak pernah kembali setelah membuatku kehilangan putra dan menantu kesayanganku!"
Nenek Kenzie sangat manja pada cucu-cucunya. Bagaimanapun juga, hanya kedua cucunya yang saat itu ia miliki setelah kepergian putra dan menantunya.
"Nenek, kenapa nenek keras kepala sekali? Kenzie baru saja kembali, bagaimana bisa nenek malah banyak menuntut seperti ini. Apa nenek mau, Kenzie pergi lagi dan akan pulang lebih lama dari sekarang?" seorang wanita dengan rambut lurus dan tubuh yang bagus masuk ke kamar.
Wanita itu bernama Jeanne, sahabat masa kecil Kenzie dan anak dari sahabat mendiang kedua orang tua Kenzie.
Alona yang tidak mengenal siapapun juga di sana hanya bisa diam. Tangannya masih digenggam erat oleh Kenzie, sehingga ia tak bisa pergi dari kamar tersebut.
"Hmm, kamu memang anak yang kurang ajar," nenek Kenize—Nyonya Brenda menyentil paha Jeanne.
"Jika aku tidak kurang ajar, maka tidak ada yang meledek nenek lagi. Ayo, istirahat yang cukup, segera sembuh dan kita bisa pergi berbelanja lagi, hmm?" Jeanne tentunya sudah dekat sekali dengan keluarga Kenzie.
Alona sangat kagum dengan sosok Jeanne ini. Jeanne adalah wanita yang sangat modis dan kelihatan sangat berkelas. Dari ujung rambut sampai ujung kaki semua yang ia kenakan terlihat begitu mahal. Bahkan Alona juga melihat Jeanne ini sangat cantik.
'Cantik sekali, siapa dia?' batin Alona.
Ketika Jeanne berdiri di samping Alona, dia baru melihat jika Kenzie menggenggam erat tangan Alona saat itu. 'Apa dia gadis yang disukai oleh Kenzie? Ini ... seragam sekolah SMA?' batinnya.
'Bagaimana bisa dia mencintai gadis belia seperti dia?' Jeanne masih tak bisa berpikir.
Nenek Kenzie—Nyonya Brenda ternyata belum melihat adanya Alona di sana. Gadis manis nan mungil itu rupanya bisa tertutup keberadaan oleh tubuh gagah dan besarnya Kenzie. Jadi, Nyonya Brenda langsung saja mengatakan jika dirinya ingin sekali mempercepat pertunangan Kenzie dengan Jeanne.
"Beruntung sekali kamu yang datang kesini menemui nenek. Ada hal yang ingin nenek sampaikan padamu, Kenzie," ucap Nyonya Brenda dengan suaranya yang masih parau.
"Katakn nanti saja. Sekarang lebih baik nenek istirahat dulu, aku akan masih disini menemani nenek," sahut Kenzie.
Nyonya Brenda menggelengkan kepala. Sementara Jeanne, sesekali masih melirik ke tangan Kenzie dan Alona. Hatinya memang sedih, tapi dia belum tahu hubungan seperti apa yang keduanya miliki. Jadi Jeanne lebih memilih untuk diam.
"Nenek ingin ... pertunangan kamu dengan Jeanne secepatnya dilaksanakan. Atau kamu akan melihat nenekmu ini mati sebelum kalian melangsungkan pernikahan?" ancaman, keinginan dan juga paksaan dari Nyonya Brenda membuat Alona terkejut.
"Bukankah kita pernah membahas hal ini sebelumnya, Nek? Aku tidak ingin menikahi wanita manapun juga ... sebelum aku benar-benar menemukan tambatan hatiku sendiri," kata Kenzie.
"Tapi kamu dan Jeanne adalah pasangan yang sempurna. Bagaimana kamu bisa tidak tertarik dengannya? Kamu selalu saja menolak," Nyonya Brenda kembali merajuk.
"Nek, saat ini aku sudah memiliki seseorang dalam hatiku. Mana mungkin aku bertunangan dengan wanita lain?" Kenzie mencoba menjelaskan.
"Jeanne bukan orang lain, dia adalah calon menantu di keluar ini. Camkan itu, Kenzie!" emosi Nyonya Brenda memuncak.