
Setelah sampai rumahnya, rupanya sang adik sudah pulang dan sedang menanak nasi untuk mereka berdua makan siang.
"Kakak! Kakak sudah pulang?" sambut Lita dengan girang.
Alona membalas sambutan hangat itu dengan senyuman manisnya. "Tentu. Aku sudah pulang dari sekolah. Aku juga pulang mau mengambil gitar saja, aku harus kerja,"
"Aku ikut!" Lita memohon dengan menyatukan tangannya dan memasang wajah memelas.
"Kamu di rumah saja. Biarkan aku yang mencari nafkah. Aku tidak mau kamu sampai ikut kerja di jalanan denganku," tutur Alona, menolak diikuti oleh adiknya
Begitu mendengar penolakan dari kakaknya, Lita menjadi sedih. Ia pun menundukkan kepala, tapi tidak bisa memaksa lagi.
"Hari ini kita makan?" tanya Alona ketika melihat raut wajah sedih adiknya.
"Nasi baru selesai aku masak. Hanya ada ikan asin di rumah, aku goreng sebentar jika kakak mau makan sekarang," jawab Lita, mengambil wajan yang ada di depannya.
Alona tersenyum. "Aku akan keluar sebentar membeli telur dan mie instan dulu. Ikan asinnya bisa kita makan besok saja," katanya.
"Tapi, kak. Alangkah baiknya kita harus irit, bukan?" Lita mengingatkan kakaknya.
"Tenang saja, aku masih ada uang. Ikan asin itu kamu simpan, aku beli telur dan mie instan dulu, okay?" Alona pergi dengan senyuman sambil meneteskan air matanya begitu berpaling.
Sungguh ia tidak tega melihat adiknya yang hanya makan dengan ikan asin saja. Meski memang harus bersyukur masih bisa makan, bagaimanapun juga sekolah Lita lebih jauh dari sekolahnya.
"Lita jalan kaki lebih jauh dariku. Jika dia hanya makan ikan asin, takutnya tidak ada tenaga lagi. Telur akan membuat perutnya kenyang juga, 'kan? Apalagi di rebus,"
"Aku segera membelikan telur untuknya."
Ia berlari ke warung untuk membeli telur dan mie instan, hasil uang dari santunan sekolahnya. Menjadi yatim-piatu memang sangat menyedihkan. Tapi tidak mungkin Alona akan melawan takdir. Orang tuanya juga tidak akan kembali.
"Syukurlah, aku bisa membeli telur seperempat. Bisa buat makan malam juga. Hmm, Lita pasti senang," gumamnya riang.
Saat di perjalanan pulang, Alona bertemu kembali dengan Kenzie. Pria itu telah mendapatkan informasi jika orang tua Alona meninggal dunia karena kecelakaan tabrak lari. Tak hanya itu saja, Kenzie juga mengetahui jika gadis itu sedang terhimpit masalah ekonomi.
'Ketemu!' seru pria itu dalam hati.
Pria kaya ini berusaha untuk membantu Alona. Tidak ada alasan lain selain Kenzie yang mulai jatuh hati pada gadis pengamen itu.
"Alona, beruntung kita bertemu disini," ucap pria itu, raut wajahnya begitu dingin karena mempertahankan imagenya.
"Kamu?" Alona terkejut. "Untuk apa kamu datang ?" tanyanya, menoleh ke kanan-kiri, memastikan jika yang ia lihat memang benar Kenzie.
Alona juga tidak ingin tetangga sampai tahu jika dirinya dekat dengan seorang pria kaya, yang usianya terpaut jauh darinya. Pastinya malah akan membuat bahan gosip di kampungnya.
"Kamu kemana saja. Sudah semingguan ini kamu tidak kelihatan di lampu merah, apa semuanya baik-baik saja? Bagaimana kabarmu?" tanya Kenzie.
Pertanyaan Kenzie membuat Alona tersentuh. Dari sekian banyak orang yang mengucapkan kata sabar untuknya, hanya Kenzie yang menanyakan bagaimana keadaannya.
Butiran air mata keluar dari sudut mata Alona. Gadis itu membuat Kenzie menjadi semakin khawatir. "Hei, kamu menangis? Apa kamu sedang tidak baik?" tanya pria itu lagi.
"Aku baik, sangat baik. Aku—" ucapan Alona terhenti.
Melihat seorang gadis menangis, apalagi gadis itu adalah orang yang telah memikat hatinya, Kenzie reflek memeluknya. "Cukup, jangan menangis lagi. Tenang, semuanya akan baik-baik saja." katanya menepuk-nepuk bahu Alona dengan pelan.
Di sepanjang jalan juga Alona menceritakan masalahnya kepada Kenzie, entah mengapa saat itu Alona bisa begitu terbuka dengan pria yang baru ia kenal. Bahkan merasakan nyaman ketika bercerita.
"Jadi orang tuamu meninggal karena tabrak lari?" tanya Kenzie.
Alona mengangguk.
"Saat ini aku ting—" ungkapan Alona terhenti ketika ia melihat sudah banyak sekali orang yang membawa ember serta kain basah yang melewatinya. Posisi saat itu dia sudah berada di sekitar rumahnya.
Ketika melihat banyak asap yang mengepul, Alona baru sadar bahwa rumahnya terbakar. Rumah yang masih menggunakan bangunan kayu itu sudah hampir ludes terbakar.
"LITA!" teriak Alona.
Kenzie menoleh ke arah kebakaran tersebut.
"Tuan, adikku ada di dalam. Itu rumahku, Tuan," ucap Alona nangis sesenggukan. "LITA!" teriaknya.
"Tenanglah, kamu tenang dulu, Alona." Kenzie menahan Alona yang hendak nekat masuk ke kobaran api.
Hanya dengan pelukan bisa menahan Alona nekat masuk. Yah, Kenzie memeluk Alona tanpa memikirkan ada banyak orang yang berlalu lalang membawa ember serta kain basah. Sementara Alona terus saja berteriak memanggil nama adiknya sampai suaranya parau.
"Lita, uhuk, uhuk!" bahkan Alona sampai terbatuk-batuk. "Dia adalah satu-satunya yang aku miliki di dunia ini, Tuan ...." imbuhnya lirih.
"Kita berdoa saja supaya adikmu selamat dari kobaran api itu. Orang-orang sudah banyak membantumu, pasti mereka juga sudah mengamankan adikmu, tenang saja," hibur Kenzie.
"Kakak!"
"Kak Lona!"
Teriakan itu membuat hati Alona menjadi jauh lebih baik. Lita selamat, dia sudah keluar lebih dulu sebelum apinya semakin menyebar. Kenzie pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Alona memeluk adik tercintanya.
"Apa kamu baik-baik saja? Katakan padaku apa kamu terluka, Lita?" begitu cemasnya Alona pada adiknya.
"Kakak, aku baik-baik saja," jawab Lita. "Maafkan aku yang telah membuat khawatir. Aku telah membakar rumah kita, kak. Sekarang kita tidak memiliki rumah tempat tinggal lagi. Maafkan aku ..." sesalnya lirih.
Alona membelai rambut adiknya. "Rumah itu bisa dibangun lagi. Yang seperti kamu masih berada di sini bersamaku. Aku sangat takut sekali, Lita. Aku takut kehilanganmu," kembali Alona memeluk adiknya.
Dari sana Kenzie melihat betapa berharganya sebuah hubungan. Kenzie memiliki adik tiri juga, adik yang baik dan patuh padanya. Tapi hubungannya dengan adiknya tidak sebaik hubungan Alona dan Lita.
Satu jam berlalu, kobaran api sudah dipadamkan oleh pemadam kebakaran yang datang sedikit terlambat. Rumah Kanza ludes terbakar rata dengan tanah. Kini ia tidak memiliki apapun, bahkan tempat bernaung saja tidak ada yang bisa Alona dan adiknya untuk ditempati.
"Syukurlah apinya sudah padam. Beruntung saja kamu masih selamat," kata Alona, memandang adiknya.
"Tapi kita sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi, kak. Bahkan pakaian saja hanya ... yang saat ini kita pakai," Lita sampai tak sanggup bicara lagi.
"Kamu tenang saja. Kakak akan bekerja lebih keras lagi supaya bisa membelikan baju baru dan juga seragam baru untukmu." Alona adalah kakak idaman.
Kenzie yang mendengar percakapan kakak beradik itu menjadi iba. Ia pun menawarkan diri untuk membantu Alona sekali lagi. Kenzi ingin membelikan rumah baru untuk mereka.
"Rumah baru?" tanya Lita, terkejut.