
Tiba dihari pertama Alona masuk universitas. Sekolah musik dan teater adalah jurusan yang Alona ambil kala di universitas tersebut. Sebagai calon mahasiswa baru, tentu saja Andre menemaninya sebagai walinya. Saat itu, Andre meminta Alona untuk menunggunya di luar ruangan.
"Sementara kamu tunggu lah aku di sini. Aku akan menemuimu berapa orang dulu," pinta Andre.
"Jangan lama-lama, Kak!" seru Alona.
Andre merasa yakin meninggalkan Alona sendiri karena percaya jika Alona bisa mandiri. Apalagi kemampuan bahasa Inggris Alona juga sudah begitu baik. Jadi jikalau ada orang yang bertanya maupun bicara padanya, Alona pasti paham.
"Luas banget arena disini. Hmm, apa aku bisa belajar di sini?" gumam Alona.
"Wah, indah sekali. Aku harus berusaha supaya bisa lulus dan menggapai cita-citaku dengan baik. Minimal aku harus membuat Kak Kenzie bangga padaku,"
Tetap saja dihari Alona selalu ada Kenzie seorang. Sangat besar cintanya pada Kenzie, sampai membuat Alona sesak ketika ingin bernafas.
Saat itu Alona sedang berjalan mundur, tidak sengaja ia menabrak kursi roda dengan lelaki yang duduk di atasnya.
"Aduh!"
"Sorry I didn't mean it. Are you hurt?" tanya Alona.
Pria yang berada di atas kursi roda itu mengabaikan Alona. Sangat jelas terlihat jika Alona baru di tolak oleh seorang pria.
'Sombong sekali dia?' batin Alona.
"Danish! Cepatlah!" perintah pria itu.
Mendengar pria itu bisa berbahasa Indonesia, "Hai, maaf. Apakah anda Indonesia? Jika iya, saya juga orang Indonesia," ucap Alona.
"Apakah saya bisa bertanya sesuatu pada anda?" Lanjut Alona.
Seorang pria yang dipanggil Danish oleh pria yang duduk di atas kursi roda tersebut sudah datang menghampiri mereka. Danish ini wajahnya khas sekali koko sipit yang manis.
"Bolehkah saya bertanya?" Alona kembali bertanya.
"Oh tentu saja adik manis. Perkenalkan nam—" Sebelum Danish menyelesaikan perkenalannya, pria tangan dan diatas kursi roda itu memintanya untuk mendorong dan meninggalkan Alona.
Pria yang berada di atas kursi roda itu tak lain adalah Vegas—adik Kenzie yang beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan bersama dengan kedua orang tuanya.
Alona berpikir memang seharusnya ia tidak sok kenal dengan orang asing. Jika tidak, ia akan mendapatkan masalah dan melibatkan Kenzie yang saat ini sedang jauh dari.
"Andai saja Kak Ken ada di sini. Aku sangat berharap jika Kak Ken bisa melihat setiap prosesku gapai cita-citaku," gumam Alona.
"Aish, aku ini kenapa? Apa-apaan aku ini? Aku akan berdosa jika masih mendambakan pria yang sudah dimiliki wanita lain. Lebih baik aku cari saja kelasku sendiri, atau aku harus kembali ke tempat semua takutnya kak Andre mencariku,"
Alona semangat sekali untuk menjalani pendidikan di universitas tersebut. Ia juga tak salah mendengar bahwa Andre akan mengirimnya ke Korea jika Alona bisa menyelesaikan satu semester di universitas tersebut.
"Iya, Ken. Aku akan pastikan Alona bisa belajar di sini dengan baik. Segalanya sudah aku cukupi dan kamu jangan khawatir tentangnya,"
"Ke Korea? Hmm, Aku akan mencoba untuk mencari alasan lain supaya Alona tidak curiga ketika aku memindahkannya ke Korea,"
"Iya aku sangat tahu pendidikan di sana jauh lebih bagus, Ken. Tapi dia baru saja tiba di sini, biarkan dia disini terlebih dahulu,"
"Oke, sampai jumpa,"
Andre menutup teleponnya. Tidak salah lagi yang menelpon Andre itu adalah Kenzie. Dari caranya menyebut nama Ken saja, Alona sudah paham sekali Jika yang ditelepon Andre adalah Kenzie.
"Sebenarnya Kak Ken ini kenapa? Dia memerintah sahabat-sahabatnya untuk menjagaku di sini," gumam Alona.
"Apakah pernikahan itu memang terjadi?"
Alona masih saja tidak percaya jika Kenzie dan Jeanne akan menikah.
***
Seminggu sudah Alona belajar di Singapura. Kini, Andre mulai melepasnya dan memintanya untuk mandiri. Sebab, Andre ada pekerjaan di tanah air yang sudah tidak bisa lagi ditinggalkan. Maka dari itu, Andre meminta izin pada Alona untuk pulang terlebih dahulu.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mulai nyaman mengenyam pendidikan di sini?" tanya Andre setelah malam siang.
Alona mengangguk. "Iya, disini juga aku sudah mulai terbiasa," jawabnya.
"Syukurlah ...." ucap Andre lirih.
Alona menatap sahabat dari pria yang ia cintai itu.
"Ada apa? Kenapa Kakak menjadi murung seperti itu?" tanya Alona penasaran.
Andre menelan makan siangnya terlebih dulu. Setelah itu minum es tehnya dan menatap Alona. "Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu," katanya.
"Lona, aku harus kembali ke tanah air. Pekerjaanku sudah tidak bisa ditunda lagi. Apakah kamu sudah siap untuk aku tinggal sendiri di sini?" tanya Andre.
"Kamu tidak perlu takut dan khawatir. Selama kamu berada di apartemen ini, selama kamu juga berada di kampus yang sekarang, kamu akan selalu aman dan baik-baik saja," ungkap Andre, membuat Alona lebih lega.
Andre mengeluarkan kartu kreditnya. Kemudian diberikan pada Alona saat itu juga. "Ini dari Kenzie. Dia mengatakan padaku ... Diterima atau tidak, ini memang sudah menjadi milikmu,"
Tak banyak kata-kata yang Alona keluarkan siang itu. Bagaimanapun juga Alona harus mandiri dan tidak boleh merepotkan Andre lagi. Andre juga memiliki kesibukan sendiri karena dia adalah seorang pengusaha jadi harus fokus dengan pekerjaannya.
Saat itu Alona juga sudah mendapat teman. Teman barunya itu bernama Pearl dari negeri Jiran. Tak khawatir baginya jika Andre harus kembali ke tanah air tanpa dirinya.
***
Hari demi hari setelah tanpa Andre bisa Alona lalui dengan baik. Ia juga sudah terbiasa dengan kegiatannya sendiri. Sesekali Andre maupun Justin juga selalu menelepon Alona meski hanya untuk menanyakan kabarnya. Hal itu membuat Alona tetap tidak sendirian lagi. Apalagi jika Andre dan Justin menelepon, selalunya ada Kenzie bersama dengan mereka.
"Ahh ... pagi ini kita belajar vokal dengan guru muda yang baru. Ini agak melegakkan karena kita tidak bertemu dengan guru menyebalkan itu," kesah Pearl.
"Memangnya siapa guru vokal yang baru dan masih muda itu? Apakah beliau seistimewa itu, sampai kamu terlihat sangat gembira?" tanya Alona.
"Tentu saja!" seru Pearl.
"Hmm, kudengar guru vokal mudah itu asalnya sama sepertimu. Tapi ..." ucapan Pearl terhenti.
"Tapi apa? Apakah dia tidak tampan dan tidak sesuai dengan kriteriamu?" lanjut Alona.
Pearl menyentil kening Alona. "Apa-apaan kau ini!" serunya.
"Sebenarnya dia terlihat pendiam dan galak sekali, Lona. Bahkan aku sedikit tidak menyukai sifatnya itu. Tapi kalau kamu sudah mendengar dia bernyanyi—" sudah menjadi kebiasaan Pearl jika mabuk sampai tidak bisa melihat dirinya sendiri.
"Kamu bisa saja nantinya jatuh hati pada guru vokal baru kita. Kudengar, dia juga memiliki saham di beberapa perusahaan yang ada di sana.
"Benarkah?" tanya Alona.
'Hmm, tapi cintaku masih untuk Kak Ken. Sepertinya juga bakal tidak akan pernah berubah. Apakah guru itu bisa membuatku melupakan Kak Ken? Tidak! Aku akan selalu mencintai Kak Ken apapun yang terjadi!' Alona sampai harus berdebat dengan hatinya sendiri.
Guru yang Pearl maksud telah masuk. Alona melihat kalau guru itu tidak asing baginya. Benar saja tidak asing karena guru tersebut adalah Vegas—pria yang pernah ia tabrak beberapa waktu lalu.
"Ternyata dia guru vokal yang baru?" gumam Alona lirih.
"Hei maksudnya apa? Maksud dari ternyata itu apa, wey?" Pearl mendengar Alona bergumam.
"Alona! Katakan padaku, kamu pernah bertemu dengannya sebelumnya? Dimana? Ayo ceritakan, Alona!" Pearl membuat keributan.
Alona memutar bola matanya. "Sudahlah, Pearl, aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya. Jangan dibahas lagi dan diamlah!"
"Ayolah, Lona. Aku juga ingin sekali mendengar ceritamu, bagaimana bis la bertemu dengan guru itu," Karena keributan yang dibuat oleh Pearl, Pearl dan Alona pun diminta untuk keluar tidak mengikuti kelas.
Suara Vegas yang lantang mampu membuat Pearl dan Alona terkejut.
"You two! Get out of my class, I don't want to see you in my class," perintah Vegas.
Alona melirik tajam pada Pearl karena telah membuat kesannya buruk di depan Vegas.
"Semua ini gara-gara kamu, Pearl. Tak bisakah kamu menahan diri? Apakah guru itu tampan bagimu, ha?" kesal Alona.
"Stop! Wait in my room and stay there, understand?" tegas Vegas.
Apa boleh buat, Alona dan Pearl harus mengikuti perintah Vegas sebagai guru vokalnya. Di sisi lain, mereka memang bersalah karena ribut di dalam kelas.
Di ruangan Vegas, terdapat fotonya Kenzie ketika masih anak-anak. Alona juga sempat melihat foto tersebut, sayangnya ia tidak mengetahui bahwa anak dalam foto itu adalah pria yang ia cintai saat ini.
'Bagus sekali tatanan ruangan ini. Pasti guru ini sangat menyukai kebersihan juga. Hmm, sama dengan Kak Ken, dia juga sangat suka kebersihan,' batin Alona setelah matanya menjamah ke setiap sudut ruangan.
Setengah jam berlalu, terdengar suara langkah kaki dan benda yang menggelinding. Rupanya Vegas dan Danish yang masuk ke ruangannya.
"Sore semuanya," sapa Vegas.
"Sore," sahut Alona dan Danish.
Mulailah Vegas menyidang satu persatu di antara keduanya. Ia juga memberikan hukuman yang berbeda antara Pearl dan Alona.
"Paus, ini semua gara-gara kamu, ya. Aku jadi kena hukuman seperti ini," kesal Alona.
"Kamu enak saja masuk dengan biaya sendiri. Aku masuk karena beasiswa dan kepercayaan orang yang penting dalam hidupku. Bagaimana jika beasiswaku sampai bermasalah? Apa kamu mau bertanggung jawab?" desis Alona, menyalahkan Pearl.
"Kok, Paus? Memangnya tubuhku sebesar itu, kah?" protes Pearl.
"Di film spongebob 'kan, Pearl itu Paus, anaknya tuan crab," ketus Alona.
"Dasar squidward!" ledek Pearl.
"Kenapa aku jadi si hidung besar?" tepis Alona. "Paus besar, paus besar!" Alona tetap tidak terima.
"CUKUP!" sentak Vegas.
Seketika Alona dan Pearl langsung diam tak berdaya. Masing-masing dari mereka takut dihukum karena mereka anak baru di universitas tersebut. Setelah menentukan hukuman untuk Pearl, Vegas meminta gadis itu untuk keluar lebih dulu. Sementara Danish diminta Vegas untuk mengawasi paus besar seperti yang dikatakan Alona.
Setelah Pearl dan Danish keluar.
"Alona Keith. Berusia 19 tahun—asal Indonesia. Walimu.... Andre De John? Pengusaha P.T Anugerah Permata? Walimu bukan hanya satu, Alona?" Vegas seolah dirinya tidak mengerti apapun
'Heh, apa ini? Ada nama Andre, Justin, dan juga Kak Ken. Alona ini gadis istimewa itu, kah?' batin Vegas.
Dalam ucapan hatinya, Vegas mengatai kakaknya bodoh karena telah melepas cintanya begitu saja dan mempercayakan pada kedua sahabatnya. Vegas biasanya malas ikut campur masalah pribadi kakaknya. Tapi setelah kakaknya menjadi orang cacat, Vegas menjadi lebih perhatian padanya.
Vegas pun hanya meminta Alona bernyanyi. Sementara itu, ia merekam suara Alona dan kemudian mengirimkannya pada Kenzie.
'Tapi memang suaranya merdu sekali. Jika terus diasah, dia akan menjadi penyanyi yang profesional,' batin Vegas.
Setelah Alona selesai bernyanyi, Vegas memintanya meninggalkan ruangan. Bagaimana Alona tidak heran, Pearl dihukum lari keliling taman kampus selama tiga kali padahal taman kampus sangat luas. Sedangkan dirinya hanya diminta untuk bernyanyi dengan santai.
"Kak Ken, aku akan membuatmu datang kesini dan meminta Alona untuk kembali. Atau kalau tidak, aku akan mengirim Alona di depanmu dan membuatnya mengetahui segalanya tentang kebohonganmu"
"Sungguh sangat disayangkan kamu semena-mena membuang orang yang kamu cintai. Kak, kamu berhak bahagia!"