I Choose You!

I Choose You!
Lamaran Kenzie



Alona menundukkan kepala. Gadis itu sempat berpikir, mengapa juga dirinya harus bersandiwara di depan Natasha, jika dirinya saja memang kekasih dari Kenzie. Tapi, Alona tetap meminta maaf kepada Kenzie karena dinilai telah bersikap kurang ajar padanya.


"Aku tadi cuma pura-pura saja, maafkan aku. Kakak pasti jijik kan melihat aku bermanja seperti tadi. Akan kupastikan tidak ada yang kedua kalinya setelah ini," ujar Alona lirih.


Kenzie pun bingung dengan argumen kekasih kecilnya itu. "Sebenarnya Apa yang sedang kamu katakan ini, Alona?" tanyanya.


"Aku mana jijik melihatmu bermanja tadi. Malahan aku suka dengan sifat kamu yang seperti itu padaku. Menandakan Jika kamu benar-benar menganggapku sebagai seorang kekasih," lanjut Kenzie sambil mencubit hidung Alona yang mungil itu.


Prianya tak mempermasalahkan, jadi Alona pun menjelaskan apa yang telah Natasha lakukan padanya tentang kostum manggungnya di acara kelulusan.


"Kak, Natasha ini yang telah merusak kostum manggung yang disediakan untukku. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan hal yang serendah ini," ungkap Alona.


"Tapi aku juga tidak tahu, tentang perjodohan dirinya dengan keluargamu, Kak!"


Kenzie sebenarnya paling tidak suka membahas tentang perjodohan. Sebab, dirinya juga sepertinya ada perjanjian perjodohan juga dengan wanita lain. Namun ....


Tepatnya dua sampai tiga tahun yang lalu, sebelum orang tua kandung Kenzie meninggal, kedua orang tuanya pernah mengadakan pertemuan antara kedua orang tua mereka dengan kedua orang tua Natasha.


Kala itu Kenzie masih banyak sekali tugas yang harus diselesaikan tentang perusahaan. Lagipula, usia pria ini dengan Natasha juga cukup banyak. Jadi, perjodohan itu diturunkan dengan menjodohkan ulang Natasha dengan putra kedua—adiknya Kenzie—Vegas.


"Kenzie dengan Natasha usianya sangat jauh sekali. Kami memiliki dua putra, bagaimana jika Natasha kita jodohkan saja dengan putra kedua kami?"


Orang tua Natasha sangat setuju itu.


Vegas saat itu berusia 20 tahun yang memiliki tubuh tidak sempurna. Pria ini mengalami cacar permanen pada kakinya karena menjadi korban kecelakaan saat ikut orang tuanya dalam perjalanan bisnis. Ketika Vegas dan Natasha dijodohkan, kondisi Vegas masih baik-baik saja. Tapi karena kecelakaan itulah yang membuat orang tua mereka meninggal dunia. Serta Vegas mengalami kecacatan.


"Aku telah membunuh Ayah dan Ibu, Kak! Bagaimana bisa mereka meninggal, tapi aku masih hidup? Aku yang menyetir, Kak! Aku yang membunuh mereka ...."


Vegas yang merasa bersalah karena dia kedua orang tuanya meninggal. Malam itu ketika kedua orang tua Kenzie dan Vegas dalam perjalanan bisnis di luar negeri, Vegas-lah yang menyetir.


Badai besar menghadang, pandangan mata Vegas menjadi terganggu. Ketika Vegas membuka mata setelah terpejam sebentar, sebuah truk muatan kayu besar menghadangnya.


Kemudian ...


Boom!


Tabrakan tidak bisa dihindari. Kedua orang tua mereka tewas di tempat, sementara Vegas masih selamat dengan kaki yang terjepit dahan pohon yang besar. Mobilnya juga rusak parah.


"Apa? Tuan Vegas mengalami cacat permanen? Dia tidak bisa berjalan?" orang tua Natasha bingung.


Mereka juga tidak ingin menikahkan putri semata wayangnya dengan Vegas dan meminta Kenzie untuk menggantikan tempat Vegas.


"Maaf, saya tidak bisa menerima perjodohan ini. Perjodohan Putri anda memang sudah ditetapkan dengan Vegas. Tidak bisa diganggu gugat!" tegas Kenzie.


Mendengar penolakan dari orang tua Natasha, sadar diri dan tidak ingin melanjutkan perjodohan tersebut.


'Kakak, aku tidak akan pulang lagi jika tidak hal yang mendesak. Tolong jangan hubungi aku sering-sering. Aku ingin fokus pada hidupku,'


Namun siapa yang mau menikahi dan menerima apa adanya kondisi Vegas saat itu. Hanya seorang pria yang cacat dan bisanya mengandalkan asisten pribadinya saja. Pria ini juga kemana-mana harus duduk di kursi roda. Saat kejadian itu, Vegas menetap di Singapura.


***


Setelah selesai acara kelulusan, Kenzie mengajak gadisnya makan bersama. Rencana Kenzie hari itu akan melamar Alona dengan romantis. Dimana ada musik, bunga, dan tempat yang sangat indah.


Kenzie mencegah tangan Alona membuka penutup matanya. "Sttt, jangan nakal. Jangan dibuka atau kamu akan kehilangan kejutanmu," katanya.


Alona dibimbing duduk di kursi yang juga unik bentuknya dengan meja di depannya. Meja itu sudah dihiasi dengan sangat cantik. Ada makanan juga di atas meja tersebut. Pria misterius seperti Kenzie ini jarang sekali melakukan hal semacam itu, dia pun pelan-pelan membuka penutup mata Alona.


"Kejutan ..." bisik Kenzie.


Alona merasa membeku melihat kejutan dari Kenzie. ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seindah itu. Setelah itu, Kenzie memberikan buket bunga pada Alona.


"Untukku?" tanya Alona, terharu.


"Bunga ini sama sepertimu. Cantik, indah, harum dan istimewa," Kenzie memberikan bunga tersebut.


Masih membeku, Kenzie memberikan kejutan untuknya. Padahal di depannya juga. Kuenya memang sangat kecil, tapi terlihat mewah sekali.


"Aku suapi?" Kenzie menawarkan diri.


"Aku sendiri aja, Kak," Alona malu-malu.


Ketika Alona hendak mengunyah kue itu, terasa ada yang mengganjal di dalam mulutnya. "Maaf, kak ..." ucap Alona, kutang jelas.


Ruoanya dia sedang meminta maaf izin mau mengeluarkan kue itu dari mulutnya. Ia langsung melepehkan kue itu dan melihat ada cincin berlian di dalamnya.


"Apa ini? Cincin? Pasti punya si pembuat kue, aku tanyain dulu kali, ya?" Alona baru saja mau beranjak, tapi Kenzie menahannya.


"Ets, tunggu dulu. Kenapa kamu terburu-buru? Apakah tidak tanya dulu, darimana cincin itu berasal?" tutur kata Kenzie sangat lembut malam itu.


"Maksudnya?" Alona masih bingung.


Kemudian, Kenzie mengambil cincin itu dari tangan Alona. Senyum indah yang terpancar dari bibir Kenzie semakin membuat Alona bingung. 'Ada apa ini? Apa maksudnya?' batinnya.


'Pria ini semakin membuatku frustasi saja. Menyebalkan sekali!'


Cincin itu selesai dibersihkan, kemudian Kenzie menunjukkannya ke Alona. Kemudian berkata, "Maukah kamu menjadi pelabuhan terakhir dalam perjalanan cintaku, Alona?"


Pria itu juga berlutut di depan Alona.


Alona hanya bengong dengan mulut menganga, ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Kenzie menganggap hubungan itu serius, sedangkan Alona masih belum bisa memberi keputusan apapun.


"Secepat ini? Aku baru saja lulus Kak!" seru Alona, tidak langsung menerima pinangan Kenzie.


Kenzie kembali membelai tangan mulus Alona. Pria itu kembali meyakinkan kekasihnya. "Menikah masih bisa kuliah, aku juga bisa membuatmu menjadi penyanyi terkenal, Alona." katanya.


Keraguan masih menyelimuti hati Alona. Pertemuannya dengan Kenzie masih terbilang cukup singkat. Apalagi Alona juga harus fokus dengan masa depan adiknya.


"Alona, aku sangat mencintaimu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu," ucap Kenzie masih berharap diterima oleh Alona.


"Sesuai dengan keinginanmu, aku akan membiayai hidup dan sekolah Lita sampai dia bisa mandiri sendiri. Tapi ku mohon ... Tolong pertimbangkan diriku,"


"Alona, aku—" sebelum Kenzie melanjutkan perkataannya, ia menerima telfon dari neneknya.