I Choose You!

I Choose You!
Terenggut Cinta



Jeanne mendekati Nyonya Brenda. Wanita itu menyentuh tangan Nyonya Brenda dengan lembut.


"Nenek, aku dan Kenzie tidak perlu menikah dan juga menjalankan perjodohan ini sesuai dengan pembicaraan orang tua," tuturnya.


"Kamu masih memiliki hubungan bisnis dan selamanya tidak akan pernah putus meski kami tidak menikah," Jeanne memang wanita yang santun.


Nyonya Brenda menyeritkan alisnya. Tatapan ketulusan Jeanne membuat Nyonya Brenda tidak bisa menyakitinya.


"Kamu—siapa?" tanya Nyonya Brenda, menatap Alona.


Saat itu Alona tak langsung menjawab. Gadis itu perlahan mendekati Kenzie dan hanya menyentuh bahunya.


"Alona," sebut Kenzie lirih.


Senyum Alona saat itu membuat Kenzie resah. Itu bukan senyuman bahagia, melainkan senyuman mengalah dan Kenzie paham itu.


"Nama saya, Alona," lalu Alona mencium tangan Nyonya Brenda.


"Jika boleh saya tahu, apa hubungan apa kamu dengan Kenzie?" tanya Nyonya Brenda.


Alona magelengkan kepala. "Kami—" ucapan Alona terhenti. Dia tidak tega sekali melihat betapa lemahnya wanita tua yang ada di depannya itu.


Di sisi lain Kenzie sangat mengharapkan Alona bisa memperkenalkan diri sebagai calon istrinya, bukan gadis lain yang ia bawa pulang karena merasa kasihan.


"Kami tidak memiliki hubungan apapun, Nyonya," ungkap Alona.


Ungkapan Alona membuat Kenzie dan Jeanne mahalan nafas kasar. Mereka juga bersamaan memutar matanya.


'Gadis ini, dia sangat bodoh. Kenapa tidak jujur saja jika dia adalah wanita yang dipilih oleh Kenzie? Mengapa harus berbohong?' ujar Jeanne dalam hati.


"Nyonya tenang saja. Pernikahan Tuan Kenzie dan Nona—pasti akan terlaksana," lanjut Alona. "Saya pamit dulu, permisi ..."


Alona langsung pergi. Ia tak tega sekali jika harus menyakiti hati orang tua. Mengingat dirinya seorang yatim piatu membuatnya tak bisa mendukung pemberontak yang dilakukan Kenzie. Sebelum ia keluar, ia juga mencium tangan kedua orang tua Jeanne.


"Nyonya, Tuan, saya pamit dulu," Alona pergi sungguhan.


"Gadis itu sangat sopan. Tidak heran jika Kenzie memilihnya," gumam ibunya Jeanne.


Kebetulan sore itu hujan turun sangat deras. Jeanne mengkhawatirkan Alona dan meminta Kenzie untuk segera mengejar.


"Kenzie, kamu kenapa masih ada di sini? Ayo, kejar dia!" pinta Jeanne.


Kenzie menatap neneknya.


"Kamu kejarlah dulu. Biarkan aku yang menemani nenek," Jeanne sungguh baik.


Tanpa pikir panjang lagi, Kenzie langsung berlari keluar.


"Kenzie!" teriak Nyonya Brenda memanggil.


Tapi kedua orang tua Jeanne juga meminta Kenzie untuk segera mengejar Alona. Mereka juga tidak gila akan jabatan maupun harta. Jika putrinya tidak mau menikah dengan Kenzie, maka perjodohan itu memang tidak seharusnya dilaksanakan.


"Alona!"


"Alona!" teriak Kenzie memanggil gadis kecilnya.


Kenzie memang berhasil mengejar Alona. Tangan mungilnya itu terus ia genggam seperti tak mau lagi melepaskannya. Pria itu meminta Alona untuk tetap tinggal bersamanya dan ingin memperjuangkan cintanya.


"Alona, tolong jangan pergi," pinta Kenzie menahan tangan kecil gadisnya.


"Kak Kenzie," sebut Alona lirih.


"Bukankah kamu sudah dijodohkan dengan wanita yang ada di dalam sana? Mengapa kamu juga meminta untuk tinggal?" tanya Alona lirih.


"Saya dan wanita itu sama-sama seorang wanita. Kami pasti memiliki perasaan yang sama. Saya tidak ingin menyakiti siapapun karena cinta yang kita miliki, Kak!" Alona sampai gemetar mengatakan itu.


"Saya sangat mencintaimu. Bahkan jika saya harus kehilangannya nyawa sekalipun, demi dirimu, saya tidak akan pernah menyesal sama sekali," ucap Kenzie lirih.


Sesaat Alona memang memanfaatkan pelukan Kenzie untuk menenangkan dirinya. Alona membalas pelukan itu juga dengan pelukan hangat. Setelah merasa Alona bisa memeluk pria yang dicintainya, Gadis itu pun melepaskan pelukannya.


"Cinta itu tidak harus memiliki. Saya rela jika kamu menikah dengan pilihan keluargamu, Kak," ucap Alona, melepaskan tangan Kenzie dari tubuhnya.


"Saya akan bertanya padamu. Tolong jawab pertanyaan saya ini dan kejujuran dari dalam hatimu, maka saya akan kembali dan berdiskusi kembali dengan nenek saya," ucap Kenzie.


"Alona, Apakah kamu pernah mencintai saya? Apakah kamu memiliki perasaan untuk saya?" lanjut Kenzie.


Pertanyaan itu tak kunjung Alona jawab, Alona terdiam, hujan semakin lebat. Bukannya masih ragu dengan perasaannya, namun ia tidak ingin berharap lagi dengan perasaannya. Ia masih berpikir bahwa Kenzie akan menikah dengan wanita lain dan membuat hatinya terasa teriris, luka, lalu dibasahi dengan alkohol.


"Saya ... saya sangat mencintaimu, Kak Kenzie. Namun saya tetap menghormati nenek kamu sebagai orang tua," ucap Alona sambil menangis.


"Selagi nenek masih ada, tolong bahagiakan dirinya. Atau kamu akan menyesal seperti apa yang saya rasakan saat ini. Kedua orang tua saya meninggal tragis tabrak lari, jadi—" perkataan Alona terhenti.


Di belakang Kenzie, Jeanne berdiri mendengarkan apa yang dikatakan mereka. Mendengar pernyataan Alona yang di mana dia mengatakan bahwa orang tuanya meninggal karena tabrak lari membuatnya teringat akan suatu hal.


Beberapa waktu lalu dia juga menabrak dua orang dan meninggalkannya begitu saja di jalanan.


'Orang tuanya meninggal karena tabrak lari?' batinnya.


Alona berusaha melepas genggaman tangan Kenzie, ia tidak ingin membuat pria yang dicintainya menjadi anak durhaka karena tidak membiarkan dirinya berbakti kepada Neneknya.


"Tolong, mengertilah ..." kata Alona lirih.


Alona berhasil lolos, ia berlari dan terus berlari.


Semakin Kenzie mengejar, Alona semakin menjauh. Pandangan mata Kenzie menjadi kabur karena derasnya air hujan.


Hingga .....


Bruak!


Musibah tidak bisa dihindari Kenzie. Pria berusia 30 tahun itu tertabrak mobil ketika hujan deras. Jeanne yang melihatnya langsung berlari menghampirinya.


"Kenzie?"


"Alona!" teriak Jeanne memanggil Alona.


Sayangnya Alona tidak bisa mendengar panggilan dari Jeanne dan juga musibah yang menimpa Kenzie. Segera Alona berteriak meminta sopir mobil tersebut untuk memanggil orang dalam rumah Nyonya Brenda.


"Kenzie, bertahanlah,"


Jeanne sangat khawatir dengan keadaan Kenzie yang darahnya terus saja keluar dari kepalanya. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada pria yang sejak kecil menemaninya bermain.


"Tidak, kamu harus baik-baik saja, Ken,"


"Pak, ayo cepat! Terobos saja lampu merahnya, nyalakan lampu daruratnya," pinta Jeanne. "Kita harus segera sampai ke rumah sakit."


Mobil melaju kencang menerjang hujan deras. Kenzie yang tak sadarkan diri membuat Jeanne ketakutan. Khawatir jika terjadi apapun pada pria yang menghiasi masa kecilnya.


"Kenzie, bertahanlah ..."


Sesampainya di rumah sakit, segera para perawat membawa Kenzie ke unit gawat darurat. Kenzie di periksa oleh ayah dari sahabatnya.


Lama sekali pemeriksaan itu sampai membuat Jeanne hampir memejamkan mata karena mengantuk. Sayangnya, tiba-tiba saja Jeanne teringat dengan Alona.


"Gadis itu juga mencintai Kenzie. Kulihat dia adalah gadis yang baik, bagaimana caranya dia bisa mendapatkan hatinya Kenzie yang beku?" gumam Jeanne lirih.


"Kecelakaan orang tuanya, kenapa kecelakaan orang tuanya membuatku ter—" Jeanne terbungkam sementara.