
Selang beberapa hari, barulah kedua teman Kenzie datang menemuinya. Mereka menjenguk Kenzie karena mendengar kabar dari Jeanne. Dua teman Kenzie ini bernama Andre dan Justin. Keduanya baru kembali liburan dari luar negeri.
"Bro, kenapa kamu tidak mau memberikan kabar ini pada gadis itu? Memangnya dia gadis yang bagaimana?" tanya Justin.
"Dia baik," jawab Kenzie singkat.
"Lalu, kenapa kamu masih merahasiakan hal sebesar ini? Jika dia adalah gadis yang baik, aku sangat yakin jika dia mampu menerimamu dalam keadaan apapun juga!" sahut Andre.
Kenzie masih diam saja.
"Kalian percuma saja bicara dengannya. Beberapa hari ini aku sudah berusaha untuk membujuknya, tetap saja dia tidak bersedia untuk kita memberi kabar ini pada kekasih kecilnya itu," timpal Jeanne.
"Hmm, ajaib saja. Pria yang belum pernah jatuh cinta, sekali jatuh cinta langsung menjadi budak," sindir Andre.
Helaan nafas pelan dan buangan udara terdengar keluar dari hidung Kenzie. "Kalian tahu apa?" ketusnya.
"Alona sudah cukup menderita karena kehilangan kedua orang tuanya, rumahnya juga terbakar setelahnya. Aku tidak ingin membebani hidupnya lagi dan fisik yang cacat seperti ini," jelas Kenzie lirih.
Kedua sahabatnya, juga teman masa kecilnya—Jeanne sudah berusaha. Ditambah lagi Alona juga sudah meninggalkannya untuk mematuhi ucapan neneknya. Kenzie tidak mengharapkan lebih, dia kini hanya bisa menikmati sisa hidupnya dengan dunia yang gelap, tanpa kekasih hati dalam hidupnya.
Adapun permintaan konyol Kenzie pada teman-temannya.
"Apa katamu? Kami harus bersandiwara?" tanya mereka bersamaan.
"Aku ingin Alona menjauh dariku. Buat dia salah paham padaku dan membuatnya tahu jika aku sudah tidak lagi mencintainya," kata Kenzie.
"Buatlah dia semakin menjauh dariku. Terserah kalian ingin menggunakan cara apapun juga, yang terpenting yang membenciku supaya tidak terlalu sakit ketika aku memutuskan untuk pergi darinya," imbuhnya.
"Bantu aku juga supaya membuat Alona bisa mengejar cita-citanya menjadi seorang penyanyi profesional,"
"Terakhir .... Jangan katakan apapun padanya tentang diriku," tukas Kenzie.
Kenzie meminta kedua sahabatnya untuk membuat gambar buruk tentang dirinya supaya Alona membencinya.
"Tapi, Apa kamu tidak kasihan padanya, Ken?" tanya Andre, berusaha membujuk.
"Jika dia mencintaimu sungguh-sungguh, bukankah dia malah semakin terluka karena keegoisanmu ini?" sambung Andre, gugup.
"Apa yang dikatakan Andre ada benarnya juga. Bagaimana jika gadis itu mencintaimu dengan tulus? Bukankah itu sama saja kau yang mematahkan sayap harapannya?" timpal Justin.
Justin berharap Kenzie memikirkan ulang keputusannya itu. Membuat Alona membencinya, sungguh berat bagi Justin melakukannya.
"Jean," panggil Kenzie lemah.
"Hm?" suara Jeanne begitu lirih karena saking bingungnya.
Kenzie menghela nafas. "Tolong kamu buat undangan pernikahan palsu menggunakan nama kita. Setelah itu, berikan undangan tersebut pada Alona," perintahnya.
"Aku janji, setelah permintaan pertolongan ini ... Aku membebaskan dirimu menikah dengan pria yang kamu cintai dan pergilah ke luar negeri bersama dengan keluargamu," lanjut pria itu.
Ketiganya semakin tercengang dengan apa yang diinginkan oleh Kenzie. Benar-benar di luar nalar dan juga jauh dari pemikiran yang positif.
"Cinta memang membuat orang jenius sepertimu bisa bodoh. Huft, aku jadi merinding sekali," sahut Andre.
"Baiklah, besok aku akan temui gadis itu dan memberikan beasiswa kuliah di Singapura yang sudah kamu siapkan, bye!"
"Sehat-sehat, Bro!" Sebelum pergi Justin menepuk pelan bahu Kenzie.
Aku juga dengan Andre dan juga Jeanne. Mereka berpamitan dan membiarkan Kenzie untuk menenangkan diri dulu.
Sebenarnya baik Kenzie maupun teman-temannya sangat yakin jika Alona bisa menerima Kenzie apa adanya. Seorang Kenzie juga pasti dengan mudah menemukan donor mata untuknya, meski harus ke luar negeri sekalipun.
Namun ketakutan Kenzie yang merasa dirinya akan membebani Alona lah yang membuat pria itu mengundurkan diri dari permainan cintanya.
***
Satu bulan telah berlalu, antara Alona dan Kenzie sama sekali tidak berkabar satu sama lain. Mereka benar-benar memutuskan komunikasi dan Kenzie sendiri telah memblokir nomor pribadinya Alona.
Mengapa sampai Kenzie memblokir nomornya Alona? Itu karena supaya Alona mengira bahwa Kenzie yang benar-benar telah meninggalkannya. Selama 1 bulan itu juga sebenarnya keduanya sama-sama saling tersiksa. Kerinduan yang mendalam tentang cinta yang baru saja merekah tiba-tiba harus putus sebelum sampai menikmati kebersamaan dengan waktu yang cukup lama.
'Hmm, bahkan Kak Kenzie telah memblokir nomorku. Dia benar-benar meninggalkan aku,' gumam Alona dalam hati.
"Alona, kamu tidak perlu bersedih. Apa yang dilakukan oleh kak Kenzie memang sangat mulia karena ingin membahagiakan neneknya. Seharusnya kamu bangga karena pernah dicintai oleh orang seperti dia,"
"Tapi aku sangat heran, Kenapa biaya sekolahku tidak pernah diputus oleh kak Kenzie? Bahkan Lita saja sekarang masuk bimbingan belajar di tempat yang mahal,"
"Kak Justin mengatakan, jika biaya hidup dan juga biaya pendidikan kami semua masih ditanggung oleh kak Kenzie,"
Bibir tipis Alona tersudut dan tersenyum manis. "Kak, Aku akan berusaha bangkit dan mengejar cita-citaku menjadi seorang penyanyi profesional. Supaya apa yang kamu berikan saat ini padaku tidak berakhir sia-sia," gumamnya.
Matahari siang itu berada tepat di atas kepala. Siang ini suasana panas serta langit biru tiada awan. Jadi udara menjadi panas dan membuat kepala pusing.
Seharian penuh gadis cantik ini keliling mencari pekerjaan tapi tidak ada hasilnya. Sebenarnya dia juga masih bisa bekerja di cafe milik Justin. Tapi merasa tidak enak hati jika selama cafe buka dia tetap ada di sana.
"Sudah dua mingguan ini aku mencari pekerjaan para waktu di malam hari tidak ketemu juga," gumamnya lemas.
"Aku juga sudah tidak kuliah selama 1 bulan. Apakah aku sebaiknya memang tidak melanjutkan pendidikanku saja, ya?"
"Tapi kira-kira Kak Justin marah tidak, ya, jika aku tidak masuk dulu hari ini?"
"Eh, Tapi sebaiknya aku harus tahu diri. Aku sudah diberi pekerjaan olehnya, meski Kak Justin adalah sahabat dari Kak Kenzie ... Bukankah yang namanya pekerjaan itu tidak bisa dicampurkan oleh urusan pribadi?"
Alona malah menjadi pusing sendiri. Kakinya terus melangkah menuju cafe tempat biasanya ia bernyanyi, yakni cafe miliknya Justin.
Ketika ia baru masuk ke cafe, Alona melihat adanya Jeanne sedang duduk bersama dengan Andre dan Justin. Berharap Alona dapat melihat keberadaan Kenzie juga disana.
'Apa Kak Kenzie ada bersama mereka? Aku sangat merindukannya, jika dia ada di sini setidaknya rindu ini terobati sedikit,' harap Alona dalam hati.
Mata indahnya terus mencari-cari seseorang yang ada dalam harapannya. Sayangnya orang yang dicari tidak ada di antara sahabat sahabatnya.
'Aku ini sedang berharap apa? Kak Kenzie sebentar lagi akan menikah, Bagaimana mungkin dia pergi ke tempat seperti ini yang ada diriku?' Alona mulai sedih lagi.