I Choose You!

I Choose You!
Kerinduan Yang Menyiksa



"Selamat siang, semuanya," sapa Alona.


"Siang,"


"Kamu ... kami baru datang?" sambut Justin, pria itu menunjuk Alona dan mempertanyakan mengapa ia tidak masuk kerja selama dua minggu terakhir.


"Apa ada masalah padamu?" timpal Andre juga.


Alona menggelengkan kepala.


Jeanne pun juga menyambut kedatangan Alona dengan senyuman ramah. "Halo," sapanya.


"Hai," sapa Alona balik, dia duduk di dekat Alona.


Keduanya merasa canggung dan sesekali hanya saling membalas senyuman saja. Alona juga sadar diri tentang wanita yang ada di sebelahnya, yakni calon istri dari pria yang masih dicintainya.


Sementara itu, Justin memiliki ide untuk membuat Kenzie bisa menikmati suara Alona lagi setelah sekian lama Alona libur dari cafenya. Justin ini berencana untuk membuat keduanya kembali bersama.


"Hei, kamu kemana saja? Aku dan dan semua langganan di cafe ini sangat merindukan suaramu," tanya Justin ramah. "Lagipula, kamu dan Kenzie sudah lama juga tidak datang, hmm ... aku jadi merasa kesepian," celetuknya.


"Sama, aku pun merasa kesepian juga karena Kenzie tidak pernah ikut berkumpul lagi," sahut Andre sedih.


'Apakah Kak Justin ini tidak tahu, jika hubungan aku dengan Kak Kenzie ... mana mungkin tidak tahu? Kak Jeanne ada disini dan mereka saling berteman, tidak mungkin jika mereka tidak tahu,' batin Alona.


Andre berdiri dan mendekati Alona, dia menyentuh pundak gadis itu dan memintanya untuk berdiri dan bernyanyi. "Ayo, bernyanyilah untuk kita semua. Kita sudah rindu sekali dengan suara merdumu," pintanya.


"Tapi—" Alona jadi bingung.


Niatnya untuk membicarakan masalah pekerjaan, tapi malah diminta untuk perform. Namun dengan ringan hati, Alona tidak bisa menolak permintaan dari mereka, jadi dia pun pergi ke depan.


'Sudahlah, bernyanyi saja dulu. Dengan bernyanyi, aku bisa mencurahkan isi hatiku, termasuk kerinduanku pada Kak Kenzie,' batin Alona.


Segera Alona meraih gitar yang sudah dipersiapkan, duduk dan menatap seluruh tamu cafe yang ramai pelanggan.


'Kak Kenzie, lagu ini untukmu ....'


Alona mulai memetik setiap senar gitarnya. Memejamkan mata dan membayangkan wajah serius Kenzie yang selalu dirindukan.




Sementara Justin mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon ketika Alona bernyanyi. Syair demi syair yang dilantunkan oleh Alona mampu membuat hati Kenzie semakin teriris. Pria ini juga sudah begitu tak sanggup menahan kerinduannya pada gadis kecilnya itu.



"Bagaimana, Ken? Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Justin berbisik.



'*Aku tidak peduli*,' Kenzie menutup telepon dari Justin.



Ketika Alona bernyanyi sebelumnya, tidak terasa air mata Kenzie menetes, membasahi pipinya.



"Aku tak tahan lagi. Rasanya aku ingin sekali pergi menemuinya dan memeluknya. Tapi mataku—mataku yang cacat ini ...."



Tiba-tiba Kenzie menjatuhkan semua barang yang ada di meja kamarnya. Pelayan rumah sampai terkejut dan datang menemuinya ke kamar.



\*\*



Lirik lagu yang Alona nyanyikan mampu membuat semua orang disana terbius, mereka memberikan tepuk tangan yang meriah. Bahkan ada seorang pria dari pihak agency pun melirik Alona.



'*Gadis ini memiliki potensi yang sangat bagus. Sepertinya aku bisa merekrutnya*,' batin pria itu.



Pria itu meminta salah satu dari temannya untuk menyelidiki Alona. Pria itu terlihat bukan orang pribumi, bisa jadi agency luar negeri yang memang sedang mencari talent dari negara lain.



Lalu Jeanne bisa merasakan jika lirik itu nyata ditujukan untuk Kenzie. Membuatnya semakin tidak tega jika harus memberikan undangan palsu pada Alona.



'*Aku bisa merasakan setiap lirik itu untuk Kenzie. Entah kenapa hatiku merasa terluka seperti ini*,' batin Jeanne.




"Suaramu masih bagus, Alona. Sayang sekali jika tidak dikembangkan. Bagaimana jika kamu mengasah suaramu itu ke sini?" Justin memberikan brosurnya.



"Di sana, kamu bisa mengembangkan bakatmu itu, Alona. Mumpung ada kesempatan, bagaimana jika kamu pertimbangkan?" imbuhnya.



Alona menerima brosur tersebut. Senyum yang sempat tersemat, tiba-tiba berubah. "Kak, ini pasti sangat mahal. Sudah jelas harus ke luar negeri. Aku mana ada biaya untuk masuk ke universitas ini," ujarnya.



"Aku sungguh tertarik, tapi bagaimana caranya? Lalu, biayanya pasti mahal sekali,"



"Hmm, lebih baik aku pergi mencari pekerjaan saja untuk masa depanku dan adikku," imbuhnya menolak.



'*Kau tidak tahu saja jika kekasih hatimu itu lah yang memaksaku untuk membuatmu masuk ke universitas ini, hufft*!' Justin mulai kesal karena merasa direpotkan.



"Pertimbangan lagi," perintah Justin.



Andre kembali memberikan brosur yang sempat Alona kembalikan pada Justin. "Ayolah, kamu jangan pesimis seperti ini," katanya.



"Sebenarnya aku dan Justin sudah pernah memberikan rekaman suaramu pada universitas itu. Mereka pun tertarik dan dengan sedikit bantuan dari Kenzie tentunya, kamu mendapatkan beasiswa sampai lulus," Andre menunjukkan bukti penerimaan beasiswa itu.



"Kamu tidak hanya bisa bernyanyi saja. Bahkan nanti kamu bisa saja berakting. Kenzie juga sudah siapkan biaya masuk universitas yang sama di sekolah akting," sambung Andre.



"Akting?" tanya Alona.



Sesungguhnya Alona ini memang tertarik dengan bidang seni. Dibandingkan dengan pendidikan lain, seni memang passionnya.



Tawaran itu sangat menggiurkan. Siapa yang tidak mau jika diberi kesempatan meraih mimpi. Apalagi tidak semua orang bisa menikmati itu. Lagi-lagi sang adiklah yang menjadi alasan Alona.



"Lalu, bagaimana dengan adikku? Aku tidak mungkin meninggalkan dia sendiri," kata Alona, sedih. "Hanya aku yang dia miliki saat ini, orang tuaku telah tiada ...."



"Kamu tenang saja. Adikmu akan selalu kami awasi. Soal pendidikan, Kenzie sudah menanggung semuanya," ucap Jeanne.



"Adikmu juga sudah sekolah di sekolahan yang elit, kami akan mendidik dengan baik. Apalagi aku, aku pasti akan mengajarinya mandiri, kamu fokus saja dengan pendidikanmu," Jeanne tersenyum manis.



Alona semakin tidak bisa berkata-kata. Begitu banyak yang memperlakukan dirinya dengan sangat baik meski itu semua lantaran dari Kenzie. Dia sendiri juga tidak ekspek jika setelah kehilangan orang tuanya, masih bisa mendapatkan kasih sayang dari orang-orang hebat seperti mereka.



"Kenapa kalian sebaik ini padaku? Aku bahkan belum bisa memikirkan bagaimana caraku membalas kebaikan kalian?" Alona terharu. "Lalu, dimana Kak Kenzie? Nomorku diblokir olehnya, bisakah kalian menghubunginya untukku?" Alona terlihat begitu kasihan.



"Sejujurnya, aku sangat merindukannya. Entah kenapa dia marah padaku selama ini. Sudah sebulan lebih, aku tidak mendapat kabar darinya," Alona menundukkan kepala.



Mereka berempat saling bertatap. Tak bisa ungkapkan kebenaran yang ada, mereka pun harus berbohong demi Kenzie.



"Dia sibuk mengurus pernikahan kami. Ini undangan untukmu, kuharap kamu bisa datang ke acara kami," Jeanne memberikan undangan palsu tersebut.