
"Perlakuanku hari ini semata-mata karena aku tidak suka saja melihatmu bisa tertawa puas seperti itu dengan pria lain. Ketika kamu bersamaku, tak ada senyum indah sedikit pun yang kamu berikan padaku,"
"Apakah aku seburuk itu, sampai aku tidak layak untuk mendapatkan dirimu dan juga senyuman manis?" Kenzie benar-benar jadi budak cinta.
Kenzie juga menjanjikan bahwa dirinya akan menjamin masa depan Lita.
'Kak, aku berhenti saja ya sekolahnya. Aku akan membantumu bekerja cari uang.'
Kata-kata Lita masih terngiang di ingatan Alona. Jika saja Lita tidak sekolah, pikiran Alona selalu saja tentang masa depan sang adik. Dia pun sempat berpikir tentang hubungan yang Kenzie inginkan.
'Apa ini? Otakku begitu kotor. Pria ini hanya ingin menjadi kekasihku. Lagipula apa yang dirugikan dariku sendiri? Kenapa aku bodoh? Dengan menjadi kekasihnya, bukankah hatiku akan terjamin masa depannya?' batin Alona.
"Bagaimana Alona? Aku akan menjamin masa depan adikmu. Dan aku tahu jika dia memiliki riwayat penyakit juga, pikirkan kesehatan dan masa depannya," Kenzie kembali bertanya.
Alona tidak menyangka jika Kenzie tahu sejauh itu tentang keluarganya. Penyakit yang diderita Lita memang tidak bisa disembuhkan dengan mudah.
"Apa aku hanya akan menjadi kekasihmu saja?" Alona bertanya, "Jika iya, itu bukankah belum mampu membayar semua hutangku?" imbuhnya.
"Aku juga menginginkan tubuhmu, Alona. Aku bukan pria munafik, aku pasti membutuhkan tubuhmu. Hmm, dengan tubuhmu ini ... Kamu bisa menjamin masa depan adikmu itu, bagaimana?" Kenzie sempat membelai belahan gunung kembar Alona dengan merambang.
Butiran air mata menetes, semahal itukah biaya hidup di dunia bagi Alona. Gadis itu ingin sekali berteriak, ada untuk menolak dan mencari pekerjaan lain supaya bisa melanjutkan hidup.
Tapi pandangan Alona tentang Kenzie juga tidak rendah. Bagi Alona, Kenzie bukan orang sembarangan. Alona yakin jika penyakit adiknya juga membutuhkan biaya yang besar. Belum juga biaya hidup dan juga sekolahnya.
'Apa dia takut padaku?' batin Kenzie ketika melihat air mata keluar dari sudut mata Alona.
"Aku akan keluar dulu. Lebih baik kamu segera mandi, ganti baju dan cepat turun. Aku menunggumu di meja makan. Jangan lama, okay?" Kenzie membelai wajah Alona dengan lembut.
Pria bertubuh kekar itu turun dari tubuh kecil Alona. Tapi setelah pergi beberapa langkah, langkahnya terhenti. "Kamu bisa mengganti seragam sekolahmu dengan pakaian baru. Semuanya sudah ada di lemari itu." katanya dengan menunjuk lemari besar yang ada di sudut tembok sana.
Kini pria itu benar-benar sudah keluar dari kamar besar tersebut. Alona begitu kesal dengan apa yang terjadi. Sesaat, emosinya meluap karena perlakuan rendah Kenzie padanya.
Melihat foto Kenzie yang terpajang di meja rias, dirobek oleh Alona menjadi robekan kecil-kecil. Tak hanya itu saja, dia juga mengobrak-abrik isi kamar dan juga melemparkan bantal ke cermin besar yang ada di kamar tersebut.
"Dasar kadal! Pria tak berperikemanusiaan!"
"Cabul!"
"Aghhrrrr!"
Amarah yang ia luapkan sudah terbayarkan. Gadis itu rehat sejenak, lalu kepikiran tentang adiknya yang benar-benar membutuhkan biaya ekstra dalam hidupnya.
"Tapi bagaimana dengan Lita?" gumamnya.
"Dengan kondisiku yang masih menjadi pelajar seperti ini ... akan sulit mencari pekerjaan full time. Belum lagi aku juga harus memikirkan biaya sekolahku sendiri,"
"Aghhrrrr, sulitnya menjadi tulang punggung dan tak ada sandaran lagi ...." Alona merebahkan tubuhnya ke ranjang kembali.
Telepon berdering...
Alona terkejut dengan telepon yang berdering lewat ponselnya. Ia baru sadar jika ponselnya ada di sakunya, bukan di tasnya.
"Lita?" sebut Alona.
"Iya, Lita. Ada apa?" tanya Alona, menjawab telepon dari Lita.
'Eh, kakak ada dimana? Aku sudah pulang, tapi kakak belum juga sampai di rumah. Ketika aku telepon kak Leon tadi, katanya kakak sudah pulang sekolah. Kakak dimana?'
'Itu, kak. Soal uang sekolah yang sudah nunggak lima bulan, wali kelasku sudah menanyakannya. Kira-kira kakak ada uangnya kapan, ya? Bisa di cicil kok! Penting ada yang masuk bulan ini.'
Deg!
Mendengar kata uang sekolah yang menunggak sampai lima bulan membuat Alona gelisah.
"Lita, sepertinya aku akan pulang terlambat hari ini. Tolong kamu minta nomor rekening wali kelasmu supaya aku bisa mentransfer uangnya," sambung Alona.
'Sebenarnya aku masih punya uang dari santunan waktu itu. Aku hanya minta izin aja kepada kakak untuk memakai uang itu untuk bayar sekolahku,' Lita bersikeras.
"Tolong kamu patuh padaku Lita. Uang itu bisa kamu simpan saja untuk persiapan kamu masuk sekolah SMA nanti. Perihal uang sekolahmu saat ini adalah tanggung jawabku. Mintalah rekening wali kelasmu," Alona langsung menutup teleponnya.
Dan tidak lama setelah itu, Lita mengirim nomor rekening milik wali kelasnya. Alona menangis, sungguh berat baginya memikirkan semuanya sendiri.
Memikirkan ulang tawaran dari Kenzie untuk menjadi kekasihnya. Dia tidak ingin masa depan adiknya sia-sia begitu saja.
"Sebaiknya aku bergegas mandi. Kak Kenzie sudah menunggu lama, bisa-bisa dia berubah pikiran."
***
Di meja makan.
"Nona, silahkan duduk," sambut bibi penjaga villa.
"Terima kasih," sahut Alona tanah.
Kenzie menyajikan makanan untuk Alona. Dia juga memberi gadis kecilnya segelas susu hangat. Alona menjadi bingung, dia sulit menebak sifat asli Kenzie jika seperti itu. Sekejap berubah menjadi malaikat, dan sekejap lagi berubah menjadi Iblis.
"Kak," panggil Alona lirih.
Kenzie langsung menoleh, dia melihat gadis kecilnya memainkan tangannya di bawah meja.
"Makan dulu," perintah Kenzie.
Alona patuh sekali kali itu. Dia tidak ingin membuat Kenzie kembali marah padanya. Alona melihat amarah pria kaya itu sudah mulai hilang dan keadaannya sudah stabil.
Tak ada pembahasan lain di atas meja. Mereka benar-benar menikmati hidangan yang asisten rumah tangganya masak.
"Aku selesai," ucap Kenzie meletakkan sendok dan garpunya.
"Hmm, jika ada yang ingin kamu katakan, kamu bisa menemuiku di ruang kerjaku. Ada pintu di sebelah sana, kamu masuk saja nanti. Sekarang habiskan dulu makananmu," lanjut Kenzie menunjuk pintu bercat putih tak jauh dari ruang tengah.
Mendengar hal itu, Alona langsung terburu-buru menyantap makanannya sangat cepat. Sampai ia tersedak.
"Uhuk, uhuk!"
Mendengar suara Alona tersedak, reflek Kenzie langsung memberinya minum dan mengusap bagian belakang leher gadis kecilnya dengan lembut.
"Ayo minum, makan secara perlahan saja. Aku masih di sini, aku bisa menunggumu. Berikan, saya suapin kamu saja!" Kenzie sampai merebut sendok dari tangan Alona.
Pria itu mulai menyuapi gadis kecilnya dengan sangat hati-hati. Bahkan sisa makanan di bibirnya saja, Kenzie juga yang membersihkannya. Air mata Alona kembali menetes.
"Hei, kenapa kamu menangis? Apa aku menyuapimu terlalu banyak?" tanya Kenzie. "Atau makanannya tidak enak? Katakan!" pria itu mulai khawatir.