I Choose You!

I Choose You!
Fitnah Tak Berkesudahan



"Apa kalian sungguh tega padaku? Berselingkuh?" kekasih dari Leon ini tak terima dengan pernyataan Natasha.


Shasha, nama dari kekasih Leon ini sangat cemburuan. Mendapatkan cinta Leon bukanlah suatu pencapaiannya, dia hanya tidak menyukai Alona, jadi dia hanya ingin merebut hal atau seseorang yang membuat Alona bahagia.


"Sejak awal memang aku tidak percaya dengan persahabatan kalian!" Shasha semakin kesal.


Bagaimanapun juga Leon telah mencoba menjelaskan yang sebenarnya pada Shasha tetap saja kekasihnya itu tidak mempercayainya. Gadis itu tetap yakin jika memang Alona memiliki perasaan pada kekasihnya—Leon.


"Malas aku!" teriak Shasha. "Kamu selalu saja memprioritaskan dia daripada aku, kekasihmu," lanjutnya.


"Wanita ini memang murahan, aku tidak pernah menyukai keberadaannya," hina Shasha pada Alona.


Ucapan Shasha kali itu telah melukai hati Alona. Berharap Alona mendapat pembelaan dari Leon, tapi ternyata sahabat sejak kecilnya itu hanya diam saja. Tatapan matanya Alona begitu penuh harap, tapi Leon hanya menunduk tanpa mau melihatnya.


"Berhenti menatapnya!" Shasha menepis bahu Alona.


Begitu perlakuan Shasha sudah kasar pun, tetap saja Leon masih menundukkan kepala.


"Kubilang jangan tatap kekasihku seperti itu!" Shasha semakin mengamuk. "Pergi saja kamu sana!" usirnya dengan mendorong tubuh Alona.


Melihat Leon tanpa reaksi membuat Alona semakin terluka. Sejak kecil memang tidak pernah berjauhan, saat itu lah waktu yang memang sudah memisahkan karena adanya pihak lain diantara mereka.


'Dia diam saja? Secara tidak langsung, dia memilih kekasihnya,' batin Alona.


Gadis itu bukanlah orang yang egois. Supaya hubungan sahabatnya dengan kekasihnya langgeng, ia rela menjauh dari Leon mulai saat itu. Alona pun berlari ke kamar mandi dan menangis.


Melihat Alona pergi membuat hati Leon juga terluka. Ingin sekali dirinya berlari menyusul Alona pergi, namun ada hati yang saat itu mesti ia jaga. Begitu juga dengan Natasha yang sangat bahagia setelah Alona berlari pergi.


"Puas kali aku melihat adegan ini. Dia memang sudah saatnya untuk dipertegas supaya tahu diri!" Natasha bergumam dengan senyum licik di bibirnya.


Air mata Alona menetes begitu saja. Dia berlari dengan sekuat tenaga untuk menghindari para siswa supaya tidak melihatnya dalam keadaan menangis.


"Semua orang meninggalkan aku. Ayah,.Ibu pergi untuk selamanya, dan juga Leon yang selalu ada untukku saja kini sudah dimiliki orang lain," kesedihan Alona tak berkesudahan.


"Aku masih bertahan sejauh ini karena Lita. Semoga saja aku bisa membuatkan masa depan yang indah untuknya," Alona menyeka air matanya.


Alona menangis tersedu-sedu.


"Ini kenapa air mataku tidak mau berhenti? Terus saja pendeta sejak tadi hingga membuatku kesal sendiri!"


"Tidak! Aku tidak boleh nangis!" Alona mencoba menguatkan diri. "Ini baru awal dari perjuanganku, masih ada jalan yang panjang. Ketegaranku harus kuat, yakin pada diri sendiri. Tuhan pasti selalu bersamaku." tukasnya, mengepalkan tangannya sendiri.


Memberikan semangat pada diri sendiri itu sangat menyakitkan. Tandanya, memang orang tersebut benar-benar sendiri dan tak ada tempat mengeluh kecuali penciptanya.


- __


Jam istirahat selesai, semua siswa kembali ke kelasnya masing-masing. Ketika Alona hendak duduk, di dalam lacinya ada sebuah mie cup yang sudah siap makan. Mie tersebut masih hangat dan pasti baru jadi juga.


"Apa ini?" gumamnya.


'Mie? Rasa ayam? Pasti Leon yang memberiku, dia sangat tahu mie apa kesukaanku.' batinnya.


Ketika saat terharu dengan pemberian sahabatnya, seseorang datang menghancurkan suasana hatinya yang sebelumnya baru kembali pulih dari kesedihan.


"Sebenarnya sugar daddy atau suami orang ya?"


"Hmm, bagi wanita murahan seperti itu ya tidak peduli itu om-om atau suami orang. Yang penting kan—duitnya, hahahaha,"


Natasha memang tak henti-hentinya selalu mencari keributan dengan Alona.


"Hmm, Tuhan memang membolak-balikkan hati orang, ya. Dulu saja makan siangnya hanya membawa bekal yang lauknya hanya telur dadar secuil saja. Sekarang? Jajan, mie cup yang merk-nya mahal, tas dan sepatu dengan merk terkenal," Natasha tak henti-hentinya mengganggu.


Ucapan Natasha membuat siswa di kelas itu melihat ke arah Alona dengan tatapan penasaran. Semua siswa laki-laki tidak bisa percaya begitu saja, karena mereka mengenal Alona adalah teman yang baik.


"Iri disaingi, jangan di caci. Padahal nyatanya saja memang cantikan Alona," celetuk seorang siswi laki-laki.


"Hahaha, betul. Kami tahu Alona seperti apa. Dia tidak mungkin jadi simpanan suami orang," sahut yang lainnya.


"Tul! Jikapun dia memiliki sugar daddy, memangnya kenapa? Selagi tidak merugikan kita, tidak membawa nama sekolah buruk, itu hak dia," timpal siswa laki-laki lainnya juga.


Sebenarnya Alona menanggapi pernyataan dan tuduhan Natasha dengan cuek. Tapi pembelaan yang dia dapat dari teman lelaki di kelasnya membuat Alona semakin terharu dan yakin jika dirinya masih ada yang menyayangi.


Natasha tak terima Alona dibela, dia juga kesal karena Alona tak terpancing amarahnya dengan setiap tuduhannya. Dia pun mencari kembali keburukan setiap keburukan Alona.


"Eh, lihat saja ponselnya. Ini bukankah keluaran terbaru? Harganya juga tidak main-main," tunjuk Natasha. "Ckck, Alona. Coba kau bagi tips supaya aku juga mencari om-om kaya raya di luaran sana," imbuhnya masih menghina.


"Sebenarnya kamu jadi simpanan om-om berapa orang, sih?" Natasha sampai membelai lembut rambut Alona.


Lagi-lagi Alona tidak memperdulikan ucapan temannya itu.


"Alona, Alona. Penggoda tetaplah penggoda, kamu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan dan cinta sejati di masa depan," kilah Natasha, senyumnya licik itu seakan puas sekali sudah mengatakan segalanya.


Leon yang sedari tadi sudah merasa kesal sekali akan tuduhan Natasha pun langsung menamparnya.


Plak!


Tamparan itu didapat Natasha begitu gadis itu menatap hina Alona. Membuat semua siswa termasuk Alona sendiri terkejut dengan tidak ceroboh Leon.


"Leon!" teriak Natasha.


Emosi Natasha meledak. "Kamu ini kenapa? Kamu membela orang yang salah, hah!" ketusnya.


"Kenapa kamu diam saja ketika ada orang yang menghinamu, Alona?" tanya Leon. "Setidaknya bela diri sendiri, jangan sampai orang lain jadi salah paham karena diammu itu!" tegasnya.


"Benar apa yang dikatakan Leon. Kamu harus bisa membela dirimu sendiri, Alona. Bahkan kami pun siap untuk membelamu," seorang siswa lain turut berkata.


"Sebenarnya aku malas untuk membalas semua fitnah dari Natasha. Apa yang dia butuhkan padaku itu hanyalah semata-mata untuk menyembunyikan rahasianya," Alona buka suara.


"Kita tidak tahu saja, bagaimana dia begitu fasih memfitnah seseorang yang tidak tahu dalam kesehariannya. Aku menganggap bahwa dia sedang curhat padaku," Alona tersenyum menatap Natasha yang sudah kesal.


"Benar! Biasanya orang yang lancar memfitnah orang lain itu tandanya sedang membicarakan dirinya sendiri. Kita mana tahu yang sebenarnya," siswa lain menjadi kompor bagi Natasha dan Alona.


Tapi pertengkaran itu tidak berlangsung lama karena guru sudah masuk kelas. Sebenarnya Alona sendiri juga tidak terima dihina menjadi simpanan pria lain atas apa yang mengarah ke suami orang. Tapi jika Alona membalas tuduhan Natasha itu sama saja membuat perkataan Natasha benar.