
Saking gugupnya, Alona sampai menunduk sebelum bertanya.
"Katakan, ada apa?" tanya Kenzie.
"Hmm,"
"Itu—"
"Sebenarnya, sifat mana yang kakak yang miliki? Kenapa sekejap saja perubahan kakak padaku pasti beda. Apakah kakak ada di pihak angel, atau devil?"
Pertanyaan Alona membuat Kenzie tertawa keras. Pria ini tak menyangka jika Alona berpikir sedang kala itu. Membuatnya langsung bisa tertebak jika Alona ini belum memiliki pendirian yang kokoh.
"Kenapa kamu bisa bertanya hal seperti itu? Jalan-jalan kamu percaya dengan ancaman yang aku katakan tadi di kamar?" Kenzie menahan tawa.
Alona mengangguk. "Tentu saja," jawabnya polos.
"Kamu percaya?" Kenzie kembali bertanya dengan senyum yang ditahan.
"Astaga, Alona ... Aku mana mungkin menyakiti orang yang ku sayangi. Aku sayang sekali padamu, mana mungkin aku menyakitimu. Ada-ada saja kamu ini," Kenzie menyentil hidung Alona.
Deg!
Jantung Alona seolah membeku. Tak berdegup karena saking terkejutnya dengan pernyataan Kenzie yang menyayanginya.
"Jadi Kak Kenzie hanya menggodaku saja?" Alona menatap tajam Kenzie. "tidak lucu!" serunya, langsung pergi.
Melihat gadis kecilnya pergi, Kenzie langsung meneriakinya. "Aku menyayangimu, tawaran menjadi kekasihku itu sungguh-sungguh, apa kamu tidak mau mempertimbangkan?"
Langkah kaki Alona terhenti. Tanpa menoleh, tak selang lama, Alona melanjutkan langkah kakinya. Saat itu dia berlari ke lantai atas. Alona ini sulit sekali mendengar kenyataan jika pria asing itu menyukainya tanpa syarat.
"Hei! Tolong kamu bicara dengan Nona Alona, ya. Aku masih ada beberapa pekerjaan yang masih tertunda, harus aku kerjakan sekarang juga," perintah Kenzi pada putri yang merawat Villanya.
"Baik, Tuan Kenzie." sahut gadis itu.
Juli, nama dari anak pengurus villa milik Kenzie. Sejak kecil, Juli besar karena berkat Kenzie dan keluarganya yang membiayai sekolahnya.
Ia bergegas ke kamar di mana Alona berada. Setelah dicari-cari, ternyata Alona tidak ada di kamarnya. Juli pun mencarinya sampai ke seluruh villa. Tahunya, Alona berada di atap, ia sedang menikmati matahari terbenam di sana.
Namun cuaca sedang mendung, matahari tidak terlihat menunjukkan sinarnya di sore hari. Juli pun mendekatinya.
"Nona, masuklah—" suara lembut Juli membuat Alona terkejut.
Tapi Alona tidak ingin mempersulit Juli, Alona mengikuti langkah Juli membawanya masuk ke rumah itu lagi. Juli membawa Alina untuk masuk ke kamar yang lain, kamar milik Kenzie pribadi. Kamar itu hanya Kenzie yang boleh masuk sebenarnya. Tapi Juli dengan sengaja membawa Alona masuk kesana supaya Alona terkena amarah Kenzie yang tidak stabil.
"Ini kamar siapa?" tanya Alona polos.
"Ini kamar Tuan. Um, berhubung kamar Nona sedang dibersihkan oleh Ibu saya, jadi sementara Nona bisa istirahat disini," jawab Juli.
"Oh, terima kasih," ucap Alona tanpa curiga.
"Saya tinggal dulu, permisi ...."
Juli menutup pintu kamar itu, ia menyeringai. Sejak lama Juli sudah menaruh hati pada Kenzie. Baru pertama kali itu Kenzie membawa seorang wanita pulang ke villanya. Itu kenapa Juli begitu cemburu kepada Alona.
"Gadis murahan!" umpat Juli lirih.
Sempat menunggu Kenzie, Alona masih santai duduk di sofa. Tapi karena menunggu pria itu sangat lama, tak sengaja Alona tertidur di tempat tidur.
"Haih, aku mengantuk sekali," ucapnya.
Tidak lama setelah itu, Kenzie pun masuk ke kamar. Awalnya ia marah karena ada seseorang yang masuk di kamar miliknya itu. Tapi setelah melihat siapa yang berani tidur di ranjangnya, Kenzie hanya tersenyum.
Melihat pose Alona yang lucu ketika tidur membuat amarah Kenzie mereda. Ia pun tidur di samping Alona dengan perlahan, dan memeluknya dari belakang. Sontak membuat Alona yang tidur nyenyak menjadi terkejut. Dia sampai lompat ke bawah dan langsung berdiri.
"Kak! Apa yang kakak lakukan?" Alona berdiri sempoyongan.
"Tidur," jawab Kenzie.
"Iya ... tapi mengapa harus di sampingku? Hish, main peluk juga. Aku kan jadi terkejut, kak!" protes Alona.
Kenzie menatap hangat Alona. "Ini kamarku, jadi aku bebas melakukan apapun."
"Kemarilah!" Kenzie menarik tangan Alona kembali ke tempat tidur. Lalu memeluknya dengan erat.
"Jangan bergerak sembarangan, Alona. Tetaplah seperti ini. Hari ini aku sangat lelah sekali," bisik Kenzie di tengkuk leher Alona.
"Tapi kak Kenzie tidak akan macam-macam padaku, 'kan?" Alona menjadi gugup.
Helaan nafas kasar itu terdengar. Sepertinya Kenzie sedikit tersinggung dengan pertanyaan Alona.
"Aku tidak mungkin menikmati tubuhmu tanpa persetujuan dari mana. Aku juga tidak mungkin merusak kehormatan seorang gadis yang belum menikah denganku. Biarlah begini sebentar saja, Alona." Kenzie mempererat pelukannya.
"Kak ..." panggil Alona. "Kakak yakin mau tidur di sana?" tanyanya.
"Mau bagaimana lagi? Kita tidak mungkin tidur seranjang bukan? Hanya saja, aku takut jika aku berubah jadi iblis ketika bersamamu dengan posisi yang seperti tadi," jawab Kenzie, menyelimuti diri.
'*Aku yakin sekali jika Kak Kenzie ini orang yang baik. Buktinya dia tidak menggunakan kesempatan yang bagus seperti ini untuk melecehkan aku. Jika dia memang hanya ingin menikmati tubuhku, pasti sejak tadi aku tidak akan selamat*,' gumam Alona dalam hati.
Selang beberapa saat, Alona turun dari ranjang. Gadis itu memberanikan diri mendekati sofa dan berusaha melihat wajah Kenzie dari dekat.
'*Apakah ini yang membuat dia tadi memelukku sangat lama? Alisnya mengkerut. Ini tanda jika Kak Kenzie sedang banyak pikiran*,' batinnya.
Alona kembali memperjelas pandangannya.
'*Jika dari dekat, dia terlihat tampan sekali. Kak Kenzie, sepertinya aku juga menyukaimu*,' batin Alona.
"Jangan menatapku seperti itu, Alona. Aku seifmah pria yang normal. Jika aku khilaf, jangan salahkan aku jika malam ini aku memakanmu," kata Kenzie, dengan mata tertutup.
"Hah?" Alona sempat terkejut.
Namun dengan tangkas Kenzie langsung menarik tangan Alona dan membuat gadis itu berada di atas tubuhnya. Awalnya Alona terlihat meronta, sayangnya tubuh kecilnya itu tak bisa membuatnya lolos dari cengkeraman Kenzie.
Memang tidak ada yang dilakukan oleh keduanya. Mereka sangat mengantuk, akhirnya keduanya pun tertidur di sofa bersama.
Semalaman, mereka tidur dengan berpelukan sofa yang sempit. Sampai waktu pagi pun tiba, barulah Alona terbangun dari tidurnya.
"Aduh, tubuhku sakit sekali," keluh Alona.
"Lain kali kita tidur di ranjang saja. Tak kusangka jika sakitnya seperti ini tidur di sofa," sahut Kenzie, juga ikut terbangun serta memijat punggungnya sendiri.
"Eh? Tidak ada lain kali. Cukup sekali ini saja kita tidur bersama!" tolak Alona. "Ayo, kita segera bangun. Aku harus pergi ke sekolah,"
Kenzie menyeritkan alisnya. 'Lah, kok, jadi dia yang galak?' batinnya.
\_\_\_-\_\_\_
Setelah keduanya mandi, mereka langsung turun untuk sarapan. Sengaja Bibi masak subuh karena memang itu permintaan dari Kenzi sendiri. Mereka berdua akan pulang di pagi buta karena tidak ingin Alona terlambat masuk sekolah.
"Sarapan yang bener," cetus Kenzie.
"Hmm, aku tidak berselera. Tolong bawa saja untuk bekal sarapan di perjalanan," pinta Alona masih malas-malasan membuka mata.
Kenzie tetap memberikan apa yang sudah menjadi keinginan dari gadis kecilnya itu. Pria seperti Kenzie memang akan meratakan pasangannya jika sudah benar-benar menjadi budak cinta.