I Choose You!

I Choose You!
Kesempatan



Vegas sangat menghormati kakaknya. Hubungan keluarga mereka memang selalunya terjalin sangat baik. Jarang sekali ada perselisihan di antara mereka. Itu sebabnya Kenzie dan Vegas tumbuh menjadi seorang pria yang baik karena didikan dari orang tuanya yang baik juga.


Mengingat sejak usianya masih muda Kenzie selalu bekerja dengan keras, sampai-sampai dia tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.


"Aku tahu Kakak tidak pernah mengeluh tentang hidup yang dijalani saat ini. Melihat kebahagiaan Kakak telah datang, aku tidak mungkin membiarkan kebahagiaan itu pergi begitu saja," ucap Vegas.


"Alona. Alona Keith, gadis berusia 19 tahun ini rupanya telah memikat hati Kakakku. Akan ku usahakan kalau nak berada di tangan Kak Ken,"


"Kakak berhak bahagia,"


***


Malam setelah selesai masak, Pearl langsung tidur pulas dengan perut kenyangnya. Yah, malam itu Pearl menginap karena dia takut berada di asrama sendirian. Semenjak Pearl berbuat salah pada orang tuanya, orang tuanya tidak pernah lagi mengirimnya uang jajan. Sehingga Pearl harus tinggal di asrama kampus.


"Haih, tidurnya pulas sekali. Padahal baru saja dia mengatakan belum mengantuk. Bahkan seperti orang yang sedang pingsan," gumam Alona lirih.


Kebetulan memang apartemen yang Alona tinggali memiliki 3 kamar tidur. Jadi kamar yang tidak pernah Alona musik dipakai Pearl untuk menginap.


"Sudahlah, aku tinggalkan saja selimutnya di sini. Jika nanti dia mencari, biar tidak mengganggu tidurku,"


Alona meletakkan selimut di sisi kasur lantai yang Pearl gunakan alas tidur. Sebelumnya memang kamar tersebut kosong plompong. Jadi mau tidak mau, Pearl tidur di atas kasur lantai.


Alona kembali ke kamarnya. Ia iseng-iseng membuka nomor ponsel Kenzie lagi dan mengejutkan, ternyata nomornya sudah dibuka blokirannya. Antara bahagia dan sedih saat melihat semua itu. Ia bahagia karena Kenzie masih mau komunikasi dengannya lagi—pikirnya.


'Dia membuka blokirannya. Apakah dia sudah mau berkomunikasi lagi denganku?' gumamnya dalam hati.


"Tapi bagaimana jika Kak Ken benar-benar telah menikahi Kak Jean?"


"Ahhh, sakit sekali hatiku,"


"Tapi aku merindukannya. Tak bisakah aku bertanya kabar padanya secara langsung? Minimal mendengar suaranya saja?"


Rindu itu sudah tidak bisa terbendung lagi. Bagaikan menahan rasa perih yang sangat pedih yang ingin berteriak sekeras-kerasnya. Alona pun mencoba memberanikan diri untuk menelepon pria yang ia cintai itu.


Teleponnya langsung tersambung dan Kenize juga menjawabnya.


"Kak Ken?"


Alona terisak.


"Kak—(menangis) Aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu pergi sangat jauh dariku? Salahkan aku jika mencintaimu?"


Seketika Alona melupakan jika Kenzie sudah menikah (pikirannya)


(hanya suara nafas yang berat dari Kenzie).


"Aku masih mencintaimu, Kak. Masih sangat, sangat sangat, mencintaimu," imbuh Alona.


"Kak, kesalahan apa yang aku lakukan sehingga kamu menjauhiku. Jika kamu sudah menikah dengan Kak Jean, kita bisa kan menjadi teman. Tolong katakan sesuatu, Kak," Alona terus mendesak.


"Kak, please just give me your response. I miss you so much, please...." Alona seperti wanita yang tak tahu diri mengucapkan kata rindu pada pria yang telah beristri.


Kekeh masih menjadi pikiran jika Kenzie belum menikah bagi Alona. Sebab, beberapa waktu lalu Alona tak sengaja melihat isi chat Andre dengan Jeanne yang di mana mereka memiliki janji untuk nonton bersama.


'Aku juga sangat merindukanmu, Lona. Sudah, aku sibuk,'


Tuuutt .... tuuuut


Teleponnya langsung dimatikan oleh Kenzie. Betapa mendebarkan suara Kenzie yang mampu Alona dengar. Tak disangka baginya bisa mendengar suara Kenzie lagi setelah sekian lama.


"Aku jadi tidak tahu diri seperti ini karena kamu, Kak Ken," ucap Alona.


"Aku terus haus akan cintaku. Bahkan aku tak bisa mempercayai jika dirimu telah menikah,"


***


Hari demi hari berlalu, tidak terasa waktu sudah berlalu satu tahun. Alona dan Kenzie masih berhubungan meskipun hanya sebentar, satu dua kata saja ketika menelepon seperti sebelumnya.


Sejak bisa menghubungi Kenzie malam itu, Alona meminta sahabatnya untuk mencari tahu tentang hubungannya Andre dengan Jeanne.


Satu fakta bahwa Jeanne sudah melahirkan seorang anak, namun tidak pernah dipublikasikan siapa suami dan anak Jeanne. Itu menunjukkan bahwa masih ada harapan untuk Alona memperjuangkan cintanya.


"Jadi Kak Jean sudah memiliki anak tapi suaminya dirahasiakan?" tanya Alona.


Pearl mengangguk. "Bukan dirahasiakan lagi. Tapi menurut informasi yang aku dapatkan, wanita bernama Jean itu belum menikah," jawabnya.


"Bukan dengan Kak Andre?" tanya Alona lagi.


"Tidak, Kakakmu Andre itu masih lajang sampai sekarang. Kak Jean berada di Singapura, perlu kamu tahu. Dia melahirkan di sini," ungkap Pearl.


Pearl ini memang sangat bisa diandalkan meski dirinya terlahir dari negeri Jiran. Tapi sangat cerdik jika di minta untuk memata-matai seseorang. Keluarganya yang kaya raya membuatnya tidak pernah terlibat dalam suatu masalah sekecil apapun.


Di kampus, Alona juga mendapatkan teman laki-laki. Teman lelakinya yakni bernama Tom Davidson, atau sering dipanggil Tom, senior Alona yang sudah setahun lebih lama sekolah di kampus vokal itu.


Sesuai amanah Kenzie melalui Andre pada Alona jika Alona mampu meraih nilai terbaik di kampusnya selama 1 tahun di sana, Alona akan pindah ke kampus yang lebih baik lagi di Korea. Andre sudah memberikan lampu hijau, tapi Alona merasa berat untuk pindah kampus.


Apalagi Alona dan Tom semakin dekat karena mereka pernah bernyanyi bersama di acara musik kampus. Bahkan dikabarkan jika mereka memiliki hubungan serius di kampus juga. Sampai membuat Vegas sangat kesal dan membuatnya sampai menyelidiki berita itu.


"Alona tidak boleh dimiliki siapapun kecuali Kak Ken," gumam Vegas. "Bagaimana cara Andre menanganinya? Bukankah Alona akan di kirim ke Korea?"


"Danish!" panggilnya.


"Iya?"


"Tolong buat laki-laki yang dekat dengan Alona menjauh darinya. Aku tidak suka melihatnya," perintah Vegas.


"Kenapa, Ve? Kamu suka padanya? Dia memang cantik, mungil, dan manis. Tapi kan kamu sudah ada.—" ucapan Danish belum sempat selesai.


"Cepat lakukan!" tegas Vegas, memotong ucapan Danish.


Danish langsung lari seperti orang mau kecirit saja. Ia langsung masuk keruangan kelas Tom, karena kebetulan sekali Danish juga menjadi guru vokal di kampus tersebut.


"Ada-ada saja. Gadis sudah mau dipindah ke Korea, masih saja perlu diawasi," kesal Danish.


"Selamat sore semuanya ...."


Danish memasuki kelas. Matanya langsung menatap Tom dengan penuh ketajaman, seakan-akan keluar laser merah dari tempatnya.


"Hari ini kita langsung latihan. Kebetulan piano di kelas ini baru datang dan kita akan mencobanya," kata Danish.


"Tom Davidson!" panggil Danish.


"Saya?" Tom mengangkat tangannya.


"Yes you! Kau tuli?" Danish menjadi galak.


Tom yang bingung dengan sikap Danish maju begitu saja. Pria yang sedang dekat dengan Alona ini juga sudah siap duduk di samping Danish untung latihan. Akan tetapi, ketika Tom sedang bernyanyi, Danish sengaja menyalahkan tangga nada yang membuat lidah Tom keseleo.


Semua itu unsur kesengajaan supaya membuat Tom tidak bertemu dengan Alona hari itu.


'Hmm, maafkan aku, Tom. Kamu harus dihukum karena kesalahanku,' batin Danish.


Benar saja, Tom mengalami kesalahan di nada rendah. Danish tak segan-segan menghukumnya, untuk bersihkan kelas selesai kelasnya. Disaat itu juga, Alona sudah akan pulang karena ia memiliki pekerjaan paruh waktu di sebuah rumah makan disana.